*GSF* part22
*
12 jam berada dalam pesawat membuatku jenuh. Tak banyak yang bisa kulakukan selama perjalanan. Setelah bosan melihat film dan mendengarkan musik, kuputuskan untuk tidur. Andai kak agung ada disini, dia pasti akan melakukan hal konyol untuk membuatku tertawa.
Semua rasa jenuhku terhapus dalam sejenak ketika akhirnya kuinjakan kaki untuk yang pertama kalinya di Amsterdam.
Aku mengambil tasku dan menaruhnya diatas troli. Bandara schiphol besar sekali. Benar-benar bangunan dengan rancangan arsitek luarbiasa. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa membuat bandara seperti ini.
Aku perhatikan orang yang lalu-lalang disekelikingku. Aku tak ingin tersesat, jadi aku mengikuti para penumpang dipesawat tadi. Tapi mereka semua berjalan dengan sigap dan cepat. Orang orang kulit putih ini membuatku setengah berlari untuk mengimbangi langkah mereka.
Kulihat opa dan omaku menunggu dengan wajah cemas dipintu keluar. Omaku ini adalah adik dari kakek kandungku. Oma ini yang menikah dengan pria belanda, jadi wajar saja tidak ada garis-garis keturunan belanda diwajahku. Aku dekat dengan mereka karena kakek-nenekku sudah lam meninggal. Begitu melihatku, mereka langsung tersenyum dan menghampiri.
"Ais....!" sapanya. Mereka mencium pipi kanan dan kiriku secara bergantian.
"Kami sudah sangat rindu sekali. Apa kabar kamu, sayang?"
"Baik, oma. Aku juga sangat rindu sekali." aku tertawa kecil.
"Ayooo.. Lebih baik kita cepat pulang agar kamu bisa beristirahat." ajak Opa dengan logat belanda yang masih kental. Dengan antusias dia mengambik alih troliku dan menggiring kami ke mobil.
"Oppa senang sekali. Akhirnya kamu memilih untuk melanjutkan studi disini. Kamu tahu? Opa sudah membayangkan bagaimana ramainya rumah kalo kamu ada disini."
Sambil menyetir opa terus berbicara dan bercerita banyak hal padaku. Dia begitu bersemangat, begitu juga oma.
Diperjalanan aku sadar, aku tidak salah tujuan. Tempat ini terlalu indah untukku. Dengan cuaca yang tampaknya selalu mendung. Aku suka mendung, karena dihari itu aku bisa melihat abu-abu di langit. Udara terasa segar, dingin, tapi menyenangkan. Benar-benar tempat impianku.
Dan aku tersadar, untuk sedetik yang lalu aku telah melupakan janwar.
Keindahan tempat ini telah merenggut perhatianku dan menghilangkan kesedihan yang menggerogoti jiwaku. Aku tersenyum..
*****
Aku tiba dirumah mungil yang terletak disebuah kompleks perumahan yang asri dan teratur. Meskipun mungil, rumah ini begitu cantik. Semua tetangga opa dan oma menyambutku. Dalam waktu semenit aku merasa sudah mendapatkan keluarga baru.
Sampai didalam aku meminta izin untuk langsung masuk ke dalam kamar. Walaupun opa dan omaku tampak kecewa karena mereka belum puas melepas rindu denganku, mereka mengerti. Perjalanan panjang membuatku sangat lelah dan mengantuk.
Kamarku berada dilantai dua dengan jendela besar menghadap ke jalan. Aku sungguh sangat suka dengan kamar baruku. Sederhana namun indah dan nyaman.
Sebelum tidur kuputuskan untuk menelpon ibu.
"Bu, aku sudah sampai.. Disini tempatnya bagus banget bu. Aku betah" ucapku antusias.
"Ibu senang sekali mendengar nada bicaramu sayang. Ini seperti suara anak ibu yang sesungguhnya. Ibu harap ais yang sekarang tidak terpuruk lagi ya. Dan ibu rasa kamu sudah datang ke tempat yang tepat."
"Iya bu.. Doakan aku ya bu. Yaudah bu, aku cape mau tidur. Sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi. Assalamualaikum.. "
Aku menutup teleponku. Rasanya senang mendengar suara ibu bahagia seperti itu. Membuatku bersemangat untuk menjadi aisyah yang dulu. Aisyah yang kuat.
Akupun teringat pada kak Agung. Dengan cepat aku menekan nomor ponselnya dihandphoneku.
Baru sehari saja aku sudah merindukan dia. Aku ingin dia cepat-cepat mengangkat telponku. Tapi aku harus menunggu beberapa saat sampai pada akhirnya aku mendengar suaranya.
"Halo... " Suaranya terdengar lemas sekali.
"Hei kak... "
"Kamu sudah sampai? Bagaimana disana?"
"Iya aku sudah sampai. Disini indah sekali. Kamu harus kesini kak.. Ohya, kakak sakit?"
Kak agung tertawa kecil.
"Aku gak sakit ais. Hanya saja kakak harus berjuang lebih keras untuk menerima kenyataan kalo kamu sudah tak lagi disini."
"Kak.... Please.... Kita sama-sama sedang menghadapi kenyataan sekarang. Beri aku kekuatan kak.. Jangan membuat aku resah. Disini aku juga kesepian. Aku juga kangen sama kamu kak. Setidaknya beri aku waktu sampai aku benar bisa siap menerima semua takdir ini."
Kak agung menghembuskan napas.
"Aku sudah memberikan banyak waktu untuk kamu ais. Maaf kalau aku tidak punya kesabaran seperti dulu lagi... "
"Kak.. Kumohon!!!"
Telepon terputus. Kak agung menutup telponnya begitu saja. Baru kali ini dia bersikap seperti itu. Kenapa dia berubah? Kemarin saat mengantarku, dia bisa tertawa dan becanda? Kenapa sekarang dia kembali menjadi sepeti Agung yang ada diatas gedung tempo hari?
Aku menelpon kak agung lagi, tapi ponselnya tidak aktif. Baru kali ini dia tampak begitu lelah mencintaiku. Taoi kupikir ada baiknya juga, semoga dengan begini dia bisa belajar mencintai oranglain.
Akhirnya aku tertidur setelah beberapa jam. Berusaha mengusir kak agung dari pikiranku. Karena tanpa kusadari, aku merasa kehilangan dan kesepian tanpa dirinya. Padahal baru sehari berjalan. Dan mendengar suaranya tadi membuatku berpikir, apakah keputusanku untuk pergi adalah keputusan yang benar??
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar