Jumat, 22 Desember 2017

Grey SunFlower part35

*GSF* part35
*

Keesokan harinya, pagi sekali, imal datang ke rumahku.
"Kok pagi-pagi sudah datang?"
"Pake nanya lagi. " raut wajahnya imal tampak emosi.
"Kamu kemana saja kemarin? Aku telpon tidak aktif. Aku datang kerumah kemarin sore, kamu tidak ada. Aku tanya opa omamu, mereka tidak tahu. Aku cemas aisyah.! "
Aku langsung berlari ke kamarku mengambil ponsel. Ternyata baterainya habia.
"Maaf imal.. Ternyata handphoneku low batt. Aku lupa ngecek semalam. Maaf sudah membuat kamu khawatir. "
"Oke. Tapi kamu kemarin kemana saja? Sudah kedokter bekum? " ia masih memperlihatkan ekspresi kesal.
"Tahu enggak? Kemarin aku ketemu kak agung. Sahabatku yang pernah kuceritakan dulu. " jawabku dengan menggebu.
"Oh ya. Aku ingat. Dimana ketemunya? " tanyanya datar.
"Ya di rumah sakit. Dia sekarang sudah jadi dokter. Dia yang meriksaku kemarin. Dan benar kataku, aku itu hanya kecapean. Ini sudah biasa kok. "
"Ya syukurlah.. Aku hanya khawatir ais..  Tidak ada salahnya juga kan kalo periksa ke dokter. "
"Iyaa iyaaa sayang.. "
"Yasudah.. Aku berangkat kerja dulu ya. Jaga kesehatan. " ia pergi lalu mengacak-acark rambutku.

Setelah imal pergi aku bersiap untuk menjenguk kak agung.  Sesuai janjiku kemarin.
Aku datang kerumahnya dan ia menyambutku. Aku duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat lagi isi rumahnya.
"Oh ya kak,  kamu tinggal sendirian? "
"Memangnya kamu sudah menerima surat undangan pernikahan dariku? " jawabnya santai.  Aku tertawa kecil.

Kak agung membuka laptopnya dan mengetik sesuatu yang aku duga berhubungan dengan pekerjaannya. Aku langsung duduk disebelah kak agung yang telah menjelma menjadi dokter tampan itu.
Aku melihatnya bekerja dengan serius. Dia benar-benar berbeda sekarang. Kak agung yang dulu cuek dan seenaknya kini berubah menjadi sosok pekerja keras dan berdedikasi tinggi.
Aku lalu berdiri melihat kamarnya, setelah itu mendekat ke jendela. Kamar ini menghadap langsung ke jalan. Sehingga aku bisa melihat orang-orang berlalu lalang dari atas sini.

"Kamu sudah punya pacar? Bule mungkin? " tanyaku memecah keheningan.
"Belum ada. " jawabnya singkat. Perhatiannya masih terfokus pada laptopnya.
"Ah payah...  Dulu waktu dikampus. Kan banyak banget yang ngejar-ngejat kamu. Masa bule aja gak ada yang bisa kamu tangkap hatinya. " aku melihat fotoku bersama kak agung dulu yang banyak terpajang dikamarnya.
"Ngapain. Kamu aja gak bisa aku tangkap. " sahutnya pelan. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa? Aku gak denger. " aku berpura-pura.
Ia hanya mendongak sedikit lalu tersenyum penuh arti. Melihat reaksinya yang demikian, aku mengurungkan niat untuk mengulang pertanyaanku.
"Kak..  Jalan yuk.. " ajakku.
"Kemana? Aku masih banyak kerjaan nih. "
"Mau aku kenalin sama seseorang. "
"Siapa? "
"Ada deh. Aku udah janji mau kenalin kakak sama dia. " aku menarik tangannya tanpa mendengar persetujuannya. Dia langsung mengamvil jaketnya dan kami pergi.
Aku mengulurkan tangan sebekum masuk mobil.
"Apa? " tanyanya bingung.
"Kunci.. Sini kuncinya.  "
"Oooh jadi sekarang gantian, kamu yang mau nyetirin aku? Oke. "
"Iya. Aku kan sekarang sudah dewasa, jadi harus bisa membalas budi. "
"Aku tidak pernah memnita kamu untuk membalas. " ujarnya lirih.
Aku berpura-pura tidak mendengar. Dia memang tidak pernah memintanya, tapi aku ingin membalas semua kebaikannya semampuku.

NEXT

Tidak ada komentar: