Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Tentangmu

Suatu kali, kamu pernah berujar “tuliskan
cerita tentangku!!!”. Maka detik ini kuputuskan
bercerita tentangmu. Tetapi, bolehkah aku
menyisipkan namaku disela-sela cerita
tentangmu? Karena bukankah dalam cerita
tentangmu yang aku ketahui, selalu ada aku
yang kemudian -meski tak berapa lama- pernah
menjadi ‘kita’?
Suatu kali, aku pernah menulis sebuah
cerita cinta nan mengharukan, lalu kamu
memaksaku untuk memasukkan namamu dalam
cerita itu. Kubilang “cerita ini tak pantas untuk
kauperankan. Lain waktu, akan kubuatkan cerita
tentangmu, dan akan kujadikan kamu tokoh
utamanya”.
Hari ini kutepati janjiku. Kujadikan
kamu tokoh utama dalam cerita ini, karena
bukankah sudah pernah kukatakan padamu,
sekali aku berjanji, maka pantang untuk
kuingkari.
Tentu kamu masih ingat awal kali kita
bertemu di sebuah senja yang memesona. Kala itu, aku tak berani menyapamu. Kupikir kamu adalah pribadi yang dingin dan mengerikan. Nyatanya, hari-hari berikutnya saat semesta mempertemukan kita lagi, baru kutahu, kamuadalah pribadi paling menyenangkan.
Kabar baiknya, sikapmu yang menyenangkan itu kutemukan setiap hari. Ya, setiap hari, karena Tuhan berbaik hati mempertemukan kita setiap hari.
Ah iya, masihkah kamu ingat saat semakin hari kita semakin akrab saja? Menghabiskan banyak waktu berdua. Berdua? Ah
tidak juga. Kita menghabiskan banyak waktu
bersama teman-teman yang lain juga. Tetapi
bagiku, asalkan ada kamu di dalamnya, maka
sempurnalah momen kita berdua, tak peduli
berapa pun banyaknya orang di sekitar kita.
Tetapi jangan salah, kita pernah memiliki momen yang hanya kita lewati berdua, bukan? Berkeliling terminal dengan sepeda motor sederhana misalnya, atau duduk berdua di taman sambil berceritangalor-ngidul diiringi tawa renyahmu, dan aku dengan takzimnya mendengar celotehmu yang
nyaring itu.
Iya. Aku kerap kali mengomentari
suaramu yang menggema  itu. Aku meledekmu, hingga rahangmu terlihat menarik. Tetapi mungkin saja pipimu akan lebih bersemu merah andainya kamu tahu, bahwa dibalik ejekanku atas suaramu, sebenarnya aku selalu merindukan suaramu itu, meski aku tak pernah mengatakannya terang-terangan.

Kuputar berkali-kali voice note yang kaukirimkan di smartphone milikkku, hanya agar rasa rindu akan suaramu berkurang. Aku tatap berkali-kali fotomu yg tersampir senyum tipis, hanya agar terobati rindu lantaran dua-tiga hari tak bertemu.
Aku selalu menanti senyummu, tatapmu, tawa
renyahmu, bahkan teriakan jenakamu yang
kadangkala mengagetkanku. Bagaimana
mungkin aku tidak mencintai senyummu itu,
matamu itu. Semuanya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa???  hari-hari terbaik yang telah kujalani bersamamu.

Sayangnya, saat menulis ini aku sudah
tak pernah lagi bertemu denganmu. Ya, kamu
memang harus secepatnya pergi. Tidak hanya
pergi dariku, tetapi juga pergi dari semua
kenangan-kenangan kita. Kenangan yang telah
terukir manis dan tersimpan dalam entah berapa gigabyte besarnya di otak kita masing-masing.
Apalagi penyebabnya kalau bukan karena dia. Dia yang akhirnya kau pilih, ah maksudku dia yang akhirnya memilihmu, dan lantas kau
menerimanya tanpa bertanya dahulu padaku
dengan pertanyaan semisal ; apakah aku akan
baik-baik saja jika akhirnya kamu menerima dia? Atau pertanyaan lain, apakah aku tidak terluka dengan keputusan yang kamu ambil. Tetapi kau selalu benar. Apa pentingnya meminta pendapatku. Memangnya aku ini siapa? Pacarmu?
Tentu saja bukan, kan? Karena setiap kali kita
jalan berdua dan setiap kali pula temanmu
bertanya, “ini siapa?” kau lantang menjawab,
“hanya adik”. Lagi-lagi kau selalu benar. Aku
memang hanya seorang adik perempuan  untukmu. Jika aku menginginkan lebih, bukankah aku harus menyatakan cinta terlebih dahulu? Dan sialnya, aku tak pernah sempat mengatakannya, hingga akhirnya dia datang tiba-tiba, mengambil alih semua perhatian dan waktumu. Sungguh aku takkan sempat, takkan pernah sempat.

Apakah aku membencimu? Tentu saja
tidak. Bagaimana mungkin aku bisa
membencimu, sedangkan tulisan ini saja kubuat untuk memenuhi janjiku; menulis cerita
tentangmu. Entah kenapa aku selalu ingin dan
selalu bahagia menepati janji kepadamu. Mungkin saja, menepati janji padamu adalah salah satu pekerjaan paling ringan yang bisa kulakukan meskipun sebenarnya aku selalu menjanjikan hal yang berat dan sulit untuk ditepati. Tetapi, saat mengucapkannya padamu, aku selalu bisa mewujudkannya. Walaupun kuakui, ada satu-dua janji yang belum kutepati, tetapi bukan karena aku tak bisa menepatinya. Lebih karena kau yang
tak lagi membutuhkannya ; janji tentang membeli kemeja biru misalnya.

Jan,  Bagaimana mungkin aku membencimu
meskipun kau meninggalkanku sendirian? Karena aku tahu, dan semoga dugaanku benar. Kau masih sering mencari tahu tentangku, bukan? Kau juga masih mengamati twitterku, facebook maupun blogku. Jika memang demikian, maka itu pula yang kulakukan. Diam-diam aku masih juga sering mengamati facebook, twitter dan instagrammu. Bahkan lebih dari itu, masih kusebut namamu dalam satu-dua kalimat doa yang kupanjatkan tiap malam.
Aku mengikhlaskan kepergianmu (jika
sekarang belum, setidaknya nanti pasti). Maka
tak usah khawatir berlebihan padaku. Bagiku,
kau tak ubahnya seperti tiket kereta api yang
hilang tepat saat kereta itu datang. Tak berapa
besar pengaruhnya bagiku, hanya sedikit
mengubah jadwal perjalanan hidupku. Perjalanan hidup untuk menemukan jiwa indah yang dengan bangga kusebut sebagai belahan jiwa.
Aku akan selalu menganggapmu spesial,
setidaknya sampai aku bertemu dengan
seseorang yang baru yang sama spesialnya
denganmu. Tetapi mungkinkah aku masih bisa
menemukannya? Pria dewasa berhati bening.
Kakak paling mengerti, sahabat paling peduli, kawan paling menyenangkan dan calon suami paling ideal untuk Wanita hebat manapun.
Kamu adalah pria tak lazim yang
pernah kukenal. Kamu dengan ketampanan yg
kau punya, dengan segala kelebihan yang
kaumiliki, seharusnya kamu bisa bersikap seperti pria  lain, tebar pesona di mana-mana, memilih bergaul dengan pria lain yang sama high class-nya, atau wara-wiri ke tempat-tempat mewah nan eksklusif. Tetapi kamu, malah memilih tampil apa adanya, memilih tetap rendah hati tanpa sesenti pun kesombongan, selalu sederhana meski kesan pangeran terpancar jelas pada dirimu. Tanpa memandang kaya-miskin, tua-muda, asal-usul, Kamu mau bergaul dengan siapa saja, termasuk aku. Kamu selalu mau kuajak
ke tempat antah-berantah sekalipun.

08 Mei 2016, waktu itu saat semuanya hancur.

Tidak ada komentar: