*GSF* part16
Doa dari surga
*
Aku berdiri ditengah ladang bunga matahari. Bisa kucium aroma harum matahari yang segar dan menguatkan keluar dari bunga yang mengelilingiku. Membuat rasa sakit hilang sejenak. Sebenarnya aku dimana? Aku berjalan, berputar-putar, sendirian, mencari orang lain. Tapi aku tak menemukan apa-apa. Tempat ini murni hanya ada bunga matahari yang tinggi dan tidak ada habisnya. Langit mendung menghembuskan angin yang menyegarkan paru-paru. Tiba-tiba aku mendengar suara janwar dari kejauhan. Aku terdiam dan membisu. Mencoba mempertajam pendengaranku. Aku takut itu bukan suara janwar, tetapi suara bunga matahari yang bernyanyi untuk menghiburku. Sampai kudengar kembali suara itu, suara yang terdengar jauh sekali. Aku berlari, mencari darimana suara itu berasal. Suara itu terus memanggil namaku, menuntunku kearahnya, aku terus berlari lama dan jauh sekali rasanya.
Sampai aku melihatnya dibalik bunga matahari besar dan tinggi. Aku berlari dan meraihnya. Kupeluk dirinya seerat yang kubisa. Menumpahkan semua rasa rindu yang aku punya. Dia membalas pelukanku dengan erat. Mengangkat wajahku agar sejajar dengannya. Dia tersenyum. Aku menatap wajahnya, berharap wajah itu akan selalu ada dihadapanku. Dia menggenggam tanganku, mengajakku berjalan diantara kuningnya bunga matahari.
Ia memakai kaus warna putih. Dengan celana dan baju yang putih lembut. Dia tak lagi kurus, tidak seperti orang sakit. Wajahnya tak lagi pucat seperti waktu itu. Ia seperti terlahir kembali. Aku baru sadar akupun menggunakan baju bewarna putih.
"Kamu cantik, ais."
"Pakaian surgamu juga membuatmu sangat tampan jan." timpalku. Aku bisa melihat senyum terindahnya. Dia tak mengatakan akan dibawa kemana aku, sampai akhirnya aku mendapat jawaban. Kami sampai disebuah lahan kosong ditengah ladang bunga matahari. Tampak bunga bunga kecil liar tumbuh disini. Ditengah lahan itu ada piano gitar biola. Para pemainnya terdiri atas wanita cantik dan pria tampan dengan pakaian yang mengagumkan.
Apa mereka malaikat yang diajak janwar kemari? Mereka semua tersenyum padaku. Janwar mengajakku ke meja kecil yang berwarna putih. Diatasnya ada kue ulangtahun.
Ia memelukku. "Selamat ulangtahun Aisyah Aliskandar, I LOVE YOU. "
Aku hanya bisa diam, ia melepaskan pelukannya.
"Tiup lilinnya dan ucapkan keinginan."
Aku mendengar lagi classic mengalun lembut dari alat-alat cantik diladang itu. Aku meniupnya setelah mengucapkan keinginan dalam hatiku. Keinginan kecil. Aku hanya berharap hari ini tidak cepat berakhir.
Ia mengulurkan tangannya. Dia memberikan tatapam yang sangat lembut, tatapan yang menguatkan hatiku, yang untuk sejenak, menutup lubang hatiku.
"Aku mencintai kamu ais, aku akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun. Kamu tidak perlu menangis untukku. Yang perlu kamu lakukan hanyalah hidup dengan baik. Kamu akan hidup bersama doa yang kukirim melalui malaikat kecil. Aku tidak akan sepenuhnya pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu tanpa meninggalkan sesuatu. Kamu akan tersenyum menghadapi hari. Kamu akan merayakan ulangtahunmu dengan senyuman dan hadiah paling indah dari orang sekitarmu. Aku akan melihatmu memakai gaun pengantin, menikah ditempat yang suci. Aku akan mendengar tawa anak anak kecilmu yang cantik dan tampan. Aku akan melihat rambutmu memutih. Aku akan melihat kamu menggendong cucu kecilmu. Tidak ada yang terlewat olehku, ais. Tidak satupun. Aku akan ada disitu. Saat kamu tertawa, saat kamu menangis. Aku akan selalu ada untukmu. Telah ada seseorang yang tuhan siapkan untuk menemani hidupmu untuk menuju surganya. Tapi yang jelas itu bukan aku. Tugasku sudah selesai hari ini, berbahagialah bersamaku sampai hari ini usai.
Dan ais...... " ia mendekatkan mulutnya ketelingaku. Ia harum sekali.
"Selamat ulang tahun." aku tak bisa berkata apa apa. Aku begitu sibuk menahan airmataku.
******
Aku terbangun dari mimpi indahku dan kembali kedunia nyata. Kembali kerasa sakit yang menyiksaku. Meskipun begitu aku bersyukur karena janwar telah memberiku satu hari indah. Ia memberi ucapan selamat ulangtahun yang paling berkesan yang pernah kudapatkan.
Aku mengambil foto papa kandungku.
"Pa, apakah papa sudah bertemu janwar? Dia tampan kan pa?" ucapku lirih.
Airmataku menetes lagi. Sudah dua minggu sejak kepergiannya dan aku hanya bisa menangis. Aku merasa aku hanya gadis lemah yang tak mampu menghadapi takdir. Maafkan aku jan. Aku tidak melaksanakan nasihatmu. Selama ini kamu memintaku untuk bisa menghadapi takdir dengan hati yang lapang. Tapi nyatanya, hati ini tak cukup lapang untuk menerima kepergian kamu. Ternyata aku masih belum siap, ternyata aku masih banyak berharap. Dan harapanku sendirilah yang membuatku terpuruk sampai sedalam ini.
"Ais, ada alviah diluar, dia ingin bertemu kamu." suara ibu membuatku terkejut.
"Oohh suruh masuk ke kamar ais aja bu." buruburu kuseka mataku yang agak basah. Tidak lama setelah itu alviah masuk ke kamarku. Kemudian langsung menarik dan membawaku ke kamar mandi.
"Eehh.. Eehh apaaan sih lo?"
"Mandi buruan temenin gue jalan jalan."
"Lo udah gila ya? Lo pikir gue bisa jalan jalan dalam keadaan seperti ini? Gak punya hati banget sih."
"Justru karna lo kaya gini gue ajak lo jalan jalan. Udah dua minggu lo menutup diri. Lama lama jamuran baru tahu rasa. Ayooo ais.. " rengeknya.
Aku tak kuasa menolak.
"Kita mau kemana sih?" tanyaku.
"Udah lo ikut aja, nanti juga tahu kok." alviah meminta izin pada ibuku.
"Bu alma, alviah mau ngajak ais keluar dulu ya.."
"Oohh iya nak, hati hati yaa.."
.
NEXT
Sabtu, 09 Desember 2017
Grey Sun Flower part16
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar