Senin, 26 Maret 2018

Sedang Rindu❤

ada jam yang hampir menyentuh sepuluh malam , tidak banyak yang bisa aku lakukan di sisa-sisa kekuatan aku mengerjakan novelku, selain memikirkanmu.
Kita pernah duduk bersampingan sambil menunggu hujan reda, tidak ada yang bicara, hanya suara rintik hujan yang menyentuh atap. Aku tertidur dibahumu seakan tidak ada tempat yang lebih hangat selain bersandar di sana. Kamu punya daya dan upaya untuk membuat aku tenang. Kamu selalu tahu caranya mendiamkan iblis
dalam diriku, itulah mengapa aku begitu jatuh cinta pada malaikat sepertimu, si malaikat berwajah iblis yang memegangi buku cerita dengan  senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu.
   Beberapa hari  ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai yang tak kamu pedulikan  aku hanya mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa panjangku. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat rindu pelukmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hanya satu sentimeter dari telingaku? Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu
dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa
membuatku bahagia, dengan memelukmu dan dan melihat senyummu -- itu jauh dari kata cukup.
Tidak sulit untuk membuat aku bahagia,
    Kakak Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam.
Aku merindukanmu pelukmu dan merindukan suaramu, hanya itu yang aku tahu. Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku
miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang
pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga
otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat
untukku, itupun aku percaya saat aku
memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang
kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu
memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan;
kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana.
     Sayang, kamu tahu kita tidak berpindah ke mana-mana, yang kamu tahu aku hanya perempuan yang jelas tidak akan menuntut apa-apa selain pelukmu yang mampu menghangatkannya. Kaka , kamu begitu paham, bahwa tidak akan ada kebahagiaan di antara kita, hanya kesenangan sesaat lalu kamu akan pergi tanpa jejak. Mungkin, bagimu, aku begitu lumrah untuk disakiti, lalu aku akan segera terobati dengan novel yang segera aku tulis setelah patah
hati. Maaf, Sayang, kamu salah besar. Perempuan tidak bisa kamu samakan dengan logika yang kamu gunakan, logika laki-laki.. Tapi, ada satu hal yang aku sesali,
mengapa ketika aku sudah memberikan segalanya, namun kamu hanya memberiku seperlunya.
Aku mencintaimu. Kamupun tahu itu. Namun, aku tidak akan jadi siapa-siapa bagimu. Kamupun tahu itu. Sebelum semua berakhir lagi dalam kata
pisah, bisakah kita habiskan sisa waktu yang kita punya hanya untuk membuatku bahagia dengan pelukmu? Aku tidak tahu daya magis apa yang
terkandung dalam pelukmu, di sana aku bisa menangis sejadi-jadinya, ataupun tertawa segila- gilanya. Hanya itu yang kurindukan, karena
seperti yang aku bilang, aku tidak hendak memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk sebuah pertemuan nyata.
Aku mencintaimu bagaimanapun dirimu. Aku tetap mencintaimu, meskipun ada asap beracun ditanganmu. Aku tetap mencintaimu,
walaupun kencan termewah yang pernah kita lakukan hanyalah makan Rice Bowl di Cibinong City Mall. Aku masih mencintaimu, meskipun
berhari-hari kamu tidak menghubungiku lebih dulu. Aku sungguh mencintaimu, meskipun
kamu selalu membuatku menunggu.
Kamupun mencintaiku pasti karena penuh dasar. Kamu masih mencintaiku, mencintai kekuatan
yang aku miliki untuk bersabar, bahkan saat puluhan temanmu mencaci aku dan melumuri aku dengan segala fitnah yang menyedihkan. Kamu mencintaiku karena aku tidak menuntut banyak hal darimu. Kamu mencintaiku karena
suaraku selalu berhasil membuatmu tidur, terutama jika aku memperdayai kamu dengan lagu Somewhere Over The Rainbow atau lagu Raisa yang berjudul Kali Kedua. Kamu mencintaiku karena kita berbeda dalam segala,
namun perbedaanku sepenuhnya mampu melengkapimu. Kamu mencintaiku, tentu karena
aku hanya mampu menangis dalam pelukmu, ketika kamu berkata sudah punya kekasih. Kamu mungkin semakin mencintaiku di hari itu, saat
berjam-jam aku hanya mampu menangis hingga mataku bengkak. Hari itu, mungkin duniamu
menggelap, karena pada akhirnya kamu menyadari, ada orang yang sungguh mencintaimu, namun gadis itu datang di waktu
yang salah.
  Aku adalah kesalahan yang ingin terus kamu ulang. Sementara kamu adalah kesalahan yang tidak ragu aku buat berkali-kali. Kita punya banyak kesamaan juga perbedaan, tapi perasaan yang memenuhi kita berdua mampu mengubah segala ledakan menjadi paduan suara termerdu
yang pernah kita dengar. Suaramu adalah nada sumbang kesukaanku, tetaplah begitu sampai Tuhan mengizinkan kita kembali bertemu.
Dan, di pukul delapan ini , sambil menunggu jam waktunya tidur, aku masih menyimpan harap-- bahwa kamu akan tiba-tiba muncul di
depan mataku, hanya untuk mengucapkan 'selamat Malam'; seperti seminggu   yang lalu. Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia dan
tersenyum,  Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tetap ikut aturan mainmu. Tetap bahagia dalam rahasia
kita. Untuk pria bermata sendu,
yang menyediakan "tempat
persembunyian",
paling menyenangkan **********

Kamis, 22 Maret 2018

When dusk falls in your eyes

Barangkali, rindu memang seperti lagu. Tak pernah selesai ditulis pun ditangis. Lalu hari ini kita berpura-pura membuat perdiangan, menghangatkan sepotong  sepi agar tak dingin oleh kenangan. Kita kunjungi rumah-rumah puisi, kita sapu debu di rak-rak buku, lembar kisah yang menamping buram ngilu di masa lalu.
.
Aku bertemu dengan seseorang. ialah Muzam, Seorang pria tampan berkacamata. Ia berjalan menjauh dengan senyum yang mengembang disuatu petang. Kemudian kembali, namun tak sendiri.
Aisyah : "Aku senang bertemu denganmu dan bagiku ini kejutan dari tuhan. "
Muzam : "Tuhan itu baik Ais.... Akupun begitu, lalu Apa yang kau rasakan sekarang aisyah.?"
Aisyah : "Aku seperti kembali bertemu dengan seseorang. Seseorang yang pernah kucintai.. "
Muzam : "Siapa...? "
Aisyah : "kau tidak perlu tahu, karena bagiku bertemu denganmu saja adalah kebahagiaan yang tak bisa kuungkapkan. "
Muzam : "Mmmm.  Aku akan coba mengerti. "

Lalu kami berjalan berdampingan, menelusuri taman yang beralaskan aspal. Ada rasa dingin yang tak terbantahkan, kucoba menelaah, lalu kurasakan ada kehangatan yang menggenggam jemariku. Sebuah genggaman yang sangat kurindukan dan aku seperti kembali ke masa lalu..

Empat tahun lalu..
Ditempat yang berbeda aku pernah merasakan hal yang sama, sebuah kehangatan yang melekat dan menyatu dalam ingatan.
  Seorang pria, cukup tampan dan dewasa. Dia baik dan sopan, dia pria dewasa yang selalu menganggapku anak kecil kala itu.
Sebelum pergi, ia pernah bilang "Dek, jaga-jaga diri baik-baik ya.. Sekolah yang rajin, jangan terlalu percaya dengan kata-kata lelaki. Mereka semuanya sama."
Hanya itu yang kuingat dan setelah itu ia pergi untuk selamanya. 
.
Muzam : "Aisyaaaah... " panggilnya.
Aku tersentak dari lamunanku, kuperbaiki posisi jalanku, namun tangan itu masih menggenggam tanganku.
Muzam : "Apa yang sedang kau lamunkan? "
Matanya menatapku.
Aku mencoba tenang dan terus memandang ke depan..
Aisyah : "Aku..  Aku baik-baik saja zam.. Tak usah khawatir..  Aku hanya ingat sesuatu.. "
Seketika ada yang mengalir dari mataku. Entahlah.. Ada rasa sesak yang menyerang paruku. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Muzam : "Kenapa kau menangis..? Apa salahku..? Kumohon jangan membuatku bingung.. "
Aisyah : "boleh aku memelukmu..? "
Tanpa jawaban, muzam langsung memelukku. Erat sekali, ada ketenangan yang tak terelakan. Tak kupungkiri, aku sangat bahagia berada disampingnya. Aku takut kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya.

Keesokan harinya, Cuaca mulai cerah karena musim sebentar lagi berubah.  Bunga-bunga menunggu mekar,  pada summer juga harapan yang telah lama terpendar.

Cintaku yang disurga,  Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menganggap muzam seperti seharusnya, aku terlalu merindukanmu sampai aku lupa bahwa kau sudah pergi. Dan aku masih saja menganggap muzam adalah kamu.  bisikku dalam hati.
.
Pukul 16.50. Aku dan muzam berada dalam satu ruang. Seperti membicarakan jalan yang panjang. Sebuah lorong waktu yang akan mengembalikan  semuanya seperti semula.

Aku ingin bicarakan ini sejak awal padanya, tapi seakan semuanya terkunci. Aku seperti membohongi beberapa hati. Hatiku, hati muzam dan hati seseorang yang telah pergi.

Aisyah : "Zam...  Apa kau tahu? Selama ini yang kita jalani adalah kesalahan besar bagiju. Aku seperti sedang membawamu dalam kebohongan.. "
Ia terdiam. Seperti bingung dengan apa yang kukatakan. 
Muzam : "Kebohongan apa? Siapa yang berbohong.?  Aku merasa tidak pernah dibohongi oleh siapapun.  "
Aisyah : "Zaaam.. Apa kau sadar..?  Selama ini Kita  hanya bersama, tapi tak pernah tahu untuk apa. Kita berlari, lalu bertemu dan bersembunyi. Kita tidak saling menemukan, Muzam. Kita hanya melarikan diri. Maafkan aku, karena aku belum bisa menganggapmu sebagaimana harusnya. Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Kalian adalah dua orang yang tak bisa saling menggantikan meskipun memiliki banyak kesamaan."
Muzam : "Dia siapa..?  Maksudmu seseorang yang sudah mati..? "
Aisyah : "zam kau tahu.. Dia adalah cinta pertamaku dan selama ini aku berada di sampingku hanya semata-mata aku menganggapmu adalah dia. Tidak lebih.. "
.
Muzam tertunduk. Ada rasa kecewa dari sudut matanya. Seketika airmataku kembali terjatuh. Dilihat dari sudut pandang manapun aku benar. Semua ini memang benar. Aku dan muzam hanya bersembunyi. Mencoba menjadi orang lain dalam persembunyian namun itu tak membuat bahagia.

Muzam : "Ais... Kau boleh menganggapku sebagai apapun. Aku rela, aku ikhlas. Asal jangan kau memintaku untuk meninggalkanmu.. Karena saat ini, aku seperti merasakan kebahagiaan yang pernah kurasakan dulu.. "
Aisyah : "Zam,,  kumohon..  ini sedikit sakit. Semuanya sudah selesai, ia sudah pergi dan aku tak ingin berdusta lagi."
.
Lalu aku beranjak dan pergi meninggalkannya.

#WhenDuskFallsInYourEyes

Sabtu, 17 Maret 2018

Sepanjang Perjalanan

Sepanjang apapun jalan di dunia ini, sebenarnya hanya sejauh yang kau lalui.
Jika kau bersama seseorang yang menyisir rambutmu ketika berantakan, ia adalah kekasih sebelum kehilangan.
Aku sudah tahu rasanya kesepian yang sakit. Seperti angka  kalender yang harus dirobek tiap hari kemudian hilang berganti bulan.
Mungkin itulah kesedihan, lalu tanah yang sunyi menyembuhkan perlahan.
Tempat diatasnya aku tak berdaya. Menunggu, betapa remuknya waktu. Orang-orang jahat tak pernah mati seperti yang mereka inginkan. Sebelum berakhir adalah airmata dan sendirian. Orang-orang baik juga demikian. Karena hidup ini hanya sejauh yang pernah kita jalani. Selebihnya begitu dingin seperti tanah yang sunyi.

Diantara kalutnya rindu, aku tertipu.
@Kopians

Sabtu, 03 Maret 2018

Sepanjang Perjalanan

Sepanjang apapun jalan di dunia ini, sebenarnya hanya sejauh yang kau lalui.
Jika kau bersama seseorang yang menyisir rambutmu ketika berantakan, ia adalah kekasih sebelum kehilangan.
Aku sudah tahu rasanya kesepian yang sakit. Seperti angka  kalender yang harus dirobek tiap hari kemudian hilang berganti bulan.
Mungkin itulah kesedihan, lalu tanah yang sunyi menyembuhkan perlahan.
Tempat diatasnya aku tak berdaya. Menunggu, betapa remuknya waktu. Orang-orang jahat tak pernah mati seperti yang mereka inginkan. Sebelum berakhir adalah airmata dan sendirian. Orang-orang baik juga demikian. Karena hidup ini hanya sejauh yang pernah kita jalani. Selebihnya begitu dingin seperti tanah yang sunyi.

Leuwisadeng, 24 Februari 2018

Diantara kalutnya rindu, aku tertipu.
@Kopians