Sabtu, 30 Desember 2017

Grey SunFlower part52 (the end)

*GSF* part52

Mungkin ini part terkahir. Semoga semua pembaca suka dan bisa memberikan kritik dan saran untuk perbaikan karya saya kedepannya.
Saya cukupkan Grey SunFlower ini di part 52, kenapa?
Karena selain endingnya yang pas,  Salah satu alasannya lain karena angka 52 itu memiliki arti yang beda untuk saya. Angka 52 adalah jumlah dari tanggal lahir saya (24) dan ditambah dengan tanggal lahir seseorang yang spesial dalam hati saya.
Banyak ucapan terimakasih yang ingin saya sampaikan, semoga semua nama tokoh yang ada dalam cerita saya bisa dengan senang hati respect terhadap cerita ini, Terimakasih.. 

Ipok2524.blogspot.com

******

Pernikahan spesial pada musim semi....

Empat bulan kemudian....

"Kaaaaaaaaaak..... " aku terus mencari dia diantara ladang bunga matahari yang tingginya sama denganku. Aku yakin betul bahwa kali ini aku tidak sedang bermimpi seperti sebelumnya. Aku berada di dunia nyata karena aku bisa merasakan jantungku berdegup begitu kencang.

Ketika aku terus berjalan, tiba-tiba muncul seorang anak kecil. Rambutnya pirang berhias jepit bewarna biru. Dia mengulurkan tangan padaku dan memberikan gelang bunga matahari yang dulu sempat kukembalikan pada kak agung. Anak kecil itu tersenyum lalu melambaikan tangan dan pergi meninggalkanku.

Aku mengikuti arah anak itu pergi. Tapi dia sudah menghilang dibalik bunga matahari cantik itu. Lalu muncul lagi anak perempuan yang lain. Kali ini rambutnya bewarna cokelat dan wajahnya seperti boneka. Dia mengembalikan cincin yang dulu pernah juga aku kembalikan pada kak agung, dan lagi-lagi anak itu hanya tersenyum lalu meninggalkanku.

Aku tak perlu menunggu lama untuk bertemu dengan anak kecil berikutnya.
Dia membuatku terkejut dan senang karena yang ia bawa ialah gaun pengantin putih elegan.
Lalu anak berikutnya membawa cadar senada, anak berikutnya membawa sepatu. Hingga muncul anak yang terakhir. Ia menarik tanganku.
Aku mengikutinya dengan kangkah kecil.
Ia membawaku ke tepi sungai yang ada disamping ladang. Ketika sampai disana, ada sekitar 20 anak kecil bersama kak agung yang berdiri ditengah-tengah mereka. Anak kecil itu kemudian berteriak lantang.

"KAK AIS..... KATA KAK AGUNG MENCINTAI KAKAK...
DAN KAK AGUNG MAU TANYA.....  "

Anak kecil itu berhenti berteriak dan sekarang giliran kak agung yang berteriak.

"APAKAH KAMU MAU MENIKAH DENGANKU??? "

Lalu anak kecil yang berlari kepadaku meletakkan sebuah cincin ditanganku. Cincin itu adalah cincin bunga matahari yang belum sempat kak agung pasangkan dijariku.
Aku tersenyum bahagia. Tanpa kusadari airmata menetes dari mataku. Air mata bahagia dan haru.
Kak agung berjalan ke arahku. Saat itu dia memakai kemeja kotak abu-abu dengan kaos dalam bewarna hitam tanpa dikancingkan. Celana jeanss dan separi biru. Aku suka penampilannya. Dia lalu memelukku dengan erat sehingga memberiku rasa hangat karena tubuhku yang menggigil akibat cuaca mendung di Amsterdam, Belanda.
"Jadi, jawaban apa yang akan kuterima hari ini? " tanyanya tenang.
Aku mengusap punggungnya pelan.
"Apa aku harus memakai cincin itu sendiri? " tanyaku lembut.
Dia segera melepas pelukannya. Sambil tersenyum padaku lalu ia memasangkan cincin itu jari manisku. Ia tersenyum laku mengecup keningku dengan lembut.
Kecupan paling indah yang pernah kurasakan dalam hidupku..

****

Tibalah hari itu. Hari saat aku mengenakan gaun pengantinku yang di desain sesimple mungkin. Warna putihnya berkesan manis dan hangat, dengan cadar dan sepatu yang serasi aku berjalan menuju moment yang kuimpikan. Sebuah mesjid megah dijakarta yang dipenuhi dengan sahabat dan orang-orang yang kusayangi.
Aku memilih tempat ijab kabul di mesjid karena aku dan kak agung ingin menjadikan tempat terindah dalam hidup kami adalah tempat kami beribadah.

Hari itu ada ibuku, oma dan opaku, tante tiwi, om irwan, orangtua angkat kak agung, alviah, fahri dan sahabat-sahabatku. Mereka semua datang untuk kami.
Keadaanpun semakin baik setiap harinya. Kak agung berbaikan dengan tante tiwi setelah tante tiwi meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia tidak pernah bermaksud untuk membuang kak agung. Dia tidak mau kak agung malu karena kesalahan yang pernah tante tiwi buat. Tante tiwi hanya ingin melihat anaknya bahagia. Itulah kenapa tante tiwi meminta kak agung pindah ke malang, karena dia tidak bisa menanggung beban rasa bersalah setiap kali melihat kak agung.

Kak agung juga mengenalkanku pada orangtua angkatnya yang pada hari itu juga hadir. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka dan mengucapkan terimakasih untuk kebahagiaan yang aku bawa. Padahal anak merekalah yang membawa kebahagiaan dalam hidupku. Sedangkan alviah dan fahri semakin sumringah dengan kehadiran sang buah hati mereka.

Dengan bahagia mereka melihatku berjalan dengan anggun memasuki mesjid nan indah.
Tapi imal tidak datang hari ini. Karena dia sudah pergi, dia sudah tiada, dia sudah pergi meinggalkanku untuk selamanya.  mungkin sekarang dia sudah duduk bersama janwar dipinggir sungai kecil yang dulu pernah hadir dalam mimpiku.

Ternyata penyakit yang sama merenggut satu lagi nyawa sahabatku.
Takdir membuat janwar harus berbagi penyakit dengan saudara kembarnya.
Penyakit itu yang menyebabkan imal sering pingsan tiba-tiba semasa hidupnya.
Hingga suatu hari aku mengajak tante tiwi ke rumah sakit tempat imal di rawat.
Dan imal meninggalkan kami tepat dihari itu. Sebulan sebelum pernikahanku.
Imal berkata padaku.

"Kamu tidak boleh berjalan dalam kelelahan. Tapi kamu akan berjalan dengan doa cinta dariku, dari janwar dan dari semua orang yang menyayangimu. "

Hari ini aku tahu, aku tak perlu lagi menangis. Karena aku berjalan dengar iringan doa dari mereka. Di dalam mesjid kak agung sudah duduk tegap bersama satu penghulu, orangtua kami dan para saksi.
Kak agung mengenakan jas putih, kemeja putih dan dasi bewarna abu-abu. Dia tersenyum manis padaku.

Aku duduk disamping kak agung, lalu ibuku memasangkan kain untuk menutupi kepala kami.

"Apakah kalian sudah siap? "
Ucap penghulu.
Kami mengangguk.
Lalu penghulu menjabatkan tangan kak agung dengan wali nikahku.
Wajahnya mulai menegang,
"Saya nikahkan engkau Agung Mardian  dengan Aisyah Aliskandar binti Yusup iskandar dengan Mas kawin 24 karat dan sepasang bunga matahari di bayar tunai "
"Saya terima nikahnya.......... .   "

Dan Alhamdulilah...  Dan akhirnya dengan lancar kak agung mengucapkan ijab kabul pernikahan kami. Sebuah janji suci yang ia ucapkan untuk menjalin kasih denganku. Mulai hari ini aku telah resmi menjadi istrinya. Istri yang senantiasa tunduk pada suaminya, istri yang akan mencari jalan menuju surga bersama suaminya, istri yang akan dengan senang hati memberikan cinta kasih dan seluruh hidup untuk suaminya.

Seketika airmata mengalir dipipiku. Lalu aku mencium tangannya sebagai tanda terimakasih pada suamiku.

"Aku pasang cincin ini sebagai tanda bahwa aku akan menjaga kamu semampuku, kita akan hidup bersama untuk mencari Ridho_Nya. "

Lalu ia mengecup keningku dengan lembut. Kutatap matanya, ia menangis. Airmata haru itu membuatku bahagia, betapa beruntungnya aku mempunya suami yang setulus kak agung.

*****

Setelah ini, kami akan tinggal dirumah kami yang baru. Yang dulunya adalah rumah imal. Kami kembali ke Amsterdam. Tapi rumah itu sedikit berubah, kini di sekelilingnya ditanami bunga matahari. Juga ada taman kecil di pekarangan rumah. Taman tersebut di tanami bunga kecil warna warni dan lampu bunga matahari. Bunga cantik itu menerangi rumah kami pada malam hari, sangat indah.

Dan di salah satu sudut rumah, ada satu ruangan yang mengingatkanku akan cinta mereka. Ruangan yang dindingnya dipenuh dengan foto bunga matahari abu-abu dan juga foto-fotoku bersama mereka.

*Grey SunFlower*
ruangan itu adalah hadiah terakhir untukku dari Imal.

Mereka mencintaiku seperti bunga matahari. Dan aku akan selalu  mencintai mereka seperti warna abu-abu. Tidak memihak kepada siapapun. Aku memberikan cinta yang sama seperti warna abu-abu.
Abu-abu yang tidak hitam juga tidak putih.

Aku tahu, setelah ini, pada malam hari aku bisa bermimpi duduk bersama mereka dipinggir sungai cantik dengan latar bunga matahari. Di mimpi itu kami bisa tertawa bersama dan pada pagi harinya aku akan pulang kembali pada suami tercintaku dan dua anak kembarku.
Janwar dan Imal...

TAMAT

Tidak ada komentar: