*GSF* part40
"Sayang kamu kerja hari ini?" tanya imal.
"Iya sayang. Ini sudah mau berangkat. Kenapa? "
"Oh enggak. Aku cuma kangen aja sama kamu mau aku antar ke kantor? "
"Tidak usah sayang. Aku bisa sendiri. Kamu juga harus ke kantor kan? Sekarang kamu berangkat ya... "
"Mmm baiklah.. I love you. "
"Love you too.. " lalu aku menutup teleponnya.
Belum apa-apa aku sudah memulai pagiku dengan kebohongan. Sebenarnya aku tidak pergi ke kantor hari ini. Aku bahkan sekarang sudah berada dirumah sakit, didepan pintu ruangan praktik kak agung. Walaupun sudah beberapa kali aku menyadari kesalahanku, tapi hati ini sangat ingin bertemu dengannya.
"Kaaaaak.... " aku memanggil namanya, saat ku membuka pintu ternyata dia tidak ada diruangannya. Aku menanyakan keberadaannya pada suster yang kebetulan lewat.
"Dokter Agung hari ini tidak masuk mba, dia sakit. " jawab suster itu singkat.
"Begitu ya.. Baiklah terimakasih sus.. "
Aku memutuskan untuk menemui kak agung yang sekarang pasti sedang ada dirumahnya. Sesampainya disana aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Rumahnya tidak dikunci, aneh sekali!
"Kaaaaak... " tidak ada yang menyahut. Akupun masuk ke kamarnya.
Disana ia berbaring dengan tubuh yang hampir seluruhnya ditutupi dengan selimut.
"Kak.. Kamu kenapa? " aku menguncangkan tubuhnya. Aku panik.
"Kita harus kerumah sakit. "
Dia membuka matanya sedikit.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja aku hanya butuh istirahat. "
"Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, kak? "
"Apa kamu bisa tetap disini? sebentar saja untuk menemaniku. " tanyanya lemah.
Aku mengangguk lalu pergi ke dapur dan menyiapkan air hangat untuk mengompresnya. Buru-buru ku kompres dahinya tapi tiba-tiba dia menyingkirkan handuk basah itu.
"Aku paling tidak suka dikompres. Itu membuat kepalaku semakin sakit. "
"Lalu apa yang bisa kulakukan? Kamu sudah minum obat? Sudah makan? "
Kak agung menarik tanganku dan menyimpan tangan itu didadanya. Dia lalu memelukku. Aku merasakan panas ditubuhnya.
"Aku sudah bilang, kamu hanya perlu disini sebentar. Aku hanya ingin kamu disini ais. Aku sangat merindukanmu. " jelasnya lirih.
Akupun membalas pelukannya. Aku ingin selamanya memeluknya. Tapi aku kembali terbayang bagaimana imal tersenyum padaku. Dan aku tahu lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang besar.
"Kaaaaak.. " aku melepas pelukannya.
"Iyaa. "
"Saat aku tidak ada. Apa saja yang kamu lakukan?"
"Tidak banyak.. Sedetik setelah pesawatmu berangkat. Aku tidak menjalankan aktivitasku dengan baik. Yang bisa kuulakukan hanya duduk, memandang foto kita, menutup mata, melamunkan dirimu, tidur memimpikan kamu, kamu tahu? Aku seperti mayat hidup aisyah... " ia menyentuh pipiku.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu padaku? "
Ia terdiam sejenak.
"Masih sama dan tidak akan pernah berubah... Jangan pergi dulu aisyah, tunggu sampai aku tertidur, dari semalam aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata dan itu karena aku terlalu merindukan kamu. "
Tiba-tiba ada yang jatuh dari pelupuk mataku. Dadaku sesak, aku memang jahat. Aku terlalu jahat untuk dimaafkan.
"Aiiiss... Kenapa kamu menangis? " tangannya menggenggam tanganku.
Aku menunduk.
"Maaf.. Maafkan aku kak.. "
"Jangan minta maaf... "
"Kenapa?"
"Karena maaf tidak bisa membuatmu tetap tinggal disini. Kamu akhirnya akan pergi juga, kan?. " ia mengusap airmataku.
"Kamu semakin cantik. "
Ponselku tibatiba berbunyi. Aku langsung mengangkatnya, saat tahu yang menelpon itu imal. Aku berusaha bicara setenang mungkin.
"Halo sayang. Kenapa? " kulirik kak agung, wajahnya langsung berpaling dariku.
"Kamu dimana? " tanya imal.
"Aku dirumah kak agung. Dia sakit, badannya panas tinggi. "
"Oohh.. Yasudah. Hati-hati ya pulangnya. "
Ia langsung menutup telwponnya.
Apakah dia marah? Atau mungkin dia menyadari ada sesuatu yang aneh diantara aku dan kak agung? Aku menarik napas panjang.
Kak agung kembali menatapku.
"Kamu tidak takut dia berpikir macam-macam? "
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, mulai hari ini kita jangan bertemu lagi, selamanya. " katanya singkat namun terdengar berat.
Aku duduk dan menatapnya tak percaya. Mana mungkin aku rela melepasknannya lagi.
"Maksud kamu? "
"Aku tahu kamu sudah mengerti maksudku."
"Tidak. Aku tidak bisa.
Kak, apa kamu tidak tahu betapa kosongnya saat kamu tidak ada disampingku? Apa kamu tidak mengerti bahwa aku sangat merindukan kamu selama ini? Kumohon kak.. "
Airmataku mengalir lebih seras dari sebelumnya.
Kak agung ikut duduk dan menatap mataku dengan sedih. Kutembus matanya, ada luka hebat disana, aku bisa merasakannya.
"Ini demi imal ais. Aku tidak ingin menyakiti siapapun seperti yang kamu lakukan padaku.
Saat kita tidak bertemu tiga tahun saja aku tidak bisa menghapus perasaanku padamu. Apalagi kalau aku harus bertemu denganmu setiap hari? Aku tidak akan sanggup. "
Kak agung membalikan tubuhnya dan duduk membelakangiku
"Dan tolong jangan bicara seolah-olah kamu mencintaiku sedangkan kamu masih bersama imal. "
"Kenapa kamu bicara seperti itu? " timbul perasaan marah dalam benakku.
"Jadi kamu menyuruhku meninggalkan imal. Begitu? Aku tidak sangka kamu sejahat ini kak. "
"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang ini? Kamu memang tidak punya hati. Dengan seperti ini kamu menyakitiku lebih dalam aisyah... Sekarang kamu pergi... Pergi dari hadapanku. Tinggalkan aku sekarang, aku ingin sendiri. "
Aku terisak. Aku langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari rumahnya.
Dalam perjalanan pulang aku terus menangis. Ini semua memang salahku. Aku yang membuat semuanya menjadi berantakan seperti ini. Andai saja sejak dulu aku menyadari perasaanku pada kak agung. Andai saja aku tidak bertemu dengan imal dan tidak jatuh cinta padanya. Sekarang aku harus bagaimana? Ini semua terlalu menyakitkan untukku.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar