Sabtu, 09 Desember 2017

Grey Sun Flower Part14

*GSF* #part14
.......
Aku angkat ponselku, wajahku pusat pasi. Aku mendengar kecemasan yang sama seperti empat bulan yang lalu. Entah kenapa kali ini aku punya firasat, lubang ini tidak akan pernah menutup.
Aku cepat-cepat menarik tangan kak agung.
"Janwar....   " nafasku mulai tak teratur..
Kak agung dengan sigap mengikutiku. Perasaanku tak menentu, aku takut..
**
Aku dan kak agung berlari dilorong rumah sakit yang panjang. Malam ini lorong tampak berbeda karena lebih sepi daripada biasanya. Langkah kaki kami bergema disepanjang lorong.  Aku menekan gagang pintu kamar janwar lalu mendorong pintu warna putih itu. Hatiku semakin sesak tak menentu setiap detiknya.
Begitu melihat kedatanganku janwar langsung tersenyum. Dia dikelilingi beberapa dokter dan suster yang sepertinya sedang memeriksanya, aku tidak tahu pasti. Senyumnya tampak manis dan sempurna namun beberapa detik kemudian senyum itu mengendur. Matanya mulai tertutup. Aku melihatnya bingung, kuyakinkan pikiranku bahwa ia hanya tertidur, atau dia baru saja diberi obat penenang dan sekarang obat itu bereaksi
Tapi kenyataan yang ada dihadapanku sekarang menyatakan hal lain. Aku bisa melihat dengan jelas, walaupun aku masih belum bergerak dari ambang pintu masuk, wajah janwar tambah pucat, rona dipipinya yang putih kian melenyap.
Aku mulai sadar dengan apa yang kulihat. Tante tiwi menangis sambil mengguncang-guncang tubuh janwar. Ia menangis kencang, sejadi-jadinya. Aku bisa lihat om irwan, papahnya janwar. Berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap bahu dan punggungnya. Dan sekarang hanya ada garis lurus dimonitor jantungnya.
Semuanya tampak semakin nyata. Salah seorang suster menarik selimut bewarna biru laut diatas tubuh janwar, lalu menutupnya.
Janwar meninggalkanku, aku rasa dia sudah pergi meninggalkan aku. Dia tidak lagi bergerak. Tubuhnya terbaring kaku.  Dan seketika aku mematung, nyawaku seperti ikut pergi dengannya beberapa saat. Dan akhirnya semuanya gelap dan lenyap.
*****
Aku kehilangan kesadaranku. Aku seperti tidak tahu ada dimana atau kapan aku berdiri. Semua otakku kaku. Aku tak sanggup bergerak sedikitpun. Tapi aku masih bisa mendengar suara teriakkan dan tangisan tante tiwi. Hawa duka langsung memenuhi kamar rumah sakit. Dokter dan suster kemudian meninggalkan kami untuk memberikan privasi.
    Aku berjalan perlahan, meskipun aku tak sadar kemana aku akan melangkah. Rasanya kakiku mrlayang diatas lantai. Kusibak selimut yang menutupi wajahnya. Tante tiwi yang masih menangis lalu memelukku. Dengan lembut kulepas pelukannya.
Aku menatap mata janwar yang menutup rapat. Kurasakan usapan lembut tangan tante tiwi dipunggungku. Tapi mataku tetap tertuju pada mata janwar, menunggu matanya terbuka dan kembali menatapku. Tapi semakin lama aku menunggu, luka dihatiku semakin nyeri.
Kugenggam tangannya, tangan itu jauh lebih dingin dari hari-hari kemarin. Dulu kugenggam tangan ini dan aku merasakan kebahagiaan yang luarbiasa. Sekarang, aku hanya merasakan sakitnya.  tangan itu tidak bereaksi. Tak memberi kehangatan dan kebahagiaan. Hanya ada rasa dingin yang sangat asing bagiku. Aku memanggil namanya, berharap dia akan membuka mata dan membalas genggaman tanganku. Berharap dia bisa memelukku sekali lagi. Tapi tuhan tidak mengizinkan,  ia la lebih menyayangi janwar sehingga janwar terlepas dari penderitaanya.
"Jan.. Bangun. Ini aku aisyah" kataku lembut dengan tersenyum. Tidak jawaban.
"Jan ayoo bangun, aku ingin bicara padamu. Kamu jangan becanda." kataku sekali lagi.
Airmataku mulai menetes.
"Jan... Banguuuuuuun. Ayo banguuuun. Hati ini hari ulangtahunku, apa kamu tak ingat? Kamu belum mengucapkan selamat padaku. Bangun jan.... " bibirku bergetar. Saat ini aku tak ada yang kuingin selain melihat janwar membuka matanya dan mendengarkan ucapan selamat ulang tahun untukku.
"JANWAR!! " aku mengguncang tubuhnya. Tapi wajah itu tetap kaku.
Tiba-tiba kak agung membalikkan tubuhku dan memelukku dengan erat. Kurasakan ketulusan kak agung padaku. Aku tak peduli dengan itu, aku masih terus menangis dan berusaha lepas dari pelukannya aku kembali menatap janwar. Kuguncangkan tubuhnya, berharap dia akan terbangun. Aku frustasi dan terus melakukan hal itu berkali kali, tetapi sepasang tangan menarikku dengan kuat. Kak agung melingkarkan kedua tangannya disamping kedua tanganku. Mengekang tubuhku sehingga aku tidak bisa menggapai janwar.
Aku meronta, aku ingin membangunkan janwar.
"Lepaskan, aku yakin dia hanya tertidur"
"JANWAR, BANGUN!  KAMU JANGAN DULU PERGI. KAMU JAHAT. KAMU SUDAH JANJI TIDAK AKAN PERGI KAN?" aku berteriak sekencang kencangnya. Kalau perlu sampai suaraku habis. Asalkan janwar terbangun.
Kak agung masih memelukku dari belakang dengan kuat. Fahri dan alviah yang tidak kusadari kedatanganya juga ikut menenangkanku.
"Lepaskan aku, kak!  Dia harus dibangunkan. Kk gak liat kalo dia hanya tertidur? Kalo dibangunkan dia pasti bangun kak...." aku memohon sambil terisak.
Kak agung tak bergeming. Dia tetap memelukku hingga akhirnya aku menyerah. Aku kelelahan dan dadaku terasa sesak.
"Dia meninggalkan aku, padahal aku sudah bilang. Aku belum siap dan tidak akan siap kehilangan dia."
Rasanya tidak kuat lagi menopang tubuhku. Suaraku bergetar.
"Dia belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.... "
Kak agung tidak menyahutiku. Dia tetap memelukku dan menopang tubuhku yang semakin lunglai.
"Kaaaak, janwar kak. Dia harus bangun. Bangunkan dia kak.."
"Sudah ais sudah cukup." suara kak agung terdengar lirih.
Ia mencium ubun ubunku. Aku bisa merasakan itu.
"Kamu harus siap. Dia selalu bilang seperti itu kan? Kamu harus merelakan dia meskipun itu sulit lebih baik dia pergi, dengan begitu dia bisa terlepas dari semua rasa sakitnya." kak agung berbicara dengan lembut. ia mengelus rambutku dan menyeka airmataku dengan tangannya.
"Enggak mau!!" aku terus mengulang katakata itu dan tetap menangis. aku tak kuat lagi menopang tubuhku hingga akhirnya aku terjatuh ke lantai. Kak agung mengangkat tubuhku ke sofa. Beberapa menit aku terdiam dan memandangi tubuh janwar. Tiba tiba aku merasakan ada cairan yang keluar dari hidungku. Aku menyentuh hidungku dan melihat cairan merah diujung jariku.
Aku sadar itu darah. Dan entah kenapa darah itu membuatku tersenyum. Membuatku berfikir bahwa semakin banyak darah ini keluar mungkin aku bisa mati dan menyusul janwar.
Kak agung terkejut melihat darah yang keluar dari hidungku. Aku mimisan semakin banyak, aku tertawa senang. Kutepis tangan kak agung yang mencoba menghentikan darah dari hidungku.
"Tidak usah dihentikan. Biarkan... Biarkan semua darah yang ada ditubuhku habis agar aku bisa menyusul janwar mati."
"Stop!  CUKUP AIS!!  Jangan seperti ini." bentak kak agung. Ia menatapku tajam.
Aku semakin menangis
"Tolong jangan seperti ini ais. Kakak tidak sanggup melihat orang yang kakak sayang bertindak bodoh seperti ini. Kakak mohon!"
Nafasku semakin tidak teratur. Kepalaku mulai sakit. Pandanganku berputar putar dan kabur. Aku masih sempat merasakan kaka agung menggendongku dengan kedua tangannya. Ia berlari keluar sambil memanggil suster. Dan semuanya menjadi gelap.

NEXT

Tidak ada komentar: