*GSF* part42
Tiga bulan kemudian.....
"Makan siang di direstoran aku aja ya sayang. " imal mencari CD sambil menyetir.
"Kamu nyari apa sayang? Biar aku yang nyariin sini, kamu kan lagi nyetir. Kita kerumah sakit duku ya, ajak kak agung makan bareng. Dia pasti juga belum makan siang. Tidak apa-apa kan? "
Imal langsung menatapku seakan tak percaya.
"Yaaahh... Tapi aku ingin membicarakan sesuatu padamu ais. "
Imal kembali sibuk mencari CD.
"Penting! " dia menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan memohon.
"Mau bicara apa? Didepan kak agung juga tidak apa-apa kok. Kasihan dia sayang, tidak ada yang memberi perhatian. Badannya jadi kurus kering sejak pindah kesini. Lagian sudah lama juga tidak ketemu dia. " aku tersenyum.
"Hmmm.. Yasudahlah. Terserah kamu saja. "
Imal mengarahkan mobilnya kearah rumah sakit kak agung bekerja.
"Lhooo ada apa ini? Kamu sakit lagi? " kak agung tampak kaget melihat aku datang bersamma imal. Ekspresinya begitu tenang, seakan kejadian tiga bulan lalu tidak pernah terjadi. Sejak dia sakit waktu itu, aku tidak pernah mengunjunginya lagi.
"Kita mau ngajakin pak dokter makan siang nih. "
Aku langsung melihat kearah imal.
"Iya kan, mal? "
"Eh iya.. Aku yang traktir. " jawab imal sedikit enggan.
Aku tidak peduli karena aku ingin sekali kak agung ikut hari ini.
Entah kenapa hari ini restoran sepi sekali. Padahal biasanya ramai. Disana hanya ada kami bertiga dan para pelayan. Imal dan kak agung tidak terlalu banyak mengobrol. Aku bisa mengerti alasannya. Akupun tidak akan mudah jika berada diposisi mereka.
"Sayang., tadi katanya mau bicara sesuatu? Bicara apa?"
"Eemm... " imal tampak ragu.
"Kamu mau eskrim tidak? "
Aku mengangguk bersemangat. Imal lalu mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya, dia memanggil seorang pelayan.
"Kok jadi pesen eskrim sih? Tadi katanya mau bicara? "
Aku mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
Bukannya menjawab imal malah tersenyum. Semenit kemudian seorang pelayan datang dengan membawa eskrim. Aku baru akan mengucapkan terimakasih, tapi pelayan lain sudah menyusul dan masing-masing juga membawa segelas eskrim.
Aku kaget bukan main. Kenapa Semua pelayan datang? Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua pelayan berbicara dengan lantang dan bersamaan.
'Would you marry him? '
Aku terbelalak tak percaya. Kututup mulutku dengan kedua tangan.
Lalu imal angkat suara.
"Tidak langsung menikah kok, kita bertunangan saja dulu, kalau kamu terima aku, kamu makan semua eskrim ini ya. "
Lalu pelayan yang jumlahnya sebelas orang itu meletakkan mangkuk cantik yang semuanya berisi sebongkah kecil eskrim yang rasanya berbeda. Aku masih tidak percaya.
Aku menatap ke arah kak agung. Dia mencoba tersenyum padaku, tapi dalam matanya aku bisa merasakan sesuatu. Luka yang mulai basah kembali. Senyum pahit yang mengoyak hatiku. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Coba kalau tadi aku tidak memaksanya untuk ikut, pasti tidak akan seperti ini, lagi dan lagi aku menyakiti hatinya.
Aku memakan eskrim-eskrim itu. Jantungku berdegup keras ketika suap demi suap eskrim yang ku makan. Pada saat aku sampai di mangkuk terakhir, yang baru saja aku terperangah. Ternyata isinya buka eskrim tapi cincin emas putih yang matanya terbuat dari batu safir bewarna hijau. Indah sekali.
"Ini artinya aku bisa memasangkan cincin, ini kan? "Tanya imal dengan nada lembut. Sebelum mengangguk aku masih sempat memandang wajah kak agung dan matanya yang menatap lurus ke jariku.
Imal meraih tangan kiriku. Wajahnya sangat bahagia sekali. aku tidak akan tega menolaknya, aku tidak sanggup menghadapi semua ini.
Saat cincin itu sudah terpasang, tiba-tiba kak agung berdiri dan pergi begitu saja. Aku memandang wajah imal dengan wajah cemas, aku sadar aku telah membuat luka dihati kak agung lagi. Aku telah menyakiti hatinya dan hatiku sendiri.
"Kamu bisa kejar dia kalau kamu mau. Aku tunggu kamu dirumah. " ucap imal dengan lembut.
"Makasih sayang... " aku memegang pipinya dan langsung pergi mengejar kak agung.
Aku berusaha mencarinya. Aku berlari dan napasku mulai sesak. Aku sadar aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku tidak bisa melihat kak agung terluka. Aku tidak rela melihatnya sakit. Dan tampaknya aku ragu dengan pertunangan ini. Aku ingin kak agung yang memasangkan cincin itu dijariku, bukan imal.
Aku terus mencari dan mencari, berlari dan berlari. Aku menelponnya, tapi tidak diangkat. Aku terus mencarinya sampai akhirnya kutemukan dia sedang duduk dibangku taman yang lumayan jauh dari restoran.
Aku duduk dengan hati-hati disebelahnya. Aku menyiapkan kata-kata. Tapi aku takut untuk bicara. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Wajahnya sangat emosi. Matanya merah seperti menahan tangis. Selama sepuluh menit kami hanya duduk dalam diam.
"Capek larinya? Masih ngos-ngosan?" tanya kak agung memecah kesunyian. Nadanya terdengar sinis.
"Mmmm.. Iya sedikit. Ka.. Kamu kenapa tadi pergi kak? "
Aku bertanya dengan napas yang masih belum teratur.
"Seperti itulah aku mengejar kamu sampai disini. Seperti itulah caraku bernapas setiap hari karena mengejar kamu aisyah. "
Pandangannya tetap lurus kedepan. Aku tertegun mendengar kata-katanya. Seperti ada luka lama yang terbuka lagi. Dan rasanya puluhan kali lebih perih dibanding pada saat luka itu pertamakali muncul.
Kak agung melanjutkan kata-katanya.
"Aku bekerja disini karena kamu. Aku mengejar kamu sampai kesini aisyah. Aku masih berharap kamu akan mencintai sahabatmu ini. Tapi ternyata ini yang kudapat. Aku tahu, aku sadar bahwa sepenuhnya aku yang salah. Seharusnya dulu aku sudah menyerah saja. Maaf ais, maafkan perasaanku. Aku seharusnya sadar, aku sudah tidak punya harapan lagi. Hanya..... "
Kak agung menelan ludah.
"Hanya saja aku tidak mampu untuk menahan perasaan ini ais. Makin aku tahan makin memberontak. Jujur, aku tidak mampu menahan rasa sakit yang sekarang harus kuterima. Selamat ya untuk kamu dan imal. Aku harap dia bisa membahagiakan kamu. Kakak sayang kamu aisyah. Aku sangat mencintaimu. Tapi tenang saja, setelah ini kamu tidak akan kehilanganku sebagai sosok sahabat kok. "
Aku terisak.
"Sudah dua tahun aku ingin memberikan ini padamu. "
Kak agung menaruh sebuah kotak abu-abu dengan amplop yang bewarna sama dibawahnya. Lalu Ia pergi meninggalkan aku dan kotak abu-abu itu.
Aku terdiam beberapa saat sampai akhirnya aku berani membuka amplop itu. Didalamnya ada sebuah kertas kecil bewarna kuning. Dan tulisan didalamnyaa...
I Love You...
Aku tepati janjiku yang dulu.
Agung Mardian
Lalu kubuka kotak bewarna abu-abu. Ada cincin didalamnya. Cincin bunga matahari yang pernah ia janjikan. Hari ini dia tepati janji itu.
Aku menangis, kedua tanganku menutupi wajahku. Apa yang harus kulakukan?
Aku tak bisa berpikir dengan baik. Aku menuju jalan raya. Bisa kurasakan beberapa pasang mata melihat kearahku yang berjalan linglung. Aku menyetop taksi lalu pulang kerumah imal. Aku tidak mungkin pulang kerumahku dengan keadaan seperti ini. Yang kubutuhkan hari ini adalah bicara. Bicara dengan tunanganku.
Aku kira imal sudah sampai rumah. Ternyata belum. Mungkin dia sedang membereskan restorannya. Aku masuk dengan kunci yang kumiliki. Aku langsung membuka kulkas dan mengambil segelas susu.
Aku membaringkan tubuhku diruang tamu. Aku benar-benar hancur dengan situasi yang kualami sekarang. Disatu sisi aku menyayangi imal. Dengan segala kejutannya, dengan semua kasih sayang yang ia berikan, dengan segala kegembiraan yang ia sediakan untukku. Apa yang bisa menjadi alasanku untuk menolak lamarannya?
tapi disisi lain terkadang yang kurindukan itu kak agung. Aku ingin dia selalu disampingku. Aku tahu betul bagaimana tulusnya perasaan dia padaku. Dia tidak pernah menuntut apapun. Yang dia lakukan hanya memberi dan berkorban untukku.
Tiba-tiba komputer imal berbunyi. Kebiasaan buruk ini tidak pernah hilang. Imal sering lupa mematikan komputernya kalau pergi ke luar. Tampaknya ada email masuk. Aku duduk dikursi depan komputer lalu membukanya.
Dan isi pesannya, membuat seluruh pertanyaan dalam kepalaku membuncar.....
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar