*GSF* part51
Aku berlari di lorong rumah sakit. Mataku terus menyisir setiap senti yang kulewati. Sampai akhirnya aku menemukannya. Imal sedang duduk disana. dipinggir taman rumahsakit. Dia menunduk sambil memegang kain kecil yang ia tutupkan ke mulutnya. Aku berjalan pelan kearahnya. Aku takut dia langsung pergi ketika melihatku tiba-tiba. Perlahan ku duduk disebelahnya. Imal belum menyadari kehadiranku. Sepertinya dia setengah tertidur. Aku mengulurkan tanganku dan menarik lembut tangannya yang sedang menutupi mulutnya. Aku begitu terkejut ketika kulihat ada bercak darah segar dikain itu. Dia juga tampak kaget dengan kehadiranku. Tapi tidak ada tanda tanda dia akan pergi.
Wajah imal terlihat sangat pucat. Kontras dengan bibirnya yang merah karena sisa darah tadi. Badannya mengurus dan tangannya sedingin udara pagi ini.
"Mal, kamu sakit? " tanyaku cemas.
"Aku tidak apa-apa ais. Aku tak sengaja menggigit bibirku sendiri. Ternyata aku jauh lebih kuat dari kakakku. "
Dia tersenyum mengejek.
Aku bisa merasakan airmataku mulai mengalir dipipi. Mungkin karena aku begitu merindukan dia. Dia tampak tidak terkejut sedikitpun ketika melihatku menangis. Dia hanya tersenyum dan menarik tubuhku hingga menempel dengan dadanya.
"Menangis akan membuatmu lelah, sayang. Jangan membuat dirimu terlalu lelah. Karena kamu tak akan sanggup menjalani hidup jika kakimu sendiri kelelahan dan tak mau berdiri. "
Aku semakin terisak. Dia menepuk punggungku seperti seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya.
"Imal, jika kamu ingin aku tetap disampingmu, aku akan lakukan itu. Sudah lebih dari cukup apa yang telah kamu lakukan selama ini, dan tidak ada alasan bagiju untuk tidak disampingmu. "
Aku berkata sejelas yang aku bisa. Aku ingin dia tidak melewatkan sedikitpun apa yang kukatakan.
"Ada. Apa kamu punya alasan untuk tidak disampingku? " imal menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Kakakku terus menunggu kamu sampai detik ini. Dia tidak akan pernah berhenti mencintaimu ais. Dialah alasan aku dan kamu bisa ada disini. Dia alasan mengapa kamu masih tetap tinggal disini. "
Imal melepaskan pelukannya lalu berlutut dihadapanku. Ia menatapku dalam sekali.
"Apa kamu tahu? Betapa sakitnya aku ketika aku sadar bahwa seharusnya bukan aku yang ada disamping kamu? Bukan aku yang bisa memberikan kebahagiaan yang utuh buat kamu ais, bukan! Bukan aku yang bisa menemani hidup kamu. Rasanya ingin mati ketika aku menyadari hal itu. Tapi tugasku sudah selelsai, sayang. Memberimu kenangan terbaik melalui wujud yang sama dengan janwar. Dari awal janwar memang tahu bahwa aku bukan untuk kamu. Tugasku hanya untuk menggantikan dia selama beberapa waktu. Karena malaikat yang sebenarnya tuhan kirim adalah kakakku. "
Imal terdiam sejenak. Setetes airmata mengalir dipipinya yang bersih. Ia meletakkan tangan kananku diwajahnya.
"Aku akan jadi sahabatmu aisyah. Aku akan selalu mencintai semua yang ada dalam diri kamu. Tidak ada yang berubah dengan hatiku. Dan meskipun aku tahu dihati kecilmu hanya ada Kak Agung. Bukan yang lain, bukan janwar ataupun aku. Tapi perasaanku padamu tidak akan berubah. Kemarin, hari ini, besok Dan seterusnya tidal akan Ada yang berubah. Aku akan uterus menjadi seseorang yang mencintai kamu, meskipun kamu sudah bahagia dengan kakakku. "
Aku memeluk tubuhnya yang masih berlutut dihadapanku.
"Tugas kamu bukan hanya menggantikan posisi janwar. Bukan. Karena kamu sudah menjadi seorang imal muzammil yang memberiku semangat dan keceriaan. Kamu orang yang spesial mal. Kamu orang yang berarti. Dan dihatiku masih ada cinta. Cinta yang sama seperti kamu, yang hari kemarin, hati ini, esok dan seterusnya tidak akan berubah. Aku simpan di ruang yang tidak tersentuh siapapun. "
Aku mengusap punggungnya. Lalu perlahan ia berdiri sambil tetap memegang tanganku.
"Aku mamau pulang. Aku mau pergi ke tempat yang aku bisa mencari napas baru. Mungkin kamu tidak akan bertemu denganku dalam waktu yang cukup lama. Tapi suatu hari kita bisa bertemu. Mungkin dipernikahan kamu dan kak agung. Itu janjiku. "
Imal terkekeh. Aku membalas tawanya. Dan diapun berlalu. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh.
"Hidup ini akan menjadi doa untukmu mal. " bisikku dalam hati.
Aku kembali menyusuri lorong rumah sakit. Kuhapus sisa airmata dipipiku. Mulai sekarang hanya ada senyuman untuk mereka yang menyayangiku.
Kupandangi pintu kamar kak agung. Mulai sekarang, aku akan memberitahunya bahwa aku akan mencintai dia selama sisa hidupnya. Aku menarik napas panjang lalu membuka pintu dengan tersenyum.
Kak Agung tersenyum manis padaku. Mungkin dia juga sudah menyiapkan diri dan hatinya.
"Bagaimana? " tanyanya waswas.
Aku menghampirinya. Lalu kupeluk tubuhnya dengan erat.
"Mulai detik ini, sampai kapanpun aku akan selalu disamping kamu kak, karena aku mencintaimu. "
Dia memelukku lebih erat.
"Dan kamu juga harus tahu. Dulu, cintaku hanya sebuah cinta seorang anak kecil pada anak perempuan yang bermain dihadapannya. Hingga anak itu besar dan menyadari, ternyata laki-laki itu tidak pernah berhenti mencintai anak kecil itu. Bukan hanya cinta pada wajahnya, tapi juga hatinya, senyumnya, dan semuanya.
Semuanya membuatku terus jatuh cinta padamu ais...
Sampai detik ini, besok, lusa dan selamanya. "
NEXt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar