Bogor 22 Mei 2018
Yth. Bapak/Ibu Rektor IPB
Di tempat
Dengan hormat
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Siti Khopipah Aliskandar
Tempat tanggal lahir : Bogor, 24 April 2000
Pendidikan terakhir : SMK Negeri 1 Leuwiliang
Program studi keahlian : Teknologi pengolahan hasil pertanian (TPHP)
Alamat : Kp. Kalong Jayamarni RT. 01/01 Desa Babakan Sadeng, Kec. Leuwisadeng, Kab.Bogor
Jenis kelamin : Perempuan
Nomor Hp : 085817862792 (WA)
085811241544
Email : Sitikhopipah68@gmail.com
Mengajukan pendaftaran 'Lamaran Jalur Ketua OSIS' sesuai dengan persyaratan yang ada saya lampirkan data berikut ini :
1. Sertifikat ketua OSIS resmi dan diketahui oleh Kepala Sekolah
2. Surat Lamaran dari siswa untuk ditujukan Rektor IPB
3. Fotocopy raport SMA IPA semester 1-5 yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah
4. Biodata dan kegiatan selama menjadi Ketua OSIS yang diketahui oleh Kepala Sekolah,
serta menyebutkan PROGRAM STUDI di IPB yang dituju
5. synopsis dengan tema kontribusi untuk pembangunan Indonesia di masa mendatang,
Data pribadi
Nama : Siti Khopipah Aliskandar
Nomor Induk siswa : 151610076
Tempat tanggal lahir : Bogor, 24 April 2000
Pendidikan terakhir : SMK Negeri 1 Leuwiliang
Program studi keahlian : Teknologi pengolahan hasil pertanian (TPHP)
Alamat : Kp. Kalong Jayamarni RT. 01/01 Desa Babakan Sadeng, Kec. Leuwisadeng, Kab.Bogor
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Nomor Hp : 085817862792 (WA)
085811241544
Email : Sitikhopipah68@gmail.com
Selasa, 22 Mei 2018
Biodata
Selasa, 08 Mei 2018
A day to remember SMKN 1 Leuwiliang
Barangkali perpisahan memang seperti lagu...
Tak pernah selesai ditulis pun ditangis..
Lalu hari ini kita berpura-pura membuat perdiangan..
Menghangatkan sepotong sepi agar tak dingin oleh kenangan..
Hari telah berlalu..
Dalam baris kata dan doa..
Terbawa lamunan yang jauh menelusuk jiwa...
Menebar harum dalam setiap makna..
Menciptakan senyum dalam setiap rasa..
Kini aku terjatuh..
Jatuh kedalam lembah duka yang penuh dengan kesedihan...
Rasa sedih yang memilukan, ketika kebersamaan harus putus di tengah jalan..
Kawan....
Bila hari ini kesedihan tak kunjung reda.
Kau boleh singgah diberanda,
Mungkin sekedar bersandar atau kembali untuk bercerita...
Kawan...
Ingatkan aku tentang sebuah kebersamaan,
Rasa peduli yang membuatku nyaman hingga akhirnya aku lupa arah jalan pulang..
Di depan jendela kayu, kita berebut saling rengkuh..
Kita saling berbicara, mendengarkan lalu setelahnya kita merasa utuh..
Kawan...
Aku menulis puisi ini sebelum tidur,
Karena tiba-tiba aku terkenang sesuatu..
Dulu kita pernah melakukan banyak hal..
Entah becanda bersama, berdoa bersama,
Lalu setelahnya mengurung ilmu dalam kelambu..
Apa hari ini kita masih bisa melakukannya..?
Dihari terakhir ini, apa yang bisa kita lakukan dengan bersama lagi..?
Tolong katakan, lalu ayo kita lakukan...
Kawan...
Aku mencintai kalian dalam puisi ini..
Seperti selembar kertas yang tak ingin jauh dari bolpoinnya..
Disudut sekolah ini, segala kebersamaan kita menggema di dinding lapuk..
Ada yang lebih redup dari neon di atas flapon..
Yaitu rindu dalam ingatanku yang tertutup air mata..
Kawan...
A day to remember dan aku akan merindukanmu..
Ingatlah hari ini,, kenanglah moment ini..
Terssenyum dan berbanggalah..
Maka akan kukenang selalu..
Bahwa kita pernah melewati perpisahan tanpa kesedihan yang ambigu..
-' @Kopians
Sabtu, 05 Mei 2018
The Secret
Angin malam menembus jantung dan paruku, aku masih saja disini, dengan rasa penasaran yang semakin lama semakin memuncak.
Aku masih mencerna atas pertanyaan yang kau tanyakan pada temanku, seakan semuanya mengapung di udara.
'kenapa dia bisa mencintai saya , apa yang dia lihat dari diri saya.' katamu...
Kau tahu...? Saat mendengar itu, Aku hanya tertawa kecil. Pertanyaan bodoh memang dan rasanya ingin aku menjawab semua pertanyaan basa-basi yang kau lontarkan itu.
Sepertinya memang kita harus bicara empat mata, untuk sekedar membicarakan kesalahpahaman yang konyol ini. Meskipun bagimu ini tidak penting, bahwa kau harus tahu, aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya pernah mencintai sosok pria yang serupa denganmu, dan kini pria itu telah pergi, hilang dan takkan kembali.
Selasa, 01 Mei 2018
The Secret of Your Life
Seketika semuanya gelap, Aku kecewa, aku tak sanggup menerima semua kenyataan ini. Ingin rasanya ku menampar dan berteriak padanya, lalu ku katakan..
"Heey, aku sudah tahu siapa kamu, aku tahu statusmu, aku juga tahu mantan istrimu, aku tahu keluargamu, aku tahu masalalumu, aku tahu kehidupanmu, dan aku sudah tahu semua kebohonganmu. Kamu sudah membohongi semua orang, dan aku kecewa, tapi aku tidak benci. Aku hanya sedih, kenapa takdir ini begitu pahit. Selama ini aku menganggapmu sebagai sosok yang sangat kudamba, tapi nyatanya, itu yang sekarang membuatku hancur. Aku ingin kita bicara, berdua, tanpa orang lain tahu, karena bagiku ini sangat berat jika kusimpan sendiri."
Air mataku mengalir, ini seperti drama pada film-film kelas besar dan tak kusangka tiba-tiba saja hal itu menimpa pada kehidupanku. Aku kecewa, sangat kecewa, kenapa dari sekian banyak harap yang kususun, kini menjadi hilang dan membekas...
Mei, aku rindu seseorang..!!
Suatu ketika, kau bercerita tentang sungai, perahu, dan seseorang yang rindu. Selalu setelahnya adalah kesepian yang kelam—yang dihantar riak dengan sedikit gelombang. Kehidupan seperti parafin tersulut sumbu, setelah dinyalakan, ia terbakar, kemudian meleleh dan padam. Kita menamainya kehilangan. Kata yang paling sering ditulis dalam romansa usang. Bahkan ketika ia tak tahu kenapa ia sendirian, Pada satu musim di sebuah desa yang membuatnya mengenang banyak sekali cerita lama.
Kau tahu? Kenapa aku begitu menyukai biru? Karena ia begitu berani. Bukan merah yang diceritakan tentang darah, atau hitam yang adalah ketakutan pada ruang tanpa cahaya
Seperti langit yang tabah, yang tak pernah murung perihal cerah atau mendung. Tempat burung-burung belajar terbang, sebelum kembali melepas lelah pada sarang. Dari tanah lapang, kita melihat seseorang menerbangkan layang-layang, seolah bertaruh takdir pada angin dan sehelai benang. Di sanalah biru, yang begitu luas dan tinggi. Tentang harapan, cita-cita, dan juga mimpi.
Seperti laut yang dalam, tak pernah ia mengeluh perihal ombak yang marah, kapal-kapal berlayar di tubuhnya tanpa arah setelah ditinggalkan nahkoda yang bimbang langkah. Di sanalah biru, kita melihatnya begitu tangguh. Tentang ucapan selamat jalan yang selalu didengarnya dari sebuah pelabuhan. Terkadang, dua orang berpisah bahkan tanpa pelukan.
Mei di sini. dingin terminal, dan derit bus tua yang mengantarku dalam sebuah perjalanan. Aku menulis surat ini di kursi nomor lima, di dekat seorang pria paruh baya yang mengenakan kaca mata. Ia mirip denganmu. Sesekali tersenyum, tak ada percakapan—sejak kita tahu yang bersama pun terkadang hanya kekosongan belaka. Tanpa basa basi atau kelakar kecil dari pertanyaan ‘akan ke mana’. Meski bukan kesepian daun-daun basah, sebab di luar sana hujan mungkin sedang menggumam.
Apa kabarmu? Masih kah berada di antara gelondongan kayu? Kulihat kau di sana—dulu. Berdiri, berjalan, berlari mengejar sesuatu. Cinta, kah? Atau meminjam sinar dari sebuah pagi yang malam pernah membuat buta. Barangkali saja, kau menyebut nama seseorang yang dari tangannya harapan itu merembaka. Lalu rindu diam-diam mengusik dan tak pernah lelap dalam buku-buku yang kau tulisi sajak.
Mei di sini. Barisan pohon-pohon getah, secangkir teh dan perempuan yang gugup ketika menulis sepucuk surat. Semoga kau tak membacanya sebagai huruf-huruf pucat
(suatu hari kita bercerita tentang bintang dan perempuan yang menunggu malam
@Kopians -, AM