Minggu, 31 Mei 2020

Kita hanya berjalan ditempat, tidak kemana-mana ~


senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu. 


Sayang, beberapa hari ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai seseorang yang tak kamu pedulikan aku hanya
mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin  diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat merindukanmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hangat itu. Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu
dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa  membuatku bahagia, dengan bertemu dan dan melihat senyummu -- itu jauh dari kata cukup.
Tidak sulit untuk membuat aku bahagia,

Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam.
Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang
pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga  otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat  untukku, itupun aku percaya saat aku  memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang  kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan;

kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana.

Jumat, 22 Mei 2020

Aku masih peduli dan ingin kauselalu baik-baik saja ~

Aku tidak akan menanyakan siapa yang
memilihkanmu kemeja dan potongan dasi itu. hingga kau terlihat lucu. Tidak menanyakan kenapa sepatumu masih berdebu atau kenapa jas yang kau kenakan terlihat kusam. Aku tahu,
akhir-akhir ini kau terlihat payah, meja kerjamu selalu berantakan, kau sering lupa makan siang dan sarapan. Aku tidak akan menanyakan kau kenapa, aku hanya risau dengan kesahatanmu. Iya, kamu benar. Aku masih peduli dan ingin kau
selalu baik-baik saja.

Minggu, 10 Mei 2020

aku yang salah atau kau yang berubah ?

Aku tak lagi bisa membedakan antara kau memang benar sibuk atau sudah tak peduli. Aku tak meminta banyak hal, cukup jujur. Aku mulai merasakan kehambaran diantara kita sayang, tak ada lagi kehangatan yang membuatku seakan terlindungi, aku merasa ada perubahan diantara kita, entah kau atau aku. Aku tak lagi merasakan betapa antusiasnya kau ketika kita akan bertemu. Apa aku yang salah? Atau kau yang berubah ? Atau ini hanya perasaanku. Perasaan bosan yang seringkali kurasakan😑

Sabtu, 09 Mei 2020

lembah dan airmata




Di lembah ini, tempat dimana seorang perempuan kerap datang mengunjungi, menikmati ketenangan, menyalakan api lalu menyulut rindu hingga terbakar dan jadi lelatu. Aku tidak tahu seberapa dalam kenangan sanggup memainkan perasaan, karena terkadang seseorang benar-benar tak mampu untuk tidak menangis ketika sendirian. Air mata, mungkin, adalah sesuatu yang tak pernah memberimu kesempatan untuk menyekanya, atau menebak ia akan luruh di pipi sebelah mana sebagai yang pertama. Sungguh, ia tak pernah dijatuhkan di depanmu, kecuali di Curug ini, dimana tempat sebagai saksi yang paling bisu .
.
.
 March 10 | 2020
00.06

Jumat, 08 Mei 2020

hujan dan air mata

'Hujan dan air mata adalah kekasih yang saling asuh' katamu. Ketika mereka jatuh, entah bersamaan atau tidak, selalu ada cerita di dalamnya. Manis kenangan yang ditulis simpul, atau judul cerita dalam buku-buku sampul. Kau kembali bercerita lagi. Aku bertanya  'Apa penyair selalu bersikap begitu?'
Kau cukup diam dan bungkam..