Rabu, 22 April 2020

mungkinkah aku ?

sudah seminggu terakhir ini kita tak bercengkrama, saling sapa pun tidak. Dan ternyata kau bilang "Aku merindukanmu, bolehkah aku mengeluh?" Ada yang tiba-tiba mengembang disudut bibirku. Lalu setelahnya kau bercerita, saat ini aku hanya ingin menjadi pendengar terbaik untukmu. Tanpa suara. 
Kamu selalu senang bercerita tentang lautan. Seperti gulung gelombang, kamu menunggu seseorang yang kamu yakini akan pulang. Katamu, penantian itu lama, dan terkadang pecah jadi buih. Jadi pasir, jadi angan yang lebih.
Kedua tanganmu memeluk, erat, pada tubuhmu sendiri. Dadamu dingin, tak lagi diisi nama lain. Sepanjang hari, sepanjang tahun, kamu tetap di sana mengira-ngira, akan ada rindu yang datang membawa kabar, harapan, dan debar hatimu yang hilang.
Kamu kembali bercerita, menyebut langit adalah rumah. Kamu memejamkan mata, mengenang warna merah sebelum matahari terbenam, dan kamu masih menunggu seseorang hingga lautan pasang. Aku belum mengerti, siapa seseorang yang kamu rindukan sebenarnya? 
Mungkinkah aku ?

Kopians Apr 22 | 2020 

Sabtu, 11 April 2020

Will we walk in a more certain direction?

'Kamu menyukai kopi dengan sedikit gula. Dan aku menyukaimu ketika tertawa, seperti melihat pelangi dan senja diwaktu yang sama'
Itulah serentetan kata yang dapat aku ungkapkan malam ini zam, sebuah tawa yang sedikit menyembuhkan sakit filekku. Seringkali percakapan kita terjalin begitu-begitu saja. Menanyakan kabar, sudah makan atau belum, bagaimana aktivitas hari ini. Setiap harinya selalu begitu. Terkadang aku merasa bosan dengan apa yang sedang kita jalani saat ini. Kita seperti dua insan yang saling mencintai namun tak berani untuk melangkah ke jalan yang lebih pasti. 
Keheningan menghentikan pembicaraan kita, hanya terdengar hembusan nafas diujung telepon sana. 
"Aku sangat merindukan malam ini, aku yakin ini tidak keliru😔"
Aku mencoba mencerna apa yang kau katakan. Sebelum beberapa saat aku berbicara.
"Apa yang kau rindukan dariku?"
Ia terdiam cukup lama.
"Aku tidak tau, yang jelas aku sangat merindukanmu. " Jelasnya.
"Kurasa akhir-akhir ini sikapmu sedikit berubah. Kau tidak perhatian, kau tidak melarangku, kau tak lagi mengingatkanku pada hal-hal yang baik. Aku rindu itu Ais." lanjutnya .
"Maaf kan aku zam. Aku hanya takut." Jawabku .
"Apa yang kau takutkan dariku Ais?
"Aku takut menaruh harapan lebih dalam padamu. Aku takut semakin menyayangi sedangkan kamu tidak. Aku tak ingin patah hati lagi zam. Aku sudah malas merasakan itu semua." 
Lagi dan lagi dia terdiam. Nampaknya sedang berpikir sesuatu.
"Untuk masalah hati, sekarang aku pasrah saja. Mengikuti alur dan takdir yang sudah Allah tetepakan untukku. Jika kamu mempunya niat baik padaku, maka aku selalu berdoa yg terbaik untukmu." Lanjutmu.
"Aku mencintaimu Aisyah, namun untuk sekarang aku belum bisa bertindak sebagai apapun."
"Ya. Dan semoga tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita."


Dengarlah Zam!! Sudah kukatakan jangan terlalu membuang waktu untuk membuatku jatuh dalam hatimu. Jika waktu sudah mengizinkan, siapa lagi yang akan menghalangi kita. Semua butuh proses, tak ada hal indah yang didapat dengan instan. Aku tertegun dengan ketulusanmu, dengan kesabaran dan rasa yang ikhlas. Dan sekarang, cintailah aku dengan sewajarnya. Karena jika waktu tak mengizinkan kita tuk bersama, tak akan rasa sakit yang tercipta dengan luarbiasa.
Seakan semuanya baik-baik saja. Kau mencintaiku kan? Maka akupun begitu :)


April 11 March || 23.25