Halo, kamu..
Aku tak bermaksud menanyakan
kabarmu, karena aku tahu kabarmu sudah jauh
lebih baik sekarang. Benar, kan? Tentu saja.
Karena jika tujuanmu pergi dariku agar kamu
lebih bahagia, seharusnya kamu sudah bahagia
sekarang. Ya, aku sudah melepaskanmu
sekarang, bahkan sebelum benar-benar
melepaskan, aku tidak benar-benar mengikatmu,
bukan? Agar sewaktu-waktu kamu meminta
pergi, kamu bisa pergi dengan mudah.
Entah kenapa setelah kamu akhirnya pergi, aku
bertambah lega sekarang. Jangan dulu salah
paham, aku bahagia bersamamu sesungguhnya.
Paling tidak, aku tak pernah merasa kesepian
karena kamu bisa menyapaku kapan saja. Kalau
aku ingin ngobrol, kalau aku kerepotan, termasuk
juga kalau aku butuh diperhatikan, setidaknya
kamu ada. Bahkan bisa dibilang, kamu selalu ada.
Yang membuatku lega adalah kamu bisa
mengejar bahagiamu sekarang. Mencari bahagia
yang tidak kamu dapat dariku. Kamu harus
menemukan bahagiamu, Harus! Seperti aku yang
telah menemukan bahagiaku. Ya, aku sudah
menemukannya. Kamu tahu sejak kapan?
Tepatnya saat kamu memutuskan untuk
mencintaiku pertama kali. Kemudian berlanjut
sampai kamu bersedia menemaniku,
menghabiskan banyak waktu bersamaku, hingga
melakukan apa saja bersamaku. Itu adalah
bahagiaku. Kalau kamu? Entahlah.
Inginnya, aku terus membuatmu tertawa. Merasa
nyaman setiap kali kamu bercerita dan aku
mendengarnya. Merasa tenang setiap kali aku
datang. Dan ada senang yang tak terbilang,
karena aku akan memberimu hadiah-hadiah
sederhana namun penuh kejutan. Dan kamu
selalu bahagia setiap kali menerimanya.
Inginnya, aku bisa menjagamu kapan saja. Tidak
harus selalu bersisian. Tidak harus selalu satu
jengkal di sampingmu, tapi cukup dengan
mendengar suaraku saja dari seberang telepon,
kamu sudah merasakan kedamaian.
Inginnya, aku bisa tetap membuatmu jatuh cinta
setiap hari, setiap kali. Tanpa bosan, tanpa jeda.
Lalu kamu akan merindukanku lagi dan lagi.
Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk
menua bersama.
Inginnya, aku bisa membahagiakanmu segera.
Membidadarikanmu sebisanya dan pasti bisa.
Menghebat bersamamu seiring berjalannya
waktu, dan kita akan benar-benar
mewujudkannya jika tetap bersabar. Jika kita
tetap memutuskan bersama.
Tetapi semua itu hanyalah inginku. Sedangkan
inginmu harus segera kauwujudkan juga.
Inginmu bahagia secepatnya. Inginmu mencari
hati yang baru, yang menurut persepsimu, bisa
lebih membuatmu bahagia. Dan inginmu yang
tak pernah menjadi inginku adalah ketika kamu
memutuskan pergi. Tetapi sepanjang itu adalah
keinginanmu, aku pasti akan membantumu
mewujudkannya. Walaupun setelah
melakukannya akan ada luka yang tak
terjelaskan.
Kamu hanya terburu-buru. Ingin semuanya
berjalan cepat. Padahal bahagia itu selalu datang
tepat waktu. Tapi ya sudah. Aku hanya bisa
berlari semampuku, mengejar mimpiku satu demi
satu. Mimpiku yang seandainya kamu tidak pergi
akan menjadi mimpimu juga. Mimpi kita.
Tetapi kamu sudah pergi sekarang. Aku tidak
tahu apakah setelah kepergianmu, aku akan
menjadi lebih baik atau tidak. Menjadi lebih
bahagia atau tidak. Tetapi kamu mengajarkanku
banyak hal, tentang bagaimana seharusnya
membahagiakan seseorang di masa depan.
Terimakasih, kamu tuan...