Senin, 04 Desember 2017

Grey Sun Flower part11

*GSF* part11
.
Setelah mengungkapkan apa yang selama ini kami pendam dalam hati,  aku berhasil menghentikan tangisku. Kami memutuskan bahwa janwar harus beristirahat kembali. Meski sebelumnya janwar bersikeras bahwa ia telah membaik akhirnya ia menyerah dan menuruti semua perkataanku.
Aku membantunya naik ketempat tidur. Ada makanan dikamarnya. Aku berjalan menuju baki berwarna abu itu untuk mengambil makanannya.
"Aku belum mau makan, ais. Oh ya, aku daritadi mau tanya tapi baru ingat sekarang.  Kaki kamu kenapa? Kok pincang dan lebam seperti itu?" tanya janwar sambil membetulkam posisi duduknya diatas tempat tidur.
Aku menghampirinya sambil tertawa kecil. Kaki ini sudah berkurang sakitnya, walaupun aku masih belum mampuberjalan dengan seimbang. "Aku baik-baik saja, kemarin terpeleset dikamar mandi."
Entah bagaimana janwar tahu aku berbohong. "Lainkali jangan sampai menyakiti dirimu sendiri karena aku." katanya singkat dan datar.
"Hah?? menyakiti diri karena kamu? Maksudnya? Aku bener terpeleset dikamar mandi kok." aku berusaha mengelak.
Janwar tertawa sinis.
"Kamu jatuh dari tangga, kan? Aku tahu itu." aku tak bisa berkilah lagi. Ternyata janwar tahu yang sebenarnya. Tibatiba ia menarik tanganku dan menggenggamnya erat.  Jantungku berdegup kencang.
"Ais,  mulai detik ini dan sampai suatu saat yang aku tidak tahu kapan, kamu harus dengarkan apa yang aku katakan. Disetiap kata-kataku akan ada pesan untuk kamu. Pesan yang harus kamu ingat kalau aku sudah tiada nanti." Lidahku tercekat.
Bagaimana dia bisa segamblang itu mengatakan bahwa ia akan meninggalkanku sebentar lagi? Apa dia tidak bisa menjaga perasaanku sedikit saja? Bagaimanapun aku ngeri jika harus membayangkan dia meninggalkanku selamanya.
Baru aku mau menimpali, janwar melanjutkan perkataannya. 
"Kamu jangan menjadi orang yang naif, sekuat apapun kamu menyangkal kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa umurku memang tidak selama yang kita harapkan. Aku ingin kamu bisa menerima kenyataan dengan keberanian dan hati yang besar."
Aku merasa limbung dengan semua perkataannya. Kutatap matanya. Kucari sebuah jawaban disana.
"A...  Aku ku tidak akan berani berharap banyak untuk melihat kamu terus ada disini, disampingku. Tapi aku masih boleh punya permintaan, kan? Aku hanya ingin kamu memberikan aku kesempatan, sedikit saja."
"Apa? " jawabnya singkat.
"Aku ingin menjadi sesuatu untuk kamu." ucapku lirih.
"Aku akan berusaha semampuku." lanjutku. Janwar memelukku dengan jemarinya yang dingin. "Berdoalah untukku ais, berdoalah agar sang maha pencipta mau memberikan sedikit ToleransiNya untukku."
Dia memintaku untuk duduk disampingnya. Ia menatapku.
"Apa yang membuatmu berfikir aku menarik?" tanyanya lembut.
Aku berpikir sejenak. Rasanya sulit sekali berpikir dalam keadaan seperti ini. Mengendalikan detak jantung saja aku sudah kewalahan.
"Akupun tidak tahu. Kamu itu tampan,  tapi ketampananmu bukan satu-satunya alasan yang membuatmu begitu menarik. Aku suka kepribadianmu. Tapi kepribadianmu juga bukan satu satunya yang membuat kamu begitu menarik dimataku. Jadi jawaban seperti apa yang bisa aku berikan untuk kamu.?"
Ia tertawa pelan. "Itu sudah lebih dari sebuah jawaban untukku, ais."
Kami diam sejenak. Menikmati suasana seperti ini. Lalu ia bertanya lagi.
"Apa perasaanmu tidak berubah sedikitpun untukku, ais?"
"Seincipun tidak jan, tidak sama sekali."
"Bahkan dengan adanya Agung disamping kamu?"
Aku langsung mendongak menatap matanya.
"Agung hanya sahabatku jan. Dia tidak mungkin mengubah perasaanku padamu."
Tatapan janwar berubah menjadi sedih.
"Ais.. Pada akhirnya aku akan menjadi jelek. Penyakitku ini akan membuatku tidak menarik lagi, apakah perasaanmu akan tetap sama?"
Aku mengangguk mantap.
"Waktu delapan tahun saja tidak sanggup mengubah perasaan aku ke kamu. Bagaimana mungkin hanya karena penyakit perasaanku bisa kalah? Tidak mungkir janwar."
"Tapi tidak lama lagi, aku akan meninggalkan kamu, ais. Apa perasaanmu masih tetap sama?"
Aku berpikir sejenak,  "aku malas memikirkan hari nanti jan, semua itu hanya membuat dadaku sesak. Lebih baik aku memikirkan bagaimana menyelesaikan hari ini."
Janwar mempererat pelukannya. Aku masih bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi seperti dulu.
"Suatu hari nanti, kamu harus mengubah perasaanmu terhadapku, ais. Kamu tidak akan sanggup menyelesaikan hari-harimu jika kamu mempertahankan perasaan yang sama."
Aku mengelus lembut punggungnya.
"Bukan aku yang mempertahankannya, jan. Tapi Perasaan ini tidak mau beranjak dari tempatnya, bagaimanapun aku berusaha..... "
Janwar meletakan dagunya diatas ubun-ubunku.
"Suatu hari nanti perasaan itu akan berubah, pasti...  Akan ada yang sanggup mengubahnya."
"Kenapa kamu ingin sekali mengubah perasaanku padamu jan?"
Ia menarik nafs panjang. Aku bisa merasakan tarikan nafasnya dan detak jantungnya.
"Itu penting. Sudah kubilang aku akan meninggalkanmu."
"Apa kamu sangat ingin meninggalkanku? Tidak maukan kamu berusaha lebih keras untukku?"
"Tenyu saja aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku tidak rela. Dan aku ada disini sekatang,  disampingmu. Apa kamu tahu?  aku disini karena sudah berusaha dengan sangat keras, ais." jawabnya lirih.
Tubuhku bergetar.
"Aku mencintai kamu.. Karena itu aku berjuang untuk hidup. Jadi berjanjilah, kamu harus bisa mengubah perasaanmu terhadapku."mohonnya sekali lagi.
Aku tidak mungkin menjawab 'ya'.  Mana mungkin aku berjanji untuk satu hal yang aku sendiri tidak akan sanggup menepatinya. Jadi, aku putuskan mengakihkan pembicaraan daripada aku harus tersiksa rerlalu lama.
"Kamu harus makan."
Dengan sigap aku kembali mengambil makanannya.
"Aku tahu kamu tidak akan menjawabnya. Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Dan akau tidak akan memaksakamu untuk berjanji karena sebenarnya akupun tidak rela jika kamu harus mencintai pria lain. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu, agar kamu bisa berjalan dan bahagia tanpa harus ada aku disamping kamu." ujarnya bersungguh-sungguh.
"Selama inipun aku hidup dan berjalan tanpa kamu ais. Dan aku bisa melewatinya. Dan aku yakin kamu juga pasti bisa."
"Sudah cukup, aku tidak mau mendengar lagi.  Sekarang makan."
Aku menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutnya. Aku tidak mungkin bisa melakukannya. Kalau saja dia tahu usahaku mencari dia selama ini.
****
Ia tersenyum.  Lalu kami berbicara ke obrolan ringan.  Aku dengan senang hati menanggapi obrolan ringat itu dengan senyum dan tawa. Ia terus menerus menatapku membuatku jadi salah tingkah. Ia tersenyum berulangkali dan terkadang tanpa alasan yang jelas.  Aku belum terbiasa dengan hal ini. Aku belum percaya kejadian hari ini. Aku seperti bermimpi.  Aku masih belum percaya bisa sedekat ini dengan janwar.
"Kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanyaku bingung.
Tawanya meledak lalu ia menjawab.
"Ternyata kamu benar benar mirip bunga matahari"
Aku semakin bingung dengan jawabannya. Tapi ketika hendak aku mau bertanya lagi.  Tiba-tiba Kak agung datang,  dia masuk keruangan. Aku terkejut melihatnya.
Dia ternyum pada kami.
"gimana jan?  Lo udah mendingan?" katanya santai seperti sudah kenal lama dengan janwar. Sekarang dia berdiri disebelahku.
Janwar belas tersenyum.
"Yaa lumayan lah dibanding kemarin. Lo mau jemput ais?"
"Sekalian jenguk lo lah. Tapi tujuan utamanya sih jemput nih anak. Gue tahu dia pasti gak sadar kalo udah sore." kak agung melirikku dengan lirikan sindiran.
Aku melihat jam tanganku. Ya ampuuun sudah jam lima sore,  aku juga belum sempat mengabari ibu lagi.
"Gue tahu gak ada orang sebaik gue yang mau jemput dia kaya gini hahaaaa. " sambung kak agung.
"Apaan sih? Ribet deh." timpalku.
Sedangkan janwar hanya tertawa melihat tingkah kami.
"Ayoo pulang,  masih betah banget kayanya." kak agung mengulurkan tangannya.
"Yaudah ayooo." tanpa ragu aku menyambut ukuran tangannya. Aku memang sangat lelah dan butuh istirahat hari ini.
"Aku pulang ya jan." janwar mengangguk dan tersenyum manis. Aku berbisik padanya
"I LOVE YOU" lalu aku berlari kecil meninggalkannya.
Setelah diluar ruangan.
"Boleh minta tolong gak?" pintaku pada kak agung.
"Apa? "
"Aku cape kaaaak.."
"Terus" jawabnya singkat.
"Boleh minta gendong gak?"
Tanpa protes ia langsung berjongkok dihadapanku.  Aku dengan senang hati naik kepunggungnya yang hangat. Bukannya aku malas berjalan tapi aku memang sangat lelah. Aroma tubuhnya membuatku rileks.
Aku meletakkan kepalaku dipundaknya.
"Kaaaaaak... "
"Hmmmmmm... " ia bergumam pelan.
"Tadi siang..... "
"Kenapa tadi siang?" tanyanya malas-malasan.
"Janwar mengungkapkan perasaannya padaku.  Dia bilang dia sudah menyimpan perasaan padaku sejak di sekolah dulu. Jadi selama ini aku tidak bertepuk sebelah tangan." aku memperlihatkan senyum bahagiaku. Dan beberapa detik kemudian aku tersadar,  aku sudah menyakiti perasaannya
"Oh, ya?  Waaaah, akhirnya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kakak seneng kalo kamu seneng. Semoga cepat sembuh dan bisa selalu ada buat kamu."
Ada kekecewaan dalam nada bicaranya.
"Aaa.. Aku minta maaf.  Aku tidak bermaksud kak,  seharusnya aku tidak perlu bicarakan hal ini sama kakak. "
Kak agung menoleh padaku, sehingga jarak wajah diantara kami sangat dekat. "Memangnya kenapa?" tanyanya seolah tak mengerti maksudku.
Aku tersenyum miring.
"Ya.. Aku takut menyakiti perasaan kakak terlalu dalam lagi."
Dia tersenyum kecil. Lalu tatapannya menatap jauh kedepan.
"Kamu takut kakak sedih karena tahu kamu dan dia sudah jadian? Iya?"
Aku mengangguk pelan mengiyakan.
Ia kembali tertawa.
"Sebesar apapun kamu minta maaf, itu tidak akan bisa merubah rasa sayang kakak ke kamu ais. Sorry banget, kakak tidak bisa untuk jauh jauh dari kamu. Kakak tidak bisa berhenti memikirkan kamu, dan kakak tidak bisa berhenti untuk selalu ada disamping kamu disaat kamu butuh teman,  meski hanya sekedar mendengarkan cerita atau menggendong kamu."
"Kenapa kak? Kenapa harus seluarbiasa ini?  Kenapa kk melakukan semua ini kalau tahu akan menambah sakit hati kakak? Kenapa kakak bisa menyayangi aku padahal aku tidak bisa memberikan apapun sama kk."
Pertanyaanku lagi lagi hanya membuatnya tersenyum.
"Maaf ais.  Kakak belum bisa menjawab semua pertanyaan kamu karena kakak belum menwmukan jawabannya."
Aku berdiam sejenak memejamkan mataku. Lagilagi ada yang jatuh,  dalam tubuhku ada yang sesak.
"Dan kira-kira kapan kamu mau turun? Pegel nih."
Lalu aku turun. Lalu dia melihatku
"Lhoooo kok nangis,  perkataan kakak menyakiti kamu? Kk minta maaf."
Dia menghapus airmatku dengan jarinya yang hangat.
"Kakak mohon jangan seperti ini."
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Maafkan aku kak... " ucapku lirih.
Dia memelukku,  sekali lagi dia memelukku.  Erat sekali.

NEXT

Tidak ada komentar: