Kamis, 21 Juni 2018

Kopians 1 *Cahaya yang kembali datang*

Sejarah selalu berangkat dari sebuah kenangan. Kejadian di masa lalu yang kemudian diingat, disimpan untuk kembali dibuka jika rindu melanda. Setiap orang akan menjadi penulis bagi ceritanya masing-masing. Diabadikan dalam buku, diceritakan pada orang-orang terdekat. Seperti seseorang yang pernah mengisi hidup kita dengan warna yang ia bawa, Maka kenanglah sedalam napas yang kau hirup dan embuskan pelan.  barangkali seseorang itu akan menjadi seseorang yang kau sayangi sepenuh hati. Setelahnya.

"Muzam,, jangan pergi.. Aku kesepian.."

"Ais, aku mau bicara sesuatu.."

"Bicara apa..?"

"kalo kamu dewasa nanti, aku mau menikah sama kamu."

"Aku tidak mau, kamu jelek Dan usiamu terlalu jauh diatasku."

Kami tertawa dipinggir pesawahan, Mencari udara segar untuk menenangkan. Pedesaan memang selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Tentang sungai-sungai, kerbau yang entah mengeluh atau tidak ketika dipaksa membajak sawah. Gema teriakan anak-anak bermain bola di lapangan, menaikkan layang-layang ketika musim terang, atau beradu kelereng dari jentikan jari-jari kecil di halaman. Bahagia itu sederhana, bagi dunia mereka yang tidak dirisaukan dengan apa pun.

Seketika kami terdiam.. lalu dia kembali membuka suara, mungkin Muzam sedang bergurau.

"Aku serius, Aisyah. Enam atau tujuh tahun lagi, kamu nikah sama aku, yaa? Aku mau menunggu kamu.."

"Hahaa Aku ini masih kecil Muzam... Tahun depan baru masuk kuliah . Aku juga belum paham betul apa itu pernikahan."

"Aku paham. Seperti Mbak Yanni yang menikah dengan Mas Akim. Terus mereka pakai baju bagus, duduk jejer ditonton banyak orang. Ada acara makan-makan sama hiburan. Kan rame, Ais."

"Hahahaa dasaar kau ini... Aku juga tahu kalo masalah itu."

"Terus kenapa?"

"Aku ingin jadi penulis besar dan keliling Indonesia. Mau sekolah yang tinggi dulu."

"Iya aku tahu. "

"Lagipula kamu juga harus fokus menyelesaikan Studymu Kan, jangan memikirkan hal-hal lain.."

"Itu yang pertama, yang keduanya aku mau menikah sama kamu"

"Hahaha kau ini.. ada-ada saja..
Sepertinya Berteman lebih asik Muzam.."

Sekali lagi kami tertawa untuk masa depan yang masih diterka-terka. Dunia remaja memang selalu menyenangkan dengan cerita-cerita tak terduga. Siapa pun pernah berada di sana, bukan? Sebelum waktu membawa kita pada kehidupan orang-orang dewasa yang lebih keras, dan kejam.

"Aku pamit ya, Aisyah.."

"Kamu mau meninggalkan aku?..  "

"Tidak aisyah. Tapi Aku kan harus pindah ke Surabaya, bapak ku pindah tugas kesana, Dan aku juga akan melanjutkan S2 disana.."

"Aku tidak punya teman lagi."

"Saat liburan aku pasti main ke sini. Kita kunjungi lagi tempat-tempat indah disini ."

"Aku tidak tahu. Aku sedih, aku takut kehilangan sosok kakak sekaligus sahabat seperti kamu Muzam.."

"Aku tidak akan hilang aisyah..."

"Kamu yakin..?"

"Ais.. suatu saat aku ingin menikah denganmu.."

"Aku tidak tahu... Suatu saat aku hanya ingin bertemu lagi."

Tahun-tahun kemudian bergerak, menggeliat, meninggalkan jejak masa lalu tentang harum kenangan dan pedesaan. Semua berubah, berganti dengan perasaan yang tidak bisa dimengerti, tapi hanya bisa dirasakan. Tentang perpisahan, kehilangan atas waktu yang panjang, kemudian takdir adalah musim yang melingkar begitu manis. Memeluk kita dengan penuh kejutan.

***

"Muzaaaam , ingat tidak ? dulu kita sering ke tempat ini?"

"Aku ingat, Aisyah.  Nyari buah ciplukan. Sekarang sudah tidak ada lagi pohonnya di sini."

"Ada, di tempat lain. Nanti kuberitahu."

Delapan tahun sudah berlalu. Kita  tumbuh sebagai manusia--dewasa. Dipertemukan kembali oleh keajaiban Tuhan. Untuk kembali bercerita, kembali mengenang--terkenang.

"Maaf, Muzam. Aku tidak bisa hadir di pernikahanmu. Waktu itu aku sedang tour ke lombok."

"Iya, kamu memang selalu sibuk."

"Ah, kamu juga sibuk terus, kan? Oh ya, anakmu sudah berapa muzam?"

"Satu. Laki-laki"

"Pasti Tampan Kan..?"

"Alhamdulilah aisyah... Saat ini dia lagi lucu-lucunya. "

"Kamu dulu janji akan sering jenguk aku saat liburan, mana? Dusta. Aku tahu kamu menikah juga dari Agung, katanya dia sekampus sama kamu waktu kuliah."

"Maaf, aku ingkar janji -_- ."

"Tidak apa-apa Muzam..   Yang penting sekarang aku tahu kamu baik-baik saja, dan tidak lupa dengan temanmu yang kesepian ini. Oh ya,  istrimu mana..? sehat?"

"Istriku sudah meninggal dunia setahun lalu, Ais.. . Ia Sakit."

Hening. Seperti ada sesuatu yang salah dari sebuah pertanyaan.

"Maaf, Muzam. Maaf, aku tidak tahu soal itu. Maaf, ya. Aku ikut berbela sungkawa."

"Sudah lama, Asiyah.  Aku sudah ikhlas. Sekarang tinggal fokus membesarkan anakku saja."

"Semoga kamu selalu sehat. Dan anakmu tumbuh menjadi anak yang kuat"

"Oh, ya. Kamu belum cerita. Anakmu sudah berapa? Kenalkan aku dengan suamimu. Bilang ke dia, kita ini sahabat sejak kau masih ingusan"

"Aku belum menikah muzam."

Muzam terdiam..

Manusia membuat rencana, kemudian sekuat tenaga berusaha mewujudkannya. Membangun tangga menuju tempat yang lebih tinggi, mengaitkan tali agar tidak jatuh tergelincir, kemudian membiarkan Tuhan menjadi sutradara dari semua naskah.

"Ais, saat kamu remaja dulu, aku selalu bilang. Aku ingin menikah denganmu setelah kamu dewasa nanti. Dan maaf, aku ingkar janji..

"Maksud kamu..?"

"Maafkan aku, aku tidak bisa  tepati apa yang sudah aku ucapkan padamu dulu. Aku menikah dengan wanita pilihan orangtuaku. Mungkin ini sudah takdir Dari  tuhan. Karena sekarang, saat bertemu denganmu lagi, ini seperti petunjuk Dari tuhan.."

"Petunjuk apa muzaam.."

"Ais.. apa sekarang kamu sudah memiliki pasangan?"

Aku terdiam..

"Jawab aisyah, kumohon.."

"Aku...aku masih sendiri.."

" Sekarang, bolehkah keinginanku waktu itu kuutarakan lagi? Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu Asiyah.."

"Muzaaaaam, akuuuuu..."

"Aisyah Aliskandar, maukah kamu menikah denganku? Jadi istriku, jadi seseorang yang selalu mendukungku dalam suka, duka, denganmu aku ingin berbagi semuanya."

"Muzaaaaam, aku takut. Aku belum siap menjadi ibu Dari anakmu..."

"Beri aku kepercayaan aisyah. Aku bisa jadi sahabatmu, kekasihmu, aku akan membimbingmu untuk mengurusi anakku Dan anak-anak Kita nanti."

Cinta adalah sekumpulan waktu yang lama, lama, dan sangat lama. Ketulusan dan keberanian lahir dari keinginan yang kuat. Tentang harapan, Tuhan selalu tahu yang terbaik.

"Jangan tolak aku, Asiyah"

"Kenapa?"

"Nanti aku akan menyesal, Karena tidak bisa menepati janjiku."

"Gombaaal. Kamu terlalu jahat, pergi dalam waktu yang lama, tiba-tiba datang memintaku untukmenikah denganmu..

"Mau, ya?

"Mau apa ?"

"Jadi istriku."

"Iya."

"Iya, apa?"

"Aku mau jadi istrimu, ImaL Muzammil."
-

@Kopians -, Siti Khopipah Aliskandar

Rabu, 13 Juni 2018

STdW #EdisiTunduh😌

Aku kembali terdiam, lalu setelahnya mencoba membuka suara.

"Muzam.... Kapan aku pernah berlebihan dalam mencintai seseorang..?"

"Coba tanya pada hatimu sendiri. Mungkin seseorang yang pergi dari hidupmu, tetapi namanya masih melekat dalam hatimu."

"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, Karena ketika aku melihatmu saat ini, rasa kehilangan itu seakan melenyap."

"Jangan jadikanku sebagai orang lain, aku tetaplah aku. Kejarlah seseorang itu. Aku tak punya hak untuk menahanmu tetap disini."

PUASA SAPOE DEUI, ALHAMDULILLAH.😂
LEBARAN JANGAN LUPA KE RUMAH Yaaa...😂
@Kopians🌿

Aku menghela nafas. Ingin rasanya mencibir. Ingin rasanya menerka.  tapi lidahku kelu. Ia bukan peramal atau cenayang yang bisa membaca pikiran dan masa depan. Tidak benar yang diucapkannya. Tidak benar-benar seperti itu. Mungkin seseorang memang pernah singgah sebentar, untuk kemudian pergi dan tak kembali..

Tidak..!! Hati juga bukan dermaga. hati  ada pintu, yang didalamnya menyimpan seluruh isi dunia. Tentu saja, ketuklah..!!  Sekali, seumur hidup menetap disana untuk seterusnya memeluk.

Selasa, 12 Juni 2018

True love for God (#STdW 46)

"Bukan cinta sejati namanya, jika cintanya manusia kepada manusia"

Perpustakaan sepi, tiap suara yang terdengar  seperti menggema di dinding. terpantul ke setiap deretan buku yang tersusun rapi di rak. Kami mencari buku tentang cinta, namun yang digambarkan tidak begitu dramatis. Adakah...?
Selalu yang terdengar adalah rindu atau kenangan yang berujung tangis. Pujangga senang melebihkan kata-kata , menyulap tiap huruf menjadi kata-kata yang rapuh.

"Kesejatian itu hanya cinta kepada Tuhan Ans.
Dan itu memang harus sampai mati."

Muzammil menambahkan lagi. Aku diam, masih sibuk dengan novel yang kubawa. Mungkin benar, cinta dunia fana hanya kesemuan. Kenapa harus ditebus dengan kematian yang tragis atau luka yang sangat tangis.

"Cintai manusia sewajarnya saja Ans. Jangan berlebihan, nanti tuhan cemburu."

Sekali lagi Muzam tersenyum, dan Aku masih  terdiam. Ini yang Kusuka dari Muzam, ia selalu menyadarkanku akan hal-hal yang seringkali kulupa. Ia punya banyak cara untuk membuatku selalu jatuh cinta.