Rabu, 20 Desember 2017

Grey SunFlower part27

*GSF* part27
*

Libur musim panas tiba. Tadinya aku mau pulang ke jakarta untuk bertemu ibu. Tapi menurut ibu, lebih baik uangnya aku tabung, akupun menurut saja. Walaupun sebenarnya aku sangat rindu padanya. Dan bukan hanya ibu, aku juga rindu kak agung. Dia benar-benar menghilang.

Jadi aku akan menghabiskan hari libur dengan duduk dirumah sambil menerka sedang apa kak agung sekarang. Hampir satu tahun berpisah dan tidak tertawa bersamanya semakin membuatku sadar bahwa aku sangat merindukannya. Aku teringat saat dulu terpuruk dalam kesedihan. Dialah yang selalu ada disampingku. Dia yang berusaha keras membuatku tersenyum. Yatuhaaan..... Aku tak dapat menjelaskan lagi bagaimana aku sangat merindukannya sekarang. Setiap hari yang kulewati tanpanya terasa seperti ruangan besar yang kosong, hampa.

Pada hari kedua liburan, imal datang ke rumah.
"Baru juga dua hari kita libur. Kamu sudah rindu aku. " godaku sambil tertawa.
"Maaf sekali ya... Saya bukan mau bertemu kamu. Tapi saya ingin bertemu dengan opa. " balasnya kalem.
Aku langsung mengernyit mendengar jawabannya yang tengil. Dengan percaya diri imal masuk untuk menemui opa dan oma yang selalu antusias ketika imal berkunjung.

"Ada apa mal? Tumben mencari kami?"
Opa meminum secangkir teh yang oma buatkan siang tadi.
"Mmmmm... Begini opa. Besok apa boleh aku ajak aisyah pergi liburan selama seminggu? " wajah imal tampak tegang.
Berbeda dengan opa dan oma yang berubah cerah.

"Kami sih boleh-boleh saja. Itu rencana yang bagus. Tapi ais nya mau atau tidak? " opa melirik ke arahku.
Imal langsung tertawa.
"Pasti mau opa. Iya kan ais? " imal terkekeh senang.
Dasar nih anak, yakin sekali kalau aku pasti ikut dengannya.
Aku mengantar imal kedepan rumah ketika ia sudah selesai bicara dengan opa dan oma.
"Heh... Kepedean banget sih. Memangnya kamu yakin aku pasti ikut?"
Ia menyeringai.
"Memangnya kamu gak mau ikut? Kapanlagi coba jalan-jalan gratis?  Sama cowok ganteng pula. Kapan lagi? Kesempatan langka tuh. Sudahlah ikut saja. Itung-itung terimakasih karena aku sudah antar jemput kamu tiap hari. "
Kata-kata imal membuatku teringat kak agung. Sama percis.

"Memangnya kita mau pergi kemana sampai seminggu?"
"Ada deh... Spesial!  Kamu pasti suka. Jadi lebih baik sekarang kamu masuk, mengepak barang bawaan, lalu istirahat. Nanti aku jemput Oke! "
Dia langsung pergi tanpa pamit. Selalu seperti itu.

****

Esok paginya, tepat jam sembilan, imal sudah menjemputku dirumah. Kami langsung pamit pada opa dan oma lalu masuk kedalam mobil.

"Kita mau kemana?" aku mengulang pertanyaanku yang kemarin belum dia jawab.
"Ketempat yang indah. Yang bisa menyegarkan pikiran kamu. Gak bosen apa belajar terus? Sudahlah jangan banyak tanya. Nikmati saja perjalanannya. "
"Mmmm tapi mal, aku ingin bertanya satu hal lagi dong. "
"Tanya apa? "
"Kamu dapat uang darimana?  Kan papa kamu sudah meninggal. Terus siapa yang membiayai hidup kamu? Kuliah kamu? Untuk makan, membeli bensin dan semua kebutuhan kamu? Terus uang liburan ini dari siapa? Aku tidak pernah tahu pekerjaan kamu selain sebagai mahasiswa. ""

Imal tertawa mendengar pertanyaanku.
"Aku kira kamu mau nanya apa ais sampai serius seperti itu. Kenapa? Bingung, ya? Mau tau aku dapat uang darimana? "
Aku mengangguk menunggu dia menjawab.
"Dari menjual narkoba" jawabnya sungguh-sungguh.
Dan tiba-tiba dia tertawa.
"Tampaknya hanya perempuan bodoh seperti kamu yang percaya begitu saja dengan semua perkataanku. "
Aku mencubit pinggagnya. Imal teriak kesakitan.
"Syukuriiin biar rahu rasa. "
"Ih gitu aja marah. Namanya juga becanda. Lagian mana ada penjual narkoba ganteng kaya aku. Gak mungkin hahaa" ia tergelak.
"Nanti deh aku kasih tahu darimana aku menghidupi diriku sendiri. "
"Kapan? " tuntutku.
"Nanti.. Sabar ya sayang..  " ceplosnya.
"Apa? " kagetku.
"Kenapaaaaa? "
"Enggak. " jawabku singkat.

Perjalanan kami masih panjang. Pemandangan di kiri kanan mulai berubah. Dari yang hanya deretan rumah kini sekarang menjadi padang rumput hijau yang penuh domba domba kecil, rumah dari kayu dan ladang bunga.

Setelah dua jam perjalanan, sampailah kami disebuah rumah kecil yang terletak dipinggir sebuah sungai jernih. Didekat rumah itu terdapat beberapa kincir aingin besar. Rumah itu tampak agak tua tapi usianya justru memancarkan keindahan tersendiri. Kayu hitamnya membuat rumah itu tampak lebih kokoh daripada usia sebenarnya.

Muka rumah iti langsung menghadap ke sungai. Jendelanya dibingkai kayu bercat putih. Rumah itu juga dikelilingi taman kecil yang ditanami bunga cantik.

"Ini rumah siapa? "Tanyaku sambil sibuk membantu imal menurunkan barang-barang.
"Ini rumahku juga. Terkadang sering disewa sama orang yang ingin liburan disini. " imal berkata sambil membuka pintu rumah dengan kuncinya.
"Oh begitu.... "
Saat melangkah masuk aku langsung sibuk melihat keadaan didalam rumah. Benar dugaanku, rumah ini tidak hanya eksteriornya yang cantik. Tapi interiornya juga. Lantainya terbuat dari papan kayu solid yang berkesan hangat. Perapian kuno terletak didepan ruang keluarga yang dihiasi sofa cantik. Tirainya terbuat dari sehelai kain bewarna putih dengan motif bunga matahari. Kamarnya ada dua, semuanya ditata dengan nuansa pedesaan yang bersahabat. Sedangkan kamar mandinya cukup sederhana. Bahkan terkesan antik karena saniter yang digunakan bermodel kuno.

"Tapi untuk minggu ini kita yang akan menjadi penyewanya. Gimana? Kamu suka?" celetuknya saat aku melihat isi rumah.
Aku mengangguk.
"Kita istirahat dulu ya... Aku capek. " ia memegang lehernya. Keningnya tampak berkerut. Tanpa menunggu jawaban ia langsung masuk kamar dan menutup pintu.
Aku sedikit kecewa. Tapi aku mengerti imal sangat kecapean. Dia memang butuh istirahat. Jadi daripada bengong sendiri. Aku pergi ke luar rumah...

NEXT

Tidak ada komentar: