Di teras rumah ini, di atas kursi yang kayunya mulai kusam, kami mendengarkan rintik hujan.
Kami mendengarkan seolah hujan di atas sana, jatuh di hadapan kami. Tempiasnya begitu dingin.
👨 'Rapatkan baju hangatmu'
katanya sembari merapikan jaket yang ia kenakan. Kemudian dipeluk tubuhnya sendiri.
👨'ini hujan yang paling manis'. katanya lagi. Tatapannya menyapu wajahku. Seperti ingin dilumatnya kebisuan dari jarak yang tinggi seperti langit.
👩 'Kenapa?' Kutanya. Ia diam.
👩 Kenapa? Kuulang.
👨 Hujan yang seterusnya dikenang. Hujan yang dipuji dalam puisi. Hujan yang tulus karena rindu menumpuk dibulan agustus.' Ia menjawab.
.
Lalu kuingat seorang penyair yang jemarinya adalah tinta. Ditulisnya tentang hujan, di dada kekasih yang ia sayang. Mengukir cinta dengan belati di hatinya sendiri. Hingga hujan reda, dan tak ada isyarat yang dikirim angin setelah tanah basah.
👨 'Pernah kukecup hangat tubuh seorang wanita, tapi ia tak membawaku pada hujan yang seperti sekarang.' Katanya meneruskan.
👩 Hujan yang seperti apa? Kutanya.
👩 Hujan yang seperti apa? Kuulang.
Ia mendekat.
👨'Hujan yang gugup tiap kali bersamamu. Hujan yang redup tiap kali menatapmu. Hujan yang membangun jembatan atas rindu pada pertemuan kembali. Di sini, di tempat yang sama satu tahun lalu.'
Ucapnya dengan bibir gemetar.
.
Kenangan menjalar liar, tumbuh rindang di kepala kami sebagai belukar.
Hujan di luar masih bertahan sebagai dingin dan ingin.
Sebagai isyarat yang dikirim iklim menggantikan musim.
Kami saling tatap dan saling dekap.
Ini hujan yang tak biasa. Ini hujan yang membakar tubuh kami seperti kayu dilahap api.
👨 Ini hujan yang melankoni.
Katanya sekali lagi.
-