Rabu, 20 Desember 2017

Grey SunFlower part28

*GSF* part28
*

Aku duduk dirumput pinggir sungai sambil menikmati udara yang berembus. Selain mendengar suara sungai yang mengalir, aku juga bisa mencium aroma air. Harum air sungai yang tidak pernah kucium sebelumnya. Tubuhku sangat rileks.

Aku tak sdar sudah berapa lama aku duduk disana, hingga aku lihat jam tanganku. Sudah dua jam!

Aku segera kembali ke rumah. Kuintip kamar imal. Ia masih tertidur pulas. Aku ingin berbuat baik, jadi aku putuskan untuk pergi ke dapur dan membuatkan segelas susu cokelat hangat untuknya. Setelah memasak air sebentar, aku menyeduh susu cokelat bubuk yang kubawa dari rumah. Aku masuk kembali kedalam kamar imal dan meletakkan susu itu disampingnya. Lalu kubuka jendela kamar. Udara segar dan dingin langsung berebut masuk ke kamar itu.

"Bangun doong imaaaal. Kalau mau tidur terus ya dirumah saja mendingan. " aku menepuk bahunya. Dia bangun sebentar, tapi setelah itu tertidur lagi.
Aku menggoyangkan sedikit tubuhnya. Tapi imal tidak mau bangun, malah menarik selimutnya sampai kepala.

"Kepalaku lagi sakit ais. Aku tidur satu jam lagi ya.   "
"Kamu kenapa? " aku membuka selimutnya dan memeriksa keningnya.
Ya ampun. Tubuhnya demam tinggi.

Aku langsung menutup jendela kamar dan pergi kekamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Lima belas menit kemudian aku kembali lalu duduk disebelahnya.
"Imal, lebih baik sekarang kamu mandi. Aku sudah siapkan air hangatnya. Mandi akan mengurangi sakit kepala kamu. Setelah itu kamu bisa lanjutkan tidur lagi. "

Ia menurut dan langsung beranjak ke kamar mandi. Sedangkan aku pergi kedapur untuk membuat bubur.
Bubur dan aspirin sudah aku siapkan dikamarnya. Tapi kenapa imal tidak keluar juga dari kamar mandi? Padahal sudah hampir setengah jam. Aku keluar dari kamarnya.
Setengah jam kemudian aku menunggu sambil menonton tv. Aku masuk kekamarnya lagi.
Aku terperanjat, kulihat imal sudah terbujur lemas dilantai bawah kasur. Wajahnya pucat. Aku panggil-panggil namanya, tapi tak bereaksi. Untung saja dia sudah sempat berpakaian, setengah mati aku mengangkatnya ke tempat tidur.
Aku baringkan ia ditempat tidur. Wajahnya sangat pucat. Dia meringkuk karena kedinginan. Demamnya masih sangat tinggi. Sedangkan aku sangat panik karena tidak tahu harus melakukan apa.
Aku duduk disebelahnya. Menunggu hingga ia membuka mata.

Setelah dua jam berlalu akhirnya imal tersadar. Dia melihat ke sekeliling dan mencoba untuk bangun. Karena masih lemas imal akhirnya hanya duduk bersandar.
"Kenapa kamu bisa pingsan? "
"Kamu yang gendong aku kesini?"
bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
Aku mengangguk dan imal menatapku seakan tak percaya.
"Kamu bekum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu bisa pingsan? "
"Maaf ya jadi nyusahin kamu. Kepalaku tadi sakit. Tapi ini sudah biasa kok. "
"Biasa gimana? Kita kerumah sakit aja yuk sekarang. Aku takut kamu kenapa kenapa lagi. " aku memegang tangannya dengan lembut.
"Enggak usah ais. Aku baik-baik saja kok. Aku sudah biasa seperti ini " dia tersenyum untuk meyakinkanku.
Aku menangis, entah apa yang aku pikirkan sampai aku bisa menangis.

"Lhooo kamu kenapa nangis?" ia mencoba menghapus airmataku. Akupun tak kuasa lalu memeluknya.
"Kamu kenapa? Kok tambah nangis?" imal bingung melihat sikapku.
"Dulu janwar juga seperti ini. Aku gak mau kehilangan kamu seperti aku kehilangan janwar." suaraku bergetar hebat.
Imal memegang kedua tanganku dan membuatku melepaskan pelukanku.
"Yang kamu takutkan itu kehilangan janwar, buka kehilangan imal. " ia berkata sinis.  baru kali kali ini aku mendengar nada bicaranya sesinis ini.
"Kok kamu bicara seperti itu?" tanyaku sedikit emosi.
"Memang kenyataannya seperti itu kan? "
Balasnya dengan sedikit agak keras.
Sekarang dia berdiri dari tempat tidurnya. Dia memegang kepalanya sebentar. Aku tahu kepalanya pasti masih sakit.
"Enggak mal... Tidak seperti itu.. "
Aku meraih tangannya dan dia menepisnya dengan kasar.
"Yang aku takutkan itu kamu terkena penyakit yang sama seperti janwar dulu. Gak ada hubungannya dengan janwar. "
"Itu kan kata kamu. Tapi tanpa kamu sadari kamu memang seperti itu aisyah. " sekarang nada bicaranya sudah sangat marah.
"Kamu kenapa sih? Kok jadi marah-marah? "
Imal menghela napas. 
"Ais. Kapan sih kamu bisa melupakan janwar?  Ini sudah hampir setahun ais. Apa itu gak cukup untuk menghapus sedikit saja tentang janwar dalam ingatan kamu? Sampai kapan kamu terus menyebut nama janwar, janwar dan janwar dihadapan aku. Aku kan sudah bilang, aku akan mencintai kamu sama seperti janwar mencintai kamu. Tapi kenapa tampaknya bayangan janwar menutupi kehadiranku dimata kamu. "

Aku semakin menangis mendengarnya. Setiap kata katanya seperti membuka sandiwara yang kulakukan selama ini. Berpura-pura sudah bisa menerima kenyataan, tapi sebenarnya tetap janwar yang mengisi hati ini. Bahkan kakak kembarnya pun masih belum sanggup menggantikan posisinya.
"Susah..    " suaraku tercekat.
"SusSusaaah.. Aku sudah coba tapi susah. "
"Aku tahu ais. Aku tahu kamu sangat menyayangi janwar. Aku juga. Bagaimanapun dia adalah adik kembarku. Akupun tidak akan rela kalau harus melupakan dia. Mencobanyapun aku tidak akan sudi. Hanya sampai kapan kamu mau hidup dalam bayang bayangnya? Ini hidup kamu. Hidup janwar sudah berakhir. Hidup kamu masih terbentang didepan sana. Aisyah. "
Imal berdiri didepan pintu sambil melihatku seperti menghakimi.
"Aku sudah coba. Tapi hasilnya nihil. Aku belum bisa mal. Aku tidak bisa. "
"KARENA KAMU TIDAK MENCOBA LEBIH KERAS LAGI BODOH. KAMU GAMPANG MENYERAH!!!!! "

Aku kaget ketika imal bicara sangat keras dan mengatakan 'bodoh' padaku. Dia tidak pernah bicara sekasar ini sebelumnya.
Imal mendekatkan wajahnya yang kini penuh dengan airmata.
"Kenapa kamu tidak percaya kalau aku memang akan mencintai kamu? "
"Ma.. Maksud kamu? " tanyaku takut. Aku mencoba menatap matanya. Tapi mata itu terlali menyeramkan bagiku.
"Kamu tidak pernah mempercayai kata-kataku kan? "
Setetes airmata mengalir dari matanya yang tampan. Aku tak mampu melihat mata itu menangis.
"Jawab aku ais..  Dan cobalah untuk menatap mataku. Aku tidak sanggup melihat kamu seperti ini terus. Apa kamu tidak sadar kamu sudah terlalu dalam menyakiti dirimu sendiri? "
Aku mencoba menegakkan kepalaku, tapi rasanya sangat berat. Rasa bersalah yang ada dalam diriku sangat besar.
Imal Sekarang berlutut dihadaoanku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.
"Kalau kamu tidak mau menatapku, aku yang akan menatapmu. " ujarnya tegas.
"Dan jawab pertanyaanku ais. Apakah kamu pernah sedikit saja  menganggap perkataanku dengan serius? "
Aku menatap matanya sambil menangis. Tetapi aku masih terdiam.

"Aisyah Aliskandaaar. " imal menyebut namaku dengan lembut.
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku. Aku benar-benar akan mencintaimu. Dan aku sudah melakukannya. Aku sudah membuktikannya selama ini. Sekarang aku tidak akan mampu menghapus begitu saja perasaan ini. Aku tidak akan mampu kamu menolak semua isi hatiku. Dan aku tidak akan sanggup berdiri selama kamu masih melihatku sebagai janwar. "

Dia menunduk, menarik napas panjang dan kembali menyeka airmatanya. Lalu dia kembali menatap mataku.
"Sekarang, maukah kamu mempercayai orang yang bernama imal muzammil ini? Maukah kamu berusaha lebih keras lagi untukku?  Untuk sekedar melihatku sebagai seorang imal?  bukan janwar. "

Aku tak mampu lagi. Aku benar-benar tidak mampu melihat matanya yang menyimpan terlalu banyak kesedihan. Aku meraihnya. Memeluk tubuhnya seerat yang kubisa. Bukan karena aku merasa kasihan atau merasa bersalah. Tapi karena untuk yang pertama kalinya aku melihatnya sebagai seorang imal muzammil. Dan aku sadar aku menyayanginya. Aku ingin melihatnya tersenyum. Keinginan ini sudah cukup menjelaskan perasaanku padanya.
"Maaf.. Mal.  Maafkan aku aku. Aku tidak tahu kalau aku menyakitimu sampai sedalam ini. Aku sungguh tidak tahu. Apa kamu bersedia memaafkanku? " aku terisak sehingga perkataanku tidak terdengar begitu jelas.
Ia mengusap punggungku lembut.
"Jangan minta maaf ais. Kumohon, jangan salahkan dirimu. Aku mengerti dimana posisimu sekarang. Aku masih bisa menyediakan puluhan tahun untuk menunggu kamu. Aku akan menyediakan semua waktu yang aku punya untuk kamu. "
Aku semakin menangis mendengar kata-katanya.
"Kalau kamu bisa menyediakan banyak waktumu, aku akan menyediakan banyak cinta disini.  aku sungguh-sungguh. Kamu bisa mengerti perasaanku?  Karena sekarang aku baru mengerti bagaimana persaanku padamu. "
Imal melepaskan pelukannya dan mentapku.
"Maksud kamu? "
Aku hanya tersenyum dan mencium pipinya sebagai jawaban atas pertanyaanya....
****

NEXT

Tidak ada komentar: