Menikahlah disaat kau sudah memiliki bekal sabar yang cukup. Memilihnya ada hal yang mudah. Namun merawat hubungan seumur hidup adalah hal yang belum tentu bisa dilakukan semua orang meskipun itu keluar dari mulut seseorang yang sedang dimabuk asmara.
Disetiap ada permasalahan, berhentilah untuk menjadi pribadi yang perasaannya selalu ingin dituruti dan dimengerti, berhentilah seakan kamu yang paling benar.
Jatuh cinta itu berdua, maka :
Tidak boleh ada yang kalah,
Tidak boleh ada yang menang.
Selaraskanlah antara ingin didengarkan dan mendengarkan. Agar salah satunya tidak ada yang merasa sendirian. Ia memilihmu bukan hanya sekedar kau ada dipikirannya. Lebih dari itu, kau adalah sesuatu yang berharga pada hatinya, lebih dari apapun.
Rumah tangga akan selalu dipenuhi konsekuensi, harus ada rasa adil di dalamnya. Adil dalam pikiran, adil dalam sikap dan perbuatan. Sebab, menikah paling baik adalah disaat dirimu dan dirinya merasa harus berkata maaf meskipun terkadang tidak jelas kesalahan itu dimulai dari mana. Karena bisa jadi 'salah' itu muncul karena masing-masing dari kalian terlalu sibuk mencari pembenaran.
Menyatulah, karena kau sadar sebagianmu adalah sebagian yang juga padanya. Dan terimalah, karena kau sadar bahwa hadirnya adalah hal yang turut menyempurnakan hidupmu.