*GSF* part32
Dua tahun sudah aku menjalani hubungan dengan imal. Dan ku akui sampai sekarang, walau aku sudah berusaha sangat keras, walau aku sudah yakin aku bisa menerima kenyataan, terkadang masih sosok janwar yang masih kulihat dalam dirinya. Ingin rasanya aku meminta maaf dan mengatakan yang sejujurnya. Tapi aku tidak tega. Imal begitu sayang padaku. Akupun begitu. Aku sangat menyayanginya dan tidak kuragukan itu.
Disisi lain, masih ada yang sangat mengganggu pikiranku selama tiga tahun tinggal di Negeri kincir angin ini. Aku memang merindukan janwar. Aku memang melihat wajah janwar diwajah imal. Aku sadar aku salah. dengan
Perasaanku seperti itu, aku mengira janwar lah yang kuinginkan. Tapi kenyataannya tidak. Ini sangat lucu sekali. Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Karena yang kuinginkan bukan janwar ataupun imal. Tapi Kak agung.
Iya kak agung. Aku sangat merindukannya. Merindukan senyumnya, tawanya, cemberutnya, semuanya. Kerinduanku padanya melebihi rinduku pada janwar. Bahkan rasa sayangku pada imal.
Janwar dan imal seperti sebuah mimpi bagiku, sedangkan kak agung seperti sebuah kenyataan yang membuatku belajar untuk hidup.
Aku suka memarahi diriku sendiri karena perasaanku ini. Bisa dibilang aku tidak tahu diri. Aku sadar tuhan sudah terlalu baik padaku. Dia mendatangkan seseorang baru yang sangat mencintaiku. Tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa diam-diam ada perasaan yang terlambat menyerang hatiku. Aku dulu menyia-nyiakan kak agung. Apa pantas aku memiliki perasaan ini sekarang?
Enam bulan yang lalu aku pulang ke jakarta karena alviah menelponku.
"Ais, gue mau menikah.. "
"Hah? Menikah? Sama siapa?"
"Sama siapa lagi? "
"Sama fahrii? Waahh.... Hebat! Gak disangka akhirnya fahri berani ngelamar lo. "
Kukira kak agung akan datang kepernikahan mereka. Tapi ternyata tidak akupun mampir kerumahnya. Tapi hanya kesunyian yang kutemui. Dia menghilang seperti ditelan bumi.
Setahun yang lalu aku lulus dari kuliahku. Dan sekarang aku bekerja disebuah konsultan arsitektur yang cukup bergengsi di belanda. Imal juga sudah lulus. Setahun lebih dulu dari pada aku.
Sedangkan kak agung? Aku tidak tahu. Aku suka membayangkan ia pasti sudah jadi dokter tampan yang sukses. Aku yakin itu.
Malam itu aku merasa bosan sekali dirumah. Maka aku memutuskan untuk pergi ke restoran milik imal.
"Goede Avond (selamat malam), imal ada disini gak? "
Aku bertanya pada salah seorang koki disana. Bagi imal dia sudah seperti papanya sendiri. Begitu juga aku. Aku dekat dengannya. Oom ikbal selalu setia mendengarkanku sekaligus memberikan nasihat-nasihat yang bijak untukku.
"Tidak ada sayang, hari ini dia tidak datang kesini. Om rasa dia kecapean. "
"Ooh.. " aku menghela napas panjang.
Aku hendak pamit. Tapi om ikbal langsung menahanku.
"Mau om traktir eskrim? "
Aku langsung mengangguk kegirangan. Dia selalu tahu bagaimana cara menghiburku.
Lima menit kemudian om ikbal datang dengan membawa semangkuk eskrim untukku. .
"Kamu sepertinya sedang bosan? "
Aku mengangguk.
"Hmm... Om tahu alasannya. Pasti bukan karena imal tidak ada disini kan? ". Aku terenyak. Kaget mendengar ucapan om ikbal.
"Om tahu, kamu merindukan Agung. Yang kamu inginkan saat ini adalah dia ada disamping kamu kan? Menemani kamu makan eskrim. "
Aku tertawa. Benarkah? Aku berpikir. Aku ingin menyangkal. Tapi yang dikatakan om ikbal itu kurasa benar.
Aku memakan eskrim dan tidak berkata apapun. Aku merasa hina karena perasaanku. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa perasaan ini hanya perasaan rindu pada sahabat. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ini bukan rindu yang seperti itu.
"Kamu harus belajar mendengar hati kecilmu, nak. Jangan paksakan jika perasaanmu tidak sama dengan keadaanmu saat ini. " nasihat om ikbal sebelum pergi.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar