Sabtu, 30 Desember 2017

Grey SunFlower part49

*GSF* part49

Aku menunggu selama satu jam. Tapi tak ada tanda kak agung akan bangun. Jadi aku memutuskan untuk pulang kerumah dulu untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Dirumah aku menceritakan secara singkat kejadian hari ini pada oma dan opaku. Mereka berniat untuk menjenguk kak agung sore ini. Saat kembali ke rumah sakit, aku melewati restoran imal. Kata hatiku menyuruhku untuk berbalik dan pergi ke sana. Aku melakukannya. Mungkin disana ada yang tahu keberadaan imal dimana sekarang.
"Aisyah... " sahut om ikbal antusias.
Aku memeluknya dengan hangat.
"Halo om apakabar? "
"Seperti yang kamu lihat. Om masih berdiri disni. Kamu sendiri? "
Aku menarik napas panjang.
"Aku menyakitinya lagi om, iya kan? "
Om ikbal menatapku sedih.
"Rasanya pasti menyakitkan. Tapi dia melakukan ini semua untuk kamu. Untuk kebahagiaan kamu. Bagi imal, kebahagiaan kamu adalah segalanya. "
"Apakah dia baik-baik saja sekarang? "
Om ikbal mencoba menghiburku dengan senyumnya.
"Dia lebih kuat daripada yang kamu bayangkan. "
"Aku harus bagaimana om? "
Ia tersenyum lagi.
"Om sudah katakan hal ini sejak lama padamu ais. Dan oom rasa kamu sudah menyadari siapa yang kamu inginkan menjadi teman hidup kamu. "
"Tapi itu pasti akan menyakiti hati dari salah satu diantara mereka. "
Om ikbal lagi dan lagi tersenyum.
"Tuhan akan berikan yang terbaik ais. Selalu yang terbaik. Dan disetiap kejadian yang kamu alami, ada kehendak tuhan didalamnya. Tuhan punya maksud, tuhan punya rencana baik yang tidak kamu ketahui."
Kata-kata om ikbal sedikit menguatkanku.
"Jadi sekarang kamu kembali menjaga Agung, doakan dia. Om harap dia cepat membaik. Salam dari om untukknya ya. Doei (sampai jumpa) "

Tadinya kupikir kak agung sudah sadar setelah aku sampai. Tapi pikiranku salah. Yang kulihat kamarnya malah tampak ramai dengan dua suster dan dokter fajrul. Aku masuk untuk melihat apa yang terjadi. Aku ingin bertanya, tapi mereka tampak sibuk sekali. Setelah kedua suster keluar dari kamar. Aku bertanya pada dokter Fajrul.
"Kak agung kenapa dok? "
"Keadaannya memburuk. Waktu tadi operasi pun dia sempat drop, jantungnya terus melemah, dia sulit bernapas. Tapi kami sudah memasang alat bantu pernapasan untuknya. "
Dokter fahrul melanjutkan.
"Lebih baik kamu selalu disampingnya. Yang dia butuhkan sekarang adalah orang yang bisa menemaninya dan terus mengajaknya bicara. Saya takut keadaannya tidak sebaik yang kita harapkan. "
Kata-kata dokter fajrul meruntuhkan tembok harapanku.
"Sekarang keadaan dia bukan lagi bergantung pada obat dan peralatan medis, tapi doa-doa yang kamu ucapkan pada tuhan. Dan saya rasa Dr. Agung juga mengharaokan kamu untuk selalu disampingnya. "

Aku duduk disamping kak agung. Ku genggam tangannya lalu kurebahkan kepalaku di lengannya.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bangun, sayang? "
Aku menunggu reaksinya.
Tapi matanya tetap terpejam. Detak jantungnya juga masih lemah. Aku memandangi wajahnya...
"Mmmm bagaimana kalau kita flashback? Pasti seru. Kita mulai darimana ya..? "
Aku berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau dari pas pertama kali kita bertemu dulu? "
Aku tertawa kecil mengingat hal itu.
"Aku masih ingat sekali, pertama kali aku melihat kamu, aku langsung tertarik. Soalnya kamu ganteng sih. "
Aku tersenyum.
"Aku masih ingat betul, alasan kenapa aku bisa jatuh waktu itu. Memalukan sekali. Kamu dulu menyebalkan, super PD, dan selalu ngeselin. "
Aku kembali tertawa kecil.

Aku menyentuh pipinya dengan lembut.
"aku harus kamu bisa mendengar aku kak, aku disini. Menemani kamu, menunggu kamu bangun. "
Aku terus mengusap pipinya tetap saja tidak ada respon.
Aku mengoceh sendiri, hanya itu yang bisa kulakukan untuknya.

NEXT

Tidak ada komentar: