Jumat, 01 Desember 2017

Grey Sun Flower Part8

*GSF* part8
.
Aku berjalan ke arah janwar.  Sakit di kakiku tiba-tiba menyerang kembali,  membuatnya sulit untuk digerakkan.  Tapi sakit itu tidak sebanding luka dihatiku.  Aku terluka melihat janwar yang lemah tak berdaya. 
Dia berbaring dengan banya slang di dadanya.  Alat bantu pernapasan menutupi sebagian wajahnya.  Jarum impuls tertancap dilengannya yang mulai mengurus,  wajahnya pucat seperti mayat.  Pemandangan itu sangat menyayat hatiku.  Tidak pernah sedikitpun terlintas dipikiranku akan bertemu janwar dalam keadaan seperti ini.  Bukan ini yang kuharapkan.
          Aku menutup mulutku dengan kedua tangan dan berusaha menahan tangis.  Kuhirup udara sebanyak mungkin.  Aku duduk disebelah kursi merah yang ada disamping tempat tidur.  Kupandangi dia sejenak.  Dia masih terlihat menarik walaupun kelebihannya itu hampir hilang dimakan penyakit.  Masih tak percaya pada yang kulihat,  masih beradaptasi pada rasa sakit yang begitu keras dan menghantam hatiku.  Airmataku mengalir deras.  Pandanganku kabur karena airmata yang tak dapat kubendung.
Perlahan kuturunkan tanganku dan kugenggam tangannya.  Aku berusaha mencari kehangatan yabg dulu ada ditangan ini.  Aku berharap mata itu akan terbuka.  Tapi tak ada reaksi sama sekali ----_____----  Walaupun dari monitor terlihat detak jantungnya menjadi lebih cepat.
Airmata lahi lagi mengalir dipipiku.  Kemana tangan hangat yang dulu pernah ku genggam?
Aku mengelus rambutnya yang hitam,  rahangnya yang tegas membuatku semakin sakit ketika melihatnya.  Pipinya sangat dingin sekali.  Kugenggam tangannya lebih erat.  Berharap tangannya bisa sedikit lebih hangat.
****
"Aku kangen sama kamu.. " suaraku terdengar lemah dan bergetar.  Aku benar benar takut kehilangan dia.  Aku menarik tanganku dari tangannya.  Langsung kututupi wajahku dengan kedua tangan.  Tak terasa air mataku mengalir lagi.  Kubenamkan wajahku kedalam pangkuannya. 
Aku tidak mau janwar mendengarku menangis. Aku kesini untuk memberi dia kekuatan.  Bukan menjadi gadis cengeng yang hanya bisa menangis melihat keadaannya. 
Tiba tiba aku merasakan sebuah tangan lain menyentuh dan menarik tanganku.  Tangan dingin yang tadi sempat kugenggam.  Aku membuka mataku perlahan.  Tak percaya dengan yang kulihat,  tapi ini benarbenar terjadi.  Janwar menatapku.  Tuhan mendengar doaku!!!
Tapi sedetik kemudian mata itu tertutup lagi,  walaupun dia belum melepaskan genggamannya yang kuat.  Mungkin dia sedang menahan sakit yang menyiksa.  Lama kelamaan tangannya terlepas dan dia kembali tidur.
     Aku seperti terluruk lagi.  Ingin rasanya mengguncangkan tubuhnya agar dia terbangun.  Tapi tentu saja itu beresiko. Aku hanya mampu menatap wajahnya.
"Mbaak...  Mbaaakk harus keluar.  Jam besuknya sudah lewat.  Sekatang waktunya passien istirahat.  Sebaiknya mbak pulang dan istirahat dirumah.  Besok mbak bisa datang lagi kesini. " rupanya suster jaga.  Aku menggeleng.
"Tapii mbaaaakk... " bujuk suster itu sekali lagi.  "Enggak mauuuuu... " bentakku.
Suster itu mulai memegang bahuku. "Maaf sekali lagi mbak..  Saya mengerti perasaan mbak.  Tapi mbak harus mengikuti peraturan.  Passien ini butuh istirahat. "
Jelas suster itu dengan tegas.
"Gak mau,  sus!!" aku sedikit berteriak,  sambil menarik bahuku.  Lagi lagi airmataku mengalir.  "Saya mau disini sus,  sa...  Saa...  Saya mau nemenin dia,  sus.  Tolong jangan suruh saya keluar,  saya mohon.. " ujarku terbata bata.  Aku tidak sanggup kalau harus meninggalkan janwar malam ini.  Karena saat ini aku sadar,  aku sangat menyayanginya.
Suster itu tertegun melihat reaksiku.  Sementara itu,  tante tiwi masuk dan kaget melihat keadaanku.  Dia langaung menghampiri kami.  "Ehhmmm..  Suster.  Bisa kita bicara sebentar?" tante tiwi mengajak suster itu sehingga menjauh dariku.  Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.  Wajah tante tiwi memperlihatkan ekspresi memohon saat berbicara dengan suster muda itu.  Tidak butuh waktu lama lagi tante tiwi untuk meyakinkannya
Suster cantik itu akhirnya kembali ke meja kerjanya.  Sedangkan tante tiwi berjalan ke arahku.  Dia menatapku dengan sorot mata lembut. "Jangan menangis,  ais.. " katanya menenangkan.  Aroma tubuh tante tiwi lembut seperti ibu.  "Maaf tante.  Seharusnya ais tidak bersikap seperti ini.  Aia tahu ais tidak boleh cengeng.  Ais seharusnya juat seperti tante."
"Tidak ais..  Tante tidak sekuat seperti apa yang kamu bayangkan. " dia mengelus punggungku dengan lembut.  "Tante hanya menahannya.  Dan tante mau kamu juga melakukannya.  Lakukan untuk janwar.  Dia tidak boleh tahu kalau kita bersedih. Kita disini justru untuk memberinya kekuatan,  bukan menangisi keadaanya.  Itu akan membuatnya semakin lemah,  ais.. "
Tante tiwi menggenggam tangaku. "Tante sangat berterimakasih kamu sudah datang.  Tante tahu kamj akan membawa kekuatan yang besar untuk anak tante.  Kamu bisa berada disini selama yang kamu mau,  ais"
Tante tiwi mengusap pipiku yang basah oleh airmata.
**
Aku berbalik menghadap janwar kembali setelah tante tiwi keluar dari ruangan.
"Aku mohon,,  kamu harus bangun.. "
Janwar tak bereaksi.  Apa yang harus kulakukan agar dia membuka matanya.  Semua yang ada didepan mataku saat ini membuatku tak bisa berfikir jernih.  Aku tak bisa memikirkan apa apa tentang janwar.  Aku menatapnya,  meskipun penyakit telah menggerogoti tubuhnya.  Dia tetap orang yang kusayangi.  Bagiku dia tetap tampan dan perasaanku padanya tidak aka berubah.
Saat aku nyaris terlelap.  Suara langkah kaki seseorang membangunkanku.  Ya tuhan.  Itu kak agung.  Aku tahu dari aroma farfumnya.  Aku hampir melupakan kak agung,  tapi dia masih setia menungguku.
Sekarang dia berdiri disampingku.  Sejenak dia diam.  Mataku masih kupejamkan karena aku memang merasa letih dan enggan pergi dari siai janwar.
Tak beberapa lama kemudian,  aku merasakan tangan kak agung dibahuku.  Tiba-tiba saja aku sudah diangkatnya. Aku jelas kaget dan ingin menyuruhnya segera menurunkanku.  Tapii...  Dia sahabatku dan aku tak ingin mengecewakannya.  Apalagi aku sudah menghancurkan rencana yang sudah ia siapkan untuk menyatakan perasaannya.  Dia juga sabar menungguku. Dan sekarang dia membopong tubuhku.  Padahal aku tahu,  dia pasti sangat lelah.  Jadi mana mungkin aku tibatiba membuka mata,  menyuruhnya menurunkanku kaku memintanya pukang begitu sasaja setelah apa yang sudah ia lakukan padaku hati ini,  aku tidak tega..
Tapi tiba tiba..  Dia menurunkanku disebuah kursi. "Ais..  Aiss,  bangun. "
Aku pura-pura tidur dengan pulas.
"Aiss bangun.. " tangannya menyentuh pipiku.  Aku membuka mataku.
"Mmm iyaa..  Aku dimana? "
"Ayo kita pulang,  kamu harus istirahat. "
Aku tidak bisa menolak permintaannya.  Aku hanya mengangguk walaupun sebenarnya aku tidak ingin pulang.
Setelah sampai dirumahku.  Aku masih setengah sadar.  Dia mengantarku masuk kedalam rumah.
"Ais kenapa,  nak? "
Tibatiba  aku mendengar suara ibuku.
Aku benar benar lelah.  Sampai aku tak dapat melihat jelas dimana  ibuku berada. 
"Ais syok bu.  Dia kelelahan karena mendengar temannya yang sakit parah. "
"Oohh iya iya.  Terimakasih sudah mengantar ais.  Tolong baringkan dia dikamarnya saja. "
"Iya bu.   Dia terlihat sangat kelelahan. "
Dia membaringkannku diatas tempat tidur.  Aku masih menutup mata.  Dengan hatihati kak agung membuka sepatuku lalu mengusapkan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat.
Mengapa kak agung begitu baik padaku?
Aku ingin mengucapakan banyak banyak terimakasih padanya.  Tapi mataku ini sangat berat untuk terbuka.  Setelah selesai mengompresku.  Dia menerapkan selimut.  Tibatiba ada yang hangat menyentuh keningku. 
"Maafkan kakak,  ais.  Kakak mencintaimu. "
Suara itu begitu gema terdengar.  Lalu dia pergi meninggalkanku keluar...

NEXT

Tidak ada komentar: