*GSF* part39
Selesai makan imal mengantarku pulang. Kepalaku kini dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah imal menyadari ketidakjujuranku? Aku merasa sangat bersalah. Bahkan saat ini bayangan imal masih tinggal dipikiranku.
Aku rasa sudah gila saat secara tak sadar aku menekan nomor kak Agung.
"Halo.. Iya Ada apa ais? " suaranya terdengar serak dan lelah
"Kamu sakit, kak? " tanyaku khawatir.
"Tidak. I'm fine. Maaf ada yang ingin kamu bicarakan? Karena aku sudah mengantuk. " jawabnya sinis. Aku rasa dia masih belum mau bicara denganku setelah kejadian tadi siang.
"Mmmm.. Tidak. Aku... Aku hanya ingin mendengar suaramu saja dan mengucapkan selamat malam. "
"Ooh selamat malam juga. " jawabnya singkat dan langsung menutup teleponnya. Aku rasa dia memang sudah membenciku.
Aku tahu ini salah. Aku tahu aku keterlaluan. Tapi ingatan tentang kak agung membuatku tak bisa tidur. Dan tiba-tiba ponselku berdering. Aku langsung menekan tombol OK saat kulihat nama kak agung yang terpampang jelas dilayar ponselku.
"Kaaaaak.... " panggilku lirih. Saat itu jam tiga pagi. Kenapa dia menelponku?
"Aiss.... "
"Iyaaa kak.. Ada apa? "
Pertanyaanku mengapung diudara.
"Bi.. Bisakah kamu bicara? " suaranya tercekat.
"Bicara apa? "
"Bicara apa saja.. "
Kak agung terdengar menelan ludah dengan berat.
"Aku tidak bisa tidur, padahal sudah dua obat tidur yang kuminum. Aku sangat ingin mendengar suaramu. "
Aku terdiam. Bagaimana bisa aku dan dia bisa merasakan hal yang sama? Aku ingin mendengar suaranya dan dia juga seperti itu. Kenapa takdir ini begitu menyiksa kami?
"Aiss... Apakah kamu masih disana? " panggilnya.
"I.. Iya kak. Baiklah, bagaimana kalau kakak mendengarkanku bercerita. Tapi kamu harus tutup mata kamu sekarang ya kak. "
"Iyaa.. "
Aku menunggu sekitar lima detik sambil berusaha menenangkan diri.
"Dulu, beberapa tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Pria yang mempunyai rasa percaya diri melebihi dosis. Saat itu tak kusangka ia akan menjadi sahabatku. " aku yertawa kecil. Dari seberang telpon hanya ada keheningan. Aku melanjutkan ceritaku.
"Setiap hari aku berterimakasih pada Allah karena aku bisa mengenalnya. Dia mengubah banyak hal dalam hidupku. Dia itu seperti pohon dalam hidupku. Saat dia masih kecil, dia memberiku kebahagiaan karena keindahannya. Saat pohon itu tumbuh besar, dia menjadi tempat bersandarku. Dengan tubuhnya yang kokoh, dia tidak pernah mengatakan 'Tidak' saat aku membutuhkannya. Dengan daunnya, ia melindungiku dari hujan dan panasnya dunia. Dia selalu berusaha melindungiku, memberikan yang terbaik untukku. Dan dia selalu membuatku untuk selalu tersenyum kembali. "
"Kaaaaaak.. " dia tidak menjawab.
Tampaknya dia sudah tertidur. Tapi aku masih ingin melanjutkan ceritaku.
"Dan sekarang aku ingin minta maaf pada pohon itu karena aku sudah melukainya. Aku membuatnya menangis, aku menyakitinya begitu dalam, aku meninggalkannya sendiri. Aku rasa sekarang pohon itu sudah mati dan itu semua jelas karena keaalahanku. Karena aku tak lagi menemaninya dan mengajaknya bicara. Maafkan aku ya pohon, meskipun aku tahu kesalahanku tidak hanya bisa dibalas hanya dengan kata maaf saja.
Tapi apakah pohon itu tahu, bahwa sekarang sudah berubah? Karena sekarang aku sangat mencintai pohon itu dan ingin memberikan yang terbaik untuknya. Aku tahu aku sudah berdiri ditempat yang salah karena kebodohanku. Maafkan aku pohon, aku tidak sanggup melihatmu tersakiti dan aku tidak mampu berbuat apapun untukmu, untuk melawan takdir ini. "
Airmataku mengalir dan kututup telponnya. Lima detik kemudian ada SMS masuk. Dari Kak agung...
Pohon itu belum mati. Dan tidak akan pernah mati. Dia masih berdiri dengan kokoh. Tak ada yang mampu meruntuhkannya. Pohon tua itu dengan setia menunggu temannya dan bersedia melindunginya lagi.
Air mataku semakin menangis. Lalu dengan gemetar aku membalasnya.
Tapi sayangnya aku tidak bisa kembali ke pohon itu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak mungkin meninggalkan kekasihku imal saat ini. Aku tidak akan sanggup.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar