Kamis, 21 Desember 2017

Grey SunFlower part29

*GSF* part29
*
Sinar matahari pagi tampak sepuluh kali lebih cantik ketika kulihat imal dipagi hari.
"Ais.... . " 
Aku membuka mata dan kulihat imal sudah ada disamping tempat tidurku. 
"Iyaa.. Kamu sudah disini? "
"Apa kamu tahu? Aku disini dari sejam yang lalu. Dan wajah kamu memang seperti putri dari surga. Aku tidak bisa bosan melihat wajah kamu. "
Aku tertawa dan mencubit pinggangnya.
"Awwww sakit... "
"Biariinn. Biar tahu rasa. "
"Lhoo memangnya aku salah apa? " tanyanya bingung.
"Kamu terlalu gombal. Aku tidak suka laki-laki gombal. "
Imal menampilkan senyum miringnya. Membuatnya terlihat begitu tampan. Aku bisa mendengar detak jantungku saat itu.
"Hahahaaa mulai sekarang, kamu harus belajar membedakan mana gombal mana yang sungguh-sungguh. " ucapnya tenang.
Dia terus tersenyum dan berhasil membuat wajahku seperti kepiting rebus. Ia berdiri dan menarik tanganku untuk bangun.

"Sekarang kamu mandi, terus pakai baju yang bagus. Kita jalan-jalan hari ini "
"Kemana? "
"Sudah. Gak usah banyak tanya. Sekarang ambil handuk dan cepat mandi. " dia mendorong tubuhku ke pintu kamar mandi.

Kali ini aku tidak terburu-buru agar bisa mempercantik diri. Aku ingin tampak terlihat seimbang ketika berjalan disamping imal yang tampan. Aku memakai baju terusan selutut bewarna abu-abu dan kubiarkan rambut hitam panjang bergelombang tergerai lembut.
"Aku sudah siap nih. "
Aku keluar dari kamar dan melihat imal sedang menuangkan segelas susu. Dia mengenakan kemeja kotak biru abu yang lengannya digulung sampai siku dan kaos dalam bewarna putih dengan celana jins hitam dan jam tangan yang menambah kesan elegan ditubuhnya.
"Tampaknya kita sudah mulai sehati. " godanya.
"Sini sarapan dulu, aku sudah siapkan. "
Aku tersenyum menurutinya dan duduk dalam diam karena terpana dengan ketampanannya.
"Aku baru tahu kamu butuh waktu lama untuk mandi? "
Godanya lagi. Aku tersipu dan memilih untuk diam.

Bisa kulihat imal tersenyum dengan puas. Setelah selesai sarapan, ia mengambil kamera dan berjalan keluar rumah menuju garasi.
"Lhooo imal. Kamu gak bawa kunci mobil? Kita mau naik apa? "
"Ohiya, aku lupa. Buruan bawain sini..  "
Aku lalu keluar mengunci pintu rumah dan menghampiri imal yang sudah lebih dulu sampai digarasi.
"Ini kuncinya. Makanya jangan jadi orang pelupa! " sindirku.
"Iyaa iyaaa maaf nona. " imal terkekeh.

Imal menyetir mobil dengan kecepatan stabil. Dia mengajakku melihat kanal di Amsterdam dengan naik kapal. Dari kapal kami bisa melihat bangunan belanda yang khas bentuknya. Angin berhembus kencang. Tapi tetap terasa nyaman. Suasana mendung membuat perjalanan kami sepuluh kali terasa lebih menyenangkan.

Kapal yang kami naiki memiliki kapasitas sekitar 50 orang. Kapal tersebut dinaungi kaca sehingga kami bisa melihat pemandangan sekitar tanpa takut basah jika turun hujan.

Disepanjang perjalanan imal terus memotretku. Terkadang ia mengajakku untuk foto berdua. Aku berapa kali melarangnya karena orang-orang disekitar kami banyak yang senyum sendiri melihat tingkah lakunya.
"Imaaaal.. Kamu sudah berapa ratus kali jepret-jepret gak jelas. Mau berjuta kali aku difoto juga itu gak akan merubah wajah aku jadi cantik. Aku risi. Lagian diliatin orang-orang tuh, gak enak tau. " aku menurunkan kamera dari wajah imal.
"Udaaah... Santai aja. Ini kan belanda, bukan indonesia. Aku mau potret kamu jutaan kali juga gak akan ada yang protes. Kalau mereka senyum-senyum, berarti mereka melihat muka kamu yang cantik. "
Ia tersenyum lalu melihat hasil potretnya di kamera.
Aku menghela napas panjang.
"Terserah kamu.   "

Kami kemudian melewati beberapa bangunan bersejarah. Sangan pemandu tur lalu memaparkan sejarah VOC, pelajaran yang dulu sempat kami pelajari di SD. Aku sendiri hanya terpana melihat cantiknya kota itu. Walaupun sudah setahun tinggal di Amsterdam, ini pertama kalinya aku naik kapal di kanal. Maklum saja, tujuan awalku kesini memang bukan untuk berjalan-jalan tapi untuk melarikan diri. Sayangnya aku baru menyadari, bahwa aku berlari ketempat yang sangat cantik.

Setelah melihat Amsterdam di kanal. Imal mengajakku keluar dari kota menuju tempat pemerahan sapi.
Sementara aku melihat imal berbincang dengan petugas disana. Pada saat kami akan pergi, petugas itu membisikan sesuatu ke telinga imal. Imal langsung tersenyum dan menghampiriku. Rasa penasaranku timbul dan dengan suara pelan aku bertanya padanya.
"Tadi dia bilang apa? "
Imal menyeringai.
"Katanya kamu cantik dan kita adalah pasangan yang cocok. "
"Haaaah? " aku tertawa hambar.
"Salah lihat kali dia. Kalau dia bilang aku cantik sih ya memang benar, tapi kalo aku cocok sama kamu itu salah. Orang kamunya jelek kaya gitu. "
"Yakin aku jelek?  Kok semalam di cium sihh... Hahaaa"
Godanya. Wajahku memerah.
Sebelum meninggalkan tempat itu, aku menyempatkan diri membeli susu dan keju. Susu murni yang dibeli imal banyak sekali.
"Buat apa kamu beli sebanyak itu? " tanyaku.
"Buat kamu. Biar kamu sehat. Biar badan kamu gak kurus kering. " tawanya.
"Kamu tuh yaa.. Ngeselin.. "
Aku mencubitnya..

NEXT

Tidak ada komentar: