*GSF* part50
Seminggu telah lewat. Tapi kak agung belum juga sadar.
"Dok, Kak agung kenapa? Sudah seminggu dia dalam keadaan tak sadar. Apa ada yang salah dengan operasinya? Atau dia punya penyakit lain?"
"Kami juga sedang berusaha. Tidak ada yang salah dengan ginjal dan operasinya. Semuanya dalam keadaan baik. Tapi entah kenapa dia belum sadar juga. Sepertinya ada sesuatu yang menghambat kerja otaknya, semacam stres atau ada yang sedang dia pikirkan. "
Aku menarik napasku panjang. Keadaannya semakin hari semakin buruk. Aku merasa tidak berguna. Aku kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhku di sofa. Lalu kupejamkan mata. Saat aku bingung dan sedih, aku tahu janwar pasti akan datang dan memberitahu apa yang harus kulakukan.
*****
Aku tidak bertemu janwar di ladang bunga matahari, tapi di pinggir sungai saat terakhir bertemu dengan imal. Aku sempat mengira sosok yang kutemui itu adalah imal.
Aku duduk disebelahnya sambil memeluk lututku. Aku menoleh dan memandang wajahnya dari samping. Bertanya sekali lagi apakah itu janwar atau imal. Aku baru sadar, aku belum menemukan perbedaam fisik diantara mereka, kecuali sifatnya.
Dia memandang lurus ke arah sungai.
"Aku janwar Ais.... "
Dia berkata lembut seakan bisa membaca pikiranku.
"Apa Kak agung belum bangun juga? " tanyanya.
Aku menggeleng.
"Dia memang belum mau bangun. Dia masih betah berada disini. "
"Dia disini? Dimana? " tanyaku kaget.
Janwar tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya memandang sebuah rumah kecil yang ada ditepi seberang sungai yang cukup jauh. Aku mengikuti arah pandangannya.
Disana kulihat kak agung sedang berdiri. Bisa kulihat wajahnya yang tampak muram dan putus asa.
Aku langsung berdiri baru saja aku mau melangkahkan kaki, janwar menarik tanganku dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar aku duduk kembali disebelahnya. Dengan heran aku duduk kembali diatas rumput yang dingin.
"Tapi aku ingin menghampirinya jan, aku ingin mengajaknya pulang bersamaku. "
Janwar tersenyum kecil tanpa melihatku.
"Dia akan pulang kalau dia ingin. Kalau dia belum sadar, berarti dia belum mau pulang. Kamu harus bersabar. " janwar lalu terdiam.
Aku terus memandang kearah kak agung. Sepertinya dia tidak sadar akan kehadiranku
"Apa yang membuatnya tidak ingin pulang? Apa dia tak ingin aku disampingnya? " aku bertanya dengan putus asa.
"Justru kamu yang memberi dia kekuatan untuk bernapas sampai sekarang. Dengan kamu disampingnya, dia jadi tahu bahwa masih ada orang yang membutuhkan dia. "
Janwar terdiam lagi.
"Tapi dia tidak mau hanya kamu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Dia ingin melihat adiknya, orang yang menyelamatkan hidupnya. "
Aku berpikir sejenak. Mencerna setiap kata-katanya.
"Dimana aku bisa menemukan imal, jan? "
Ia mengacak-acak lembut rambutku.
"Kamu akan menemukan dia dengan sangat mudah aisyah. Tapi kamu hatus berpikir dengan baik dan cepat. Aku takut kak agung mulai jatuh cinta dengan tempat ini dan tak mau lagi kembali bersmamu. "
****
Aku terbangun dari mimpiku.
Secepatnya aku mencari dokter fajrul untuk menanyakan lagi keberadaan imal.
"Dok saya harus tahu keberadaan imal. Tolong dok. "
Dokter muda itu tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
"Tidak bisa ais. Itu sudah jadi permintaannya. "
"Tapi dok... " aku memohon.
Dokter fajrul tampak berpikir keras.
"Begini saja, kamu bilang sama saya apa yang ingin kamu katakan pada imal. Nanti saya sampaikan padanya. "
"Okee.. Saya mau dia datang kesini. Dia harus datang kesini karena kak agung tidak akan bangun kalau tidak ada imal di sampingnya. Saya yakin itu. Saya mohon.. "
"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa Dr. Agung tidak akan bangun kalau tidak ada imal? "
"Percaya sama saya dok. Hanya imal yang bisa membuat kak agung adar. "
"Oke.. Tenang. Saya akan beritahu dia. Saya akan yakinkan dia untuk datang. "
***
"Bagaimana keadaan Agung? " tanya omma menuangkan susu kedalam gelasku.
"Belum ada kemajuan oma. Masih seperti kemarin. Imal belum datang juga. Aku juga tidak tahu apakah imal akan datang atau tidak." aku menatap gelasku dengan sedih. Ini sudah dua minggu. Dan akak agung belum juga sadar.
Oma mengelus rambutku.
"Kamu harus yakin, imal pasti datang untuk kakaknya. "
Aku tersenyum lalu mengahabiskan susuku dengan cepat dan pergi ke kantor.
Sudah seminggu ini aku mencari imal. Aku datang ke rumahnya, tapi kosong. Aku juga mencari ke restoran tapi dia tidak ada. Menurut om ikbal imal tidak pernah datang lagi ke restoran. Aku juga mencarinya ke vila tempat kami berlibur dulu. Siapa tahu dia beristirahat disana. Tapi nihil. Begitu juga kantornya, tidak ada petunjuk sama sekali.
Aku mulai putus asa. Aku yakin dia tidak mau menemuiku lagi karena aku meninggalkannya.
Dari kantor aku langsung meluncur ke rumah sakit. Ini juga sudah menjadi rutinitasku sejak hampir dua minggu ini. Saat berjalan di koridor RS aku berharap semoga ketika aku membuka pintunya dia sudah terbangun, selalu itu harapanku.
Setelah ribuan doa ku kirim, ternyata tuhan mengabulkan doaku hari ini. Ketika aku membuka pintu ruangan kamarnya, kak agung sudah sadar, bahkan ia bisa duduk diranjangnya dan tersenyum padaku.
Aku sampai kaget. Beberapa kali aku mengerjap karena takut yang kulihat bukan halusinasi. Ternyata semua yang kulihat ini nyata.
Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Akhirnya kamu bangun kak.. Aku pikir kamu sudah mencintai tempat yang cantik itu dibanding aku. "
Kak agung tersenyummia menatapku kemudian memegang wajahku dengan kedua tangannya yang kurus.
"Terimakasih... Terimakasih sudah membuatku bangun. "
Ia mengecup keningku.
"Apa yang bisa membuatmu terbangun kak? Aku yakin betul bukan karena aku. Karena jika aku yang menjadi peyebabnya, seharusnya kamu sudah bangun sejak dua minggu yang lalu. "
Wajahku penuh harap. Berharap imal datang kesini. Kak agung tersenyum lalu melepaskan kedua tangannya dari bahuku.
"Seharusnya imal belum jauh dari sini. Kakak rasa kamu bisa mengejarnya. Dia tampak kurang sehat. "
Kak agung kembali bersandar di tempat tidurnya., berusaha rileks.
Perasaanku benar-benar lega. Aku memberikan sebuah senyuman pada kak agung sebelum akhirnya keluar untuk mencari adiknya.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar