Jumat, 22 Desember 2017

Grey Sun Flower part31

*GSF* part31
*

Aku keluar kamar dan imal sudah menyiapkan sarapan pagi. Sambil membawa segelas cokelat panas untukku. Aku keluar ke depan rumah. Cuaca pagi waktu itu sangat dingin dan segar. Musim panas dibelanda bagiku sama saja seperti musim hujan dijakarta, tetap dingin.

Saat tengah memandangi sungai yang cantik, tiba-tiba aku teringat pada ponsel yang sedari tadi aku genggam. Aku pandangi layarnya, disana aku melihat wajah kak agung yang tampan. Aku tidak pernah mengganti gambar ini bahkan sejak aku tiba disini. Dan tanpa kusadari aku sudah menekan nomor kak agung. Takut-takut aku dekatkan ponselku ke telinga, mencoba mendengarkan nada sambungnya. Tersambung?!  Tapi seperti biasa, tidak ada yang mengangkat.

"Heeii"...
Imal datang mengejutkanku dari belakang. Untung gelasku tidak terlepas dari tangan. Aku langsung menyimpan ponselku.
"Imaaaal jangan bikin kaget kenapa? " protesku.
"Makanya, siapa suruh bengong pagi-pagi. Mandi sana cepetan kita kan mau jalan-jalan. "

****
Hari itu imal mengajakku ke istana kerajaan belanda, dilanjutkan ke museum-museum terkenal dibelanda. Sorenya sekitar pukul tujuh, kami pulang ke rumah dan dia menyuruhku ganti dengan baju yang dia sediakan. Aku melihat gaun biru tua elegan tergeletak diatas tempat tidurku. Dengan rasa penasaran aku kenakan gaun tersebut. Saat aku keluar kamar, aku melihat imal sudah rapi dengan kemeja putih dan jas yang sama dengan warna gaunku.
"Kita mau kemana, mal? Kok dandan rapi banget? " diam-diam aku terpana melihat penampilannya sekarang. Benar-benar  tampan.
"Sudah tenang saja, kamu tidak akan menyesal. "Jawabnya santai.
Aku percaya saja dengan perkataannya. Dan ternyata kami pergi ke acara pertunjukan musik Rotterdam. Pertunjukan musik klasik malam yang disajikan dalam kemasan modern sangat memukau.

"Kok kamu tahu aku suka musik klasik? " tanyaku kagum.
"Kayanya kita kenal bukan baru sehari deh. " jawabnya cuek.
Kami sangat menikmati acara musik malam itu.

Setelah pertunjukan selesai, aku kira kami akan pulang. Tapi ternyata tidak. Imal membawaku ke restoran cantik dipinggir kanal Amsterdam. Kami bersantap sambil menikmati pemandangan lampu kota Amsterdam dimalam hari. Sungguh indah.
Setelah itu barulah kami pulang. Sampai dirumah, ternyata imal masih menyediakan satu kejutan lagi. Didepan rumah dia sudah menyiapkan kembang api. Dia menyulut kembang api itu dan....   Waw!!!  Dan itu sangat indah. Warna warna dan polanya membuatku takjub. Malam itu sangat bertambah cantik karena pantulan cahaya kembang api diatasnya. Aku tersenyum bahagia. Ini benar-benar manis. Aku tidak pernah sebahagia ini semenjak kepergian janwar.

"Makasih yaa, imal.. Terimakasih untuk semuanya. Tapi kapan kamu menyiapkan ini semua? " aku menggenggam tangannya erat.
"Ada dehh... Jangan terimakasih sekarang. Karena masih banyak yang ingin aku tunjukkan sama kamu " ucapnya tersenyum.

Hari keempat imal mengajakku ke pantai. Dia mengajakku ke tempat perahu-perahu kuno Netherland. Dia berhasil membuatku kagum.
Pada hari kelima, imal mengajakku ke ladang bunga tulip. Indah sekali. Ladang itu dipenuhi bunga tulip khas belanda yang mempunyai daya tarik yang luarbiasa.
Bila ada waktu, setiap sore kami bersepeda disekitar rumah. Menghirup udara segar dan tak bosannya melihat pemandangan sekitar. Imal juga tidak bisa lepas dari kameranya yang selalu mengarah padaku.
Tak terasa tibalah hari terakhirku liburan. Besok aku dan imal akan pulang.

"Kita hari ini mau kemana, mal? "Tanyaku.
Imal tidak menjawab. Ia malah memberiku sebuah gaun selutut bewarna abu-abu.
"Hari ini kamu pakai baju ini ya ais. "
Aku mengambil gaun itu.
"Ngapain sih beli gaun terus? Sayang tau uangnya. Buat liburan ini aja kamu pasti sudah mengeluarkan banyak uang. "
"Yasudahlah. Tidak usah dipikirkan. Terserah aku dong, mau beli apa ke. Sekarang kamu pakai baju ini, gak mungkin juga kan kalo dibalikin lagi ke toko nya. "
Aku menurutinya. Aku mrmang sangat suka gaun dan warnanya adalah warna favoritku.
Seperti yang sudah-sudah imal pun memakai setelan jas dengan warna yang sama. Kali ini aku tidak sabar, kejutan apa yang sudah imal siapkan untukku.
Imal menghentikan mobilnya ditengah ladang bunga matahari. Aku tersenyum saat melihat temptmat ini.

"Kamu tahu saja aku suka bunga matahari. " aku bersorak kegirangan dan bersiap turun dari mobil.
"Siapa juga yang mau ngajak kamu kesini? Geer. Aku hanya ingin mencari sesuatu. Dulu aku pernah motret disini, terus kayanya ada perangkat kameraku yang jatuh disini. Kamu tunggu disini ya, jangan kemana mana. "
Imal pergi meninggalkanku di mobil.

Karena bosan menunggu, aku mulai mengganti saluran radio di mobil. Sayangnya semua radio tidak ada yang memainkan lagu yang menarik. Setelah dua puluh menit menunggu. Aku semakin merasa jenuh dan memutuskan untuk keluar mobil. Angin sejuk langsung mengisi paruku.
Aku berdiri di pinggir ladang dekat mobil. Berjinjit mencoba mecari imal. Tapi dia benar tidak terlihat. Aku mulai takut. Takut kalau tiba-tiba dia pingsan seperti kemarin. Akhirnya dengan ragu aku memutuskan untuk masuk ke ladang bunga matahari yang cantik itu.
Aku mencari keberadaan imal, tapi tidak kutemukan.

Ladang ini dua kali lebih besar dari pada yang pernah kukunjungi didekat rumah. Bunganya indah sekali. Sungguh menarik hati.  aku sempat terlupa akan tujuan utamaku. Aku terus mencari, tapi tetap belum kutemukan. Hingga akhirnya aku menemukan segulung kertas yang diikat di salah satu batang bunga matahari dengan pita merah yang lumayan mencolok. Aku membuka gukungan kertas itu.
Didalamnya ada tulisan I LOVE YOU

Aku tersenyum. Aku tahu ini pasti kejutan yang disiapkan imal untukku. Aku kembali berjalan dan menemukan hampir sepuluh kertas bertuliskan hal yang  sama. Tas kecilku sampai tidak muat lagi menampung kertas itu.

Akhirnya kertas yang kedua belas membawaku ketengah tengah ladang. Disana imal menungguku dengan tersenyum. Didekatnya ada seorang gadis muda sedang memainkan piano besar. Lalu ada pula dua gadis lainnya yang memainkan cello dan biola. Mereka memainkan lagu bernada lembut sehingga aku merasa seperti sedang berada ditaman surga.

Momen ini mengingatkanku pada janwar. Mimpiku yang pertama dengan mirip sekali dengan sekarang dan aku yang sekarang sudah mampu menerima kenyataan dengan baik. Apapun yang terjadi saat ini, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan siap menghadapi semua yang baru. Benar-benar baru.

Aku berjalan mendekati pria yang berada disekitar lima meter didepanku. Jas abu-abu, dasi dan kemejanya terlihat sangat pas ditubuhnya yang tinggi. Juga mata hitam yang tampak  teduh. Rahangnya yang tegas dan rambutnya yang hitam kontras dengan kulitnya yang putih. Bibir nya terlihat sempurna ketika ia tersenyum.

Imal meraih kedua tanganku.
"I love you Aisyah. Semua kata i love you yang aku berikan ke kamu itu benar-benar nyata. Itu ungkapan perasaanku yang sejujurnya. Satu tahun terakhir ini, aku berjalan hanya sebagai bayangan kamu. Aku tidak mau hanya menjadi bayangan kamu ais. Aku ingin membuat bayangan bersama kamu. Apa kamu bersedia menjadi pasangan hidupku? "
Imal tersenyum. hanya farfumnya yang membuatku merasa sangat rileks berdiri dihadapannya.
"Kenapa? " tanyaku.
"Apa? " tanyanua bingung.

Aku tersenyum memandang wajahnya.
"Kenapa kamu mencintaiku? Aku ini kan hanya mantan kekasih adikmu. Aku hanya seorang gadis yang tidak sengaja terdampar disini karena kebodohanku yang tidak bisa menerima kenyataan. Aku ini hanya gadis yang hobinya menangis karena memiliki hati yang lemah. Apa yang membuatmu mencintaiku, mal? Apa?  Karena tampaknya didalam diriku tidak ada sesuatu yang menarik. "

Imal menatapku dalam-dalam.
"Aku tahu. Kamu juga pernah menanyakan hal yang sama terhadap janwar. Kamu tidak menyadari bahwa kamu itu sangat spesial. Dan spesialnya diri kamu adalah keistimewaan yang sulit untuk di definisikan. Yang aku tahu, aku mencintai kamu. Aku mencintai semua yang ada dalam diri kamu. Jadi bagaimana, kamu mau menerimaku? "

Aku mengangguk tanpa memerlukan waktu untuk berpikir dua kali. Tidak ada alasan apapun untukku menolaknya. Imal sudah memberikan kebahagiaan untukku. Lalu ia memberikan senyum termanis padaku. Lalu ia memelukku erat sekali dan ia mengecup keningku. Beberapa saat kurasaan detak jantungnya. Ia berusaha tenang. Kurasakan napasnya beberapa saat.

Kami berbaring diatas rumput hijau dengan bunga matahari dan diiringi musik lembut. Hingga malam menjemput dan cuaca memaksa kami untuk pulang.
Aku bahagia. Mulai hari ini aku akan menjalani hidup yang baru. Hari baru tanpa bayangan janwar menghantuiku. Aku benar-benar baru dan bebas sekarang. Bersama kekasihku. Bersama pria yang kucintai.
Imal Muzammil....

NEXT

Tidak ada komentar: