Selasa, 13 Oktober 2020

7 tahun kematianmu

 Seperti biasa, lobi sekolah riuh ramai di telinga. Tetapi, entah kenapa sepi sekali dihati. Apa seperti ini rasanya ditinggalkan ? kau tak lagi di bumi. harus kemana lagi kutumpahkan rindu ini. bagaimana caranya mendekapmu, sedangkan aku tidak tahu seberapa jauh jarak yang kita tempati. 

hari ini tepat 7 tahun kematianmu, apa kabarmu? di syurga sedang musim apa? kenapa kau tak lagi hadir dalam mimpiku? apa kau marah padaku? kenapa?  apa kau sudah lupa pada gadis kecilmu ini? wiittss... tapi kau harus tahu? aku bukan lagi gadis kecil seperti dulu. sekarang, aku sudah tumbuh dewasa seperti gadis lain pada umumnya. kuyakin, selama ini kau juga pasti memantau perkembanganku. 

sesuai janjiku, aku tidak akan pernah berhenti menulis sampai aku menemukan pria yang akan menghitbahku. pria yang akan menjadi suamiku. maaf, beberapa bulan terakhir ini aku sangat sibuk dengan aktivitasku. tapi sungguh, aku tidak pernah lupa padamu. aku selalu menggemakan namamu di doa sepertiga malamku. sayang, kau tentu tahu, bagaimana keadaan perasaanku saat ini.  

Betapa waktu cepat sekali berlalu, layaknya airmata yang cepat juga terjatuh. meski mungkin, entah kapan akan mengering. rasanya baru kemarin kau membuatku menjadi wanita paling bahagia. namun tanpa permisi, tuhan mengambil jiwa ragamu untuk lenyap dari hadapanku. 

saat itu, ingin sekali aku marah, ingin sekali aku dendam, ingin sekali aku mencemooh bahwa semua ini sangat tidak adil bagiku. aku masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. sedangkan kamu, meninggalkanku pun tanpa pesan.

bayangkan saja jika kau ingin merasakan hancurnya perasannku pada saat itu. bayangkan saja betapa rapuhnya gadis 14 tahun saat menyaksikan malaikat maut mencabut nyawa pria yang dicintainya tanpa ragu. bayangkan saja jika kau mampu !

sayang, jika bukan kau, siapa lagi yang kurindukan sedalam dada? bahkan setelah 7 tahun kematianmu saja aku masih fasih menyebut namamu. bagaiamana mungkin aku bisa merindukan orang lain selain dirimu? sampai saat ini saja, aku selalu bernegoisasi pada tuhan, seandainya waktu 7 tahun lalu bisa terulang, aku ingin mati sehari sebelum kematianmu terjadi. sayang , bagaimana mungkin aku bisa menjatuhkan perasaanku kepada orang lain sedalam aku menjatuhkan rasaku padamu?


dari gadis kecil yang masih di dunia

untuk pria dewasa yang di syurga

Selamat Ulang Tahun 🍃

Sudah tahun ke-3 aku mengucapkan selamat untukmu di blog pribadiku. Tahun ini, tidak banyak yang ingin kutuliskan. Kuyakini, bahwa semua rasaku menggema di ruang Do'a. Satu hal yang harus kutekankan. Dalam do'aku, sedikitpun I never asked you to be mine. Aku hanya ingin melihatmu setiap hari, memastikan bahwa kamu masih ada di bumi, menyaksikanmu tertawa setiap waktu, meski bukan aku yang menyebabkan tawamu.

Selamat ulang tahun, diusiamu yang semakin berkurang, I hope it remains a good and fun person, always healthy and i'm proud of you 🙂

Semoga kamu lenyap dari bumi sehari setelah aku mati.

Minggu, 30 Agustus 2020

mendengarkan hujan ~


Di teras rumah ini, di atas kursi yang kayunya mulai kusam, kami mendengarkan rintik hujan.
Kami mendengarkan seolah hujan di atas sana, jatuh di hadapan kami. Tempiasnya begitu dingin.
👨 'Rapatkan baju hangatmu' 
katanya sembari merapikan jaket yang ia kenakan. Kemudian dipeluk tubuhnya sendiri.
👨'ini hujan yang paling manis'. katanya lagi. Tatapannya menyapu wajahku. Seperti ingin dilumatnya kebisuan dari jarak yang tinggi seperti langit.
👩 'Kenapa?' Kutanya. Ia diam.
👩 Kenapa? Kuulang.
👨 Hujan yang seterusnya dikenang. Hujan yang dipuji dalam puisi. Hujan yang tulus karena rindu menumpuk dibulan agustus.' Ia menjawab.
.
Lalu kuingat seorang penyair yang jemarinya adalah tinta. Ditulisnya tentang hujan, di dada kekasih yang ia sayang. Mengukir cinta dengan belati di hatinya sendiri. Hingga hujan reda, dan tak ada isyarat yang dikirim angin setelah tanah basah.
👨 'Pernah kukecup hangat tubuh seorang wanita, tapi ia tak membawaku pada hujan yang seperti sekarang.' Katanya meneruskan.
👩 Hujan yang seperti apa? Kutanya.
👩 Hujan yang seperti apa? Kuulang.
Ia mendekat.
👨'Hujan yang gugup tiap kali bersamamu. Hujan yang redup tiap kali menatapmu. Hujan yang membangun jembatan atas rindu pada pertemuan kembali. Di sini, di tempat yang sama satu tahun lalu.'
Ucapnya dengan bibir gemetar.
.
Kenangan menjalar liar, tumbuh rindang di kepala kami sebagai belukar.
Hujan di luar masih bertahan sebagai dingin dan ingin.
Sebagai isyarat yang dikirim iklim menggantikan musim.
Kami saling tatap dan saling dekap.
Ini hujan yang tak biasa. Ini hujan yang membakar tubuh kami seperti kayu dilahap api.
👨 Ini hujan yang melankoni. 
Katanya sekali lagi.
-

Kamis, 23 Juli 2020

menikmati Masa Tua bersamamu tentunya

Suatu kali kamu pernah bertanya seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali.
Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku
menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap
berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua, nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi
atau teh. Kamu mungkin tidak setampan dulu lagi. Tetapi bagiku, kamu masih tetap tampan  sesuai dengan usiamu. Kita mungkin sudah tidak akan sekuat dulu lagi, ketika kita masih bisa mengunjungi
banyak tempat. Ketika kita bisa menaklukkan ketinggian ribuan Mdpl berbagai puncak gunung karena kaki kita sudah tak lagi sehebat biasanya.
Tetapi waktu yang bisa kita habiskan di masa tua akan terasa lebih lama dibandingkan ketika usia kita masih dua puluh tiga. Karena kita akan menikmati waktu-waktu itu dengan percakapan- percakapan yang berisi tentang kenangan di masa muda. Kita akan tertawa membicarakan
masa lalu kita. Bukan, bukan masa lalu kita bersama orang lain. Tetapi tentang kita berdua tentu saja. Kita melakukan flashback dari pertama bertemu hingga sampai pada usia tua. Aku akan tertawa setiap kali mengingat momen-momen
konyol yang pernah terjadi di antara kita berdua. Tentang pertengkaran-pertengkarannya, kebodohan-kebodohan mempertahankan ego
masing-masing, tentang kecerewetanmu dan
kekeraskepalaanku, dan segala hal konyol lainnya yang membuat kita tak bisa berhenti mengenangnya. Tetapi meski dengan semua itu, dengan semua pertengkaran dan ego kita ketika masih muda dulu, kita masih bisa bertahan, sekarang dan nanti.
Lalu setelah itu, aku pasti bersyukur karena kita masih dibersamakan oleh Tuhan. Bahwa kita masih bertahan sampai raga kita menua. Egoku
besar, egomu jauh lebih besar. kamu keras kepala, aku jauh lebih keras kepala. Tetapi kamu selalu mau berubah meski harus lebih dahulu
marah-marah. Dan aku mau bersabar agar tidak lebih lama bertengkar atau membuat masalah itu menjadi lebih besar. Dan mungkin pada saat tua nanti, kamu akan mengatakan bahwa kamu pernah bertemu dengan orang lain yang lebih baik dari aku. aku
pun juga begitu. Tetapi kamu tetap memutuskan untuk menjatuhkan pilihan padaku dan aku tetap
memutuskan memilihmu. Mungkin pernah terlintas untuk pergi, namun tak pernah bisa beranjak walau sesenti. Mungkin pernah bosan dan merasa tidak lagi sama dan tidak lagi saling mengerti, tetapi kemudian memperbaikinya lagi hingga kita tetap memutuskan untuk tetap di
sini. Kita masih di sini sampai sekarang ini. Aku akan tetap berada di sini.
Mencintaimu lagi dan lagi ~ 

Selasa, 14 Juli 2020

Apa kabarmu ?


Halo, apa kabarmu?
Aku tak bermaksud menanyakan kabarmu, karena aku tahu kabarmu sudah jauh lebih baik sekarang. Benar, kan? Tentu saja. Karena jika tujuanmu pergi dariku agar kamu lebih bahagia, seharusnya kamu sudah bahagia sekarang. aku sudah melepaskanmu sekarang, bahkan sebelum benar-benar melepaskan, aku tidak benar-benar mengikatmu, bukan? 
Entah kenapa setelah kamu akhirnya pergi, aku bertambah lega sekarang. Jangan dulu salah paham, aku bahagia bersamamu sesungguhnya. Paling tidak, aku tak pernah merasa kesepian karena kamu bisa menyapaku kapan saja. kalau aku kerepotan, setidaknya kamu selalu ada. Tapi, yang membuatku lega adalah kamu bisa mengejar bahagiamu sekarang. Mencari bahagia yang tidak kamu dapat dariku. Kamu harus menemukan bahagiamu, Harus! Seperti aku yang
telah menemukan bahagiaku. 
aku sudah menemukannya. Kamu tahu sejak kapan? Tepatnya saat kamu memutuskan untuk tidak mencintaiku lagi. Inginnya, aku terus membuatmu tertawa. Merasa nyaman setiap kali kamu bercerita dan aku mendengarnya. Merasa tenang setiap kali aku datang. Dan ada senang yang tak terbilang, karena aku akan memberimu hadiah-hadiah sederhana namun penuh kejutan. Dan kamu selalu bahagia setiap kali menerimanya. Inginnya, kamu selalu menjagaku kapan saja. Tidak harus selalu bersisian. Tidak harus selalu satu jengkal di sampingmu, tapi cukup dengan mendengar suaramu saja dari seberang telepon, aku sudah merasakan kedamaian. Inginnya, aku bisa tetap membuatmu jatuh cinta setiap hari, setiap kali. Tanpa bosan, tanpa jeda. Lalu kamu akan merindukanku lagi dan lagi. Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk menua bersama.

Inginnya, aku tetap bersamamu. Menghebat bersamamu seiring berjalannya waktu, dan kita akan benar-benar mewujudkannya jika tetap bersabar. Jika kita tetap memutuskan bersama.
Tetapi semua itu hanyalah inginku. Sedangkan inginmu harus segera kauwujudkan juga. Inginmu bahagia secepatnya. Inginmu mencari hati yang baru, yang menurut persepsimu, bisa
lebih membuatmu bahagia. 
Kamu hanya terburu-buru fai. Ingin semuanya berjalan cepat. Padahal bahagia itu selalu datang tepat waktu. Tapi ya sudah. Aku hanya bisa berlari semampuku, mengejar mimpiku satu demi satu. Mimpiku yang seandainya kamu tidak pergi akan menjadi mimpimu juga. Mimpi kita. Tetapi kamu sudah pergi sekarang. Aku tidak tahu apakah setelah kepergianmu, aku akan
menjadi lebih baik atau tidak. Menjadi lebih bahagia atau tidak. Tetapi kamu mengajarkanku banyak hal, tentang bagaimana seharusnya membahagiakan seseorang di masa depan.
Terimakasih ~

Minggu, 05 Juli 2020

secangkir kopi ~

Kain hangat ini, masih setia menunggu. Barangkali masih ada yang percaya keajaiban, sebagaimana seajaibnya malam ketika datang dan mengantar banyak sekali ingatan.

"Jangan takut untuk ditinggalkan, aku pasti kembali, untukmu, untuk kita."

Masih fasih kutirukan ungkapanmu itu. Seperti tahun-tahun tak pernah menua dalam kepalaku, selain sebuah kota yang perlahan ditinggalkan penghuninya. 
Kau pernah bercerita tentang secangkir kopi, kau suka menikmatinya dibawah air terjun yang mengalir deras. Katamu "aku selalu bermimpi. Suatu saat kita bisa menikmati kopi lagi disini, meski dengan gelas yang berbeda, dengan senyummu semua terasa indah."

Tapi bukan itu sayang, bukan. aku takut jatuh cinta saat semuanya tak dapat kembali, selain penyesalan dan semua tak berarti lagi ~

Jumat, 26 Juni 2020

malam yang sama

Tak ada yang meletup sebagai tawa, melebihi hening yang mulai terbiasa dan dingin yang dipermainkan.
Malam masih sama, selain hitam, sebagian membelah jalan dengan air hujan yang berjatuhan. Teras rumah masih sendirian, masih bisu, sepi tanpa kata. Rumput-rumput saling memeluk, mencoba menghalau embun yang mulai turun. Bukankah kita tak pernah tahu, mungkin saja daun tak pernah mencintai embun, ia hanya lembar yang tak bisa memilih, mencinta atau melepas.

Kau menyusuri jalan berbatu sepanjang tentang kenangan yang pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dan hambar ~

Jumat, 05 Juni 2020

satu hari bersamamu ~

Aku bahagia, teramat bahagia meski kita
tidak pernah benar-benar bersama.
Setidaknya aku pernah di sampingmu,
menemanimu bercerita berlama-lama, dibawah pohon Pinus yang rimbun. 
Kau begitu antusias menceritakan keluargamu, betapa senangnya kamu saat kita bertemu. Setidaknya aku pernah berjalan bersisiandenganmu untuk menuju tempat yang sama, menuju airterjun indah yang pertama kali kuajak kau mengunjunginya. Setidaknya kita pernah berbicara sepanjang jalan hingga tak terasa yang kita tuju telah ada di depan mata.
     Aku pun bahagia, bahkan efek
bahagianya masih terasa hingga hari ini.
ketika aku pernah membuatmu tertawa lepas saat aku menggodamu sambil bercanda. Kita bercengkrama, bahwa pertemuan selanjutnya pasti akan terjadi. Aku melihat sudut matamu yang begitu sendu, setidaknya aku bisa menikmatinya. Menyelami dan meraba betapa tulusnya perasaanmu. Setidaknya hari itu aku pernah membuatmu tertawa sesenang itu zam. Setidaknya aku pernah menciptakan satu hari spesial untukmu waktu itu. Yang paling penting dari itu semua, setidaknya aku pernah tahu satu hal tentang perasaanmu kepadaku ; kamu mulai mencintaiku Itu saja. 




Rabu, 03 Juni 2020

sudah tidak ada gunanya lagi ~

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, di tempat ternyaman yang pernah tercipta karena kita saling membutuhkan. Saling mencari lantaran salah satunya tak memberi kabar. Saling rindu, hingga rindu itu terjelaskan dari tatap yang beradu setelah bertemu. Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, di  tempat yang membuatku selalu ingin pulang dan kembali. Kini sudah hambar. Dan sekarang nyatanya aku masih tetap di sini, bukan bermaksud ingin bertahan lebih lama, lebih karena takut untuk memutuskan pergi.

Ya. Sudah tidak ada gunanya lagi di sini,
menjaga rindu sendirian, memupuk bahagia sendirian, peduli pada yang tak lagi memedulikan. Abai pada setiap momen-momen yang seharusnya dirayakan bersama ataupun ditangisi bersama. Apakah memang sudah saatnya pergi? Jika bersama seseorang yang sudah tidak sama lagi :')

Minggu, 31 Mei 2020

Kita hanya berjalan ditempat, tidak kemana-mana ~


senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu. 


Sayang, beberapa hari ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai seseorang yang tak kamu pedulikan aku hanya
mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin  diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat merindukanmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hangat itu. Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu
dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa  membuatku bahagia, dengan bertemu dan dan melihat senyummu -- itu jauh dari kata cukup.
Tidak sulit untuk membuat aku bahagia,

Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam.
Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang
pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga  otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat  untukku, itupun aku percaya saat aku  memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang  kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan;

kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana.

Jumat, 22 Mei 2020

Aku masih peduli dan ingin kauselalu baik-baik saja ~

Aku tidak akan menanyakan siapa yang
memilihkanmu kemeja dan potongan dasi itu. hingga kau terlihat lucu. Tidak menanyakan kenapa sepatumu masih berdebu atau kenapa jas yang kau kenakan terlihat kusam. Aku tahu,
akhir-akhir ini kau terlihat payah, meja kerjamu selalu berantakan, kau sering lupa makan siang dan sarapan. Aku tidak akan menanyakan kau kenapa, aku hanya risau dengan kesahatanmu. Iya, kamu benar. Aku masih peduli dan ingin kau
selalu baik-baik saja.

Minggu, 10 Mei 2020

aku yang salah atau kau yang berubah ?

Aku tak lagi bisa membedakan antara kau memang benar sibuk atau sudah tak peduli. Aku tak meminta banyak hal, cukup jujur. Aku mulai merasakan kehambaran diantara kita sayang, tak ada lagi kehangatan yang membuatku seakan terlindungi, aku merasa ada perubahan diantara kita, entah kau atau aku. Aku tak lagi merasakan betapa antusiasnya kau ketika kita akan bertemu. Apa aku yang salah? Atau kau yang berubah ? Atau ini hanya perasaanku. Perasaan bosan yang seringkali kurasakan😑

Sabtu, 09 Mei 2020

lembah dan airmata




Di lembah ini, tempat dimana seorang perempuan kerap datang mengunjungi, menikmati ketenangan, menyalakan api lalu menyulut rindu hingga terbakar dan jadi lelatu. Aku tidak tahu seberapa dalam kenangan sanggup memainkan perasaan, karena terkadang seseorang benar-benar tak mampu untuk tidak menangis ketika sendirian. Air mata, mungkin, adalah sesuatu yang tak pernah memberimu kesempatan untuk menyekanya, atau menebak ia akan luruh di pipi sebelah mana sebagai yang pertama. Sungguh, ia tak pernah dijatuhkan di depanmu, kecuali di Curug ini, dimana tempat sebagai saksi yang paling bisu .
.
.
 March 10 | 2020
00.06

Jumat, 08 Mei 2020

hujan dan air mata

'Hujan dan air mata adalah kekasih yang saling asuh' katamu. Ketika mereka jatuh, entah bersamaan atau tidak, selalu ada cerita di dalamnya. Manis kenangan yang ditulis simpul, atau judul cerita dalam buku-buku sampul. Kau kembali bercerita lagi. Aku bertanya  'Apa penyair selalu bersikap begitu?'
Kau cukup diam dan bungkam..

Rabu, 22 April 2020

mungkinkah aku ?

sudah seminggu terakhir ini kita tak bercengkrama, saling sapa pun tidak. Dan ternyata kau bilang "Aku merindukanmu, bolehkah aku mengeluh?" Ada yang tiba-tiba mengembang disudut bibirku. Lalu setelahnya kau bercerita, saat ini aku hanya ingin menjadi pendengar terbaik untukmu. Tanpa suara. 
Kamu selalu senang bercerita tentang lautan. Seperti gulung gelombang, kamu menunggu seseorang yang kamu yakini akan pulang. Katamu, penantian itu lama, dan terkadang pecah jadi buih. Jadi pasir, jadi angan yang lebih.
Kedua tanganmu memeluk, erat, pada tubuhmu sendiri. Dadamu dingin, tak lagi diisi nama lain. Sepanjang hari, sepanjang tahun, kamu tetap di sana mengira-ngira, akan ada rindu yang datang membawa kabar, harapan, dan debar hatimu yang hilang.
Kamu kembali bercerita, menyebut langit adalah rumah. Kamu memejamkan mata, mengenang warna merah sebelum matahari terbenam, dan kamu masih menunggu seseorang hingga lautan pasang. Aku belum mengerti, siapa seseorang yang kamu rindukan sebenarnya? 
Mungkinkah aku ?

Kopians Apr 22 | 2020 

Sabtu, 11 April 2020

Will we walk in a more certain direction?

'Kamu menyukai kopi dengan sedikit gula. Dan aku menyukaimu ketika tertawa, seperti melihat pelangi dan senja diwaktu yang sama'
Itulah serentetan kata yang dapat aku ungkapkan malam ini zam, sebuah tawa yang sedikit menyembuhkan sakit filekku. Seringkali percakapan kita terjalin begitu-begitu saja. Menanyakan kabar, sudah makan atau belum, bagaimana aktivitas hari ini. Setiap harinya selalu begitu. Terkadang aku merasa bosan dengan apa yang sedang kita jalani saat ini. Kita seperti dua insan yang saling mencintai namun tak berani untuk melangkah ke jalan yang lebih pasti. 
Keheningan menghentikan pembicaraan kita, hanya terdengar hembusan nafas diujung telepon sana. 
"Aku sangat merindukan malam ini, aku yakin ini tidak keliru😔"
Aku mencoba mencerna apa yang kau katakan. Sebelum beberapa saat aku berbicara.
"Apa yang kau rindukan dariku?"
Ia terdiam cukup lama.
"Aku tidak tau, yang jelas aku sangat merindukanmu. " Jelasnya.
"Kurasa akhir-akhir ini sikapmu sedikit berubah. Kau tidak perhatian, kau tidak melarangku, kau tak lagi mengingatkanku pada hal-hal yang baik. Aku rindu itu Ais." lanjutnya .
"Maaf kan aku zam. Aku hanya takut." Jawabku .
"Apa yang kau takutkan dariku Ais?
"Aku takut menaruh harapan lebih dalam padamu. Aku takut semakin menyayangi sedangkan kamu tidak. Aku tak ingin patah hati lagi zam. Aku sudah malas merasakan itu semua." 
Lagi dan lagi dia terdiam. Nampaknya sedang berpikir sesuatu.
"Untuk masalah hati, sekarang aku pasrah saja. Mengikuti alur dan takdir yang sudah Allah tetepakan untukku. Jika kamu mempunya niat baik padaku, maka aku selalu berdoa yg terbaik untukmu." Lanjutmu.
"Aku mencintaimu Aisyah, namun untuk sekarang aku belum bisa bertindak sebagai apapun."
"Ya. Dan semoga tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita."


Dengarlah Zam!! Sudah kukatakan jangan terlalu membuang waktu untuk membuatku jatuh dalam hatimu. Jika waktu sudah mengizinkan, siapa lagi yang akan menghalangi kita. Semua butuh proses, tak ada hal indah yang didapat dengan instan. Aku tertegun dengan ketulusanmu, dengan kesabaran dan rasa yang ikhlas. Dan sekarang, cintailah aku dengan sewajarnya. Karena jika waktu tak mengizinkan kita tuk bersama, tak akan rasa sakit yang tercipta dengan luarbiasa.
Seakan semuanya baik-baik saja. Kau mencintaiku kan? Maka akupun begitu :)


April 11 March || 23.25

Minggu, 15 Maret 2020

your eyes

Matamu seperti buku dan aku bisa membacanya. Aku seperti membaca narasi dengan pipi merona. Rahang tegas dan hidung mancungmu adalah mimpi lain untuk seorang perempuan yang telah lama jatuh cinta, tapi memilih diam. Karena aku paham, cinta adalah partikel yang rumit. Kau ada disini, itu adalah sebuah kejutan indah dari tuhan... 😍

Rabu, 11 Maret 2020

First love is the seed of true love ~

Aku pernah bertanya sesuatu padamu, mengenai kata abstrak yang rumit untuk didefinisikan. Aku masih kecil kala itu, terdengar sangat lucu jika aku bicara tentang cinta. 
"Ais, sini kjberi tahu. Bagiku, Cinta itu adalah Kanvas bagi seorang pelukis, panggung bagi seorang penari, benang bagi seorang penjahit, dan ladang bagi seorang petani.
Penuhilah kanvasmu dengan goresan-goresan kuas hingga berwujud sebuah lukisan indah dan jangan sampai ada ruang kosong yang tersisa. Kuasailah panggungmu lewat tubuhmu hingga penonton berdecak kagum dengan tarianmu. Tenunlah benang-benang perbedaan hingga tercipta sebuah pakaian yang bisa mlindungi cinta dari terik panas dan dinginnya dunia. Dan peliharalah ladangmu melalui dialog dialog sehat, sebab cinta perlu ditanam dan dirawat agar tumbuh. Jika kamu benar-benar telah bertemu dengan cinta pertamamu , jagalah dengan baik. Sebab, cinta pertama mustahil untuk datang kedua kalinya. Rawatlah hingga cinta pertamamu tumbuh menjadi cinta sejati . jangan kamu jalani hubungan seperti ”NDUL GONDAL GANDUL” . ya sama dengan kleweran. Menggantung dan bergoyang goyang, tidak jelas arah dan tujuannya .." 
jelasnya. tertegun mendengar apa yang dia bicarakan. ini luarbiasa.  
Lalu dengan polosnya aku kembali bertanya .
”apakah cinta pertama dan cinta sejati itu sama perannya ?”

Dia terkekeh, mungkin ada yang aneh dengan pertanyaanku. Namun diapun meneruska .

”cinta sejati itu kadar kedalamanya bisa sama  dengan cinta pertama. Mungkin bisa lebih. Tetapi tak kurang dari cinta pertama. Cinta sejati bisa terjadi bersamaan dengan cinta pertama. Bisa juga terjadi setelah cinta pertama, yang pasti cinta sejati tak akan terjadi sebelum cinta pertama "  Jelasnya. 

Mengagumkan !! Pengetahuannya luas sekali akan hal itu.
Aku akan terus mengingatnya.

Kamis, 13 Februari 2020

sejauh rindu merembus


-
gelombang ini, masih sama seperti dulu. Seperti saat kau bercerita tentang camar dan perahu-perahu. Warnanya masih biru, seperti langit yang kau tunjuk dengan jarimu. Kecuali ingatan yang kuputar ulang, tak ada yang sumbang. Karang di ujung sana, masih berkilat diguyur ombak. Begitu tabahnya ia, meski diperciki asin ribuan kali. Lalu kukira. Aku dan karang itu sama, sama-sama menunggu. Entah ia kepada kekasih, entah aku kepada yang pergi.
-
Fai, aku berdiri di sini, hari ini, sebagai buku yang tak rapuh menulis namamu. Sebagai halaman yang berharap di sana kemudian kau pulang. Di batas tanah yang pernah mekar oleh bunga-bunga,  jalan setapak dan rimbun semak, kisah kita menguning di ufuk barat.
-
"Aku suka tempat ini, fai. Bahkan sekalipun saat memejamkan mata."
"Kalau begitu tinggallah."
"Bersamamu?"
"Tentu Bersamaku."
-
Kucemburui angin yang membelai wajahmu fai ketika itu, juga pada helai rambutmu yang meriap lembut.

"Ini senja terbaik yang pernah kulihat fai. Seperti dua pejalan yang menemukan rumah."
"Senja memang kepulangan, Sayang. Meski terkadang juga kehilangan."
"Andai ia tak kembali...."
"Kadang ia tak ingin kembali."
"Jika aku yang pergi, aku akan kembali."
"Untuk senja?"
"Untuk yang masih menunggu."

Kuminta kau menetap lebih lama dalam ingatanku yang menua. Agar ketika kulukis parasmu, senyum manis itu yang kusentuh. Sepanjang Siring dan lesehan yang menjual jagung bakar, kau ingat? Sejauh itu kembara kita di pasir pantai. Gelombang kecil yang mengecup kakimu, kemudian kering oleh jejak tawa berlarian.  Betapa harumnya kenangan fai. Seperti langit yang menyanding senja. Seperti hari itu. Seperti bulan dan minggu yang menunggu.
-
"Aku ingin duduk lagi di sini, satu tahun kemudian. Sama seperti sekarang, jemarimu yang kugenggam."
"Itu pasti lama."
"Jarak kita hanya sejauh jantung dan dada sayang"

Pantai adalah jembatan. Tempat kembali kutapaki wangi rambutmu. Dari tajam batu-batu, dari depa yang teramat jauh.

"Kupinjam senja milikmu, fai. Di sana hanya ada langit yang pucat. Sunset seperti ini tak pernah nampak."
"Kenapa?"
"Hilang ditelan gedung-gedung dan Aku juga takut kau ikut hilang "

kuterka-terka, seramai apa tempat kau tinggal? Riuh stasiun atau terminal? Gemerlap lampu-lampunya semoga tak membuatmu lupa.
-

Senja hampir datang, Tiba di mana perjalananmu? Adakah kereta yang mengantar berpaling arah? Sedang padamu segalaku tak pernah goyah. Satu tahun berganti, seperti apa warna matamu kini? Aku menunggu senja yang kau bawa dulu. Seperti katamu, debur gelombang ialah alasan untuk kau kembali padaku. Kau tahu, fai? Satu tahun kesepian ini, serupa ia dinginnya batu. Sayup sedalam ombak menelan gelap, tak jua menutup bayangmu di ambang mataku.
Fai, tiba di mana perjalananmu? Satu tahun berganti, seperti apa warna matamu kini? Sedang rinduku, telah begitu jauh berembus.
-
@Kopians -,Perempuan Januari

Kamis, 30 Januari 2020

pergimu melayukan rindu

Senja di halamanku tak lagi tumbuh bunga, Sejatinya pergimu telah melayukan kuncup- kuncup yang biasa mekar bersama rindu 
Akan kutemui kau nanti di ujung jalan sana, Di antara pecah aroma kopi dan kelam langit yang menua. Diantara adzan magrib yang menggema dan malam yang menyapa. Diantara hangatnya tehh manis dan dinginnya gerimis. Tuan, aku selalu mengerti dengan kata yang kau ucapkan. Aku selalu faham, bahwa rasa yang kau ungkapkan hanya sekedar ucapan. Aku tahu, bahwa kau tidak mencintaiku. Tapi tak bisakah kau mengerti bahwa aku menyayangkan semua yang ada dalam raga dan batinmu. Suatu hal dan  bahkan berbagai hal yang kau lakukan, Aku suka. Rasa lelah selalu mengalah karena rasa cinta yang terus meronta.  Meski kutahu cinta yang nyata tak akan pernah bisa untuk dipaksa. meskipun kau memberiku CINTA YANG SALAH aku tetap terima ~

Rabu, 29 Januari 2020

Aku adalah rumah untukmu pulang

Aku pernah menunggu seseorang di sini. Bertahun-tahun lalu. Menyaksikan burung-burung camar yang pulang, kapal-kapal bersiluet, hingga akhirnya senja benar-benar saga, kemudian matahari terbenam."

"Kau patah hati?"

"Tidak. Untuk apa?"

"Seseorang yang kau tunggu tak pernah tiba membawa debar atau kabar, bukan?"

Gadis itu terdiam, sebentar. Kemudian melangkah ke depan pembatas jembatan. Raut wajahnya keruh. Serupa sungai-sungai lumpur selepas hujan. Ada gamang di sana, tergambar jelas.

"Aku tidak patah hati untuk seorang pria."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang terkenang."

. Kadang kita merindukan momen yang sama, di tempat yang sama, meski mungkin dengan orang yang berbeda.

"Apa bedanya? Kau tak pernah bisa lupa."

"Kenangan bukan seperti benang layang-layang. Saat kita merasa muak, kita bisa memotong benang tersebut, kemudian menyambung dengan rangkaian yang kita inginkan."

"Aku tidak paham. Kau sekarang bicara layaknya seorang pujangga."

"Kenangan itu seperti jalinan tikar, saling anyam saling silang. Tak bisa kita memisah sebagiannya saja. Semuanya terhubung serta saling terkait dengan masa lalu dan masa depan."

"Untuk apa? Kau menunggu seseorang, bertahun-tahun, dan kau kesepian. Seseorang yang kau tunggu entah di mana, juga barangkali dengan siapa."

Suara gemerisik kecil daun-daun kering yang terinjak kaki gadis itu ketika melangkah. Ia hanya tak ingin melebih-lebihkan perasaan. Jika ia pernah bertemu seseorang, kemudian berpisah, dipisah atau terpisah, bukankah itu lumrah?

Kehidupan seperti angka delapan yang di atasnya kereta melaju membawa kita. Pada titik tertentu, kita akan selalu sampai ke tempat semula. Sebuah rumah, misalnya. Dengan lengan yang terentang di ambang pintu, menunggu kita mendekat dan memeluk.

_____
Kepada hatimu, aku perahu yang tertambat

Jika aku pulang, adakah aku telah terlambat?

Senin, 27 Januari 2020

Hujan Tanpamu

The rain used to feel warm because it was with you, tonight's rain was so cold like your attitude received" ~

Rain is a time tunnel
bring past. Your whole heart makes my chest ache again
I miss the old you, who always makes me blush because of your poetry. I miss the war rhyme with you sir. With various themes, whether it's about dusk, about rain, and the evil of love. You're always bothering my secret to laugh happily, until you don't realize I've fallen into the 'love' you have. I forgot, the contrast that exists in us, can never complement each other. a matter of age, profession and taste. Everything I'm too cool with today. Allow me to take the following days and we can't possibly be together and it's obvious you will leave a scar. Deep wounds that are difficult to drain. It's raining tonight, reminds me of us. Um ... ask me who used to love you a lot. In your romantic poetry that you wrote for me. Maybe not ONLY for me but for everyone who admires you. And because of you, sir, I like rain. Rain is becoming my loyal friend now. He talked to me, said it was with you or without you I still DESIRE ~

Leuwiliang, Selasa 28 Januari 2020

Rabu, 22 Januari 2020

Long Distance Relationship


JarakJarak sejauh ini tak mampu membuat kita berbuat dan bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling
bersentuhan juga saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap
hari, kita menahan rindu yang semakin
menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa? Melalui jarak ratusan kilometer? Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada di sampingku dan merasakan
yang juga kurasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita. Maka tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yang terlontar dari bibir kita, ketika perasaan itu semakin membabibuta. Apakah yang kita pertahankan selama ini? Apakah yang kita andalkan sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.
Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin mempertahankan semuanya? Kita
jarang saling bergenggaman tangan, jarang sekali berpelukan, dan sangat jarang saling berpandangan. Namun, percayalah, sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan. Apa yang kucari dan apa yang kamu cari? Tak ada, kita masih meraba-raba apa itu cinta dan bagaimana kekuatan itu bisa membuat kita bertahan. Rasa cemburu, rasa ragu, dan rasa
rindu sebenarnya adalah pemanis. Tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melalui berdua; melewatinya bersama.
Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih akan tetap terjadi. hanyalah sekadar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.
 •
Kafai & Kopians