Selasa, 26 Desember 2017

Grey SunFlower part43

*GSF* part43

From : Agung Mardian
To : Imal Muzammil S

Selamat ya mal, aku titip aisyah ke kamu. Jaga dia baik-baik.

Aku kaget dengan alamat si pengirim. Karena itu adalah alamat email kak agung. Bagaimana bisa? Mereka kan baru dua kali bertemu? Bahkan aku yakin mereka belum sempat bertukar nomor ponsel saat itu. Jadi bagaimana bisa mereka bertukar alamat email?

Dan aku lebih tidak percaya dengan apa yang kulihat selanjutnya. Mereka sudah saling kenal dan bertukar email sejak lima tahun yang lalu. Itu sekitar saat aku tahu bahwa janwar sakit. Mereka membicarakan janwar. Dan dua tahun terakhir hampir semuanya membicarakanku.
Kepalaku mendadak sakit. Apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin? Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aku benar-benar bingung.
Aku mendengar mobil imal diparkir dipekarangan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku terdiam duduk di kursi. Kudengar imal masuk kedalam rumah memanggil namaku. Dan menemukanku yang sedang duduk dikursi komputer.
Seketika wajahnya berubah menjadi ketakutan. Dia bicara terbata-bata.
"Ka... Kamu sedang apa dikomputerku? Ada email masuk ya?  Dari siapa? " suaranya terdengar panik.
"Dari Agung Mardian. " jawabku dengan penekanan.
"Hah? Oh ya? " ia tidak berbicara apapun.
"ADA APA INI IMAL? " tanyaku dengan keras. Aku menarik napas panjang lalu bicara lagi dengan nada yang lebih pelan.
"Coba sekarang kamu jelaskan tentang ini semua. Apa maksudnya? "
"Itu... Itu...  "
Aku semakin tidak sabaran.
"Tidak usah berbelit-belit. To the point. " bentakku.
"Agung itu kakakku, ais. " jawabnya cepat. Ia tertunduk.
Aku terdiam. Bibirku bungkam. Aku merasa limbung.  Kepalaku semakin berdenyut.
"Maksudmu? "
Imal terlihat lagu menjawab pertanyaanku. Tapi dia sadar bahwa dia harus menjelaskan ini semuanya padaku.
"Dia itu kakak kandungku sama janwar. Anak pertama mama, dia.. ".
Ponselku berbunyi dan aku mengangkatnya.
"Ini nona aisyah? " tanya seorang wanita.
"Iya benar. Ini siapa ya? dan ada perlu apa? "
"Ini dari rumah sakit St. Cristopher. Saya ingin memberi tahu bahwa dokter Agung sekarang sedang kritis diruang ICU. Apa anda bisa datang kesini? Karena saya tidak bisa menghubungi keluarganya yang lain. "
Suaraku tercekat.
"APA?  Iyaiya saya kesana sekarang. "
Aku langsung menutup telpon dan pergi ke rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah katapun pada imal.

Ketika berlari di lorong rumahsakit yang panjang, kenangan saat aku menemui janwar terulang kembali. Aku memakai pakaian yang disediakan ruang ICU. Aku berjalan menuju dua daun pintu yang tampak sama dengan pintu yang dulu pernah kubuka. Semuanya seperti kejadian yang diputar kembali.
Aku masuk keruang itu. Aroma obat langsung tercium. Aku benci aroma itu. Saat kumasuk kulihat kak agung terbaring dengan banyak slang ditubuhnya.
Aku berjalan kearahnya dan duduk disampingnya. Perasaan ini sama sakitnya ketika saat kumelihat janwar dulu. Bahkan terasa lebih sakit.
Wajahnya begitu pucat. Tidak ada jejak keceriaan yang ia miliki. Kini ia terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit. Tidak berdaya. Slang yang mengalirkan darah ke sebuah alat disamping tempat tidurnya membuatku bertanya-tanya.

"Kamu kenapa kak? " tanyaku lembut. Tidak ada reaksi. Tidak ada senyuman ataupun anggukan.
Aku mencari dokter yang merawat kak agung. Setelah bertanya pada seorang suster, akupun bertemu dengan dokternya.
"Dia sakit apa, dok? Dia cuci darah? Dia sakit ginjal? " tanyaku khawatir.
"Kamu ini siapa? Keluarganya? "
"Iya.. " aku berpikir sejenak.
"Saya adik sepupunya. Jadi apa saya bisa tahu apa penyakitnya? "
"Seperti perkiraan kamu. Gagal ginjal. Dia diagnosis menderita penyakit ini sekitar setahun yang laku. Ketika dia diterima bekerja disini. "
Hatiku seolah tertusuk mendengar berita buruk ini.
"Kenapa dia bisa terkena penyakit ini, dok? "
"Faktor pertamanya mungkin dia sering tidur larut malam dan terlalu lelah bekerja. Dan faktor yang lain mungkin disebabkan oleh faktor keturunan. Memangnya kamu tidak mengetahui penyakit kakakmu ini? "
"Tidak dok. Dia tidak memberitahu apapun pada saya. Menyinggungnya pun dia tidak pernah.
"Dia memang seperti itu... "
Jawab dokter yang bernama fajrul itu pelan.

"Tapi dia bisa disembuhkan dok? Saya akan bayar berapapun biayanya. "
Seketika raut penyesalan terlukis diwajah dokter fajrul.
"Sayang sekali saya harus katakan bahwa harapannya sangat kecil. "
Aku terperanjat.
"Seberapa kecil, dok? "
"Sebenarnya hampir tidak ada. Dia benar-benar sudah tidak bisa ditolong. Ginjalnya sudah sangat rusak. "
"Apa dokter yakin?  Tolong dok! "
"Dia bisa bertahan sampai sekarang ini saja merupakan keajaiban. Saya juga tidak tahu apa yang membuatnya  bisa bertahan. Yang saya tahu semangat hidupnya kuat sekali. Tapi tiga bulan terakhir ini dia seperti kehilangan seluruh hidupnya. Dia seperti patung berjalan. Jarang makan dan bekerja sampai malam. Saya juga tidak tahu kenapa, setiapkali saya menasihatinya, dia hanya tertawa dan tidak menggubrisnya. "

Tiga bulan? Apa sejak kejadian itu. Sejak aku pergi dari rumahnya.

"Apa tidak ada cara lain untuk menolong nya dok.?  Toling dia dokter. Saya mohon... Saya akan baya berapapun.  "

"Masalahnya bukan uang.. Jalan terkahir yang bisa saya lakukan adalah pencangkokan ginjal. Tapi masalahnya dokter agung tidak pernah memberitahu saya siapa keluarganya. Jadi saya tidak bisa menolongnya lebih jauh lagi. Yang sekarang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. "

Kata-kata dokter fajrul seperti petir yang menghantamku disiang bolong.
Aku syok dan tidak bisa berkata apapun lagi.

"Kamu adik sepupunya kan?"
Tanya dokter fajrul.
Aku terkesiap.

NEXT

Tidak ada komentar: