Kamis, 08 Desember 2016

dibawah langit senja

Lulus Moderasi 28 November 2016 DI BAWAH LANGIT SENJA Di bawah langit senja aku berdiri. Sebentar lagi keindahan cakrawala kembali hadir. Tak berapa lama, semburat warna jingga mulai menerpaku. Ku pejamkan mataku erat. Ku sampaikan pesanku kepada langit bertabur warna jingga. “Dan aku tak akan pernah lelah untuk menunggu kebahagiaan yang akan menyapaku nanti. Bersama langit senja, aku mampu berdiri. Mewujudkan impianku dan membahagiakan Ayah yang sedang menatapku di atas sana,” bisikku kepada senja. “Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berdiri dengan melipatkan tangan di depan dadanya membuatku sedikit kaget. “Aku Muhammad fachri Rainaldy putera, panggil saja fachri,” dia mengulurkan tangan ke arahku. “Sedang apa kau di sini?” ulangnya. “Oh, hai, aku Jingga Permata Putri, panggil saja Jingga,” ku balas uluran tangannya. “Menikmati senja,” jawabku kemudian ku alihkan pandanganku menuju gelombang ombak bergulung-gulung di laut biru sana. “Aku tinggal di kampung sebelah. Sekolah di mana?” kemudian langkahnya mulai menjajariku. Lalu kita duduk di atas pasir putih ditemani deru angin yang meraung. “Aku tinggal di kampung ini. Di SMA Wijaya,” jawabku yang membuatnya sedikit terkejut. “SMA Wijaya? Aku alumni sekolah itu. Sekarang aku melanjutkan studiku di Taiwan,” jawabnya sembari tersenyum. Langit mulai gelap. Hingga aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Sesekali wajah tampannya kembali memenuhi otakku. Mengingat wajah tampan Kak fachri membuatku merasa aneh. Ada rasa menggelitik yang aku sendiri tak tahu apa itu. Segera ku tepis bayangannya. Rasa kantuk mulai menyambar. Sehingga membuatku terlelap bersama bayangannya. Sebulan ku habiskan waktuku bersama Kak fachri. Setiap sore kita berdua menikmati indahnya senja. Tak jarang pula kita jalan bareng. Kedekatan ini mengusikku. Setiap kali bersamanya, ada perasaan aneh yang membuat degupku tak karuan. Ada rasa hangat yang menyambar. Ada rasa nyaman yang teramat sangat. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Yang ku tahu, aku hanya merasa bahagia saat bersamanya. “Hampir setahun aku tak bisa menikmati indahnya senja di Taiwan. Pada dasarnya, senja terindah adalah di sini,” kemudian dia menyesap kopi yang sempat dia bawa. “Kapan mau balik ke sana Kak?” tanyaku sembari memeluk kedua lututku. Entahlah, sore ini angin lebih kencang dari biasanya. Sehingga rasa dingin menusuk kulitku. “Mungkin seminggu lagi dek,” jawabnya kemudian menoleh ke arahku. “Ini pakailah, daripada masuk angin,” ia melepas jaket abu- abunya kemudian memakaikannya untukku. Perlakuannya ini membuat rona merah pada pipiku. “Yah, seminggu lagi? Lantas, siapa yang menemaniku menghabiskan waktu bersama senja?” raut kecewa terlihat jelas dalam wajahku. Sejujurnya, aku tak ingin jauh darinya. “Hei, ada apa denganmu? Aku tak akan ke mana-mana. Aku akan selalu ada untukmu,” kemudian dia mengusap rambutku layaknya anak kecil. Degupku semakin tak karuan. Lalu, dia mencubit pipiku yang membuatku cemberut. “Kalau cemberut gini, kamu makin cantik deh,” kemudian tertawa renyah. Aku memalingkan wajahku. Berusaha menyembunyikan rona merah pada pipiku. Mentari menyapaku dari ufuk timur. Disambut oleh burung-burung yang berterbangan bernyanyi gembira. Embun yang membasahi dedaunan membuat hawa cukup sejuk. Ditambah angin pagi yang berlalu lalang menambah ketenteraman di pagi ini. Hari ini, Kak fachri akan kembali ke Taiwan. Aku akan mengantarkannya ke bandara. Ada rasa sedih dan kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Di dalam perjalanan, aku hanya diam. Ku lihat ternyata Kak fachri mencuri pandang ke arahku. Linda, adik Kak fachri hanya mengamati kediaman kami berdua. “Kalian bertengkar? Tak seperti biasanya,” ucap Linda yang membuatku cukup gugup. “Adek, jangan sok tahu ya,” jawab Kak fachri kemudian mengacak-acak rambut Linda yang membuatku tersenyum. “Jaga diri baik-baik di sana, jangan nakal,” ucap mama Kak fachri. Kak fachri menganggukkan kepala kemudian memeluk wanita itu. “Adek, jangan nakal ya. Jaga Mama baik baik. Titip kak Jingga ya buat Kak fachri,” ucapnya. kemudian memeluk adik semata wayangnya itu. “Baik-baik di sana Kak, jaga kesehatan,” ucapku kepadanya kemudian aku mengulurkan sebuah kotak berwarna jingga kepadanya. “Kamu juga ya, aku akan merindukanmu Jingga,” kemudian langkahnya menjauh dari kami. Sebulan sudah dia meninggalkanku di sini. Seminggu terakhir ini dia tak menghubungiku lagi. Ada rasa rindu yang menyeruak dalam dada. tenggelam dalam lautan asmara yang tak bertepi. Di sinilah aku. Duduk di atas pasir menunggu kembali datangnya senja. Lambaian pohon kelapa yang diterpa deru angin menjadi saksi kehampaan hatiku saat ini. “Kak Jingga, Linda boleh duduk?” suara Linda mengagetkanku. Kemudian dia duduk di sebelahku. “Kak fachri apa kabar?” tanyaku memecah keheningan. “Baik katanya,” jawabnya yang singkat membuatku sedikit bingung. “Apa yang kamu pikirkan?” lanjutku. “Kak fachri beberapa bulan lagi akan pulang,” jawabannya membuatku semakin bingung. “Bukannya kamu senang kalau Kakakmu pulang?” tanyaku menyelidik. “Dia pulang dan membawa calon tunangannya yang kebetulan sekampus dengannya. Dia anak Surabaya. Dan aku selalu berharap kalau pada akhirnya Kak fachri bisa jadian sama Kak Jingga,” rasanya aku mendapat tamparan yang sangat keras. Ada rasa sakit yang menjalar dalam tubuhku. Lebih tepatnya dalam hatiku. Tunangan? Secepat itukah dia melupakanku? Sesakit inikah yang ku peroleh? Setelah memendam rasa yang pada akhirnya hati ini tak akan berlabuh kepada pemiliknya? “Kak Jingga sayang kan sama Kak fachri? Kak jingga cinta kan sama kak fachri” aku hanya terdiam. “Jawab Kak!” lanjutnya. Sepatah kata pun tak bisa ke luar dari mulutku. Aku hanya tertunduk lesu. Di bawah langit senja, aku kembali mengadu. Memarahi diriku sendiri yang pada akhirnya cintaku bertepuk sebelah tangan. Linda terdiam. Dia menangis sesenggukan. Hening. Hanya suara gelombang ombak yang ramai. “Aku sangat menyayangi Kakakmu Linda,aku sangat mencintainya!” Sontakku. hanya itu yang dapat terlontar dari bibirku ketika semburat cahaya jingga menerpaku. Semenjak kejadian itu, tak ada komunikasi antara aku dengan Kak Fachri maupun Linda. Sekarang, hanya kekosongan yang menyelimutiku. Tak ada rasa bahagia yang menyapaku. “Kamu kenapa sayang?” sapaan dari bundaku cukup membuatku terkejut. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya kemudian membelai rambutku dengan lembut. “Tak apa Bun, hanya sedikit lelah,” jawabku tersenyum pahit. “Kamu tidak bisa bohongi Bunda sayang. Mata kamu berbicara lain. Kalau tidak mau cerita ke Bunda, tidak apa-apa. Gini ya, yang namanya hidup pasti ada cobaannya. Bahagia dan sedih itu satu paket. Karena mereka tak bisa dipisahkan. Yang namanya hidup tidak mungkin lurus-lurus saja. Pasti ada saja halangan. Bagai hitam di atas putih. Jadi semua tergantung bagaimana kamu menghadapinya,” aku tertegun apa yang dibicarakan bunda. “Sudah malam sayang, ayo tidur,” kemudian ibu membiarkanku sendiri dalam lautan kebimbangan. Anganku sering mendekap ragamu. Melepas semua rindu yang kian menumpuk. Apabila dihitung, sudah sebanyak rinai hujan yang turun sesudah mendung. Anganku sering mendekap erat ragamu. Sesering aku memimpikan untuk kembali bertemu denganmu. Selama udara ada untuk bernapas. Selama air yang terus mengalir hingga sampai ke muaranya. Dan selama itu aku menunggumu pulang. Kembali menyempurnakan jiwa dan ragaku. Aku menyayangimu dengan cara yang sederhana. Karena kau mampu membuatku sadar bahwa kau sempurna. Mentari kembali menyapaku dari ufuk timur. Diiringi nyanyian burung- burung yang berterbangan. Riuhnya angin pagi membuat suasana lebih sejuk. Terlihat, orang-orang sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya. “Allah, biarkan aku bahagia di hari ini,” ucapku penuh harap. Tak semestinya aku berlarut-larut dalam kesedihan yang tiada arti. Aku berdiri di depan cermin. Ku rapikan rambutku yang sedikit kusut. Kemudian aku ke luar menuju taman belakang rumah. Puluhan warna-warni bunga menyambutku. “Mau ke mana, Nak?” Tanya bunda ketika melihatku terburu-buru. “Ke pantai, Bun. Mau menatap senja,” jawabku lalu ku cium tangan yang mulai keriput itu kemudian aku berlari. Sedangkan bunda hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkahku seperti itu. Suara ombak menemaniku. Seperti biasa, ku tunggu senja beralaskan pasir. Angin berlalu-lalang yang sesekali menusuk kulitku. “Dan mungkin, aku adalah senja, yang mendamba untuk memelukku fajarku, mungkinkah?” aku bergumam kepada deru ombak. “Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin?” ku toleh sumber suara. “Kak fachri?” aku terkejut. Apakah hanya sebuah imajinasi belaka? Ini angan? Ataukah hanya bayang? “Apa kabar kamu?” kemudian dia duduk disampingku. “Aku baik, kamu?” rasa canggung menyelimutiku. Jantungku berdetak lebih cepat. “Maafkan aku, aku terlalu ceroboh meninggalkanmu,” ujarnya sambil memandang langit yang mulai gelap. “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya. “Ada,” pandangannya beralih kepadaku. “Siapa?” ku pandangi dia. Orang yang ku rindukan selama ini sekarang ada di sampingku. “Aku,” jawabnya. Matanya menatapku. Dan aku tak bisa mengalihkan matanya yang indah itu. “Hidup adalah pilihan. Itu pilihanmu. Aku menghargai pilihanmu untuk menjauh dariku. Jadi, jangan merasa bersalah seperti itu,” Jawabku. Ku alihkan pandanganku kepada ombak yang bergulung-gulung di dalam birunya laut. “Lalu denganmu? Apa pilihanmu?” pertanyaannya membuatku menghembuskan napas panjang. Aku menoleh kembali ke arahnya yang masih memandangiku. “Tinggal,” jawabku singkat. “Dengan kata lain?” tanyanya menggebu. “Tetap tinggal, menunggumu bersama senja,” jawabku. Kemudian semburat cahaya berwarna jingga membuatku terpesona. Cahaya jingga menerpa wajahku. Kak fachri tersenyum. “Bernapas di sampingmu membuat jingga sore ini lebih indah. Aku selalu menitipkan harapan kepada angin sore, harapan agar selalu bisa bersamamu, aku mencintaimu jingga” ucapnya di tengah terpaan cahaya jingga. “Maaf, aku telah membuatmu sedih. Aku lebih memilih bersamamu dan pergi meninggalkan dia. Karena kamu beda. Dan aku menyayangimu Jingga, tolong beri aku kesempatan” ucapnya membuatku speechless. Hingga akhirnya aku menangis. Menangis bahagia tentunya. Aku mentapnya lirih, perasaan ini, cinta ini tak bisa dibohongi. “Akupun begitu kak fachri. Jadi tetaplah di sampingku. Jangan pernah pergi lagi,” jawabku tersenyum. “Apakah kamu siap kita berhubungan jarak jauh?” tanyanya ragu. “Jarak dan waktu tak ada artinya buatku. Karena pada cinta yang tulus, akan mengerti bahwa pada akhirnya, rindu akan menemukan jalan pulang,” jawabku tulus. Ku lihat dia tersenyum puas ke arahku. “Please, be my girlfriend,” ucapnya kemudian memberikan setangkai mawar putih entah dari mana dia mendapatkannya. “You are the reason why I’m in here,” jawabku sambil ku pandangi sosok spesial di hatiku. “I Love you Jingga Permata Putri,” teriaknya ditengah deru ombak yang bergulung. “I Love you too Muhammad fachri Rainaldy,” jawabku tak mau kalah. “Hanya setahun lagi sayang, setelahnya aku akan tetap di Indonesia bersamamu,” di bawah langit senja aku mendapatkan kembali semua cinta yang hampir hilang. Ditemani deru ombak yang meraung, sebuah perasaan yang ku pendam akhirnya terbalaskan. Fachri, membuat senja sore lebih indah. Dan membuat Jingga merasakan kembali indahnya cinta. sampai jumpa november penuh kabut, selamat datng bulan baru, semoga lebih berkah Selamat membaca Cerpen akhir bulan para perasa selamat malam, semoga tersampaikan.. #Iipok #CintaAntaraFiksiDanNyata #IZ #JCDD #SpyInLove #Cerpenku #MyStory By: Siti khopipah Aliskandar

6 bulan setelah perkenalan kita

Image result for 6



Lulus moderasi 30 november 2016 :) *waw
6 BULAN SETELAH PERKENALAN KITA
Aku duduk di tempat kita pertama kali bertemu. Tempat yang harusnya menjadi kenangan kita berdua. Bilik kecil yang terdiri dari satu meja dan dua bangku, tempat untuk membaca buku perpustakaan. Sebelum mengenalmu, ini adalah tempat favoritku. Aku suka pemandangan di sini. Di depanku ada pemandangan gedung-gedung tinggi, pohon-pohon hijau yang rindang, dan
danau yang airnya tak lagi biru jernih. Aku selalu datang ke sini. Kenangan yang tercipta di sini pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling penting adalah ketika pada akhirnya aku bisa merasakan sorot matamu. Perkenalan kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan
manis, dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu, Sayang. Aku tak mau tahu fakta-fakta itu. Jika benar ini hanya ketertarikan
sesaat, mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?
6 bulan yang lalu, kamu begitu manis dan mengejutkan. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta Seperti tersetrum oleh energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga mengagumimu, tapi aku tak
ingin bilang. Aku terlalu gengsi untuk
mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku.
3 bulan yang lalu, kamu masih merangkul dan menggenggam erat jemariku. Kukira aku sudah menjadi sosok yang spesial bagimu, ternyata perkiraanku pun bisa salah. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang tak akan kaujadikan tujuan. Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari mahluk yang bisa membuat bodoh dan pintar
dalam waktu yang bersamaan—handphone.
Perhatian dan kecupan kecil yang kauselipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan itu membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang punya perasaan yang serius. Iya, aku salah, harapanku terlalu tinggi. Entah mengapa aku tak bisa berpikir jernih bahwa pria seberlian
kamu tak mungkin menaruh hati pada tanah liat seperti aku.
Tapi, terus saja kautunjukkan jalan terang. Jalan terang yang kupikir adalah tujuan menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki di balik perbedaan yang ada di dalam kita. Ini bukan alasan yang cukup logis untuk mengakhiri segalanya. Aku mulai
mencintaimu, sederhana. Tapi, mengapa hal yang kaubilang bisa “dibikin simple” ini malah merumitkan segalanya?
Kamu memilih pergi tanpa alasan yang benar-benar kupahami. Kamu memilih pergi, ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi 6 bulan! Begitu singkat! Kamu pergi ketika aku mulai mengerti bahwa ini adalah
cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap bahwa kebersamaan kita akan segera memiliki status.
Kini, aku melewati hari yang berbeda. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan segala canda yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu sama. Kamu menghilang
tanpa kabar. Menuduhku sebagai dalang yang menghancurkan segalanya. Menindasku dengan anggapan bahwa aku masih mencintai mantan kekasihku. Aku tak tahu, sungguh aku tak tahu
mengapa anggapan itu bisa tumbuh subur dalam otakmu. Sedangkan di hari-hari yg lalu, sebelum kita pisah, aku sudah menyakinkan diriku untuk selalu berjalan ke arahmu. Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah mulai melekat bukanlah hal yang mudah. Aku tak bisa membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manis darimu.
Aku tak ingin tahu rasanya terlelap sebelum mendengar suaramu di ujung telepon. Aku tak ingin perpisahan, tapi Tuhan berkata lain—kita
berpisah.
Kamu pergi tanpa berkata pamit. Kamu
menghilang tanpa mengizinkan aku jujur
mengenai perasaanku. Kita pernah saling berkata sayang, tapi semua akan terasa kosong jika tak benar-benar dikatakan tanpa bertatapan mata. Aku ingin tahu alasanmu pergi, karena sungguh
alasanmu untuk pergi tak logis bagiku. Apa aku terlalu rendah untuk mengaharapkan pria setinggi kamu? Apa aku terlalu busuk untuk mendambakan sosok sempurna seperti kamu. Aku memejamkan mata. Pipiku basah entah oleh apa. Jangan suruh aku mengaku bahwa ini adalah air mata, karena kamu tak akan mengerti
rasa sakitku. Kepergianmu sudah cukup
membuatku paham bahwa aku tak perlu lagi berharap terlalu tinggi.
Aku Masih saja aku duduk di sini, di tempat favoritku, dan tak ada kamu di sampingku. Kita belum saling membahagikan, tapi mengapa kauinginkan
perpisahan? Sudah dua jam aku menunggu. Kamu tak datang. Apakah pertemuan kemarin juga
adalah pertemuan terakhir kita?
Tuan, Namamu begitu indah kudengar di
telingaku. Aku mencintaimu, Cahaya Penunjukku.
selamat satu bulan seusai perkenalan kita.
semoga kita segera saling merelakan dan
mengikhlaskan
inikah sakitnya perpisahan?
Selamat membaca cerita Hati awal bulan para perasa :) semoga tersampaikan...
By:
Siti khopipah Aliskandar




pelangi setelah hujan

Lulus moderasi 3 desember
03.25 WIB
Selamat sore , selamat membaca :)
HUJAN SETELAH PELANGI
Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat menyukai Hujan. Pelangi? entahlah.. Aku tidak terlalu suka pelangi. mungkin nanti kalian akan tau alasannya. “Dara” seseorang memanggilku. aku menengok ke arah suara itu. seorang lelaki berdiri di sana. kemudian dia berjalan menghampiriku.
“di sini kamu rupanya” dia tersenyum manis. namanya Dimas Dirgantara. Sahabatku dari kecil yang selalu menemaniku. Dimas mengelus kepalaku lembut.
“lihat hujan lagi ya?” tanyanya. aku hanya tersenyum kemudian mengangguk. “Ayo masuk ke kelas” Dimas mendorong kursi rodaku. “Kenapa kamu mencariku lagi? aku tidak akan kenapa kenapa Dim..” ujarku sambil mendongakkan kepala ke atas untuk melihat wajahnya.
“iya ra, tapi jam pelajaran selanjutnya sudah mau dimulai. Dan Rio dari tadi nyari kamu” Aku bersekolah di sekolah anak anak Normal. dan menurutku itu tidak menjadi masalah selama aku masih bisa membaca dan menulis. Aku Juga punya Pacar bernama Rio Mahendra. Aku beruntung bisa mempunyai Dimas dan Rio karena mereka berdua bisa menerima keadaanku.

“coba kamu perhatikan Pelangi yang datang setelah hujan. Di saat Jutaan butir air selesai Jatuh, pelangi yang indah akan terlukis di langit sana. Hujan bagaikan Air Mata seseorang yang sedih dan Pelangi bagaikan kegembiraan seseorang setelah sedih. jadi, di balik kesedihan pasti akan datang ke bahagiaan”
– Dimas Dirgantara –
“namun jika sudah takdir, pelangi bisa saja tidak akan menghiasi langit lagi setelah hujan. Ada juga kesedihan yang tidak ada obatnya. Aku tidak suka pelangi. Kamu harus seperti hujan yang terus datang meskipun tau rasanya Jatuh berkali kali itu sakit”
– Fadara Anastasha –
— Entah apa yang sedang aku lamunkan saat ini. yang jelas, aku tidak bisa mendengar perbincangan perbincangan teman teman di kelasku. hingga seseorang menepuk bahuku.
“Dara” Aku tersadar dari lamunanku. ternyata dia Rio kekasihku. “eh iya Yo. maaf, kenapa ya?” tanyaku ke Rio
“kamu melamun ya ra? nge-lamunin apa sih?”
“iya, maaf ya Yo” aku tersenyum lebar. “gak
papa kok ngelamun. asal jangan mikirin
yang jorok jorok ya” goda Rio
“hehe enggak kok” aku tertawa renyah. mataku sempat menangkap Dimas yang memperhatikan kami berdua dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. yang jelas, wajahnya
terlihat murung.

Aku dan dimas berada di balkon kamarku. dimas memang sering main ke rumahku dari kecil sehingga ibuku tidak khawatir kalau dimas akan melakukan hal yang tidak tidak. malam ini sangat cerah hingga kami bisa melihat bintang di atas sana.
“dim, kamu pernah nonton film yang judulnya a little thing called love gak?” aku menghadap ke dimas yang sedang asik melihat bintang
“enggak. emangnya kenapa?”
“di film itu ada sebuah dialog yang
menyebutkan salah satu metode dari 9 metode cinta. katanya kita harus mencari sebuah tempat dimana kita bisa melihat banyak bintang di sana. lalu gunakan jarimu untuk menghubungkan bintang bintang tersebut menjadi inisial orang yang kamu suka. nanti orang yang kamu tulis itu bisa merasakan apa yang kamu rasakan” jelasku panjang lebar
“memangnya itu bisa beneran ya?” tanyanya penasaran
“gak tau juga sih. tapi aku pengen coba” “kamu mau nulis inisial R ya pasti” “iya” aku tersenyum. dia juga tersenyum namun, senyumannya sedikit aneh kali ini.
“sudah malam ra. aku pulang dulu ya” dimas bangkit dari tempat duduknya. sebelum dia benar benar pergi, seperti biasanya dimas mengusap kepalaku dengan lembut. Aku mengangkat jariku ke atas kemudian menghubungan bintang bintang itu membentuk huruf D.
Aku membaringkan tubuhku di kasur dengan hati hati. Aku menatap langit langit kamarku dan sesekali menarik nafas dalam dalam. Aku mulai memikirkan sesuatu yang terjadi dalam diriku. tentang Dimas.
Aku senang saat Dimas mendorong kursi rodaku, Aku senang saat Dimas memberiku kata kata yang puitis, Aku senang saat Dimas menatapku dengan tatapan lembutnya, Aku senang saat Dimas mengelus kepalaku, Aku senang semua yang dilakukan Dimas. entah ini
perasaan apa aku tidak tau. semuanya tersimpan di ruang spesial di hatiku. Aku rasa aku menyukai Dimas. Tapi bagaimana mungkin? Aku sudah mempunyai Rio di hatiku.
Namun, perasaanku terhadap Rio hanya seperti Layaknya seorang sahabat. Sedangakan Dimas, dia adalah seseorang yang spesial dalam hidupku.

Siang hari yang seharusnya panas tiba tiba mendung. Dimas duduk di balkon kamarnya sambil memperhatikan setiap tetes butiran air yang turun membasahi bumi. “Hujan. Dara sangat menyukai ini” Ujarnya pelan. Dimas memperhatikan Tiket pesawat dimeja nya. tiket menuju ke London.
“Sepertinya benar kalau takdir sudah berkata, pelangi tidak akan pernah muncul kembali. kesedihan yang tidak ada obatnya.” Dimas memperhatikan setiap foto yang ada di albumnya saat bersama Dara.
“Aku harus menjadi hujan yang selalu datang meskipun tau rasaya jatuh berkali kali itu sakit”
— Hatiku berdegup kencang saat ingin
membicarakan ini dengan Rio. aku harus
mengatakan yang sejujurnya bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan terhadapnya. mungkin yang dulu itu hanya rasa kagum. aku sudah membuat janji dengan rio untuk bertemu ditaman berhubung ini adalah hari minggu. Aku
mendorong kursi rodaku mendekati Rio yang sudah duduk di salah satu kursi taman untuk menungguku.
“hmb..” Aku berdehem pelan. rio langsung
berbalik menghadapku. “Dara. Ada apa ya?” Rio langsung menanyakan
apa tujuanku mengundangnya kemari.
“rio, terimakasih kamu sudah pernah membuat moment indah di hidupku. aku sangat menghargai itu dan tidak akan menghapusnya dari ingatanku. tapi maaf, hubungan kita sampai di sini saja” Aku menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
“iya aku tau ra. selama ini yang kamu cinta
adalah Dimas” Ujarnya. aku sedikit terkejut
dengan pengakuan Rio
“Kamu tau itu?” Rio hanya mengangguk
kemudian tersenyum.
“kamu harus bilang sebelum terlambat ra” Aku mengernyitkan dahiku bingung “terlambat? maksud kamu apa yo?” Aku mulai panik "Hari ini Dimas akan berangkat ke London bersama kedua orang tuanya. Satu jam lagi pesawatnya akan berangkat dan dimas saat ini sudah ada di bandara” Aku benar benar terkejut. kenapa dimas dimas tidak memberitahuku? Keringat dingin keluar dari badanku. aku tidak
mau berpisah dengan Dimas.
“hah? Rio tolong antar aku ke sana. aku mohon” Panik. aku sangat panik.
“baiklah. ayo naik ke mobilku. aku bantu kamu” Rio pun mendorong kursi rodaku menuju ke tempat mobilnya di parkir.

Rio mendorong kursi rodaku di bandara yang luas ini. mataku terfokus untuk mencari satu orang yaitu Dimas. 15 Menit Lagi pesawatnya akan berangkat. Rio pun dengan tergesa gesa mendorong kursi rodaku ke ruang tempat biasanya para penumpang menunggu sebelum
pesawat berangkat. Dari kejauhan aku bisa
melihat Dimas sedang berdiri sendirian
melamun. “Itu dimas. kamu kesana sendiri ya ra aku tunggu di depan” Ujar Rio
“iya. makasih ya yo” Rio pun meninggalkan aku sendiri. aku memutar roda kursiku untuk bisa menghampiri dimas.
“hai dim” sapaku yang sepertinya
mengagetkannya. “Da.. Dara” “kamu kenapa gak bilang ke aku kalau mau ke London?” “Aku gak tega sama kamu. nanti kamu sedih” “tapi aku lebih sedih lagi kalau kamu kayak gini. main rahasia rahasiaan.”
“maafin aku ra” ujarnya lirih. dimas
menyamakan tingginya dengan ku.
“Dim, aku nyaman sama kamu, Aku suka sama kamu, aku.. aku cinta sama kamu. aneh memang kalau wanita yang mengungkapkan lebih dulu, entah kamu mau bilang aku ini seperti apa, tapi aku” Belum selesai aku berbicara tiba tiba dimas menempelkan jari
telunjuknya di mulutku.
“ssttt.. Aku juga cinta sama kamu Fadara
Anastasha” Dimas menatapku dengan
tatapannya yang sangat menenagkan. “tapi kamu mau pergi” Aku menunduk lesu. “Pergi untuk kembali.” “sekarang, Pelangi tak akan muncul lagi setelah hujan”
“Tunggulah pelangi itu datang kembali. lalu, kesedihanmu akan hilang” Aku tersenyum mendengar kata kata yang di ucapkannya. Dimas langsung memelukku, akupun membalas pelukannya.
“Hujan berjanji akan menunggu sang Pelangi”
By:
Siti khopipah aliskandar
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

love letters

Image result for hujan



LOVE LETTERS
Judul : Love Letters
Jumlah kata : 2161
Spasi : 14301
Selamat Membaca, semoga tersampaikan :)
love letters
Rintik hujan menjatuhi atap rumah. Percikan
demi percikan terasa membasahi jiwa. Aku
terkenang akan sesuatu. Kuraih Buku DIARY ku
yang menemani masa mudaku dulu.
Senyumku mengembang. Aku rindu
pelukannya, canda tawanya, senyumnya,
Perhatiannya, semuanya. Ketika aku
bersamanya, dunia terasa sangat indah. Sangat
indah. Aku terkenang akan tiga belas tahun
silam. (FLASH BLACK)
Ketika aku berumur delapan belas tahun. Aku
lulusan SMK dengan jurusan penyiaran. Lalu
melamar kerja di sebuah perusahaan penyiar
ternama seIndonesia. Aku sangat mencintai
pekerjaanku. Pekerjaan yang membuatku
bertahan hidup selama ini.
Waktu itu, hujan mengguyur kota Jakarta.
Cuaca gelap membuatku teringat dengan kota
kelahiranku, padang. Kulihat gedung gedung
bertingkat di sekelilingku. Lalu tersenyum nanar
sembari mengeluhkan peluhku. Segera
kutinggalkan tempat perjuanganku menuju
taksi. Sesampainya di rumah, bajuku basah
kuyup. Lalu pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan badan dan segera menarik
selimut. Aku terbuai akan mimpi yang sangat
indah. Namun, suara ketukan pintu
membuatku terbangun dari mimpi. “Siapa yang
ngetuk ngetuk pintu sih, hujan hujan begini.”
Gerutuku seraya menuju pintu. Kulihat, tak ada
orang di luar. Membuatku takut. “Hallo, ada
orang disini?” tanyaku penuh
hati hati. “Hallo, ada orang gak disini? Hallo?”
ulangku. Pekikanku terbuang sia sia. “Iseng
sekali orang ini” batinku. Lalu kututup pintu. Tak
berapa lama kemudian, terdengar lagi suara
ketukan pintu. “Ishhh siapa sih, ganggu saja!!”
pekikku. Dengan kesal, aku membuka pintu.
“Hallo?!!! Siapa sih yang ketuk pintu! Iseng
banget!” geramku. Kulihat sekeliling, tak ada
siapa pun. Namun, pandanganku teralihkan ke
sepucuk surat
terletak di bawah keset. Hatiku bertanya tanya,
surat apa itu. aku semakin ketakutan. Dengan
penuh waspada kulihat sekeliling lalu segera
menutup pintu dan menguncinya. Aku pun
langsung berlari ke kamar. “Astaga, surat apa
ini? Jangan jangan ada orang yang mau jahat
sama aku” pikirku takut. Cepat cepat aku buka
isi surat tersebut, karena aku sangat
penasaran.
1 februari
Salam manis, awal bulan yang menyenangkan.
Hai, pirli meylani. Pasti kamu kaget, penasaran
dan mungkin takut dengan surat ini. Tapi, tak
perlu takut. Aku tidak berniat jahat sama kamu
kok.
Harusnya aku yang takut. Karena, aku takut
kehilangan kamu. Mungkin caraku memang
kuno dengan mengirim surat seperti ini. Gak
banyak yang ingin aku bilang, aku Cuma ingin
bilang kalau selama ini aku sangat mengagumi
kamu. Aku sayang sama kamu. Dan lama lama
aku takut kehilangan kamu. Setelah sekian
lama aku mulai menyadari tentang perasaanku
ini padamu ternyata aku, cinta sama kamu. Firli,
aku berharap kamu membalas cintaku.
Tentunya, kamu mengenalku. Jika kamu ingin
tau siapa aku, kamu datang ya besok ke
Jln.Emanuel dekat taman kota. Aku berharap
sangat kamu bisa datang menemuiku besok jam
5 sore.
Pengagum Rahasiamu
FSL
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Bahagia?
Ya. Penasaran? Ya. Takut? Ya. Semuanya aku
rasakan. Pertanyaan terus berkecamuk di
otakku. Kupandang langit melalui jendela
kamar. Terlihat sangat gelap. Namun, beda
denganku saat ini. Aku sangat pusing
memikirkan surat ini. Aku pun mulai lelah
memikirkannya. Kuletakan surat di laci dan
kembali tidur. Selimut ini sangat
menghangatkanku. Hingga aku lupa semuanya.
Suara ayam membangunkan tidurku. Ternyata
sudah pagi. “Astaga, aku terlambat. SUdah jam
berapa ini?” gerusuhku. Lalu kulihat jam dinding.
Menunjukan pukul 7 pagi.
“Untunglah, tenyata belum terlambat.”
Syukurku. Kubuka jendela kamar, lalu kuhirup
udara pagi hari ini. Berbagai aktivitas telah
dilakukan orang orang. Kulihat tukang koran
sudah berkeliling sepeda sembari melempar
surat kabar terbaru pagi ini ke seluruh rumah di
kompleks ku. Ada ibu ibu berbaju kuning sedang
menyapu jalanan. Dan berbagai kegiatan lainnya.
Segera mandi dan bersiap siap untuk bekerja.
“Semuanya sudah beres. Sekarang tinggal
berangkat.” Ucapku semangat. Aku melupakan
sesuatu, ya surat itu. aku berlari menuju kamar
mengambil surat itu. lalu memasukannya ke
dalam tas. Dengan langkah cepat, aku menuju
pintu. Sesampainya disana,
Aku sangat terkejut ketika melihat sebucket
mawar putih dengan sepucuk surat di atasnya.
Kulihat sekeliling, lagi lagi tak ada orang. Tak ada
jejak yang kucurigai sedikitpun. Segera
kubaca surat tersebut.
2 februari
Salam sayang,
Bunga mawar segar di pagi hari bertepatan
dengan hari yang selalu kita nantikan, firli. Kamu
terlihat begitu cantik hari ini. Kamu tau?
Mengapa aku tak memberimu mawar merah.
Karena mawar putih melambangkan cintaku
yang tulus dan menyejukan jiwa siapapun yang
merasakannya. Sedangkan mawar merah
melambangkan api cinta yang menggebu gebu.
Itulah sebabnya mengapa aku memberimu
mawar putih. Aku tidak tau kamu suka yang
mana. Tapi yang jelas aku suka yang
itu. kuharap kamu datang ke tempat yang aku
janjikan. LOVE YOU!!!
Pengagum Rahasiamu
FSL
Tak terasa senyum di bibirku mengembang,
rasanya aku tau siapa yang mengirimkan ini.
Sungguh aku tak menyangka jika dia akan
melakukan ini padaku. Baru kali ini selama
delapan belas tahun, ada yang
memperlakukanku semanis dan seromatis ini.
Aku sangat terharu. Tak terasa buliran air mata
membasahi pipiku. Aku terbius akan ini. Kulihat
jam di tangan menunjukan pukul 8 pagi.
“Ya tuhan, kali ini aku benar benar terlambat.”
Kejutku. Cepat cepat aku meletakan mawar dan
surat tadi ke dalam tas. Segera kucari taksi yang
lewat. Sesampainya di tempat kerja, aku
mendapat teguran dari bosku.
“Hei firli, mengapa kamu baru datang
sekarang? Kamu terlambat!” bentaknya “Iya Pak,
maaf. Saya tadi ada urusan sebentar. Makannya
saya terlambat.” Ucapku sembari
menundukan kepala “Maaf maaf!! Gak ada maaf
maafan. Memangnya lebaran apa!” “Saya janji
Pak, saya gak akan mengulanginnya lagi.”
“Ya sudah kali ini saya maafkan. Tapi kalau kamu
mengulanginya lagi. Saya tidak akan segan
segan memecat kamu! Mengerti?!”
“Sangat mengerti Pak” “Tapi sebelum itu, kamu
harus push up 30
kali” “Apa? Push up? 30 kali?”
“Ya, kenapa? Kamu ngebantah? Atau mau saya
pe…”
“Iya pak, saya push up sekarang juga. Detik ini
juga.”
“Bagus, ayo!” “Iya pak”
Badanku terasa pegal semua. Astaga hukuman
macam apa ini. Setelah selesai, cepat cepat aku
menuju ruang kerjaku. “Pasti tugas numpuk”
ucapku gelisah. Brukkkk!!!
“Heeyyy kalau jalan liat liat dong! Liat nih aku
sampai jatuh!” terdengar suara marah seseorang.
Dengan sigap, aku mengulurkan tanganku.
“Maaf, aku tadi buru buru” ucapku bersalah
“irwan….” panggilku sadar “firli,,, ya ampun. Hati
hati dong kalo jalan. Liat nih, berkas aku
berantakan kan jadinya.” Kesalnya
“Maaf, wan. Tadi aku buru buru.” Ucapku
bersalah dan membantu merapikan “Ya sudahlah
gak apa apa.”
“Ya sudah, aku duluan ya. Kerjaan aku banyak
nih” pamitku dan segera pergi
Sesampainya di ruang kerja…
“Ya tuhan, ini tugas banyak sekali!! Tugas apa
Saja ini?!” keluhku “Ehhh ehh Bu, Bu Dewi tugas
aku kok banyak banget. Ini juga, yang lain pada
kemana sih? Kok sepi?” ucapku pada manager.
“Oh itu yang lain ada yang sakit ada juga yang
izin. Jadi ini dibutuhin semua. Loh katanya kamu
yang handle tugas mereka? karena ini dibutuhin
sekarang.”
“Apa Bu? Mereka gak bilang sama aku. Aku juga
baru tau dari Ibu barusan.” Jelasku “Ya saya gak
mau tau, pokoknya ini harus selesai sekarang.
Atau kalau enggak nanti saya laporin ke Pak
Direktur. Mau kamu dipecat?”
ancamnya lalu melengos pergi.
“Loh kok gitu Bu? Ini gak adil!” ucapku, namun
tak dipedulikan
Semua tugas ini benar benar membuatku
pusing. Ketika aku hendak beranjak.
“Astaga! Maaf maaf enggak sengaja” ucap
seseorang menumpahi pekerjaanku dengan kopi
“Heh, kamu gimana sih?! Liat kerjaan aku jadi
kotor gini” ucapku hendak menangis “Maaf, aku
kan enggak sengaja. Kok sewot sih”
ucapnya "irwaan! Jadi kamu yang ngotorin
kerjaan aku?!
Aku enggak mau tau, yang jelas kamu harus
beresin ini semua!”
“Ye kok aku yang salah, lagian tangan kamu tuh
yang nyenggol.” Ucapnya tak mau kalah “Kamu
bener bener ya! Jahat! Banget!” bentakku
“Ehh ada apa ini? Ribut ribut?” pekik seseorang
yang ternyata Pak Direktur
“Ini nih Pak, dia numpahin kopi ke kerjaan saya.
Saya jadi harus buat ulang lagi kan!” marahku
“Ihhh enggak enggak Pak, orang dia yang
nyenggol tangan saya, jadinya tumpah deh” “Ya
aku kan enggak sengaja.”
“Ya aku juga gak sengaja” “Kamu kenapa jadi
nyebelin banget sih?
Biasanya juga kan gak kayak gini.”
“Suka suka aku dong!” ucapnya membuatku
semakin kesal
“Sudah sudah, kalian ikut saya ke ruangan!
Sekarang!”
Dengan terpaksa dan penuh kecemasan aku pun
memberanikan diri masuk ke ruangannya. Aku
pun menjelaskan semuanya, namun aku
dan irwan bersikeras tak mau salah. Akhirnya
Pak Direktur angkat bicara.
“Saya nyatakan yang salah adalah firlu. Jadi, Firli
kamu saya pecat.” Ucapnya seperti hakim
“Apa Pak? Saya dipecat? Ini gak adil Pak. Masa
dia enggak?”
“Saya gak mau tau. Sekarang kamu pergi dari
kantor ini!” bentaknya
Aku sangat kesal dengan kejadian ini. Tak terasa
air mata mengalir dari kelopak mataku. Aku
bingung. Sekarang aku kehilangan pekerjaanku.
Dan mengapa orang orang berubah padaku. Dan
ternyata dugaanku
salah, sepertinya bukan irwan yang
memberikanku surat. Aku berjalan menelusuri
jalan di perkotaan. Kini
waktu menunjukan pukul 16.11 sore. “Apa?
Udah jam 4 lebih?!” ucapku teringat sesuatu.
“Astaga, pengagum itu! Ya ampun mana masih
pake baju kayak gini lagi! Aku harus cepet
cepet pulang.” Gerusuhku Dengan langkah
cepat ku cari taksi. Sesampainya di depan
rumah. Terlihat sebucket bunga dan surat itu
lagi. Segera ku raih.
Salam super duper manis,
Sore firli meylani penjajah hati ini, aku hanya
ingin mengingatkan untuk datang ke Taman
sore ini.
Pengagum Rahasiamu
FSL
“Ternyata masih ada kebahagiaan dari
kesulitanku hari ini” batinku
Segera ku masuk ke rumah dan bersiap siap
untuk ke taman sore ini. Kulihat bayanganku di
cermin dan berkata “Ya, aku sudah siap”. Kini,
aku mengenakan gaun berwarna putih.
Melambangkan kesucian dan ketulusan seperti
bunga yang diberikannya. Sesampainya
ditempat yang dijanjikan. Nampaknya, tak ada
siapa siapa disini. Apa hanya mengerjaiku. Sudah
setengah jam aku menunggu, dan sekarang
sudah jam setengah enam sore namun orang itu
tak datang juga. Membuatku penasaran dan
kecewa. Hari semakin gelap. Tiba tiba saja
pandanganku gelap. Ada yang menutup mataku.
“Hey, siapa ini?” ucapku sembari mencoba
membuka tangannya dari mataku “Ihhh lepasin”
kesalku
“Aku enggak akan ngelepasin kamu” ucapnya
dengan suara seperti dibuat buat “Ihhh siapa
sih. Iseng banget!” kesalku Tiba tiba terlepaslah
kedua tangannya dari mataku.
“Siapa sih? Kenapa…” ucapku terpotong kulihat
suasana di belakangku dari tadi. Terlihat lilin
lilin membentuk sebuah hati dengan taburan
bunga mawar putih di dalamnya. Sangat indah.
“Indah sekali” ucapku kagum
“Ekhemmmm…” terdengar suara seseorang di
belakangku
“Hai?” ucapnya. Betapa terkejutnya aku ketika
melihat orang itu adalah fachri. Ya fachri rainaldy.
“Fachri? Jadi kamu yang melakukan semua ini?”
tanyaku tak percaya
“Iyap” ucapnya sembari tersenyum.
“Aku gak nyangka. Tapi gak ada tanda-tanda
bahwa itu kamu di surat itu.”
“Apa kamu gak ingat?”
“Apa” “Aku fachri teman masa kecilmu dulu.
Dulu aku Bilang jika aku bertemu kamu lagi
berarti kamu adalah jodohku. Ketika kamu pergi
ke Jakarta
bersama orangtua kamu. Dan ternyata kita satu
kantor. Namun sepertinya kamu lupa siapa aku,
tapi aku menunggu saat yang tepat untuk
mengatakannya sama kamu. Dan
lambang yang di surat itu adalah singkatan
panggilan kamu ke aku dulu. Kamu ingat?”
“Fosil? Ya, aku ingat.” Ucapku dengan mata
berkaca kaca “Ya, awalnya aku kesal kamu bilang
fosil dulu. Tapi aku mulai menyadari bahwa
panggilan itu
adalah panggilan istimewa untukku.”
“Aku enggak percaya” ucapku dengan air mata
bahagia “Kamu enggak harus percaya, kamu
hanya harus menyadari dan merasakan bahwa
semua ini benar benar terjadi. Bertepatan di hari
Kebahagiaan kamu, yang sekarang kamu ulang
tahun kan ? Happy birthay's firli Meylani and will
you to be my girl friend and marry with me?”
ucapnya membuatku semakin bahagia. Ya
tuhan.. Dia ingat dengan hari ulangtahunku
yang aku sendiripun lupa bahwa hari ini usia
bertambah. Aku menjawabnya dengan senyum
dan anggukan. Aku tau dia pasti mengerti.
“Cieee!!! Ada yang baru jadian nih!! Yuhuuu!!!
PJ nya oyyy!!!” terdengar suara orang orang
yang sangat aku kenali dari balik pohon.
“Kalian….” panggilku “Jadi kalian juga ikut
Merencanakan ini semua?” tanyaku
“Iya, jadi aku yang nyuruh mereka buat ngerjain
kamu. Dan sebenarnya kamu enggak dipecat
hehehe” ucap fachri.
“Jadi tadi itu akting?”
“Ya, heheheh” mereka terkekeh.
“Ya tuhaaaan. ini menyebalkan tapi aku sangat
Bahagia.” Ucapku lirih
Tiba tiba saja aku terjatuh, lalu…
“Ehhh ehh ehh firli kamu kenapa?!” pekik fachri
diiringi suara khawatir yang lainnya. Terdengar
suara suara mereka yang menyuruhku bangun.
Terdengar juga ada orang yang sangat khawatir
lalu menangis. Aku tak kuat menahan tawa.
Akhirnya tawaku
pecah.
“Hahahahaaaa ” kekehku lalu bangun.
“Firli…” panggil mereka bingung “Jadi kamu
ngerjain kita?!” ucap mereka kesal “Gantian
dong hehhehehe” kekehku Mereka kesal, namun
aku tertawa. Tiba tiba saja fachri memelukku
dengan sangat erat. Dia
berbisik “Jangan akting tinggalin aku lagi ya firli.
Aku sangat takut kehilangan kamu” ucapnya
“Iya sayang” ucapku lalu membalas pelukan
hangatnya.
Masa lalu yang sungguh indah, namun fachri
sekarang sudah tak di sampingku. Dia
meninggalkanku untuk selamanya ketika kami
sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
Selamat tinggal kekasihku, suamiku, ayah dari
anak anakku, orang yang aku cintai. Aku sangat
menyayangimu, mencintaimu adalah hal
terindah dalam hidupku.
“Kini anak anak kita sudah menikah dan memiliki
anak, dan sampai saat ini aku masih setia
padamu hingga ajal menjemputku fachriku
sayang.”
Tulisku dalam diary Itulah coretan kisah cinta
yang aku buat di masa tua. Tiba tiba saja
badanku terasa lemas.
Badanku ambruk ke lantai. “Nenek!!!” pekik
suara cempreng yang
merupakan cucuku Ya, mungkin itu adalah suara
terakhir yang aku
dengar di akhir hidupku. Dan kenanganku
bersamamu kuabadikan di buku diary dan
berbagai surat yang kamu berikan. Surat itu
adalah surat
terindah yang aku dapatkan sepanjang
hidupku. Terima kasih
Firli Meylani <3 Fachri Rainaldy
#Iipok #CintaAntaraFiksiDanNyata #SpyInLove #JCDD #cerpenku#PelangiPuisi #MyStory
By:
Siti khopipah Aliskandar

jangan dulu pergi

Image result for hujan


selamat membaca para perasa, semoga tersampaikan :)
Lulus moderasi 4 desember 2016
Judul : Jangan Pergi Dulu
Jumlah kata : 1030
Spasi : 7034
#CerpenCintaSedih
Jangan pergi dulu....
Di sebuah toko bunga berjejer beribu-ribu pot bunga berbagai ukuran yang berisi tanaman bunga berwarna-warni dengan berbagai jenis.
“serangga kamu lagi apa?”. Tanyaku kepada seorang pria yang sedang asik menata pot bunga.
“jangan sebut aku dengan sebutan itu”. jawab Fachri Rainaldy yang kini beralih menatapku yang berada dihadapannya.
“kamu kan kupu-kupu dan aku bunganya”. “ya sudah, kok tumben pagi-pagi udah kesini?”.
“aku kan kangen sama kamu mas”.
“benarkah itu bungaku?”. tanya mas fachri dengan nada menggoda dan tersenyum manis. Sementara pipiku bersemu merah merona.
Kita adalah pasangan kekasih yang dipertemukan di toko bunga milik Fachri. Awalnya aku seorang gadis yang hobi menanam bunga,
saat itu aku tak sengaja bertemu dengan fachri sang pemilik toko yang tampan yang mampu membuatku jatuh cinta. Sudah dua tahun lebih kami menjalin hubungan.
“Mas , besok hari minggu kita olahraga bareng ya?”. “lalu toko ini?”. “biar pegawai kamu saja yang menjaganya, sekalian aku ingin perkenalkan kamu ke teman-
temanku”. “iya, iya bungaku yang cantik”.
Pada keesokan harinya. “ayo lari, ayo mas fachri!”. ajakku yang berlari kecil di hadapannya. “aku lelah”. ucap nya terengah-engah. “aku duluan ya?, kita nanti bertemu di kafe saja, ya sayang!”. ucapku berlari mendahului fachri. Disaat itulah dia merasakan sakit pada dadanya, ia terbatuk-batuk terdapat darah yang keluar dari mulutnya.
Ketika Di kafe, kita bersama.
“kenalkan ini pacar aku namanya fachri”. ucapku memperkenalkan mas fachri kepada teman-temannya.
“hai, salam kenal”. sapa fachri ramah.
Mereka duduk sambil berbincang-bincang. “kamu kerja apa?”. tanya temanku kepada Fachri
“aku bekerja di toko bunga milikku sendiri”. “toko bunga?, pacarku seorang pengusaha batu bara”. ucapya terkesan sinis. “kalau pacarku seorang pilot loh!”. sambung teman ku yang satunya. Fachri terdiam, raut wajahnya seakan sangat merasa bersalah. Aku dan mas fachri pergi kembali lagi ke toko bunga. Aku mencoba menghiburnya.
“maafkan teman-temanku soal yang di kafe tadi ya?, mereka itu memang suka pamer”. “tidak apa-apa, sudah sore sebaiknya kamu pulang, maaf kalau tidak bisa mengantarmu”. "Mas, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh. Kamu tahu kan bagaimana perasaanku ke kamu. Aku sangat mencintaimu“ jelasku, sambil menatap matanya yang teduh. "tidak apa-apa, aku juga sangat mencintaimu firli. Jadi maafkan aku kalau aku belum sempat membuatmu bahagia." Makasih ya mas, ya sudah aku pulang dulu ya?”. “hati-hati di jalan firli”. “iya, aku pulang ya, kamu jaga kesehatan ya”.
Dia tersenyum sebelum aku menghilang dari balik pintu kaca toko.
Sesampainya dirumah, aku merasa khawatir dengan fachri karena kejadian tadi. Aku takut fachri berfikiran yang tidak-tidak. Sedangkan aku.... Aku sungguh sangat mencintainya tanpa melihat materi apapun yang dia punya. Aku mencintainya, sungguh. Hanya dia yang mengisi ruang dalam hatiku sekarang.
Aku meneteskan air mata menatap kosong ke arah depan. Aku terengah-engah di atas tempat tidur, tubuhku basah oleh keringat, "ternyata aku hanya mimpi" pikirku saat menyadari matahari menerobos kaca jendela kamarku. Aku segera bergegas menemui pria yang sangat aku cintai yang menjadi tokoh utama dalam mimpi burukku semalam, memastikan bahwa Fachri baik-baik saja.
“permisi pak, tuan muda ada?”. tanya ku kepada petugas kasir.
“oh ada non di belakang sedang menyiram bunga”.
“terima kasih pak, permisi”.
Aku berjalan menuju halaman belakang toko bunga milik fachri, ada perasaan lega mengetahui fachri baik-baik saja. Tak terasa air mataku menetes, senyum bahagia
menggembang di wajahku, aku berlari dan langsung memeluk kekasihku itu dari belakang.
“eh, kok main peluk aja”.
“hiks, kamu membuatku khawatir mas!”.
Fachri yang mendengarku menangis, segera melepas pelukannya dan membalikan badannya menghadap dan menatapku dengan pemuh cinta..
“kamu kenapa?”. Tanyanya.
“kamu jahat!”. “apa?, aku tak melakukan apapun, baiklah aku
mengaku salah sebagai gantinya ayo beli ice cream sambil bersepeda”. Ajak fachri. Senyumku mengembang. Dia menggenggam tanganku.
Kami pun menaiki sepeda, kami berhenti sejenak di taman menikmati udara sejuk dan memakan ice cream. Inilah cara sederhana Kita menjalani cinta namun penuh makna.
“Firli bagaimana jika aku pergi?”.
“pergi kemana?”.
“pergi ke suatu tempat yang tak mungkin kamu dapat menyusulnya”.
“aku akan menagis sepanjang waktu, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”.
“bagaimana kalau nanti malam kita makan malam di taman belakang toko bungaku?”. “Kok tumben? ”." Enggak aku ingin makan malam saja dengan kamu bungaku" jelasnya sambil tersenyum.
Malam harinya, taman belakang toko bunga milik fachri telah didekorasi dengan suasana romantis. Lilin pasang sepanjang jalan masuk.
Mereka berdua sedang menikmati bintang-bintang dan duduk di rumput yang ditaburi bunga mawar berbentuk hati yang dikelilingi oleh lilin. Setelah merasa cukup mereka kembali ke meja makan dan duduk berhadapan. Untuk kesekian kalinya fachri terbatuk-batuk.
“kamu kenapa?, wajahmu pucat mas”.
“aku baik-baik saja, aku ingin memberimu sesuatu, tolong jaga baik-baik untukku”. ucap fachri
memberi kotak cincin kepada firli.
“Mas..,”.
“iya, tapi mungkin bukan aku yang memakai cincin yang satunya, terima kasih atas cinta yang kamu berikan, maaf kan aku tak bisa mendampingimu selama sisa hidupmu, aku akan pergi ke suatu tempat yang jauh dan kamu
tak bisa menjangkaunya dan berjanjilah jangan menangisiku sepanjang waktu, karena itu akan menyiksa diriku dan dirimu, jaga kesehatan jangan bekerja sampai larut malam ya sayang. Aku sangat mencintaimu firli Meylani :*”.
“k, ka, kamu tak serius kan? jawab aku mas!!, mass kamu
tak boleh pergi begitu saja!!”. Teriak ku menangis tanpa suara namun berucap dengan nada bergetar.
Fachri terbatuk-batuk, darah telah membasahi bibirnya wajahnya semakin memucat. Darah itu menetes mengenai kelopak bunga berwarna putih membuatnya berubah merah
namun tidak merata, tubuhnya limbung ke lantai. Aku memangku tubuh tegap yang kini tak berdaya dengan air mata yang terus mengalir deras.
“aku belum siap, sungguh aku tak menginginkan jika mimpi itu jadi nyata tapi, kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang aku takutkan”. Airmataku terus bercucuran
“maaf, do'akan aku”. ucapnya lirih dan untuk terakhir kalinya. Dia pergi dengan senyum yang manis sekali. Aku berteriak, dadaku sesak. Untuk bicarapun aku tak mampu. Hanya tangisan yang bisa kulakukan. "Mas, kenapa secepat ini kamu pergi. aku belum sempat membuatmu bahagia, aku ingin membangun istana kebahagiaan bersamamu mas. Aku ingin mencari keridhoan menuju Jannah-nya bersamamu mas. Aku mencintaimu" bisiikku di telinganya. Tubuhku lemah lunglai tak berdaya. Semoga tuhan memberikan tempat terindah untukmu mas. Hanya secangkir do'a yang selalu ku utarakan di tempat penuh dosa ini.
Angin bertiup lembut di sebuah pemakaman yang sepi seorang gadis menyembunyikan wajahnya di sebuah pusara, tiba-tiba angin bertiup lembut disertai dengan aroma mawar dan saat ia menatap sekitar dilihatnya
setangkai bunga berwarna merah namun tidak merata digenggamannya bunga terakhir dari belahan jiwanya.
By:
Siti khopipah Aliskandar