Untuk anakku yang meninggalkan bumi lebih dulu...
Maaf jika mama memelihara duka yang begitu panjang. Kepergian adek bukan sekedar kehilangan, ia seperti pintu yang tertutup pelan tanpa pernah meninggalkan kunci. Orang-orang menyuruh mama ikhlas. Seolah rindu bisa dipendekkan seperti doa yang tergesa-gesa. Padahal setiap hari hanya membuat nama adek semakin berakar di dada mama.
Setelah kehilangan yang besar itu, mama berdiri di tengah hari yang asing. Segalanya tetap berjalan seperti biasa, hanya dada mama saja yang tiba-tiba kehilangan arah pulang. Orang-orang berkata semuanya hanya soal waktu. Seolah-olah luka tahu kapan akan selesai. Padahal yang sebenarnya terjadi, hanyalah mama belajar bernafas lagi di dada yang tak lagi utuh.
Katakan pada mama, setelah adek pergi bagaimana seharusnya mama hidup ?? Jika sebagian hati mama ikut terkubur bersama adek dan tidak pernah ikut kembali.
Jadi maaf nak, jika duka mama tidak pernah selesai. Barangkali beginilah bentuk cinta mama yang tersisa untuk adek. Tetap hidup di dunia sambil membawa rasa kehilangan seumur hidup mama
