uatu kali kamu pernah bertanya seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu
sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali.
Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku
menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap
berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua, nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi
atau teh. Kamu mungkin tidak setampan dulu lagi. Tetapi bagiku, kamu masih tetap tampan sesuai dengan usiamu. Kita mungkin sudah tidak akan sekuat dulu lagi, ketika kita masih bisa mengunjungi
banyak tempat. Ketika kita bisa menaklukkan ketinggian ribuan Mdpl berbagai puncak gunung karena kaki kita sudah tak lagi sehebat biasanya.
Tetapi waktu yang bisa kita habiskan di masa tua akan terasa lebih lama dibandingkan ketika usia kita masih dua puluh tiga. Karena kita akan menikmati waktu-waktu itu dengan percakapan- percakapan yang berisi tentang kenangan di masa muda. Kita akan tertawa membicarakan
masa lalu kita. Bukan, bukan masa lalu kita bersama orang lain. Tetapi tentang kita berdua tentu saja. Kita melakukan flashback dari pertama bertemu hingga sampai pada usia tua. Aku akan tertawa setiap kali mengingat momen-momen
konyol yang pernah terjadi di antara kita berdua. Tentang pertengkaran-pertengkarannya, kebodohan-kebodohan mempertahankan ego
masing-masing, tentang kecerewetanmu dan
kekeraskepalaanku, dan segala hal konyol lainnya yang membuat kita tak bisa berhenti mengenangnya. Tetapi meski dengan semua itu, dengan semua pertengkaran dan ego kita ketika masih muda dulu, kita masih bisa bertahan, sekarang dan nanti.
Lalu setelah itu, aku pasti bersyukur karena kita masih dibersamakan oleh Tuhan. Bahwa kita masih bertahan sampai raga kita menua. Egoku
besar, egomu jauh lebih besar. kamu keras kepala, aku jauh lebih keras kepala. Tetapi kamu selalu mau berubah meski harus lebih dahulu
marah-marah. Dan aku mau bersabar agar tidak lebih lama bertengkar atau membuat masalah itu menjadi lebih besar. Dan mungkin pada saat tua nanti, kamu akan mengatakan bahwa kamu pernah bertemu dengan orang lain yang lebih baik dari aku. aku
pun juga begitu. Tetapi kamu tetap memutuskan untuk menjatuhkan pilihan padaku dan aku tetap
memutuskan memilihmu. Mungkin pernah terlintas untuk pergi, namun tak pernah bisa beranjak walau sesenti. Mungkin pernah bosan dan merasa tidak lagi sama dan tidak lagi saling mengerti, tetapi kemudian memperbaikinya lagi hingga kita tetap memutuskan untuk tetap di
sini. Kita masih di sini sampai sekarang ini. Karena meskipun sudah menua nanti, aku masih bisa bercanda tentang pipi keriputmu atau uban
pendekmumu. Aku masih bisa meledek gigi ompongmu. Aku akan tetap berada di sini.
Mencintaimu lagi dan lagi.
A new someone untuk masadepan
Senin, 26 September 2016
IZ i love you
Aku memandangi wajahmu dengan rasa rindu
yang mungkin hanya aku dan Tuhan pahami.
Kamu yang sejak tadi kupandangi hanya
tersenyum jahil berharap pandanganku tidak lagi
mengarah padamu. Dalam hitungan jam, kita
sudah berbincang banyak hal, namun mengapa
aku masih belum bosan untuk mengalihkan
padanganku kepada yang lain?
Berhari-hari, aku tidak menatapmu, rasanya dua
hari saja tidak memandangimu cukup membuat
rasa rinduku menderas seperti hujan di langit
leuwisadeng sore
itu. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku semakin
mencintaimu. Aku semakin jatuh cinta pada
caramu memandangiku, caramu merangkul
bahuku, caramu membisikan
kata-kata manis di telingaku, caramu
menggenggam jemariku, caramu memanggil
namaku, dan cara-cara lain yang kamulakukan--
yang selalu berhasil membuatku bahagia.
Aku tidak bisa berbohong bahwa hanya chat
darimulah yang aku tunggu. Kamu adalah
notifikasi favoritku. Kamu adalah suntikan
keajaiban yang membuatku selalu bahagia
menatap layar ponselku. Ketika namamu tertera
di sana, cepat-cepat aku membalas, dan
berharap balasan darimu juga segera masuk.
Hingga hari ini, hanyalah kamu yang kunanti, tapi
aku cukup sadar diri bahwa kebahagiaan ini
mungkin saja segera berakhir. Aku cukup sadar
diri bahwa kamu tidak akan mungkin bisa aku
miliki. Aku cukup tahu bahwa aku dan kamu bisa
saja segera berakhir, tanpa alasan dan
penjelasan, tanpa ucapan perpisahan.
Aku cukup paham bahwa kamu bukan seutuhnya
milikku karena keberasamaan kita memang
hanyalah kebahagiaan sesaat yang akan segera
hilang dengan pergantian musim atau bahkan
bulan. Aku tahu ini semua akan segera berakhir
bahkan sebelum kamu benar-benar mengerti
seberapa dalam perasaanku. Aku juga tahu
hubungan kita otomatis akan berakhir, bisa saja
berakhir kapan pun, karena aku tahu di mana
posisiku berdiri saat ini. Semua tentang akhir.
Mungkin, kebahagiaan tidak akan pernah jadi
milik kita dalam jangka panjang. Maka, kubiarkan
kamu memelukku dengan erat, sebelum kita
benar-benar berpisah. Kubiarkan kamu tetap
berbisik sambil memanggil namaku dengan
lembut karena mungkin ini bisa saja pertemuan
terakhir kita. Kamu juga tahu, hubungan kita
penuh banyak kejutan, kita tidak
akan pernah tahu kapan hadirnya perpisahan,
yang aku dan kamu tahu adalah bahwa kita
masih punya waktu untuk menikmati sisa-sisa
waktu yang kita berdua miliki. Seringkali, di
tengah-tengah pelukmu, kamu
menceritakan tentang kekasihmu.
Saat itu, mungkin kamu tidak memikirkan betapa
sesaknya dadaku, betapa sesaknya menerka
kenyataan bahwa mungkin aku hanyalah pelarian
untuk menghilangkan kebosanan. Ketika kamu
menceritakan tentang kekasihmu, aku memilih
mendengarkan dengan baik, sambil menatap
matamu dalam-dalam, berusaha mencari
kesungguhan dalam mata itu, berusaha
menjawab pertanyaan; adakah aku dalam mata
dan hatimu? Apa yang aku temukan? Aku juga
menemukan diriku dalam matamu. Aku
menemukan sosok bayanganmu dalam matamu.
Tapi, bayangan itu menghilang, memudar,
seakan sebuah isyarat bahwa kesalahan ini harus
segera kita akhiri.
Kamu selalu begitu. Membawa amarah, api, dan
tangismu, ke dalam bahuku. Kamu pasti begitu.
Melarikan segara marah dan kesalmu, mengarah
kan cerita sebalmu tentang kekasihmu, dan
menumpahkan segalanya padaku. Lalu, ketika
aku berhasil memandamkan apimu, kamu
akan dengan setia berbalik arah. Setelah aku
berhasil sembuhkan lukamu, kamu dengan cepat
pergi meninggalkanku. Jelas, ini sangat tidak adil
bagiku, bagi orang yang juga mencintaimu. Tidak
bisakah kamu tinggal lebih lama lagi dan
memelukku lebih hangat sekali lagi? Karena aku
bosan menunggu di beranda rumah, berharap
kamu pulang setelah lelah berperang, dan
mengingat bahwa masih ada orang yang
menunggumu datang masuk ke dalam peluknya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan
sekarang. Apakah aku harus lari atau aku cukup
diam saja dan menganggap semua tidak pernah
terjadi? Apakah aku harus bersikap biasa saja,
tetap mencintaimu seperti kemarin-kemarin, dan
menganggap pelukmu serta ucapan cintamu
bukanlah bualan? Aku tahu ucapan cintamu tidak
pernah berbohong
Aku tahu betul, matamu tidak
akan berhasil membohongiku. Tapi, yang selalu
menjadi pertanyaanku adalah jika kamu
mencintaiku mengapa kamu tidak membiarkan
dirimu hanya dimiliki oleh satu hati?
Aku tidak tahu siapa pemilik hatimu yang
sesungguhnya. Yang aku tahu, kamu hanyalah
pria biasa, yang tidak mencintai sisi malaikat
dalam diriku, kamu mencintai cara berpikirku
yang berbeda dari yang lainnya, kamu mencintai
caraku melanggar
segala macam peraturan demi memperjuangkan
yang aku anggap benar, , kamu mencintaiku
dalam keremangan yang menghangatkan. Yang
aku suka darimu, kamu tidak sedang memaksa
aku untuk memiliki
sikap yang sangat malaikat, kamu justru
membisikan hal-hal menyejukan yang selalu
berhasil mendiamkan iblis jahat dalam diriku. Kita
sama-sama hadir dari kegelapan. Kita sama-
sama gelap. Dan, percayakah kamu bahwa
semua gelap akan menemukan terang di ujung
jalan?
Aku ingin ke ujung jalan. Bersamamu.
hanya bercerita
Tuan ? Bolehkah aku bercerita lagi ? Disini aku bercerita , Diatas buku kusam dengan tinta hitam kelam seperti suasana hatiku sebelum bertemu denganmu. Bolehkan aku menyapamu malam ini? meski hanya melalui curahan yang sebenarnya aku jelas tahu kamu tak akan membacanya. Bolehkah aku menatapmu dengan seksama? menenggelami bola matamu yang sayu meski aku juga tahu kamu tak akan melakukan hal yang sama. Selamat malam tuan, malam yang dingin, sunyi dan hanya ada sebuah rindu yang kugenggam. Percikan air yang menempel dibalik jendela hingga berembun. Kamu ada. Iya selalu ada dalam bentuk apapun. kamu siapa ? Aku siapa ? Kenapa semesta mempertemukan kita dengan perasaan yang begitu hebatnya dalam diriku. Kapan kita menjadi "KITA" yang benar benar satu. Malam ini, aku ingin bercerita tentangmu lagi, melepaskan rasa kagum yang aku punya untukmu. Menuliskan sebuah perasaan yang selalu menggema tanpa suara. Mengabadikan rasa cinta yang mungkin hanya aku yang memilikinya. Kamu apa kabar ? Ohya, aku lupa baru tadi sore kita bertemu bahkan berbincang cukup lama sekali. Tapi rasanya tak ada kata bosan untuk menyapamu. Senyum manis, cara ledekanmu yang kusuka meskipun itu tak lucu, cara berbicara mu yang .. Aaaahhh.. Entahlah, aku menyukai semuanya. Kita bertemu, bersapa, berbagi ilmu, berbincang, bersalaman, lalu berpisah. Setiap hari. Dan pada waktu yang sama seakan kamu tak ingin melepaskanku untuk pulang. Dan kamu tau ?? Apalagi aku tuan. Aku masih ingin denganmu. Dimanapun, ditempat apapun. asalkan ada kamu. Aku tak ingin pergi . Kenapa ? Karena aku tak ingin memupuk rindu sendirian. Aku tak ingin menepis rasa sakit. Sedangkan kamu tak merasakan apa yang selalu aku takutkan..
Tuan, kamu pria kedua yang telah membuatku seperti ini. Setelah dia. Iya dia yang buktinya sekarang sudah pergi dan pastinya meninggalkan luka yang tidak cukup satu dua bulan bahkan satu tahun lebih untuk aku menghilangkannya. Dan kamu sudah menyembuhkan luka itu dengan keindahan yang kamu punya. Kamu telah mengeringkannya kembali. Aku cukup berterimakasih atas hal itu. Meskipun aku tahu, kamu tidak tau menau sama sekali atas perasaan yang ada dikotakrahasiaku.
Aku menyayangi semua cara yang kamu lakukan untuk mengundang tawaku. Semoga Kamu seseorang yang baru, yang akan mengubah masadepanku atas izin allah.. Aamiin
Tuan, kamu pria kedua yang telah membuatku seperti ini. Setelah dia. Iya dia yang buktinya sekarang sudah pergi dan pastinya meninggalkan luka yang tidak cukup satu dua bulan bahkan satu tahun lebih untuk aku menghilangkannya. Dan kamu sudah menyembuhkan luka itu dengan keindahan yang kamu punya. Kamu telah mengeringkannya kembali. Aku cukup berterimakasih atas hal itu. Meskipun aku tahu, kamu tidak tau menau sama sekali atas perasaan yang ada dikotakrahasiaku.
Aku menyayangi semua cara yang kamu lakukan untuk mengundang tawaku. Semoga Kamu seseorang yang baru, yang akan mengubah masadepanku atas izin allah.. Aamiin
satria wiratama 17
butuh penegasan
Apalagi ini ? Katakan padaku. Katakan. Katakan kalau ini bukan suatu hal yang harus aku pikirkan. Katakan padaku bahwa ini hanya main-main saja. Tapi Perhatian itu, kata manis itu , tolong jangan katakan padaku bahwa semua itu hanya rasa iseng untuk menghiburmu. Aku mohon, perasaan ini bukan bahan permainan untuk membuatmu tertawa tuan. Tolong hentikan semua ini, jika kamu tak punya hati, sudah cukup hentikan, jangan diteruskan. Sudah jangan memberi perhatian yang membuatku terbang entah kemana. Saat ini, aku sudah mencoba menyadarkan batinku, aku sudah menggebrak pikiranku untuk tak memikirkan hal yang memang tak akan mungkin terjadi. aku mencoba menahan diri. Menahan diri untuk tak mengenalmu terlalu jauh. Kenapa ? Karena aku takut jika sudah terlalu jauh rasa aneh itu menyerangku tanpa kendali. Aku takut. Aku tak ingin hal seperti itu terjadi untuk yang kedua kalinya.
Tuan, dengar. Aku juga belum bisa mengatakan bahwa ada "Cinta" dalam kotak rahasiaku. Karena yang namanya cinta belum pernah aku rasakan dari seseorang terkecuali dari kedua orangtuaku. Aku tidak mencintamu, aku hanya merasakan kenyamanan yang berbeda saat bersamamu. Aku menyayangimu tapi tidak melebihi rasa sayangku terhadap orangtuaku. kamu pasti mengerti, karena kamu sendiri yang mengajarkan hal seperti ini padaku. Rasa Cinta yang benar-benar cinta dan penuh makna didalamnya tidak akan aku katakan sampai tuhan bena-benar mempertemukanku dengan seseorang yg masih dirahasiakan. Dan aku harap pria itu kamu sayang. Pria yang aku harap membawa warna untuk menghapus kabut kelam dalam kotakrahasiaku. Kedekatan kita, perbincangan kita beberapa bulan ini, sudah menemukan titik temu yang bernama kenyamanan yang selalu membuatku tersenyum tanpa henti. Akupun masih bertanya tanya, apa kamu juga merasakan hal yang sama ? Apa perasaanmu juga seperti itu tuan ? Aku penasaran, tapi aku tak berani untuk menanyakan. Aku perempuan yang sulit mengungkapkan perasaan pun jatuh cinta. Butuh waktu. Aku hanya menunggu. Menunggu bahwa harapanku memang benar. Harapan bahwa kamupun mencintaiku. Tapi jika harapanku salah.. Tolong cepat katakan, agar aku tak berharap terlalu jauh. Dan Entahlah..... Aku tak bisa berkata apa apalagi. Mungkin hanya airmata yang bisa menjelaskannya. Setiap malam aku berharap, berharap bahwa pesan yang masuk itu dari kamu. Pesan BBM,What's app itupun dari kamu. Aku benar-benar berharap semua perhatian itu memang rasa sayang dan peduli yang kamu selipkan untukku. Aku tak ingin kita ada status atau lebih spesifiknya pacaran. Aku hanya ingin ada kejelasan dan penegasan. Bahwa kita saling menyayangi satu samalain. Bukan hanya satu orang, tetapi keduanya. Kita mengerti, dan kita sadar. Bahwa kita mempunyai prinsip yang sama. Yang artinya kita harus saling mengerti . Aku minta maaf tuan, aku minta maaf jika aku lancang mengutarakan perasaanku lewat tulisan ini. Karena seperti yg sudah aku katakan. Aku samasekali tak punya nyali untuk mengungkapkan secara langsung. Meskipun aku tahu, lewat tulisan ini pun kamu mungkin tak akan membacanya. Dan kalaupun kamu mebacanya, kamu tak akan peka tertuju kepada siapa tulisan ini. Karena yang aku tau, hubungan kita sekarang baik" saja sebagai teman.jika perlu ku ulang hanya Sebagai TEMAN Bukan seperti apa yang aku tuliskan....aku ingin kamu menyadari dengan sendiri nya tanpa harus aku mengungkapkan.
waktu itu, maafkan aku
Hari ini, sore ini , langit leuwiliang mendung penuh awan hitam seperti kerudung belasungkawa. Yang bertanda sore ini akan hujan. Kebetulan sore ini aku menjalankan aktivitas rutinku untuk latihan bendera. Hujan.ya Aku yakin sebentar lagi hujan. Dan benar saja hujanpun turun. Turun dengan derasnya. Kamu tahu apa yg aku pikirkan saat itu ??? Kamu tuan. Aku mengkhawatirkanmu, sedang apa dan dimana kamu waktu itu ? Apa kamu kedinginan sepertiku, apa kamu kecipratan air hujan menjengkelkan sepertiku pula. Knapa kamu tak kunjung datang ? Datang untuk melihat perkembangan latihan kami.khususnya untuk melihatku.. Kamu kemana ? Saat aku cek BBM yang ada di handphoneku. Aku mengecek aktivitasmu , aku harap kamu ada disitu. Dan ya, kamu ada. Setidaknya rasa khawatirku berkurang. Walaupun hanya sedikit. Hujanpun berlalu, latihan pun dimulai kembali. Latihan ya latihan. Tapi pikiranku bercabang. Kenapa ? Karena aku menginginkan kamu ada di depan sana . Melihat dan memperhatikan senyumku yang sumringah.
Tanahpun mulai membecek, air mulai berkubang karena kondisi lapangan yang tak rata. Namun latihan tetap berlanjut, semenit, dua menit berlalu dan satu jam kemudian kamupun tiba. Saat itu, kamu tau apa yg aku rasakan ? Hatiku bergetar tuan, tanganku semakin mendingin , lebih dingin dari air hujan yang mengguyurku. Aku memperhatikanmu, dari awal, semenjak kamu mengendarai motor sederhanamu sampai kamu turun ke lapangan untuk melihat kami. Kamu tersenyum, dan itulah kamu. Kamu dengan senyum ramahmu yang telah berhasil menghidupkan ruang yang bernama hatiku. Aku berharap saat itu, berharap sekali senyum itu murni tertuju padaku. Sayangnya khayalku terlalu tinggi. Itu tak mungkin terjadi gadis bodoh! Iya aku memang bodoh. Konyol..
Tapi yasudahlah, yang terpenting dia sudah ada, dia sudah datang. Ya di depanku. Tepat dalam tatapanku. Aku tak ingin mengalihkan pandanganku. Aku menyukaimu tuan, aku menyukai semua caramu. Caramu mengundang tawa dalam banyak hal. Hujan terus menderras, kita membiarkan segerumunan air itu menyerang kita. Kita tak peduli apa yang akan terjadi setelah latihan ini berakhir. Dan akupun tak peduli dengan diriku sendiri. Tapi yang aku khawatirkan kamu sayang. Aku takut melihatmu sakit, aku takut ada beban yang kamu rangkul. Aku takut kejanggalan terjadi dengan kamu. Jika boleh jujur, aku ingin saat itu juga, melindungimu dari airhujan dengan payung atau apapun itu asalkan kamu terlindungi. Aku ingin mendekapmu, aku tak ingin kamu kedinginan. Aku terus menatapmu. Dan apa kamu tak bisa membaca isi tatapanku ini tuan ?? Kenapa ?? Tatapan, perhatian, kasih sayang semua itu . Apa kamu tak merasakannya ? Maafkan aku, maafkan aku jika aku seperti mengekangmu untuk mengaku jika kamu menyukaimu pula. Tapi itu yang aku rasakan. Berlebihankah ? Mungkin iya. Apalah daya perempuan yang sedang tertimpa perasaan serba salah. Hanya harapan yang terus mencuak dalam dirinya. Iya harapan kosong yang tak ada makna.
Latihanpun berakhir, saat hendak berkumpul untuk sekedar membaca do'a. Kamu mengumumkan untuk latihan esok dan selanjutnya. Aku terus memperhatikanmu, aku tak ingin hari ini berakhir. Ingin tak ingin, ya kamu membubarkan kami untuk pulang. Berbaris, berjejer, untuk bersalaman. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan setiap kali sudah latihan. Aku degdegan tuan. Tangan yang dingin semakin mendingin. Ohya knapa aku selalu berada diposisi terakhir saat hendak bersalaman denganmu ? Karena aku ingin saat kita bersalaman kita dapat berbincang sedikit lebih lama tanpa harus ada yang menunggu. Aku ingin, pegangan tanganmu lebih lama. Ketika tangan mungilku terbungkus oleh jemarimu ada rasa yang begitu hebat. Hebat sekali.. Aku tak ingin melepaskanmu tuan. Apapun itu. Dan sayangnya sore itu tak seperti yang ku inginkan. Ada seorang temanku yang mengajak ku mengobrol dan apa yg terjadi ? Kamu marah. Marah sekali. Ya tuhaaaaaann... Apa yang harus kulakukan :( baru pertama kali aku melihatnya marah dan kemarahan itu tertuju padaku. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku terus meminta maaf, tapi kamu seakan tak mendengarnya. Kamu bilang, iya kamu memaafkanku asal aku tak mengulanginya lagi. Tapi dari raut wajahmu ada hal aneh yang tak kupahami. Aku tak kuasa melihat kemarahanmu kali ini tuan. Pertama kalinya kamu acuh tanpa alasan. Aku resah, aku takut kedekatan kita tak seperti biasanya. Akupun pulang dengan rasa sesal yang tak kupahami. Dalam hati aku selalu berkata "maafkan aku sayang, tiada maksud aku mengusik kemarahanmu. Tolong jangan acuh seperti ini, aku menyayangimu" . Aku berjalan, menelusuri jalan raya yang diguyur hujan. Sepi, saat ku tengok kiri dan kananku. Aku berharap saat aku hendak pulang, ada ucapan "Hati-hati ya dijalan" yang biasanya kamu lontarkan untukku. Tapi waktu itu, tidak sama sekali. Ada rasa sesak yang tak dapat aku ungkapkan. Aku harus bagaimana ? Aku harus berbuat apa ? Waktu kita bersama semakin sedikit. Puncak tugasku bersamamu sebentar lagi berakhir. Seharusnya diwaktu yg singkat itu aku bisa mengendalikan perasaanku. Aku ingin kamu tau, apa yang kurasakan sekarang. Aku takut, takut sekali. Rasa yang telah hilang, muncul lagi dengan tema baru yaitu "kamu". Aku tak ingin melewatinya. Maafkan aku tuan. Maafkan aku. Aku butuh perhatian yang walaupun hanya sekedar perhatian yang selalu kamu ucapkan untukku. Maafkan aku, aku yang sudah terlanjur manyayangimu terlalu jauh tanpa sadar...
Tanahpun mulai membecek, air mulai berkubang karena kondisi lapangan yang tak rata. Namun latihan tetap berlanjut, semenit, dua menit berlalu dan satu jam kemudian kamupun tiba. Saat itu, kamu tau apa yg aku rasakan ? Hatiku bergetar tuan, tanganku semakin mendingin , lebih dingin dari air hujan yang mengguyurku. Aku memperhatikanmu, dari awal, semenjak kamu mengendarai motor sederhanamu sampai kamu turun ke lapangan untuk melihat kami. Kamu tersenyum, dan itulah kamu. Kamu dengan senyum ramahmu yang telah berhasil menghidupkan ruang yang bernama hatiku. Aku berharap saat itu, berharap sekali senyum itu murni tertuju padaku. Sayangnya khayalku terlalu tinggi. Itu tak mungkin terjadi gadis bodoh! Iya aku memang bodoh. Konyol..
Tapi yasudahlah, yang terpenting dia sudah ada, dia sudah datang. Ya di depanku. Tepat dalam tatapanku. Aku tak ingin mengalihkan pandanganku. Aku menyukaimu tuan, aku menyukai semua caramu. Caramu mengundang tawa dalam banyak hal. Hujan terus menderras, kita membiarkan segerumunan air itu menyerang kita. Kita tak peduli apa yang akan terjadi setelah latihan ini berakhir. Dan akupun tak peduli dengan diriku sendiri. Tapi yang aku khawatirkan kamu sayang. Aku takut melihatmu sakit, aku takut ada beban yang kamu rangkul. Aku takut kejanggalan terjadi dengan kamu. Jika boleh jujur, aku ingin saat itu juga, melindungimu dari airhujan dengan payung atau apapun itu asalkan kamu terlindungi. Aku ingin mendekapmu, aku tak ingin kamu kedinginan. Aku terus menatapmu. Dan apa kamu tak bisa membaca isi tatapanku ini tuan ?? Kenapa ?? Tatapan, perhatian, kasih sayang semua itu . Apa kamu tak merasakannya ? Maafkan aku, maafkan aku jika aku seperti mengekangmu untuk mengaku jika kamu menyukaimu pula. Tapi itu yang aku rasakan. Berlebihankah ? Mungkin iya. Apalah daya perempuan yang sedang tertimpa perasaan serba salah. Hanya harapan yang terus mencuak dalam dirinya. Iya harapan kosong yang tak ada makna.
Latihanpun berakhir, saat hendak berkumpul untuk sekedar membaca do'a. Kamu mengumumkan untuk latihan esok dan selanjutnya. Aku terus memperhatikanmu, aku tak ingin hari ini berakhir. Ingin tak ingin, ya kamu membubarkan kami untuk pulang. Berbaris, berjejer, untuk bersalaman. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan setiap kali sudah latihan. Aku degdegan tuan. Tangan yang dingin semakin mendingin. Ohya knapa aku selalu berada diposisi terakhir saat hendak bersalaman denganmu ? Karena aku ingin saat kita bersalaman kita dapat berbincang sedikit lebih lama tanpa harus ada yang menunggu. Aku ingin, pegangan tanganmu lebih lama. Ketika tangan mungilku terbungkus oleh jemarimu ada rasa yang begitu hebat. Hebat sekali.. Aku tak ingin melepaskanmu tuan. Apapun itu. Dan sayangnya sore itu tak seperti yang ku inginkan. Ada seorang temanku yang mengajak ku mengobrol dan apa yg terjadi ? Kamu marah. Marah sekali. Ya tuhaaaaaann... Apa yang harus kulakukan :( baru pertama kali aku melihatnya marah dan kemarahan itu tertuju padaku. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku terus meminta maaf, tapi kamu seakan tak mendengarnya. Kamu bilang, iya kamu memaafkanku asal aku tak mengulanginya lagi. Tapi dari raut wajahmu ada hal aneh yang tak kupahami. Aku tak kuasa melihat kemarahanmu kali ini tuan. Pertama kalinya kamu acuh tanpa alasan. Aku resah, aku takut kedekatan kita tak seperti biasanya. Akupun pulang dengan rasa sesal yang tak kupahami. Dalam hati aku selalu berkata "maafkan aku sayang, tiada maksud aku mengusik kemarahanmu. Tolong jangan acuh seperti ini, aku menyayangimu" . Aku berjalan, menelusuri jalan raya yang diguyur hujan. Sepi, saat ku tengok kiri dan kananku. Aku berharap saat aku hendak pulang, ada ucapan "Hati-hati ya dijalan" yang biasanya kamu lontarkan untukku. Tapi waktu itu, tidak sama sekali. Ada rasa sesak yang tak dapat aku ungkapkan. Aku harus bagaimana ? Aku harus berbuat apa ? Waktu kita bersama semakin sedikit. Puncak tugasku bersamamu sebentar lagi berakhir. Seharusnya diwaktu yg singkat itu aku bisa mengendalikan perasaanku. Aku ingin kamu tau, apa yang kurasakan sekarang. Aku takut, takut sekali. Rasa yang telah hilang, muncul lagi dengan tema baru yaitu "kamu". Aku tak ingin melewatinya. Maafkan aku tuan. Maafkan aku. Aku butuh perhatian yang walaupun hanya sekedar perhatian yang selalu kamu ucapkan untukku. Maafkan aku, aku yang sudah terlanjur manyayangimu terlalu jauh tanpa sadar...
perasaan yang sama
Aku memasuki gang rumahku sambil memandangi kendaranmu yang perlahan menjauh. Baru beberapa detik kamu pergi, namun rasa rindu di hatiku kembali membesar lagi. Sejak siang tadi, aku makin sadar bahwa ini perasaan cinta. Saat menatap matamu yang bisa dibilang hanya segaris itu, entah mengapa aku menemukan keteduhan di sana. Matamu selalu berhasil membuatku rindu. Matamu selalu berhasil membawaku pulang. Matamu selalu berhasil membuat aku tidak sabar untuk pertemuan kita berikutnya.Dengan begini, kamu akan tahu, perempuan adalah mahluk paling gengsi nomor satu. Perempuan adalah mahluk yang tidak ingin memulai segalanya lebih dulu. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya dia ingin menatapmu, memelukmu, mencubitmu, mengecupmu, dan turut membebaskan kekangan rindu di dadanya. Kamu selalu kalah untuk tidak mengajakku bertemu lebih dulu, sementara aku selalu kalah untuk tidak menunjukan betapa aku rindu kamu dan ingin menghabiskan sisa waktu kita sambil menatap dan merangkulmu.Andai aku bisa mencubit dan meraih pipimu kala itu, andai aku bisa mencuri waktu untuk sesekali mengecup pipimu, sayangnya-- aku bukan kekasihmu. Aku cukup bisa tertawa dalam hati, membayangkan segala mimpi yang sudah kubangun di kepalaku bisa segera aku wujudkan bersamamu. Hari ini, tidak ada kesedihan yang berlebihan. Aku hanya ingin menikmati hari tanpa mengingat seberapa jauh kamu sudah menyakitiku. Bagiku, tetap berada di sisimu dan tetap bisa merasakan pelukmu sudah lebih dari cukup. Kamu sudah memenuhi ruang kosong di hatiku, sudah miliki seluruh rasa cintaku, sayangnya mungkin aku tidak punya ruang di hatimu dan rasa cintamu tidak hanya sepenuhnya untukmu. Di atas sepeda motormu, aku memelukmu seakan waktu berjam-jam yang telah kita lewati masih belum cukup untuk menuntaskan perasaan rinduku. Langit Leuwisadeng malam ini seperti memberikan isyarat bahwa hujan segera turun. Tidak ada bintang dan hanya ada udara dingin yang menyeruak. Jika kita memang saling jatuh cinta, mengapa tidak kita akhiri saja semua dengan status yang jauh lebih jelas. Ingin rasanya aku berteriak itu di telingamu, tapi tidak mungkin karena aku tahu betul kekasihmu tidak akan melepaskanmu pergi begitu saja. Aku tahu betul ini bodoh. Aku tahu betul memeluk dan merangkulmu adalah suatu kesalahan. Aku juga tahu mungkin hubungan kita tidak akan berakhir dalam kebahagiaan. Tapi, biarlah aku habiskan sisa-sisa waktuku bersamamu karena aku paham ini tidak akan berjalan lama. Semua orang akan mudah menyalahkan kita tanpa mereka tahu seberapa jauh kita telah berjuang. Aku dan kamu tidak bisa melawan pada cinta yang bisa saja datang tidak tepat waktu. Kita jatuh cinta di waktu yang salah, sementara aku dan kamu tidak tahu caranya untuk berhenti serta mengendalikan diri. Aku tahu betul ini bodoh, tapi biarkan aku dan kamu habiskan sisa waktu kebersamaan kita, karena saat waktu itu tiba-- aku dan kamu akan kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling kenal. Biarkan aku menikmati sisa-sisa waktu kebahagiaan bersamamu, sebelum semua orang menyuruh kita mengakhiri ini semua, kemudian perpisahan dengan segera menjadikan kita kembali tak kenal. Biarkan aku menghabiskan sisa-sisa waktu yang kita miliki ini, dengan kebahagiaan, bukan dengan kesedihan. Kesedihan punya porsinya sendiri dan aku tahu semua kesedihan itu akan dimulai ketika aku pada akhirnya harus melepaskanmu pergi. Sebelum kamu pergi, biarkan aku bisa meninggalkan kesan, setidaknya di ingatanmu. Bahwa ada seseorang yang menjaga perasaannya, yang tidak mengubah perasaannya, ketika dia tahu kamu tidak bisa dimiliki oleh dia satu-satunya. Sebelum ini semua berakhir, aku hanya ingin membuatmu paham, mungkin saja perasaan yang aku miliki masih sama, bahkan ketika kamu menjauh dan menganggapku tidak pernah jadi bagian dalam hidupmu. Semua waktu-waktu sedih itu akan datang. Jadi, dalam sisa waktu kita yang sebentar, aku hanya ingin membuatmu mengerti, perempuan yang paling mencintaimu sebenarnya adalah perempuan yang tidak memaksakan kehendaknya untuk memilikimu. Justru, dia yang paling mencintaimu adalah dia yang membiarkanmu terbang mengejar impian yang kauanggap benar, sambil bersabar menunggumu pulang. Aku akan tetap jadi perempuan yang menunggumu pulang. Dengan perasaan yang tentu saja masih sama di dadaku. IZ #JCDD #ILYMIZ #DS #TL #SPJSend #ILIZYAMI #goodPost #MygreatPost
kesalahanmu
Semua pasti pernah merasakan yang
namanya dibawa terbang tinggi kemudian dijatuhkan tiba tiba. Sakit.
Iya sakit. Bukan sakit fisik. Tapi Sakit batin dan luka hati yang terasa . Apa ya ? Sulit didefinisikan. Saat kita sedang nyaman-nyamannya bersama seseorang, saat kita tak ingin sejengkalpun menjauh dari dia yang kita sayang, saat kita tak ingin mengalihkan pandangan apapun yg terjadi , dan saat kita ingin dia selalu ada, ingin selalu melindungi dia apapun keadaannya. Dan diapun melakukan hal yang sama, selama ini. Sewaktu kebersamaan itu tercipta. Dan tiba-tiba apa yang terjadi ?????? Dia menghilang, dia pergi tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja hal yang tak terpikirkan terjadi dengan sigapnya. Dan itu yang sedang terjadi padaku . Ya mungkin saja. Mungkin dia pergi. Ya aku merelakannya. Terserah, apapun yang dia lakukan aku terima. Dan bodohnya, saat dia menghampiri aku menerimanya kembali. Hahahaaa dasar gadis bodoh. Konyol. Greget dengan kondisi perasaan yang aku alami sekarang. Kenapa harus begitu. Kenapa harus begitu murahnya. Kenapa tak ada kegengsian. Lantas apa yang harus aku lakukan ?? Bukankah cinta tak pernah mengenal kata GENGSI. Bukankah jika sedang dilanda rasa aneh itu tak mempedulikan apapun. laki-laki perempuan sama saja . Kalian tau, ya itulah manusia. Manusia yang sudah merasakan hal yang seperti ini ya memang begitu. Aneh ya ??? Iya aneh sekali. Entahlah, tak akan ada banyak kata yang dapat aku katakan. Mulut seakan terkunci oleh rasa yang meminta untuk diluapkan. Ada rasa ingin memiliki yang kuat disini. Tapi apadaya, jika seseorang yang disuka tak merasakan hal yang sama. Sedih, menangis, menyesal. Itu sudah biasa. Apalagi wanita yang tak punya nyali untuk mengungkapkan. Jangankan secara lisan, melalui tulisanpun tak mampu. Sehari, dua hari, seminggu sampai berbulan-bulan rasa aneh itu hanya bisa dipendam. Saat melihat dia bersenang-senang dengan yang lain. Ada rasa cemburu yang memburu dengan hebatnya. Hatiku berteriak !!! Aku juga ingin ikut serta dalam senyummu. Akupun ingin menjadi seseorang yang menyebabkan tawamu. Ya aku cemburu saat kamu dengan dia. Dia yang kata mereka perempuan yang menyukaimu juga. Dia yang selalu menghampirimu atau mungkin kamu yang menghampirinya. Aku cemburu melihatmu dengan dia berbincang terlalu lama. Kenapa ? Karena aku takut waktu kita bersama terlewatkan begitu saja. Aku ingin ada yang mengerti apa yang ada di kepala ku saat itu. Bahwa aku tak mau kamu berlaku seperti itu, bahwa aku cemburu. Aku ingin ada yang memberitahumu waktu itu, siapapun itu. Entah angin atau belalang yang berlalu lalang aku tak peduli asalkan kamu tau betapa resahnya kotakrahasiaku pada saat itu. Tuan, Setiap malam bahkan setiap saat rasa rindu selalu melanda. Tak banyak tingkah yang dapat aku lakukan. Hanya merenung dan berharap ada pesan yang kamu kirimkan untukku walaupun itu tak mungkin. Hahahahaaa lucu ya.. Siapa sih aku ? Hanya gadis bodoh yang menginginkan takdir indah bersamamu. Hanya Gadis kecil yang terlalu tinggi ketika berharap. Gadis kecil yang selalu ingin kamu perhatikan dengan tidak malunya. Kamu seseorang yang baru. Baru saja beberapa bulan ini aku kenal. Pertemuan singkat yang mungkin sudah direncanakan tuhan. Aku bersyukur. Oooh sungguh. Ini anugerah untukku. Kamu terlalu sempurna. Sampai aku takut, takut jika kita dipertemukan hanya untuk saling mengenal seperti yang sudah terjadi. Sudahlah... Aku tak ingin membahasnya lagi.
Malam ini, aku hanya ingin mengucapkan SELAMAT MALAM untukmu. Selamat malam yang sungguh aku ungkapkan dari getir rasaku yang paling dalam. Terimakasih sudah menciptakan senyum dibibirku yang kaku. Terimakasih sudah berhasil mencairkan perasaanku yang beku. Terimakasih sudah mengeringkan kotakrahasiaku yang selama ini basah tersiram luka yang tiada hentinya. Terimakasih telah singgah semoga tak sementara. Dan penuh dengan semoga kamu tak pergi dan selalu ada untuk menciptakan kisah yang tak akan terlupa selamanya .. #AnewSomeoneIizyami #theEnd
menjadi yang pertama. kenapa tidak ?
menjadi yang pertama ? Why not ? Setiap orang pasti ingin punya kelebihan tersendiri. Dalam berbagai hal. Termasuk dalam hal perasaan mereka terhadap seseorang yg mereka sayang. Jangankan dalam segi perasaan. Dalam hal apapun pasti begitu. Contoh dalam keluarga, mereka pasti ingin lebih disayang oleh ibu dan bapaknya. Dikelas, mereka pasti ingin menjadi seseorang yg terlihat unggul dimata guru dan temannya. AKU . Iya Aku disini ingin menjadi yang lebih dan terlebih dalam hal apapun untuk mendapatkan kasih sayang perhatian dan segalanya dari orangtuaku, guru dan Kamu Tuan. aku ingin menjadi yg terspesial. Apapun yg terjadi, aku selalu ingin menciptakan yang terbaik untuk kalian. Kamu orang lain Bagiku, tapi rasa sayang yg kupunya untukmu melebihi rasa sayangku kepada temanku yg jauh lebih kukenal dibanding kamu. Kenapa ? Kamu lebih tau akan hal ini tuan. Kamu lebih pintar dariku. Kamu orang Hebat, dan itu yangg aku tahu dari kamu. Dari banyak hal kebersamaan yang pernah kita lewati, bersama bahkan berdua sampai pada akhirnya aku menemukan titik Kenyamanan yang enggan aku lewati. Rasa aneh itu menyerangku secara tiba-tiba, tanpa pamit tanpa permisi seperti hujan yang mengguyur dengan derasnya. Itulah manusia, tuhan berbaik hati menciptakan rasa suka terhadap lawan jenis. Tuhan itu mahasempurna dan mahaberbahagia. Dia mengetahui titik jenuh kebosanan makhluknya sehingga mendatangkan seseorang baru dan menitipkan rasa suka, sayang bahkan cinta dalam kotakrahasiaku untuk aku kasih jaga hanya untukmu. Ini amanat. Bukan tanpa sebab kita dipertemukan. Hanya dalam pertemuan kita selalu ada drama yang aku tak suka. Kamu selalu berpura-pura tak tau akan rasa yg akupunya. Seakan aku baik-baik saja saat kita bertemu. Seakan degupan jantungku normal seperti biasanya. Padahal yg kurasakan itu berbeda. Salah Tingkah. Mulut dan hatiku bertolak belakang. Ini bukan Munafik Tuan. Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya malu berkata jujur. Aku takut jika kamu tak merasakan hal yg sama. Tolong mengerti, tolong jangan katakan aku MUNAFIK LAGI. Soal perasaanku untukmu ini sama sekali aku tak bohong sayang. Sungguh, ini benar" ada . Aku hanya ingin kamu tau, tanpa aku harus mengungkapkan terlebih dahulu. Aku pengecut. Iya aku akui aku tak punya nyali . Aku tak mampu berkata yg lebih saat pertemuan kita tercipta. Sehingga hanya ada segudang rindu yang ada dalam benakku setelah kita berpisah kembali. Aku mohon, cepat beri ketegasan jika memang benar kamu sudah mengetahuinya. Aku menunggu pesan singkatmu malam ini. Semoga kamu membaca catatan yg kutulis malam ini. SELAMAT MALAM IZ :)
whatever
waktu itu .. Seminggu yg lalu Pagi hari, aku
beranjak dan bersiap-siap untuk ke sekolah.
Rasanya malas sekali, melangkahkan kaki untuk
bergegas. Kesiangan... Pukul 7.00 aku baru
berangkat dari rumah dengan motor bututku.
Padahal tadi aku bangun tidak terlalu siang.
05.20 aku bangun. Walaupun biasanya aku
bangun lebih pagi dari itu. Sialnya jarak antara
rumah dan sekolahku terbilang jauh. Ya Hukuman
menantiku disekolah. Yasudahlah aku pasrah.
Alasan aku bangun kesiangan, ya karena
menunggu pesan dari kamu semalam tuan.
Sampai larut malam aku masih menunggu. Dan
sayangnya pesan yang kuharapkan tak kunjung
datang. Aku terlalu berharap . Pikir konyolku
menyangka bahwa kamupun merasakan rindu
yang sama. Nyatanya kan tidak. Kebetulan paket
internetku dari kemarin sudah habis dan aku
belum sempat mengisinya kembali. Padahal aku
ingin secepatnya mengisi ulang. Tapi aku ingin
mengetes sejauh mana kepedulianmu saat aku
tak memberimu kabar. Karena yang ku tau,
beberapa bulan ini seringkali aku yang memberi
kabar terlebih dahulu dibanding kamu. Aku
menunggu tulisan manismu melalui apapun itu.
Apa kamu khawatir ? Tidak ya. Seandainya ada
jawaban nyata berupa suara yang menyelinap ke
gendang telingaku. Mungkin aku akan langsung
percaya dan jika jawabanmu menyakitkan
mungkin akupun akan pergi menghilang tanpa
pesan apapun yang aku ucapkan untukmu.
Sebenarnya aku sudah lelah, lelah terus berharap
mengharapkan bahwa kamupun merasakan hal
yang sama. Sikapmu terlalu manis tuan. Terlalu
manis jika hanya untuk iseng dan membuatku
terbang melayang ke negeri antah berantah.
Kamu memperlakukanku seperti putri sejagad.
Perhatianmu membuatku tersenyum tanpa henti
dan membuat tanganku dingin basah seperti
terguyur air terjun yang deras sekali. Apa
maksudmu ? Apa mauMu ? Ini permainan lucu
tuan yang
walaupun aku mengingkan bahwa ini memang
benar" bukan hanya sekedar permainan untuk
membuatmu tertawa. Adakah sedikit rasa aneh
itu dalam kotakrahasiamu ? Pikir konyolku selalu
mengharapkan bahwa apa yang kurasakan itu
sama...
Tapi saat aku tak memberimu kabar, kamu
kemana ??? Hilang. Aku kecewa. perasaanku ingin
ku rubah. Tapi tak bisa. Sadar diri. Intropeksi diri,
merendahkan diri. Bahwa kamu ini terlalu tak
pantas untuk memberikan perhatian lebih
untukku . Bahwa kamu tak pantas diperjuangkan
sehebat ini . Tetap saja tak ada perubahan.
Sudahlah .. Aku ingin bersikap "masabodo"
seperti yang seringkali kamu lakukan. Aku ingin
beristirahat, menenangkan seluruh beban yang
aku rangkul sendiri. Aku akan mengabarimu
sampai aku benar-benar tenang. Terserah,
lakukan apapun yang membuatmu senang. Saat
ini aku tak peduli.
Dan malamnya, kamu menanyakan kabarku.
Entahlahn saat itu aku semakin tak mengerti apa
yg ada didalam pikiran dan perasaanmu yg
sebenarnya.
pamit......
Aku melirik arloji hitam yang melekat erat di
pergelangan tangan kananku, sudah lebih dari
satu jam namun langit belum berhenti
menangis. Bahkan tangisannya bertambah
deras seiring waktu berjalan. Kilatan cahaya
mulai terlihat di antara kelabunya langit sore
itu, disusul oleh siulan petir yang seakan
memperparah tangisan langit. Rasa kesal mulai
menghampiriku mengingat hari mulai
menjelang malam dan aku sama sekali belum
mempersiapkan presentasi untuk ujian salah
satu mata kuliahku besok. Ditambah raungan
yang mulai terdengar dari dalam perutku. Uh,
aku ingat belum makan siang.
Halte tempatku berteduh mulai ramai
dikunjungi mereka yang bernasib sama
sepertiku. Terkurung hujan disaat banyak
keperluan yang menuntut diselesaikan.
Contohnya pria paruh baya yang berdiri di
penghujung kanopi halte. Pria itu memakai
kemeja biru bergaris dan celana bahan hitam,
seorang pegawai yang merasa kesal dengan
keadaan. Hal itu bisa dilihat dari raut wajahnya
yang terlihat gusar, serta gerak-geriknya yang
bolak-balik mengecek waktu di ponsel
pintarnya.
Berbeda halnya dengan gadis berseragam
putih abu-abu dan pemuda berseragam sama
di sebelahnya. Mereka berdiri berjarak dua
orang dariku. Diam-diam si pemuda
mendekatkan jari jemarinya ke arah punggung
tangan milik gadis di sampingnya. Dan bisa
ditebak apa yang selanjutnya terjadi.
Aku tersenyum kecil melihatnya. Melemparku
pada memori ketika aku berada di posisi
mereka. Hari itu adalah hari yang bersejarah
bagiku. Untuk kali pertama aku berani
mengajaknya pulang bersama sepulang
sekolah, walaupun pada kenyataannya rumah
kami berbeda arah, tentu saja aku rela
melakukan apapun untuknya. Ya, cinta remaja
memang tidak rasional.
Hujan yang turun tiba-tiba memaksa kami
untuk mencari tempat berteduh. Pilihan kami
jatuh pada warung kecil di pinggir jalan. Dia
berdiri di sampingku sambil sesekali
menggosok-gosokkan kedua tangannya. Hal
kecil tersebut kuanggap sebagai jalan untuk
menyentuh hatinya. Kulepas perlahan jaket
yang sedang kukenakan kemudian kuletakkan
dengan sangat hati hati di bahunya. Seketika
ia memandangku malu-malu. Pipinya yang
merona kemerahan dan senyumnya yang
dikulum membawaku terbang ke angkasa.
Membuat jantungku berdegup semakin cepat,
memberi sensasi aneh di dadaku. Ah,
cantiknya. Suasana yang hening semakin
membuatku salah tingkah. Aku tak lagi tahan
dengan situasi ini. Gemuruh dalam hatiku
mulai meronta ingin berekspresi. Suka. Suka.
Suka. Aku suka kamu. Sesederhana itu, namun
tertahan di lidahku. Ya Tuhan. Mengapa begitu
sulit mengutarakan cinta.
“Aku sayang sama kamu, dek”
Aku ingat dengan jelas jari jariku yang
menggenggam erat kedua tangannya.
Wajahku menunduk, tak berani menatap
kedua bola mata yang telah membuatku jatuh
hati sejak pertama kali bertemu pandang.
Detak jantungku semakin cepat, sampai-
sampai aku takut mengalami stroke. Beberapa
detik kemudian dia memintaku untuk
mengangkat wajah, kuturuti permintaanya
namun tetap mengalihkan pandangan. Apa
yang dilakukannya benar benar membuat
tubuhku kaku tak bergerak, bahkan sulit
rasanya untuk menghirup udara. Ya, gadis itu
menyentuh pipiku dengan bibirnya yang
mungil.
Dan di antara rintik hujan sore itu, aku lah
orang yang paling bahagia di dunia.
Kilasan perjalanan cinta kami bergantian
tayang di pikiranku. Semenjak saat itu aku
selalu mengantarnya pulang ke rumah seusai
sekolah. Menemaninya ke toko buku untuk
membeli novel-novel karya pengarang
favoritnya. Mengetuk pintu demi pintu,
bersama sama mencari dana untuk program
kerja dalam organisasinya. Memberikan kejutan
kejutan manis untuknya di tanggal kami
memulai hubungan. Bersepeda di pagi hari dan
menghabiskan waktu bersamanya.
Masih jelas dalam ingatanku betapa
menggemaskannya wajah itu tiap kali ia
bercerita tentang apa yang telah dilaluinya.
Kedua matanya yang berbinar, membuatku tak
ingin mengalihkan pandangan. Aku ingat
bagaimana kami saling menguatkan satu sama
lain di saat sulit. Bagaimana kami saling
menahan ego dan mengalah, tak tahan
berkelahi. Dan bagaimana aku dekat dengan
kedua orangtua dan adik kecilnya yang manis.
Seperti bunga yang layu ketika tiba waktunya
mati. Seperti musim panas yang berakhir
karena musim hujan telah tiba. Pada awalnya
aku merasa bahwa hubungan kami akan terus
berlanjut seperti kisah cinta di novel-novel
romansa favoritnya. Berlanjut ke jenjang yang
lebih serius. Aku juga tidak tau mengapa dan
siapa yang memulai. Tiba saatnya semua
terasa hambar. Kami mulai jarang bertemu dan
berkomunikasi. Entah aku yang mulai
disibukkan dengan persiapan ujian nasional,
atau rasa bosan yang diam-diam menyeruak di
hatinya. Aku tidak pernah tau alasan
kepergiannya sampai detik ini. Tiba-tiba saja
dia menghilang. Menjauh dan tak lagi
menganggapku ada. Hingga pada akhirnya
sebuah nama asing terukir di bio media
sosialnya dan orang lain pun datang
menggantikan takhtanya di hatiku.
Setelahnya aku mencoba memulai hubungan
dengan yang lain. Namun tak lagi terasa sama
seperti ketika aku bersamanya. Ya, masih ada
harapanku untuk kembali bersamanya.
Hujan yang telah membawaku kembali ke
masa lalu berangsur angur mereda. Satu per
satu orang-orang mulai bergegas
meninggalkan halte dan kembali dengan
urusan mereka masing-masing sebelum hari
beranjak semakin malam. Aku sedang
membereskan barang-barangku dan bersiap
melanjutkan perjalanan ketika kedua mataku
menangkap sesosok gadis yang telah mewarnai
hari-hariku sewaktu di bangku SMA.
Aku harap kalimat jodoh pasti bertemu berlaku
padaku saat ini.
Aku mulai memperhatikannya dari jauh,
rupanya tak jauh berbeda dengan masa SMA
dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Aku
terhanyut dengan suasana yang membawa
kembali rindu. Ia sedang berbicara dengan
seseorang lewat telepon. Andai dia tau betapa
aku merindukannya.
Oh, aku sangat merindukannya.
Rasanya seperti bumi berhenti berputar, dan
waktu berhenti berlalu, bahkan semua hal di
sekelilingku seakan bergerak lambat. Hanya
ada aku dan dia di antara gerimis hujan. Di
mataku, gadisku menjadi lebih muda. Rambut
yang sebelumnya tergerai sebahu kini diikat
satu. Kemeja kotak-kotak dan celana jenas
yang membungkus tubuh mungilnya
digantikan oleh seragam putih abu-abu. Dan
halte tempat kami meneduh, berubah menjadi
warung kecil di pinggir jalan menuju
rumahnya.
Aku mengenalnya dari awal masa orientasi
siswa. Saat itu aku sedang bergurau bersama
teman-temanku dan bertaruh perihal Ratu MOS
yang akan diumumkan hari itu. Kedua mata
kami berpapasan tanpa sengaja ketika aku
tengah memperhatikan adik-adik baruku.
Perawakannya yang mungil dan sifatnya yang
sederhana, menuntun hatiku untuk jatuh
kepadanya.
Dia berbeda dengan setiap gadis yang kukenal
sebelumnya. Pribadinya yang sederhana dan
penuh semangat membawa kehangatan
tersendiri kepadaku. Belum lagi kedua matanya
yang berbinar cerah serta ukiran di bibirnya
yang membuatku ingin selalu menjaganya agar
tetap terukir indah.
Gadis ini lah yang telah mengajariku banyak
hal. Dia yang mengajariku untuk lebih serius
dalam belajar, mengingat ujian nasional,
SNMPTN dan SBMPTN yang menantiku di awal
tahun. Dia yang membawaku ke dunia penuh
cerita, memperkenalkanku pada buku-buku
bacaan dan membantuku menemukan bakat
terpendam. Dia yang membuatku tidak pernah
merasakan keinginan untuk menyentuh dunia
rok*k, minuman keras, bahkan tawuran dan
balap motor. Dia yang membuatku belajar
mencintai diri sendiri. Aku hanyalah seorang
pemuda biasa pada awalnya, dan seorang yang
berhasil mendapat beberapa kejuaraan menulis
setelah mengenalnya.
Aku mengingat kembali hubunganku dengan
beberapa gadis setelah kepergiannya yang
tanpa pamit. Semua terlihat kelabu dan layu.
Hanya menjadi salah satu jalanku untuk
menghibur diri. Aku sungguh merindukan kilau
di kedua matanya. Aku rindu senyumnya yang
selalu diiringi lesung pipi. Aku rindu suara tawa
dan ucapan-ucapan semangatnya. Aku rindu
cubitan-cubitan yang diberikannya ketika
merasa kesal terhadapku. Aku rindu
memeluknya, mendengar keluh kesahnya dan
menemaninya di setiap waktu. Ya Tuhan. Masih
ingatkah dia padaku?
Mungkin saja aku bisa memulainya kembali.
Di halte ini, di waktu hujan turun.
Kuurungkan niatku ketika sebuah kendaraan
beroda dua berhenti tepat di samping motor
milikku. Kemudian si pengemudi melepas helm
yang menutupi wajahnya. Melambaikan tangan
memanggil nama gadis yang berdiri tak jauh di
sampingku.
“Kak Adit?”
Suara itu.
“Aku duluan ya, kak.” Ia menunduk sopan
kemudian tersenyum.
Lagi-lagi meninggalkanku, walau kini
mengucap pamit.
Semoga suka dengan cerpennya.. Ambil yang baik, buang yang buruk. :)
cinta setengah sadar
Aku termenung menyaksikan jutaan rintik hujan yang sedang turun mengguyur bumi, berharap hujan segera reda. aku terjebak di perpustakaan daerah oleh hujan yang dari tadi semakin deras. Namaku Zahra Maharani. wanita sederhana pemburu novel. sedikit aneh memang julukan yang diberikan padaku itu. Entah kenapa sejak kecil aku sangat suka
membaca. setiap pulang sekolah aku akan mampir ke Perpustakaan daerah untuk sekedar membaca apabila ada waktu luang. Sudah cukup! aku tidak tahan lagi. aku memutuskan untuk mengembalikan novel yang belum selesai kubaca itu ke tempatnya
kemudian aku ke luar dari perpustakaan. aku berlari menembus hujan yang untungnya sudah tidak sederas tadi. aku berteduh di halte
terdekat sekalian menunggu bus untuk mengantarku pulang.
Seorang lelaki berdiri ikut berteduh disampingku. Ya Tuhan! dia adalah Zaidan Mahendra. Lelaki yang sejak dulu aku kagumi. Kak senior teladan kebanggaan adik didiknya. Ya dia selalu mengajari kami yg menjadi adik seniornya. Dalam banyak hal, sudah cukup lama aku mengenalnya, dan selama itu pula aku memendam perasaanku terhadapnya. Dia tampan juga baik, dia pria idaman yg menarik. Aku mencintainya. Sudah terlalu dalam , Mungkin.
sekarang ia berdiri di sampingku. Tepat di sampingku.
“Hallo. murid SMA Bhakti ya?” Sapanya ramah. aku tersenyum canggung. “i.. iya” Balasku singkat. Aku benar benar gugup saat ini. Ingin sekali aku menatap wajah tampan dan mata indahnya namun hati ini
melarang. Mungkin hati ini tau apabila aku melakukan itu, akan berdampak fatal untuk sang ‘hati’. Menyakitkan.
“Kok belum pulang?” tanyanya memecah suasana canggung antara kita. “Aku sering mampir ke perpustakaan daerah dulu saat pulang sekolah” aku hanya menjawab seadanya saja. Lagipula aku juga
mengatakan yang sebenarnya.
“Oh.. Pasti kamu salah satu murid pandai di sekolah karena hobi membacamu itu” Zaidan
tersenyum setelah ber ‘oh’ ria. Apa yang ada di hatiku ini? Kenapa ini berdegup sangat kencang? Dia manis sekali.
“Hmb.. Tidak juga. Pintar dari mana kalau yang kubaca adalah novel” Aku terkekeh menertawai ucapanku sendiri. Zaidan ikut tertawa. Stop jangan siksa diriku lebih lama lagi ya tuhan! Aku tidak sanggup melihat ciptaanmu yang
super tampan itu. “Asal kamu tau saja, aku pintar karena aku juga suka membaca novel” Ucap Zaidan
menyombongkan dirinya. Ternyata dia suka membuat lelucon dan sangat terbuka orangnya. Pantas saja dia menjadi idola dan banyak teman setaraku yg menyukai dia .
Suasana yang tadinya canggung mulai
mencair. “Kalau ada novel yang bisa membuatku pintar dalam waktu 1 jam, aku akan membeli dan memborongnya. Lalu, novel apa yang kau baca sehingga kau bisa sepintar itu Tuan Cerdas?” cibirku bercanda sembari tersenyum.
“Entahlah” balasnya singkat. Aku mengangkat sebelah alisku.
“Semua mengalir begitu saja di otakku. Mungkin aku memang ditakdirkan menjadi seseorang yang pintar sejak lahir” sambungnya
yang membuatku tersenyum tambah lebar. “Ada ada saja kau ini” aku menyenggol lengannya.
“Dari tadi kita ngobrol, aku belum tau
namamu”
“Arrghh kk ini, padahal kita sering bertemu pada saat kk membimbing kami. Oh iya. Namaku Zahra Maharani” Aku memperkenalkan diri “Aku Zaidan Mahendra. Benarkah ? Kk tidak tau. Ow mungkin lupa .. Hehee Kok nama kita
Inisialnya bisa sama ya? ‘ZM’ ” sebenarnya aku sudah tau namanya itu sejak dulu. Siapa juga yang tak kenal dengan Zaidan Mahendra . Tapi, aku baru menyadari kalau inisial nama kita sama. “Mungkin kita jodoh” ujarku tanpa sadar. Bahkan aku tidak sadar bahwa Zaidan saat ini sedang menatapku lekat lekat. Aku benar
benar bodoh. Seharusnya aku berfikir ribuan kali lagi untuk melontarkan kata kata itu dari mulutku.
“Ya, mungkin kita memang jodoh” Balasnya yang membuatku tersadar kemudian balik menatapnya. Bahkan saat ini jarak kita sangat dekat.
“Mungkin, apa?” tanyaku memastikan. Aku yakin kalau aku tidak salah dengar. “Aku baru tau kalau ternyata wanita yang hobi membaca sepertimu mudah lupa dalam sekejap” Jari telunjuknya ia letakkan di
keningku. “Hei, berhenti lakukan itu” Aku memegang tangannya agar Zaidan menurunkan jarinya itu
dari keningku. Tak lama, ada Bus yang lewat dan berhenti di depan halte menurunkan beberapa penumpang.
“Sedang menunggu Bus? Ayo kita naik” Zaidan menarik tanganku menaiki Bus di depan kami. Aku dan Zaidan duduk bersebelahan di Kursi
dalam Bus. Tangan kami pun masih
bergandengan.
“Hai Tuan Cerdas.. Tolong lepaskan tangan kamu” Aku memandangi tangan kami yang saling berkaitan. Jantungku bisa bisa meledak
kalau seperti ini terus. “Tidak akan. Aku lebih suka seperti ini” Zaidan
menatapku sambil tersenyum lembut. seakan senyumannya menghangatkan hatiku.
“Kenapa kau melakukannya?” tanyaku
perlahan.
“Karena aku menyukaimu” Bisik Zaidan tepat di telingaku. Kalimat singkat itu berhasil menusuk hatiku, menembus pori pori kulit
yang sudah berkeringat. Aku memalingkan wajah ke jendela bus berhubung aku aku yang
duduk di dekatnya.
“Aku menyukaimu sejak dulu, namun aku tak punya nyali untuk mengatakannya. Mungkin setelah mendengar ini kau akan berfikir kalau
aku lelaki lemah dan payah. Tapi, aku sangat mengagumimu. benar benar sangat mencintaimu… Nyonya Novel, Zahra Maharani”
Aku bisa mendengar jelas semua ucapannya. Zaidan sepertinya bernafas lega setelah mengungkapkan perasaannya padaku. entah
kenapa aku mendadak diam seribu bahasa. bukankah ini yang kuinginkan? tapi kenapa lidahku seakan sulit untuk bergerak. Hingga hawa mengantuk menghampiriku dan aku tertidur dengan kepalaku yang kuletakkan di kaca jendela bus. setelah itu aku masih bisa merasakan kepalaku di pindahkan secara
perlahan lahan kemudian diletakkan di bahu seseorang.
Aku mendengar suara berisik yang sangat menganggu telinga. Aku terbangun dan menyadari kalau ini adalah Kelasku. Hahahaaa Aku baru
ingat kalau aku tertidur di kelas karena Jam pelajaran kosong. Ya ampun, berarti yang tadi hanya mimpi? tapi kenapa mimpi itu seakan pernah terjadi di kehidupanku? Mimpi itu
terlihat sangat nyata..
Tidak perduli terhadap mimpi. Aku langsung menuju ke Toilet sekolah untuk membasuh wajahku. Namun kenapa aku masih saja memikirkan mimpi itu? hingga saat aku
menuju kembali ke kelas aku bertemu dengan Zaidan. Maybe this is just a nice dream to me.
“Halo Nyonya Novel, Zahra Maharani” Sapa zaidan sambil tersenyum. Mimpi itu kembali terlintas di fikiranku. Apa aku benar benar pernah mengalaminya? Jadi, inilah masa masa
saat aku mengalami Cinta Setengah Sadar.
Aku mengerti dengan kesibukan kamu, tapi kamu tak mengerti bahwa disini aku khawatir dan menunggu kabar dari kamu .
Cerpen penutup malam, untuk seseorang yang seharian tak memberi kabar.
By :
GadisKecil to ilizyami #JCDD
cinta senja
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian kelas membuatku termangu dalam lamunan. Teringat sebelum aku berada di sekolah ini, aku akan berkawan.Namun nyatanya, sudah tiga hari melewati proses perkenalan di depan kelas dengan guru bidang studi yang berbeda aku masih sendirian di sudut kelas setiap jeda kelas—bahkan saat kelas sedang berlangsung. Sudah kedua kalinya aku pindah sekolah. Begitu menyedihkan menjadi orang asing untuk kedua kalinya. Seharusnya aku mendapat teman. Tapi kali ini beda. Sendunya terasa kejam, khususnya di kelas ini, terdapat orang-orang yang cuek. Aku terenyah duka melihat sudut demi sudut kelas ini. Aku terasa ditahan oleh tombak-tombak penghalang, yang mungkin akan berubah menjadi samurai dalam kediaman ini. Aku mencoba menginjakan kaki ke luar kelas. Suasana ramai dan kerumunan orang-orang yang tengah asyik dengan topiknya masing- masing. Aku masih berjalan, sendirian. Koridor kelas tampaknya tega melihatku jalan sendiri di atasnya, berwajah kaku dan tak tentu arah, menyakitkan. Beberapa siswi melihatku asing. Sedikit-sedikit, ada yang berbisik dengan wajah beragam —dari yang penasaran sampai berkerut dahinya. Tak satu pun yang gemar menyapaku, apalagi menyambut, ah runyam. Usahaku untuk melepas duri-duri kebosanan sedari tadi tak berhasil. Aku ingin memulai percakapan sedang, tapi rasanya mereka tak akan menghiraukanku. Aku tertuju pada sebuah kursi panjang hitam di pinggir taman sekolah. Sekolah ini memang Luas dan lengkap. Tak salah Mama memilihkan sekolah yang cukup memadai fasilitasnya untuk anak semanja diriku. Aku duduk sendiri. Semilir angin mengayunkan kain jilbabku pelan-pelan. Kubuka komik yang kugulung di kantongku dan berusaha fokus pada ceritanya. Pikiranku melayang. Bagaimana aku bisa betah hanya dengan ini? Pikirku yang tertuju pada lembaran komik di jemariku. Aku bukanlah pendongeng ulung yang tahu akhir kisahku ini. Duduk dan tak berkawan di tengah sini mengundang kegundahan hati. Aku pemalu. Aku tak bisa memulai pertemanan. Aku kira mereka akan datang kepadaku, nyatanya tidak sama sekali. Kesepian menumpuk menjadi lembaran cerita yang tersusun dalam buku kehidupan. Mereka terlihat bahagia dengan teman temannya. Mereka, gadis-gadis sebayaku. “Kamu anak baru?” tiba-tiba ada suara dari samping kiriku. Sebelum aku refleks menoleh, aku tahu itu suara laki-laki. Aku menoleh bisu. Di sampingku duduk seorang lelaki. Pandangannya lurus ke depan —kami duduk di kursi yang sama. Sesaat aku memicingkan mataku dan tersenyum menyambut hadirnya. Agak ragu, kutelaah kembali dirinya, sekiranya mungkin dia mengenalku. Tapi kurasa tidak. Mataku menangkap tiga bintang emas terbordir di dasinya. Jelas, dia siswa kelas XII. “Iya….” jawabku ragu. Aku masih bingung. Dia duduk agak berjarak jauh, tapi kurasakan embusan napasnya melanjutkan pertanyaan. “Kelas XI Bahasa B, kan?” tebaknya cepat. “Mengapa sendirian? Belum punya teman, ya?” tanyanya lagi sebelum kusempat membalas pertanyaan sebelumnya. Aku terdiam. Rasa gundah yang menyerang lubuk hati seolah pergi senada dengan datangnya anak laki-laki di sampingku ini. Rasanya aku bisa mulai berkawan. Ini yang kutunggu, bukan? Aku meringis di hadapannya. Tak satu pun kata yang dapat aku keluarkan. Sekejap senyumnya mengembang, manis di sudut bibirnya. Aku masih terdiam merasa minder tak berdaya. “Kenapa meringis?” tanyanya singkat. Aku belum mengenalnya, aku masih malu untuk membukan percakapan. Mulutku membeku, susah untuk menjawab apalagi bertanya. “Namaku Riky, kelas dua belas,” ungkapnya menoleh ke arahku, yang sedari tadi bertatap ke depan. Tangan nya berayun di sampingku, ia ingin bersalaman. Tanganku kaku. Kutoleh dengan senyuman dan berusaha membalas tangannya dengan anggukan. Aku belum terbiasa bersalaman dengan seseorang yang bukan mukhrim. Suasana menarik rumpang hati yang kosong. Kucoba untuk biasa, tapi tak bisa. “Namaku Olla,” ucapku singkat. Aku memalingkan pandanganku ke depan —lurus dengan gedung-gedung kelas XI. “Boleh berteman?” tanya lelaki yang bernama Riky itu. Aku mengangguk tersenyum. Aku rasa ini saatnya aku membuka diri, untuk tidak tertutup dan berkawan. Beberapa potong percakapan terurai diselingi senyum ramah. Aku mengenal sosok Riky hari ini, di kursi hitam taman sekolah. Sesekali jarum-jarum gugup menjahit bibirku —sebab salah tingkah. “Jangan ragu, apalagi takut untuk memulai jalin ukhuwah. Bersaudara itu menyenangkan. Mempunyai teman yang sejati itu seorang yang muncul di balik pintu ketika yang lainnya pergi. Jika kamu tak memulai pertemanan yang baik itu, bagaimana kamu punya teman sejati di balik pintu tadi? Mengerti, kan maksudku?” ucap Riky. Hatiku tersentuh ilalang nasihatnya. Aku sadar dengan itu semua. Aku hanya mengangguk malu di sampingnya. Perkenalan hari ini berakhir saat bel sekolah berbunyi nyaring di sbagian tempat bersamaan. Sesalku terpaut dalam, saat aku berlalu darinya. Aku lupa bertanya tentangnya. Sosok itu, tak pernah kabur dari benakku. Namanya, selalu teringat setiap kali aku memulai hari. Seminggu setelah perkenalan itu, aku tak pernah bertemu dirinya lagi. Tak kutemukan lagi senyuman damai di taman sekolah seperti siang itu. Seringkali aku mencoba duduk melamun di kursi yang sama. Aku menantinya disini. Semangatku redup. Hariku datar. Lagi-lagi aku teriris kesepian. Luka lama akan sekolah yang membosankan ini kembali menggeluti hati. Aku kembali menjadi anak baru yang asing. Dua pekan berlalu, aku mulai mengenal banyak teman di sekolahku. Aku tak lagi canggung memulai kata. Ini karena pesan dari seseorang yang datang dua minggu lalu, meninggalkan pesan dan tak kembali lagi. Kerisauan akan rindunya sekolah lamapun terobati.Tampaknya aku mampu beradaptasi di sekolah ini. Pikiranku tak terhenti pada titik temu beberapa hari lalu. Namanya masih jelas terngiang di telinga. Pertanyaan yang sama menjamur dalam benak yang sesak ini. “Riky? Kelas dua belas?” gumam Kak Namy. Dia adalah senior di ekstra madingku yang paling dekat denganku. “Harus kamu ketahui, sekolah kita itu luas, La. Ada 46 kelas di sekolah ini. Nama Riky itu banyak, bukan hanya satu,” jelas Kak Namy meyakinkan. Kekecewaan mulai menukas kesedihan. Dimana aku bisa bertemu Riky lagi? Sesering mungkin aku bercerita tentang Riky —walau aku hanya beberapa menit mengenalnya, kepada Kak Namy. Kak Namy begitu antusias mendengarkanku akan deskripsi tentang Riky. Akhirnya Kak Namy menawariku untuk mencari sang empunya nama. Tujuh belas kelas XII yang ada harus kami lampaui. “Sepenting apa dirinya? Jika kamu bertemu dengannya, apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Kak Namy heran sambil menyeruput es jeruk. Kami sedang ada di kantin siang itu. Baru setengah dari jumlah kelas kami arungi, belum juga bertemu Riky. Baru kusadar, mengapa hatiku begitu menyeruak penasaran oleh lelaki pemilik nama Riky itu? Sedang ia mungkin tak memikirkan pertemuan beberapa pekan lalu. Ia menghilang bak ditelan bumi. “Dia hebat. Dia menyadarkanku untuk menjadi wanita yang ramah dan berkawan,” jawabku lancar. Seperti ada yang mengendalikan untaian kata-kataku tadi. Kak Namy menaikkan alisnya nakal, “Apa kau menyukainya?” Pertanyaan itu mengundang kekesalan. Kupukul pundaknya. Ia berlari ke luar kantin. Sejak pertanyaan sakral itu dijuruskan, aku mulai menanyai diriku sendiri. Apa benar aku menyukai seorang yang baru kukenal? Apalagi kami hanya bertemu sebentar. — Aku menunggu Mama di depan sekolah. Aku harap Mama tak lama menjemputku. Terik sinar matahari siang itu begitu menusuk hingga menerobos kain seragam putihku. Terlukis fatamorgana di kejauhan langkah kaki ini. Topi oranyeku tak berpengaruh sebagaimana perannya. Sesekali keringat kuusap hingga kurasa satu-dua tetesan di setiap usapannya. Aku mulai tak sabar. Aku meninggalkan kursi tunggu itu. Aku berjalan pelan meninggalkan sekolah. “Ah, Mama lama sekali!” aku bersungut-sungut sendiri.“Bersabarlah. Seorang yang hebat itu bukan yang berharta, tapi yang mempunyai kiasan hati yang sabar. Semua akan datang,” ucap seseorang dari belakangku. Refleks aku menoleh cepat ke sumber suara. Seseorang di bawah pohon angsana. Senyumnya masih sama seperti beberapa pekan lalu. Pandanganku tak terlepas pada lelaki di depanku. Aku terkejut tak percaya. Kini cahaya itu berada dekat. Lagi-lagi mulutku membeku. Lelaki misterius beberapa pekan lalu, Riky. “Riky!” senyumku mengembang. Segera aku mendekatinya. “Kemana saja kamu?” seruku, tak terkendali. Tanganku menggengggam tali tas ransel yang ikut berguncang dalam lari kecil. “Hehe… aku masih di sekolah ini, kok,” guraunya. “Aku berharap bertemu kamu setelah hari itu berlalu. Tapi aku tak tahu harus mencari kemana. Kamu hilang. Padahal kamu siswa di sekolah ini,” kataku, cerewet. Senyum Riky hilang, sekejap kembali lagi, “Ah, ada-ada saja kamu. Aku sering melihatmu di sekolah. Masa kamu tidak pernah melihatku?” “Justru itu aku mencarimu. Jika aku melihatmu, tak akan kucari kamu dari satu kelas ke kelas lain,” kataku, mulai akrab. Jelas terlihat senyumku tak terhenti. Hati ini terasa penuh dengan kegembiraan. Riky menemaniku menunggu Mama di bawah pohon besar itu. Sesekali aku bercerita tentang keseharianku di sekolah. “Jadi kamu suka jalan-jalan sore?” tanya Riky sembari melipat tangannya. Dia terlihat begitu bersahabat. “Iya. Apalagi melihat senja dan matahari tenggelam di pantai barat. Itu menyenangkan sekali,” jawabku mantap. Tak ada lagi gundahku. Semua terbayar akan rasa ingin jumpa. “Jika kamu mau, aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Di sana kamu bisa melihat senja yang jingganya menenggelamkan mentari. Aku yakin kamu menyukainya. Jika iya, Rabu depan aku tunggu kamu di taman kota,” tawarnya. Aku terkesima dengan tawarannya. Sepertinya itu ajakan yang hebat. “Boleh juga,” jawabku singkat. Semenit kemudian, mobil Blazer perak berjalan pelan. Aku yakinkan pandanganku. Ternyata benar, itu Mama. “Ma!” teriakku. Aku beranjak dari dudukku. “Tunggu sebentar, ya, Ky. Itu Mama,” pesanku sambil berlari kecil ke arah mobil Blazer perak. Mama membuka kacanya. Mama memicingkan matanya yang diserang sinar terik matahari. “Kemana saja? Mama bingung mencarimu, sayang. Ayo, segera masuk ke dalam. Kamu belum makan siang,” kata Mama. “Apa aku boleh mengajak teman baruku?” aku menunjuk ke arah belakang. Mama mengecek keadaan di belakangku, aku menunggu jawabannya. “Siapa?” Mama rupanya masih bingung dengan maksudku. Aku menoleh ke belakang. Aku terkejut, tak satu pun orang duduk di bawah pohon itu, sepi. Hanya ada sinar-sinar kecil yang menembus celah dedaunan pohon. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Riky menghilang. “Ada siapa, sayang?” tanya Mama lagi. “Mama lihat kamu sendirian di bawah pohon tadi,” ucap Mama. Aku masih bingung. Aku membuka pelan pintu mobil dan menutupnya kembali. “Tapi tadi ada temanku yang menemaniku menunggu Mama,” ku yakinkan pernyataanku. Mama hanya diam sambil menggeleng, sepertinya Mama menganggapku bercanda. — “Aku lupa menanyakannya,” aku menepuk dahiku. “Ah, karena rasa cinta, ya? Jadi lupa karena terlalu bahagia berjumpa,” kata Kak Namy dengan alis jahilnya. Aku mendorong pundaknya. “Eh, jangan begitu. Cinta datangnya tiba-tiba. Bisa-bisa terpikirkan. Bahkan tersembunyi,” kata Kak Namy lagi. Aku cemberut. Aku rasa Kak Namy benar. Aku jatuh cinta. Tapi apakah ini yang namanya cinta? — Sore itu, aku bertemu Riky di balik bukit itu. Dia tersenyum. “Kamu hampir terlambat. Ayo, ikut aku!” serunya. Kami berdua berjalan menyusuri rerumputan. Kami tiba di ujung bukit. Dia mengajakku duduk di antara batu-batu itu. Dia terlihat lebih tampan dari pada biasanya. Kemeja biru yang ia kenakan senada dengan senyumnya. Aku sesekali menatapnya malu, seakan kucuri pandang tanpa menoleh. Jingganya senja itu mewarnai mataku. Embusan angin di atas bukit ini mengelus lembut kulitku. Terlukis kisah di antara aku dan Riky. Lelaki misterius yang kutemui di hari-hari kesepianku. “Indah, ya?” gumamnya di sampingku. Aku terasa nyaman di sampingnya. Aku berharap hari ini tak cepat berlalu. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia mengelus lembut jilbab merahku. Aku terayun kenangan saat pertama aku bertemu dirinya, sesaat aku tersenyum. Mataku tersiram indahnya rasa. Rasa yang susah diungkapkan. “Kamu lelah?” tanyanya pelan. Aku tersadar dan langsung bangun dari lamunanku di atas bahunya. Aku menunduk seraya menutup wajahku dengan jemariku. Aku meminta maaf. Dia tersenyum. Senyumannya begitu indah di mataku. Aku memandangnya dalam. Cahaya matanya menembus hati yang tersendu eloknya pandang. Aku tak akan pernah mengira akan bertemu seseorang yang akan datang di hari-hari sepiku. Ingin hati menyeruak dinding kepalsuan. Aku tak bisa meninggalkannya. Titik-titik yang aku pasrahkan tak bisa aku buang begitu saja. Aku terperosok dalam lantunan cinta yang mengalir deras. Ini memang yang pertama kalinya, dan aku harap ini bukan hanya ilusiku saja. “Ky, apa yang kamu lihat di sini?” tanyaku memecah kebisuan. “Kamu lihat itu, ada senja. Senja itu berwarna jingga. Jingganya menghias dunia, bagai layar tertumpu pada silaunya cahaya mentari. Mentari itu indah, seindah hati seorang wanita, wanita yang aku temui. Dan aku ingin menjadi senja agar bisa menenggelamkan hati sang mentari. Tapi tak tau kapan itu akan terjadi. Atau mungkin sudah terjadi,” jelasnya sambil menatap matahari yang tenggelam oleh jingganya. Sayup-sayup terdengar burung-burung kembali ke sarangnya. Aku menatapnya kaget. Kata-kata itu menyentuh fantasi. Apakah ia mendengar isi hatiku di sini? Aku tak tahu. Aku hanya tersenyum, mengerti maksud dirinya. Aku tak mengira ini akan menjadi akhir dari semuanya. Senyum damai itu, senyum di akhir senja. — “Olla!!” teriak Kak Namy saat aku melangkahkan kaki ke kelasku. “Lihat ini,” aku mendekatinya. Kak Namy menunjukkan foto angkatan yang lulus tiga tahun yang lalu. Aku masih bingung maksud Kak Namy. “Aku harap kamu tak akan pernah mengira ini,” ajak Kak Namy. Aku menurutinya. Sepertinya ini penting. Aku mengikutinya hingga berujung di pemakaman umum. “Mengapa kakak mengajakku kesini?” tanyaku. “Lihat itu!” katanya. Aku mulai mengerti kata-katanya. Kulihat selembar koran di tangannya. Berdiri sebuah nisan bertuliskan nama yang dimaksud. Seperti ada yang mencabut nyawaku. Suara teriakan dalam diriku tak terkendali. Rasanya seperti menggoncangkan diri ini. Kuingat semuanya. Orang yang dimaksud adalah yang ada di dalam berita dalam koran yang kusut itu. “Dia meninggal di umurnya yang ke-19 tahun. Dia meninggal karena penyakit kanker hati,” jelas Kak Namy membaca berita dalam koran yang terbit dua tahun yang lalu. “Namanya Riky Senja,” Selama ini yang kukenal nyata tersarukan oleh rahasianya sendiri. Ia adalah sosok gaib di balik cerita kehidupanku. Ternyata seram, terdengar. Gerahamku seakan-akan terlepas dari naungannya. Aku menganga kaget melihat realita yang terjadi di depanku. Bibir bergetar lalu membisu. “Tidak mungkin!” teriakku. Aku bak teriris pisau tajam. Foto yang kulihat adalah empunya senyum senja kemarin. Namanya terlukis di atas batu nisan itu. Dia, yang selalu memberiku nasihat kecil yang merubah titik-titik kesedihanku. Dia, Riky Senja. #ShortStory untuk seseorang yang selalu diam, padahal ia tahu ada seorang gadis didekatnya yang mencintainya dalam diam. #ILIZAMIbySecretAdmirer Siti khopipah aliskkandar (iipok)
Langganan:
Postingan (Atom)

