Rabu, 20 Desember 2017

Grey SunFlower part25

*GSF* part25
*

Pagi harinya aku bangun dengan mengucap syukur karena tuhan masih memberiku kesempatan untuk menghirup udara pagi. Sambil bersiap siap kuliah aku menerka kejutan apalagi yang akan kuterima hari ini.
Aku memandang kangit Amsterdam melalui kaca mobilku. Ini baru hari ketiga tapi aku sudah jatuh cinta pada warna abu-abu langitnya.
Aku tersenyum pada teman baruku dikampus sambil mengucapkan "Goede morgen" (selamat pagi)
Lalu saat kubuka pintu kelasku, aku terkejut oleh kehadiran seorang pria tampan yang sudah duduk didalam kelas. Dia mengenakan sweater abu-abu dan celana jins hitam. Paduan warnanya sama dengan pakaianku hari itu. Imaaal...
"Lhooo...?" aku duduk disebelahnya dengan raut wajah keheranan. Inikah kejutannya? Pikirku.
Dia menyunggingkan senyum manisnya.
"Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Kalau aku bilang secepatnya kita akan bertemu. Itu akan kutepati. "
"Kamu kuliah disini? Ambil arsitektur juga? "
"Bukan. Aku mahasiswa sains. Aku pikir kalau aku tidak mendatangimu, kamu akan sulit menemukanku dikampus sebesar ini."
Imal tertawa kecil.
"Nanti aku akan menemuimu lagi. "
Dia keluar dari kelasku tepat sebelum dosen masuk.
*****

Setelah kuliah selesai, kumasukkan laptopku kedalam tas. Aku menuju kearah luar. Tiba-tiba saja imal sudah berada didepan kelas dengan senyum sumringah.
"Yuuk pulang. " ajaknya santai. Melihat wajahku yang bingung dia kembali bertanya.
"Kenapa? Belum mau pulang?"
"Hah?  Emmm enggak. Bukan begitu. Hanya kaget saja kamu mengajakku pulang. Padahalkan kita baru kenal sehari yang lalu. Lagian aku bawa mobil kok. "
"Kebetulan hari ini aku gak bawa mobil nih. Kamu anterin aku pulang ya.. Kan aku sudah menolongmu kemarin. "
Godanya.
"Dasar pamrih. "
Imal terkekeh.
Aku hanya tersenyum.
"Yasudahlah... Nih kamu yang bawa. "
aku menyerahkan kunci mobilku padanya.
"Aku sedang malas menyetir lagipula aku tidak tahu jalan menuju rumahmu. "
Akhirnya dengan senyum mengembang ia setuju.
Aku tak banyak bicara karena sedang menghafalkan jalan kerumahnya.
"Kamu mampir saja dulu kerumahku. " ajaknya.
"Tidak usahlah... "
"Oh yasudah kalau kamu sibuk. Kalau begitu pertanyaan kamu aku jawab kapan-kapan saja yaa. Thanks untuk tumpangannya."
"Hah? Ehh iya deh, aku mampir. Tapi kamu harus jawab semuanya tanpa terkecuali." ujarku dengan mata melotot.
Dia mengangguk setuju..
***
Aku duduk di sofa abu-abu diruang tamu. Setelah aku perhatikan lagi rumah ini ternyata lumayan besar. Bagian wajah bangunan didesain transparan dengan jendela kaca yang besar. Aku bisa melihat pemandangan luar dengan leluasa walaupun berada di dalam rumah.
Sedang asyik-asyiknya melihat pemandangan, imal datang membawa  segelas susu.
"Ada jus gak?" aku memang tidak terlalu suka susu.
"Enggak ada. "
Dengan sedikit enggan aku meminum susu vanila itu.
Ternyata rasanya lumayan segar. Aku diam sejenak.
"Oke pertanyaan yang paling mengusikku. Kenapa tante tiwi tidak pernah cerita soal kamu? Aneh sekali. "
"Sebelum aku menjawab semua pertanyaan kamu. Apa aku boleh melihat foto janwar yang terakhir?"
Tanpa ragu kukeluarkan dompetku yang berisi fotoku dengan janwar.
Dia mengambil salah satunya dan menatap foto itu.
"Dia sahabat dan adik terbaik yang kupunya. Sayang penyakit itu merenggut nyawanya. Hanya dia yang mengerti apa yang kurasakan."
Imal menarik nafas panjang dan bersandar di sofa.
"Sudah lama aku tidak tinggal bersama mereka. Memang aku sudah tidak cocok lagi dengan mama dan papa tiriku. Ya, papa tiriku. Aku tidak pernah cocok dengannya. Dia selalu mencari masalah denganku. Dirumah kami selalu ribut. Dan mama selalu membelanya. Aku muak. Mungkin mama sudah terlalu benci padaku hingga menyinggung tentangku dihadapanmu saja dia tidak sudi. "
Imal terdiam sesaat dan menarik napas panjang lagi.

"Dulu kami hidup harmonis. Sampai pada akhirnya mama dan papa kandungku tidak cocok lagi dan memutuskan untuk berpisah. Mulanya aku memang tinggal dengan mama dan janwar. Tapi setelah kehadiran papa tiri, aku mulai tidak tahan dan memutuskan untuk pergi. Keadaan rumah yang semakin kacau membuat janwar sering sakit-sakitan sampai akhirnya di ketahui dia mengidap kanker otak. Janwar mencoba bertahan di rumah demi mama. Dia terlalu sayang pada mama. Dia rela diam dan memendam perasaanya. Sudah berulang kali aku mengajaknya pindah kesini, tapi dia tetap tidak mau. Walaupun akhirnya janwar cerita kalau ayah tiriku mulai memperbaiki sikap ketika tahu janwar sakit. Jadi aku berusaha mencari kebahagiaan sendiri disini dengan papa kandungku. "

"Terus papa kandungmu dimana sekarang? Kenapa aku hanya melihatmu saja disini?"
"Papa meninggal. Pada hari yang sama, tuhan mengambil dua orang yang sangat aku cintai. Dan sangat berat rasanya harus memilih salah satu dari pemakaman mereka untuk kuhadiri. "

   Aku menangis mendengarnya. Membayangkan rasa sakit yang imal alami pada saat itu. Jika aku berada diposisinya, Aku tidak akan mampu menjalani ini. Saat itu aku pikir, akulah orang yang paling menderita di dunia. Tapi ternyata orang disebelahku lebih punya luka dua kali lebih besar daripada yang kurasakan.
"Masih ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
Tanyanya sambik meneguk air putihnya.
"Banyak dan aku bingun harus memulai darimana. "
"Aku tahu semua yang kamu tanyakan ais. Dan aku berjanji akan menjawab semuanya. "
Imal berjalan menuju lantai dua, aku mengikutinya. Kami duduk diberanda kamarnya. Diberanda itu kami bisa menikmati suasana langit cerah dengan awan putih berarak. Rasanya tenang dan damai.
"Kamu terima doa dari janwar setiap hari?" tanya imal.
Aku menoleh kearahnya.
"Bagaimana? Doa-doa itu bisa menguatkanmu sehingga kamu berhasil sampai disini? Apa doa itu bekerja dengan baik? "
Aku mengangguk heran.
"Kok kamu tahu?"
"Aku yang kirim. Tapi doa itu janwar yang buat. Tugasku hanya mengirimkannya sehari satu untukmu. "
"Jadi semua itu janwar yang buat? Benar dia yang buat? "
Ia mengangguk.
"Janwar membuatnya sebelum dia meninggal. Dia mulai menulis saat kamu muncul lagi dalam hidupnya, saat kamu tahu dia sakit parah, kamu tidak tahu bagaimana sayangnya dia ke kamu ais. "
Imal tertawa kecil.
"Aku saja sempat cemburu. Karena tampaknya dia lebih menyayangimu dibanding kakaknya sendiri. Dia selalu cerita tentang kamu, gimana baiknya kamu, cantiknya kamu, tingkah laku kamu, semua tentang kamu. Kamu itu semangat dia untuk sembuh ais. Walaupun pada akhirnya semangat saja tidak cukup untuk mengusir penyakit sialan itu. "

Setiap kata yang keluar dari mulut imal membuka kembali luka dihatiku. Apa kamu tahu, kalau akupun sangat mencintai adikmu?
Imal melanjutkan ceritanya.

"Mungkin kamu tidak kenal siapa aku dan papa. Tapi aku dan papa kenal kamu lebih dari yang kamu tahu. Setiap hari yang kami bicarakan itu kamu. Sampai aku dan papa benar-benar merasa dekat dengan kamu.  Walaupun kami belum pernah bertemu dengan kamu. Apalagi waktu janwar kesini. Dia antusias sekali cerita tentang kamu. Ya tiga minggu terakhir yang kami punya hanya tentang kamu aisyah. "
   Aku baru ingat, dulu janwar memang sempat pergi selama 3 minggu keluar negeri dengan alasan berobat. Dia memberitahuku mendadak waktu itu, hanya sehari sebelum keberangkatannya. Dia bohong padaku, dulu dia bilang dia pergi ke singapura, ternyata dia pergi kesini. Pantas saja dia bersikeras agar aku tidak mengantarnya ke bandara.
"Apa kamu tidak curiga? Ketika janwar menyuruhmu untuk mengambil beasiswa di belanda? Padahal masih banyak beasiswa di universitas negara lain dengan program arsitektur yang tidak kalah bagusnya?"
"Iya... Aku sempat bertanya-tanya memang. Tapi menurut kamu aku bisbisa  mal? Aku mau tanya sama siapa?"
Tanyaku dengan sedikit kesal. Selama bersamanya, janwar memang selalu bersikap penuh misteri terhadapku.
Imal tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutku.
"Kasihan.... " Ejeknya.

Saat imal tertawa, suara tawanya, ekspresi wajahnya, kerutan di matanya, sangat mirip dengan janwar. Hatiku berdegup kencang. Tak kupungkiri, aku merindukan janwar saat ini. Andai yang dihadapanku memang janwar.

"Mulai hari ini kamu tidak akan kebingungan lagi ais. Aku jamin itu. "
Imal menatapku dengan tersenyum. Sementara aku mencoba mencerna setiap kata yang ia keluarkan dari bibirnya yang sempurna.
"Janwar memang sengaja mengarahkan kamu kesini agar kamu menemukan jawabannya. Dan jawaban itu adalah aku ais. "
Mataku terbelalak.

"Maksudnya? Janwar menyuruhku mengambil beasiswa kemari agar aku bisa bertemu dengan kamu?"
Ia mengangguk santai lalu meneguk kembali air putihnya.
"Hari ini adalah hari terakhir kamu menerima doa dari janwar. Semasa hidupnya janwar tidak bisa memberi apa-apa untuk kamu. Dan ais dengar,... "
Dia mendekatkan wajahnya ketelingaku.

"Aku akan mencintai kamu sama seperti adikku mencintaimu, bahkan lebih. " tuturnya.
Aku tertawa, keras sekali. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Bagaimana bisa kamu mencintaku, sedangkan kamu baru melihat dan mengenalku kemarin? Jangan ngaco. Jangan membuatku berharap pada sesuatu yang tidak mungkin. "
Imal hanya menjawab santai.
"Aku tidak pernah main-main dengan apa yang kukatakan. "
Lalu ia tersenyum...

NEXT

Tidak ada komentar: