Jumat, 11 Oktober 2024

Menikah itu soal berdua

Menikahlah disaat kau sudah memiliki bekal sabar yang cukup. Memilihnya ada hal yang mudah. Namun merawat hubungan seumur hidup adalah hal yang belum tentu bisa dilakukan semua orang meskipun itu keluar dari mulut seseorang yang sedang dimabuk asmara. 

Disetiap ada permasalahan, berhentilah untuk menjadi pribadi yang perasaannya selalu ingin dituruti dan dimengerti, berhentilah seakan kamu yang paling benar. 

Jatuh cinta itu berdua, maka :

Tidak boleh ada yang kalah, 

Tidak boleh ada yang menang.

Selaraskanlah antara ingin didengarkan dan mendengarkan. Agar salah satunya tidak ada yang merasa sendirian.  Ia memilihmu bukan hanya sekedar kau ada dipikirannya. Lebih dari itu, kau adalah sesuatu yang berharga pada hatinya, lebih dari apapun. 

Rumah tangga akan selalu dipenuhi konsekuensi, harus ada rasa adil di dalamnya. Adil dalam pikiran, adil dalam sikap dan perbuatan. Sebab, menikah paling baik adalah disaat dirimu dan dirinya merasa harus berkata maaf meskipun terkadang tidak jelas kesalahan itu dimulai dari mana. Karena bisa jadi 'salah' itu muncul karena masing-masing dari kalian terlalu sibuk mencari pembenaran. 

Menyatulah, karena kau sadar sebagianmu adalah sebagian yang juga padanya. Dan terimalah, karena kau sadar bahwa hadirnya adalah hal yang turut menyempurnakan hidupmu.

Minggu, 06 Oktober 2024

Teruntuk Suamiku...

Jika aku adalah luka, tolong beritahu dimana yang pernah kubuat lebamnya?  Jika aku adalah sesak, bagian keping mana yang sudah kubuat retak?

Kemarilah, biar kuarahkan rasa kecewamu pada hati yang selalu kujaga, biar kuarahkan resahmu pada doa yang selalu kupanjatkan pada yang maha kuasa. Mari bercerita tentang bagaimana saling menghormati, mengalah dan memahami. Mari kita bercerita, bukan membandingkan tentang siapa yang paling lelah berjuang sendiri tapi tentang lelahnya hari yang terlewati. Mari kita bicarakan tentang perasaan kita masing masing. Tentang mau mu apa? Mau ku apa? Dan bagaimana seharusnya? Mari kita buat komunikasi yang terarah dan terbuka. Ceritakan keluhmu dan begitupun denganku. Mari lebih saling mengerti dan memahami agar cerita ini berakhir dengan bersama selamanya.


Suamiku, maaf jika selama pernikahan ini aku belum cukup mampu membuatmu bahagia. Maaf terkadang kekurangangku membuatmu kesal, marah dan kecewa. Maaf karena seringkali membantah ucapanmu dengan tutur bahasaku yang egois, keras kepala dan nada tinggi seolah-olah aku yang selalu benar. Maaf atas sikap diamku yang seringkali membuatmu merasa tidak dihargai. Aku memang tidak selalu mampu mengerti apa yang kamu inginkan. Terlepas dari semua kesalahan dan kekuranganku "jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku". Tetaplah jadi suami yang setia, kesabarannya luas, dan yang kasih sayangnya tidak akan pernah hilang maka aku akan senantiasa mendampingimu selamanya ❤️