Kamis, 30 November 2017

Grey Sun Flower Part7

*GSF* part7
.
Kupikir tidak ada alasan untuk tidak menerimanya.
Tapi,  entah kenapa sosok janwar singgah lagi kedalam pikiranku.  Perasaan gelisah itu kembali muncul.  Seperti ada sesuatu yang membuatku berat untuk menerima kak agung.  Sebuah perasaan tidak rela yang tidak jelas datang darimana.  Firasatku mengatakan yang harus kupikirkan hanyalah janwar,  bukan kak agung.
Aku cepat cepat menghapus janwar dari pikiranku.  Aku rasa kak agung adalah yang terbaik untukku saat ini.  Tidak ada salahnya aku menerima dia.  Walaupun aku belum bisa melupakan janwar,  toh kak agung pria yang baik meskipun sedikit menjengkelkan.
Aku telah mengenal karakternya,  dan ia cukup sepaham denganku.  Mungkin ada beberapa perbedaan,  tapi selama ini kami bisa mencari jalan tengah dengan baik.  Mungkin kami bisa melakukan hal yang sama saat berpacaran nanti.  Dan yang paling penting adalah,  ada sesuatu di dalam diri kak agung yang membuatku merasa nyaman ketika didekatnya. Dan bagiku dia sama menariknya dengan janwar.
Jadi,  aku memutuskan akan menerima kak agung sebagai pacarku.  Baru saja aku akan menjawab pertanyaannya,  ponselku berbunyi.
Aku tekan tombol hijau diponselku dan kudengarkan orang diseberang sana berbicara.     Tak ada satu katapun yang terlewatkan olehku. Karena berita yang kudengar benar benar membuatku syok.  Inilah firasat yang sejak tadi kurasakan?  Aku bisa merasakan airmata mengalir dipipiku.  Sakit sekali rasanya,  seperti ada pisau besar yang menusuk tepat diulu hatiku.
******
Handphoneku terjatuh.  Kak agung memegang dan mengguncang tubuhku.  Aku tersadar.  Cepat-cepat kututup kotak kue yang ada dipangkuanku dan sambil setengah berlari kubawa ke arah pintu tangga.
Kak agung mengejarku,  meraih tanganku dan membuatku tidak seimbang untung sesaat.  Tapi dengan sigap ia menopangku agar aku tak jatuh.
"Kamu kenapa?  Kamu mau kemana?  Ada apa ini? " tanyanya bingung. Aku berusaha menjawab,  tapi tak satu katapun yang keluar dari mulutku.  Bibirku kelu.  Airmataku berusaha kutahan. Sakit sekali rasanya.  Saat ini aku ingin sekali memeluk kak agung.    Menangis dipelukannya.  Aku tahu dia bisa menenangkanku.
"Kaaaaaaakk. " aku terisak.  "Kenapa ais kenapa?  Jangan bikin kakak khawatir. " tanyanya cemas.  "Temen aku sakit,  sakit parah.  Aku mau cepet cepet kesana. " jelasku dengan suara tercekat.  Setelah itu aku langsung menuruni tangga. Kak agung mengikutiku dari belakang.  Karena terlalu terburu buru,  aku terjatuh dan kue yang kubawa hancur berantakan. 
Saat itu airmataku semakin mengalir "kak aguuung..  Maaa...  Aaaff..  Aku minta maaf. "
"Udah gpp,  kue bisa dibeli lagi. "  aku berusaha berdiri.  Tapi tak bisa rasanya sakit sekali.  Seperti ada yang terkilir,  aku menangis.  Bagaimana ini?  Berdiripun aku tak bisa.  Aku frustasi.  Aku ingin berlari... Tapi aku tak bisa.
Tapi kemudian kak agung jongkok didepanku.
"Ayoo naik. " katanya singkat.  Aku menatap punggungnya dengan bingung. Dia menoleh karena aku tak bereaksi.  "Duh ini anak malah diem,  cepetan naik.  Kakak antar ke tempat temen kamu.  Mau cepet cepet kesana kan?  Jadi buruan naik. "
"Tapiii..... " pikirku.
"Ayo buruan,  kakak gak akan pernah bisa biarin kamu kesakitan kaya gini. "

Aku tidak memerlukan waktu lama untuk memutuskan naik kepunggung kak agung. Karena yang penting bagiku sekarang hanya pergi ketempat itu secepat yang aku bisa.
Kak agung menuruni tangga.  Aku aman berada dipunggungnya yang hangat dan kokoh.  Dia menggendongku sampai diparkiran,  dia menurunkanku perlahan dan membantuku naik keatas motornya.  Lalu dengan cepat dia tancap gas kerumah sakit yang aku maksud.  Baru kali ini kak agung membawa motor sekencang ini...
********
Sampai dirumah sakit aku berlari.  Aku sadar kondisi kakiku masih parah.  Saat berlari,  aku merasakan berpuluh puluh pisau seperti menyayat tubuh ini,  aku berlari terseok seok menuju ruang ICU.

Didepan ruangan itu sudah ada alviah dan fahri.  Aku menghampiri alviah.  Dia tampak khawatir ketika melihat wajahku sudah banjir dengan airmata.  Aku nyaris terjatuh saat jarak kami tinggal beberapa langkah.  Untung fahri sigap menangkapku.
"Janwar kenapa?  Dia sakit apa?  Kenapa kalian gak ngasih tau gue. "
Suaraku bergetar karena menahan tangis.
"Ada kanker di otaknya,  gue sebenarnya udah tahu ini sejak kelas satu SMA.  Waktu itu gue gak sengaja liat dia hampir pingsan dan mimisan banyak banget.  Gue bantuin dia ke UKS dan gue paksa dia untuk cerita tentang penyakitnya."
Fahri menghela nafas lalu menuntunku duduk dibangku depan ruang ICU.
Lututku lemas.  Airmata semakin mengalir.  Tubuhku seperti mati tak bernyawa. 
Fahri melanjutkan ceritanya.  "Sumpah,  waktu itu hal pertama yang pengen gue lakuin itu ngasih tau lo tentang penyakit janwar.  Karena gue tahu pentingnya janwar buat lo.  Tapi sebelum sempet gue lakuin itu,  janwar seperti bisa baca pikiran gue,  dia langsung ngelarang gue!!  Waktu itu dia bilang,  dia akan segera sembuh karena setelah lulus SMA dia mau berobat ke luar negeri.  Jadi gue pikir gak ada masalah kalo gue gak kasih tahu masalah ini ke elo. " wajahnya menunjukan penyesalan. 
"Maafin gue juga,  ais.  Selama ini gue tahu janwar pindah kemana.  Gue tahu dia gak kuliah karena dia sakit.  Tapi gue gak sanggup kasih tahu ini ke elo.  Gue gak mau lo lebih terpuruk lagi. " Sambung alviah dengan suara bergetar karena ikut menangis. "Gue yang salah,  semua ini gue yang salah.  Harusnya gue gak percaya katakata janwar gitu aja.  Karena ternyata dia gak berobat keluar negeri sehingga keadaannya makin parah.  Gue juga baru tahu kabar ini dari fahri tadi. "
   Airmataku semakin deras.  Aku berbalik membelakangi alviah.  Lalu memeluk fahri.  Aku menangis sementara alviah mengelus punggungku dari belakang.  Ia mengucapkan kata maaf berkali kali.
Fahri memelukku erat.  "Sekarang gue tahu,  kenapa janwar gak mau ngasih tahu tentang penyakitnya itu.  Gak akan ada yang tega liat keadaan lo kaya gini.   Tapi ais, dia pasti bisa.  Lo harus percaya sama dia,  dia gak akan pergi sebelum dia ketemu sama lo. " kata fahri lembut.  Penjelasan fahri membuatku tertegun.  Kucoba menangkap maksud kata katanya. Dari ceritanya tersirat bahwa janwar juga punya perasaanyang sama denganku.  Janwar menungguku?  Yatuhan,  apa maksud dari semua ini....?
********
Tiba-tiba wanita separuh baya berparas cantik keluar dari ruang ICU.  Aku yakin dia mamanya janwar karena dia memiliki rambut dan mata secemerlang janwar.  Aku segera melepaskan pelukanku dari fahri dan menghapus airmataku lalu berdiri mendekati wanita itu bersama alviah dan fahri.
"Malem tante,  bagaimana keadaan janwar? " kami bertiga segera menyambutnya dengan bersalaman.
Aku masih ingat nama mamanya janwar.  Kalo gak salah tante Tiwi.  Dulu aku pernah melihat namanya dibuku tahunan siswa.
"Belum ada kemajuan viah. " jawab tante tiwi dengan sangat tenang.
Walaupun begitu,  siapapun yang mendengar nada bicara dan melihat matanya pasti menyadari bahwa wanita ini berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya.  "Masih belum sadar...  Eemm ini siapa? " tanya tante tiwi pada alviah sambil melihat kearahku dengan pandangan yang lembut aku cepat cepat memperkenalkan diri. "Aku aisyah tante,  temennya janwar. " kataku dengan tersenyum.  " ooohh ini toh yang namanya aisyah.  Cantik ya.  Persis yang sering diceritain janwar ke tante. " tante tiwi tersenyum padaku.  "Yang boleh masuk cuma satu orang.  Jadi gimana kalo ais aja yang masuk duluan?  Ayo ais. " tante tiwi menarik tanganku dengan lembut. Tapi aku terdiam,  kakiku tidak bergerak.
"Maaf..  Tante.  Sepertinya tidak perlu. " kataku pelan.
"Lhoooo,  kenapa? " wajahnya terlihat letih.
"Tadi kata fahri, janwar tidak akan pergi sebelum ketemu ais.  Jadi aku gak mau ketemu dengan janwar agar dia tidak pergi. " aku tak kuasa menahan airmataku.
"Jangan begitu ais. " sekarang giliran fahri yang menarik tanganku. 
"Enggak!!!!! " jawabku tegas. 
"Ais.. " benntak fahri.
"ENGGAAAKKKK...!!!!"aku balas berteriak.  Aku tidak mau janwar pergi.  Aku tidak mau dia meninggalkanku.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan memelukku.  Pelukan itu terasa hangat dan mampu mengangkat semua rasa sakitku.
"Tenang ais,,,  tenang..  Janwar akan baik-baik saja.  Kamu harus tenang.  Dia butuh kamu,  mungkin dia akan pergi kalo gak ketemu kamu. " suara dan pelukan itu menenangkan hatiku.
"Kalian temenin tante tiwi nyari om yaa? " ajak tante tiwi ke fahri dan alviah.  Mereka kemudian meninggalkanku dan kak agung.  Sedangkan aku menangis terisak dipelukan kak agung. 
"Gak mau..  Aku takut masuk ke ruangan itu."
"Harus bisa.  Demi janwar Ais. " kak agung memohon.
Aku ragu sejenak.  Aku benar benar takut dan tidak siap.  Menghadapi kemungkinan terburuk didepanku.  Tapi aku kembali memikirkan perkataan kak agung.  Bagaimana jika itu benar?  Bagaimana kalau janwar justru akanpergi karena tidak melihatku?  Aku mengusap airmataku.  Kuputuskan untuk mengarahkan keberanianku melihat janwar.
Aku melepas pelukan kak agung.  Dengan terpincang-pincang aku menuju pintu bewarna cokelat gelap dihadapanku.  Dibalik pintu itu ada lorong pendek.  Kupakai baju rumah sakit bewarna biru muda dan gel pembersih tangan yang tersedia didekat pintu.  Aku berjalan di lorong pendek itu sebelum akhirnya sampai di dua pintu besar bewarna cokelat gelap dengan pegangan alumunium.  Aku mendorong salah satunya.  Aroma obat bercampur karbol langsung menyengat hidungku. 
   Kulihat banyak orang yang dirawat disana.  Mungkin sekita ada sepuluh orang.  Aku mencari janwar dan aku melihatnya.  Dia ada disana.  Diatas tempat tidur telat dipojok ruangan besar ini.  Aku melihatnya!!!!

NEXT

Rabu, 29 November 2017

Grey sun flower part6

Sebuah cheese cake,  dengan gambar bunga matahari yang berwarna abu ditengahnya.  Diatas bunga itu ada tulisan dari krim cokelat.  "Ais..  Would you be my girl? ".
Aku tidak bisa berkata apapun.  Jadi ini yang dimaksud pelayan toko kue tadi.  Pantas saja.
Aroma kue yang lezat itu menggelitik hidungku.  Harumnya tak kalah dengan penampilannya.  Ekspresiku campur aduk antara senang dan kaget. 
"Gimana menurut kamu?  Kira-kira gebetan kakak itu bakal suka nggak ya? " tanya kak agung santai,  seolah tidak tahu tentang tukisan diatas kue itu.  Aku terdiam "Hmmmm...  Eh iya,  bagus banget.  Aku yakin banget dia suka.  Terus,  sendoknya mana nih?  Biar langsung dimakan aja.  Kan sayang kalo gak dimakan" ujarku salah tingkah.
Kak agung bengong mendengar kata kataku.  Walaupun sempat terdiam beberapa detik,  kak agung akhirnya melakukan apa yang aku minta.  Dia mengeluarkan pisau kue,  dua piring kecil dan sendok yang sudah ia siapkan dalam kantong hitam misterius tadi.  Aku memotong bagian pinggir itudengan hati hati. Sengaja aku tidak memotong bagian tengah kuenya.
"Kok bagian tengah gak dipotong? " tanya kak agung tanpa melihat ke arahku.
"Bagian yang itu aku mau simpen dirumah.  Mau aku awetin terus aku pajang deh di kamar. " jawabku sambil nyengir
"Oohh gitu,  terus jawabannya gimana? " kak agung berpaling padaku dan menunjukkan wajah cemas sekaligus penasaran.  "Jawaban apa? " tanyaku pura pura tidak mengerti.  Aku mau mengetes sampai dimana keberaniannya.
"Yaaahh..  Kok kamu jadi oon sih? Kan di kuenya tulisannya udah jelas. "
"Yaa terus? "
"Yaa terus apa jawabannya? " gregetnya. Kali ini nada bicaranya seperti anak kecil.  "Iya.   Aku udah baca.  Tapi masa kuenya yang nembak sih?  Emang aku jadiannya mau sama kuenya apa? " tanyaku menantang.  Aku tertawa dalam hati.  Sebenarnya kasihan juga melihat ekspresi kak agung yang makin salah tingkah.  Tapi kalau tidak begitu,  aku tidak akan tahu sampai mana keseriusannya.
Kak agung menarik nafas panjang.  "Kakak ngomong nih sekarang.  Serius,  biar kamu puas. "
"Iyaa..  Buruan mau ngomong apa? " tanyaku dengan tersenyum.
Lalu tiba-tiba.  Kedua matanya menatapku,  dalam sekali.  Jemari hangatnya menyentuh jemariku. Aku merasakan hal yang berbeda.  Jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. 
"Ais,  kakak suka sama kamu.  Sejak pertama kali kamu nabrak tong sampah itu.  Sumpah itu kejadian yang paling kocak sekaligus mengesankan buat kakak.  Mungkin kakak ini aneh.  Karena jatuh cinta sama cewek yang jatuh garagara tong sampah. "
Aku cemberut mengingat kejadian itu.  Aku akui memang waktu itu aku jatuh karena terpesona melihatnya.  Tapi seharusnya dia tidak perlu ungkit ungkit kejadian itu.
Kak agung menarik napas panjang sekali lagi sebelum melanjutkan penjelasannya.  "Terus setelah itu,  kakak mesti ngumpulin keberanian ekstra cuma buat kenalan sama kamu. Soalnya kakak tahu,  kamu udah gak tahan sama sikap kakak yang over PD. " kak agung tertawa geli.  Senyumnya membuat wajahnya sepuluh kali lebih tampan.  Ia meneruskan kalimatnya.  "Setelah itu,  pas kakak mau ajak ngomong,  kamunya jutek terus. Kakak tambah ngeri,  tambah khawatir tambah takut kalo kakak gabisa deket sama kamu. " dia tampak serius,  aku tersenyum.
"Untung waktu itu hujan,  sangat mendukung rencana kakak dan ternyata akhirnya kamu mau di ajak pulang bareng " senyum bangga terpampang diwajahnya yang tengil. 
"Kakak sampe rela bohong tentang ketak rumah kakak,  maksudnya biar kamu mau kakak antar jemput.  Lamalama kakak jadi suka kepribadian kamu,  kakak nyaman ngobrol sama kamu,  kakak kangen kamu kalo Ais gak les,  kakak seneng antar jemput kamu,  kakak suka degdegan kalo deket kamu,  kakak suka kalo kamu bertindak seolah olah kamu pacar kakak,  kakak percaya sama kamu,  dan masih banyak kagi alasan kenapa kakak bisa sayang sama kamu seluarbiasa ini. ....
Ais,  kakak harap kamu percaya ini bukan gombal yang kakak siapin buat ngerayu kamu.  Karena kakak yakin kamu tahu kalo kakak gak bisa puitis dan gombal,  kan? "
Sekarang wajah kak agung semakin serius.  Dia menatapku dalam dakam membuatku salah tingkah.
"Sejak pertama kakak ngajak ngomong kamu sampai sekarang,  banyak keberanian yang harus kakak siapin buat kamu.  Jujur kakak takut sama kamu,  tapi kamu juga orang yang pengen kakak temuin di sisa hidup kakak.  Kakak harap sekali lagi kamu bisa percaya kalo masih banyak alasan lain yang akan kakak jelasin nantinya."
Bekum sampai semenit. Wajahnya tiba tiba mengernyit.
"Waduuuh,  kok gue jadi puitis gina ya?  Ih gak banget deh. "
Kak agung menggaruk garuk kepalanya.  Wajahnya tampak malu malu sekarang.  "Kamu sih,  maksa kakak buat ngomong.  Jadi geli sendiri deh sama omongan sendiri. " aku mengernyit.  "Ais,  kamu tuh ya udah kakak buat simple,  malah minta yang ribet.  Percuma aja kakak oesen kue khusus buat kamu.  Tahu gini ngapain kakak buang buang duit buat pesen kue ginian. "
Dia cemberut sambil memainkan ujung sepatunya ke tepi lantai.
Aku memukulnya. Lalu tertawa geli melihat wajahnya yang lucu.  Dia benar benar bisa membuatku nyaman.  Dia bisa membuatku rindu ketika dia tidak ada disampingku. Hatiku berdesir.
"Jih,  kan kakak yang butuh.  Aku gak minta tuh.  Perhitungan banget sih.  Kalo gini males deh nerimanya. "
Dia tercekat.  Wajahnya memelas. "Eh eh kok gitu.  Maafin kakak ais.  Kakak ikhlas ngelakuin semua ini buat kamu. " aku pura oura ngambek. "Terus sekarang jadinya gimana?  Kan kakak udah ngomong panjang kebar tadi.  Jadi,  ais mau gak jadi pacar kakak?" kak agung memberikan senyuman termanis dengan binar mata memohon.  Tatapannya membuat hatiku luluh.  Kupikir tidak ada alasan apapun untuk tidak menerimanya.

NEXT

Grey sun flower part5


Rumahnya cukup luas.  Namun aku tak melihat seorangpun disana.  "Orangtua kakak dimana? Kakak tinggal sendiri ya? ".
"Di malang,  mrmang kakak prrnah cerita ya? "
"Enggak.  Terus kita kesini mau ngapain? "
"Kan kakak mau nembak itu cewek nanti malem.  Tugas kamu,  bantuin kakak pilih baju. " kak agung kemudian menarik tanganku masuk kerumahnya.  Disana sudah ada tiga helai kaus bewarna hitam,  biru dan abu-abu.  "Yang mana yang bagus buat kakak? " tanyanya antusias.  Aku terperangah.  "Kakak mau nrmbak cewek pake kaus santai kaya gini?  Pake kemeja kek,  atau apa gitu yang agak formal. "
"Ah ngapain.  Cewek itu orangnya jutek banget.  Yang ada kakak malah diketawain kalo pake pakaian yang formal.  Kayanya dia lebih suka kakak yang santai.  Udah gak usah banyak protes,  milihin doang susah amat. "
"Ih ya ini orang,  yaudah yang abu-abu aja.  Aku suka warna itu soalnya. "
Dia tersenyum lalu mencubit pipiku.  "Oke sip. "
Kak agung mengambil baju itu lalu langsung masuk ke kamarnya.  Kukira dia hanya ingin mengganti baju,  tapi ternyata dia mandi.  Akupun duduk diruang tengah sambil menonton tv.
Setengah jam kemudian dia keluar,  sudah mengenakan kaus abu abu dan celana jins serta lengannya di liliti jam tangan simple.  Kak agung terlihat tampan.  Aroma tubuhnya menyegarkan.  Gara gara penampilan menawannya niat protes karena lama menunggu kubatalkan. 
"Rambut kakak bagusnya diapain ya? " tanyanya sambil mematut didepan cermin.
"Waduuuuh,  niat bener.  Bikin penasaran aja aja sama tuh cewek.  Aku memperhatikannya "mmmm...  Diginiin aja" aku mengacak acak rambutnya.  "Gaya berantakan lebih bagus. "
"Oke juga.  Sekarang kamu ikut kakak lagi. " dia menarik tanganku.  Dia mengambil kue itu. 
Mau kemana lagi ini?  Pikirku.  Kami menuju kesebuah gedung.   Lalu masuk lift naik kelantai paling atas.  Dari situ kami menaiki beberapa anak tangga. 
"Kak,  gpp nih kita naik ke atas gini?  Ntar dimarahin satpam gimana? " tanyaku waswas.
"Gabakalan.  Kakak udah minta izin. " jawabnya.
*******
Kubuka pintu atap gedung itu,  angin kencang langsung menerpa tubuhku.  Gedung ini tinggi sekali.  Pemandangan dari atas ternyata sangat cantik.  Lampu gedung jakarta terlihat sangat indah. Langit yang luas tampak seperti payung.  Beberapa bintang redup terlihat disana. Tak ada bulan malam ini.  Angin berembus semakin kencang.  Sepertinya akan turun hujan.  Aku suka suasana seperti ini,  aku suka mendung.  Aku suka angin dan aku suka lampu warna warni yang sekarang tampak jelas didepanku.
         Disudut atap gedung aku melihat bangku kayu tua yang panjangnya sekitar 1,5 meter.  Meskipun begitu,  penampilannya masih bagus.  Didepannya ada meja kecil persegi panjang yang tampak sama tuanya dengan bangku itu.  Warna keduanya yang gelap dan terbuat dari kayu utuh memberi kesan elegan. 
****
Kak agung berjalan ke arah bangku dan duduk disana.  Aku mengikutinya dan duduk disebelahnya.  Mataku terpejam dan kuhirup udara sedalam dalamnya. 
Aku ingin merasakan sedikit angin jakarta yang berembus.  Rasanya tenang sekali.
Selagi aku menikmati suasana,  tiba tiba bayangan janwar melintas dalam pikiranku.  Semua perasaan nyamanku hilang.  Kucoba mengembalikan rasa nyamanku.  Tapi tidak berhasil.  Aku justru semakin gelisah.  Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.  Seperti firasat buruk.  Rasanya ingin menangis,  hatiku sakit.  Tapi aku tak tahu karena apa.....
Kak agung,  meletakkan kue yang tadi dia pesan diatas meja. Aku baru sadar bahwa kak agung juga membawa sebuah kantong plastik hitam dan aku tak tahu apa isinya. 
"Rencana kakak mau nembak cewek itu disini.  Bagus gak tempatnya? "
"Hmmm keren banget kak.  Beruntung banget deh itu cewek. " jawabku sedikit tercekat.  Tiba-tiba aku seperti salah tingkah.  Aku merasakan hal yang aneh.  Kenapa aku tidak suka kak agung melakukan hal seromantis ini kepada cewek lain.  Aku seperi tidak rela.
"Ais,  tolong buka kue nya. "
Aku terperanjat "lhooo,,  kata kakak kue ini buat cewek itu.  Kok malah aku yang suruh buka sih?  Kalo rusak gimana? " tanyaku bingung. 
"Justru itu,  kakak mau minta pendapat kamu dulu sebelum kakak kasih ke orangnya.  Kakak ingin mendengar pendapat dari seorang cewek. Kalo menurut kamu gak bagus,  kan bisa kakak ganti.  Terus tangan cewek kan lebih hati hati,  makanya kakak minta tolong kamu yang bukain. "
Kak agung memasang tampang memohon.
Karena tidak tega.  Aku membuka bungkus kue itu.  Butuh waktu sekitar lima menit untuk membukanya dengan sempurna dan rapi.  Kak agung dengan sabar menunggu.  Aku sangat terkejut begitu melihat apa yang ada didalam kotak secantik itu....

NEXT

Sabtu, 25 November 2017

Grey Sun Flower Part4




Pertanyaan yang belum sempat di jawab......
.
Hari itu, sehabis les. Aku menunggu agung keluar dari toilet. "Lama bener sih kak!" kesalku.
"Sabar dong, udah nebeng pulang, bawel lagi." protesnya. "Kumat lagi songongnya, yaudah aku pulang sendiri"
"Eee...eeeehh mau kemana, gitu aja ngambek." tangannya menarik tanganku. "Pokonya, apapun yang terjadi kakak gak akan biarin kamu sendiri."
"Nah gitu dong"
Aku nyengir melihat tingkah lakunya.
Tiba tiba ada yang menusuk hatiku. Wajah janwar seketika muncul dipikiranku. Membuat nafasku sesak dan kepalaku pusing. Ada apa ini?
Aku rasa aku telah kehilangan dia. Sejak janwar memelukku hari itu, dia seperti menghilang dari hidupku. Aku mau melakukan apapun hanya untuk melihat senyumnya sekali lagi. Apakah dia sehat atau tidak, aku tak tahu. Dia tidak datang ketika acara kumpul angkatan. Aku sudah tanya beberapa teman janwar dan ternyata bukan hanya aku yang tidak tahu kemana dia pergi. Begitupun fahri, tidak kabar tentang janwar yang berumbus ke telingaku. Pada saat seperti ini aku baru sadar betapa aku menyayangi janwar. Betapa aku merindukan dia. Betapa hidupku seperti bola tanpa udara yang tak bisa bergerak kemana mana karena tidak ada dia.
Sekilas aku tampak sudah melupakan dia karena kesibukan kuliahku. Tapi ternyata bohong besar. Pernah aku datang ke kampusnya dan mencari info di bagian administrasi. Saat itu aku sempat berpikir, jangan-jangan aku sudah gila karena melakukan hal yang konyol. Tapi ingatan akan senyumnya memperkuat tekadku.
Bagian administrasi mengatakan tidak pernah ada nama janwar yang terdaftar sebagai mahasiswa disana. Aku bingung. Aku coba datang ke rumahnya. Lagi lagi aku tidak menemukan janwar. Rumahnya kosong. Informasi dari tetangganya, keluarganya sudah pindah lima bulan yang lalu. Itu berarti tepat setelah kami lulus SMA.
*****
Kemana janwar? Mengapa dia menghilang begitu saja? Takdir seolah mempermainkanku. Aku mencoba meyakinkan diri janwar pasti baik baik saja di suatu tempat. Dia pasti sehat, kuliahnya lancar dan hidupnya menyenangkan. Mungkin sekarang dia sedang serius belajar menjadi sutradara. Dia pernah berkata padaku, dia ingin menjadi sutradara terkenal. Atau mungkin sekarang dia sedang bersama pacarnya yang cantik , makan eskrim, atau sekedar duduk mengobrol di sebuah taman.
**** "Woooooii" agung berteriak ditelingaku, aku terkejut.
"Mardiaaaaaaaan... Kenapa sih ngeselin banget jadi orang" aku sedikit marah padanya. "Lagian budek banget jadi orang, dipanggik daritadi bengooong terus"
"Ya tapi bisakan gausah rese" ketusku.
"Iya iyaa maaf deh.. Kenapa sih? Lagi ada masalah apa Ais?" tanyanya lembut.
"Mmmmmm aku gak apa-apa. Lagi kepikiran sesuatu aja"
Aku mencoba menginbangi langkahnya yang panjang. Tapi sepertinya dia tidak terlalu mendengarkan katakataku. Dia sibuk dengan ponselnya. Saat aku berusaha mengintip, dia cepat memasukkan ponselnya ke saku.
"Ais, kalo hari ini gak langsung pulang gimana? Kakak mau minta tolong nih"
"Tolong apa?"
"Ada deh, ya bantuin ya? Itung itung balas budi deh, jangan bisanya cuman nyusahin doang " jelasnya dengan tertawa puas.
"Ih pamrih bener sii jadi orang , kemarin rangkul rangkul, sekarang minta tolong gak jelas, besok apa?"
"Ya apa kek, terserah doong, sekali kali pamrih untuk menyambung hidup." cengengesnya.
"Emangnya kita mau kemana?"
"Bawel deh, udah ikut aja."
Mukaku memerah karena kesal. Aku masih belum tahu mau dibawa kemana. Sampai akhirnya dia menghentikan motornya di toko kue.
Mataku langsung melotot, masalahnya aku pernah membeli kue disini, dan harganya mahal mahal. Apalagi saat ini aku hanya mengantongi uang selembar dua puluh ribu dan tiga lembar seribuan. "Buset, kakak mau beli kue? Aduuh jangan disini deh, kuenya mahal mahal. Kita ketempat lain aja gimana?"
"Udah kamu jangan bawel, sekarang kamu turun dan masuk kedalem." perintahnya. Wajahku langaung pucat. "Terus kamu bilang sama pelayang yang ada di dalem klo kamu mau ngambil kue pesenan Agung Mardian, tenang aja udah kakak bayar kok" lanjutnya. Penjelasan kak agung membuatku bernapas lega. Aku langsung turun. Interior toko kue ini bernuansa warna kayu yang lembut. Aku melihat beberapa sepasang kekasih sedang menikmati kue bersama. Manis sekali, pikirku.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" suara seorang pelayan cantik membuyarkan perhatianku. Wajahku pasti terlihat kebingungan.
"Hah? Mmmm." aku berusaha mengembalikan pikiranku.
"Ooh, tunggu sebentar." kata pelayan itu. Ia lalu langsung mengambil sesuatu dari dapur. Apa yang dilakukan pelayan itu? Aku kan belum mengatakan maksud dan tujuanku datang kesini. Apa pelayan tadi bisa membaca pikiran seseorang!!!!
Aku menunggu sambil melihat kue kue yang terpajang disana. Cantik sekali, jadi lapar.
Beberapa menit kemudian si pelayan kembali dengan kotak kue berukuran sekitar 20 x 20 cm. Kotak itu berwarna abu-abu dan dihiasi pita cantik.
"Ini pesanan mas agung, mbak." kata pelayan itu.
"Kok mbak tahu kalo saya mau mengambil pesanan dia?"
Tanyaku bingung.
Pelayan itu hanya tersenyum . dan membuatku bertambah bingung ketika dia bilang. "Mbak beruntung ya..".
"Hah? Maksudnya?" aku bertanya dengan muka tolol. Tapi pelayan itu tidak menjawab kebingunganku. "Maaf mbak, pelayan yang lain sudah mengantre terimakasih."
Aku menoleh kebelakang dan benar saja, ada tiga orang yang menunggu. Wajah mereka mulai terlihat tidak sabar. Tidak ingin dipelototi aku memutuskan segera kembali. Walaupun aku masih bingung dengan pernyataan pelayan tadi. Mungkin kak agung pelanggan setia, jadi dia tahu. Tapi maksudnya aku beruntung apa?
Masih dengan alis berkerut, aku membawa kotak kue dengan hati-hati. Aku juga penasaran dengan kue itu. Untuk apa dia membeli kue yang tergolong spesial ini? Hari ini kan bukan ulang tahunnya kak agung ataupun aku. Aku ingat benar ulangtahunku sama dengannya . tanggal 4 september, kebetulan yang sangat tidak disangka dan 4 september masih 3 bulan lagi.
"Sudah, pegang yang bener ya!!"
"Iya bawel" alisnya mengkerut..
"Eeh kok mbak yang didalam tahu kalo aku mau ambil pesenan kakak? Aneh deh. Terus dia bilang aku orang yang beruntung. Maksudnya apa coba?" jelasku bingung.
"Mana kakak tahu" jawabnya dengan cuek. "Mbaknya bisa baca pikiran orang kali. Mungkin dia juga kecapean makanya ngomongnya ngelantur. Udah gausah dipikirin, yang penting kuenya udah diambil."
"Terus kue ini buat apa? Kita kan gak ulang tahun." dia terdiam masih fokus mengendarai motor.
"Kaaaak"
"Apasih, bawel bangett.."
"Ini buat cewek kakak yaa? Bungkusnya bagus banget. Ehh emang kakak punya cewek?" aku terkekeh.
"Buat calon cewek kakak, mau kakak kasih nanti malam, pegang yang bener, awas jangan sampe lecet." kak agung menghentikan motornya disuatu taman.
"Cieeeee sekarang udah punya gebetan nih. Parah yaa.. Gak dikenalin ke aku." protesku dengan cemberut.
"Ngapain juga dikenalin ke kamu nanti kena pengaruh aneh lagi hahaaa." tawanya. "Kita duduk dulu disini, kakak lagi pengen nikmati suasana sore sama cewek, biar nanti malem gak deg degan."
Aku mengernyit.. "Eiitttss tapi inget, jangan kegeeran.." jelasnya sambil menepak jidatku.
" jih, ngapain juga harus geer, terus yang kakak maksud bantuin kk itu, cuma suruh bawain kue ini doang? Sialan."
"Ya enggak lah, masih banyak yang harus kamu kerjain."
"Oooooh, sekarang kita mau kemana lagi?" tanyaku penasaran.
"Kerumah kakak."
"Ngapain? Waaahh mau macem macem yaa.. Gak ada gak ada.." protesku.
"Apaan sih. Ngaco deh.. Udah ikut aja, jangan banyak ngomong. Kepala sakit nih denger kamu ngomong terus."
Aku cemberut "kok seweot sih."
Kak agung terdiam seketika wajahnya terlihat tegang. Setelah sekitar lima belas menit kami duduk tanpa mengobrol. Ya tuhaan rumahnya jauh sekali denganku. "Lhooo katanya rumah kakak deket sama rumahku?" kak agung hanya nyengir. "Menurut kakak sih ini deket."
Aku menghela napas, dia pasti sudah gila. Dasar orang gak punya kerjaan, jelas jelas rumahnya berlawanan arah dengan rumahku...

NEXT

Grey Sun Flower Part3


GSF #Part3
******
"Jadi ikut gak?"
Aku menghela nafas, sepertinya aku harus melupakan kejadian kemarin. Aku harus sampai dirumah secepatnya. Kalaupun dia mau macam-macam, aku masih menyimpan semprotan lada di dalam tas. Cepat-cepat kususul dia yang tersenyum puas.
"Pakai ini biar gak kehujanan, kamu tunggu sini dulu.."
Agung melepaskan jaketnya dan menyodorkannya dengan tah acuh padaku. Lalu dia berlari kecil. Dan mengajakku pulang.

"Jadi rumahmu dimana ais?" tanyanya santai.
"Didaerah kemayoran". Jawabku lalu menjelaskan alamat rumah padanya secara detail. Sementara dia terus mengendarai mobil dengan kecepatan stabil.
"Kamu baru mulai kuliah tahun ini ya?" tanyanya masih dengan nada santai.
Aku mengangguk. "Iya, baru semester pertama. Kalo kamu?"
"Pantes aku gak kenal, aku udah semester lima." jawabnya singkat.
Obrolanpun mengalir, kami membicarakan kampus. Dari pertanyaan basa-basi hingga gosip terhangat yang sedang beredar di kampus. Tak disangka aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Selera humornya tinggi juga, aku sampai sakit perut mendengar leluconnya. Aku merasa heran. Aku baru kenal agung dua hari. Tapi bersamanya aku bisa tertawa selepas ini. Ya meskipun penyakit over pedenya sesekali muncul.
**
Tanpa terasa kami sudah tiba didepan rumahku. Lampu rumah menyala itu artinya ibu ada dirumah.
"Makasih banyak ya, aku gak tahu gimana pulangnya kalo gak ada kakak."
"Hah kakak? Sejak kapan ? Hahaa." ledeknya..
"Tapi okelah, umur aku kan lebih dewasa. Meskipun hanya sedikit." jelasnya dengan masih tertawa.
Aku hanya mengernyit heran. "Sekali lagi makasih ya.."
Agung tersenyum. Bibirnya menekuk manis diwajahnya yang tampan. "Santai saja, lagian rumahku deket sini kok."
"Oh yaa?" tanyaku
"Kalau begitu, kapan kapan harus ajakin aku main ke rumah kakak, oke!"
"Iya gampang, sudah masuk sana."
Perintahnya dengan lembut.
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi, aku langsung turun masuk kerumah dan langsung disambut aroma harum makan malam yang sudah ibu siapkan.
****
Semenjak hari itu. Aku dan agung bersahabat . setiap les, agung hampir tidak pernah absen untuk mengantarku pulang. Bukan hanya itu, agung juga tidak jarang menjemputku ke rumah. Kalau aku bertanya padanya "buat apa repot repot?". Dia selalu menjawab. "Daripada aku gak ada kerjaan".
Aku jadi bingung sendiri.
Anehnya lagi, dia tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Selalu ada seribu satu alasan untuk membuatku mengurungkan niat pergi kesana. Teman teman di kampua banyak yang mengira kami berdua berpacaran. Alviah pun mengira seperti itu. Padahal kami berdua murni hanya berteman.
Tapi terkadang, aku akui aku sering mengajak agung jalan karena dia menarik. Menggandengnya seakan dia itu pacarku. Itu membuat teman temanku bertanya siapa kak agung sebenarnya? Apakah dia pacarku? Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Tidak aku iyakan, tidak juga aku sangkal. Menurutku aku tidak berbohong. Tapi lama kelamaan, kak agung mulai bertingkah. Pernah qaktu itu, saat kami membeli buku. Dia melingkarkan tangannya dibahuku. Spontan ku tepis tangannya. "Agung Mardiaaaaaaan" teriakku.
Dia terkejut. "Jih kenapa?"
"Ngapain rangkul ragkul? Mau curi kesempatan?" aku menatapnya dengan wajah galak.
Tapi dia malah tertawa mengejek. "Salah sendiri. Kamu kan juga sering memanfaatkan ketampanan kakak. Bertingkah seolah-olah kakak ini pacar kamu. Ya kan? Kamu pikir kakak gak tau. Padahal kan kita cuman temenan. Jadi wajar kalo pamrih dikit hahaaa." ledeknya sambil nyengir menjengkelkan. Aku hanya mendengus. "Dasar tukang pamrih" gerutuku.
"Yaudah deh, tar kamu pulang sendiri aja."
Aku langsung terdiam mendengar ancamannya. Dia tahu aku paling benci pukang sendiri. Aku sudah terbiasa diantar jemput olehnya. Naik mobilnya yang nyaman. Sekarang aku jadi malas naik bus kota yang panas.
Dengan beberapa buku ditangan. Kak agung berjalan ke arah kasir. Aku bisa melihat dia menyunggingkan senyum kemenangan di wajahnya yang tampan.
"Nih" tiba tiba dia menyodorkan salah satu kantong plastik ditangannya. Ketika kuintip isinya aku terperanjat. Ternyata itu bukun impor yang sudah lama aku incar, tapi tidak kesampaian karena mahal.
"Kok kakak tahu aku mau buku ini? Perasaan aku gak pernah cerita". Tanyaku bingung.
***
Sejak berteman dengannya, aku lebih hati hati dalam mengatakan apa yang aku sukai atau apa yang ingin aku beli. Kak agung punya kebiasaan buruk. Dia terlalu royal terhadapku. Barang yang ingin aku beli, langsung dibelikan olehnya.
"Emang kamu lagi suka buku itu, ya?" kak agung memasang tampang bego. "Tadi aku asal milih aja, habis sampulnya bagus sih, jadi daripada uang kakak nganggur. Mending kakak sumbangin ke kamu."
Aku hanya menghela nafas. "Selalu kaya gitu."
Kami kemudian menuju ke tempat parkir. Dia selalu memakai alasan yang sama setiap kali membelikanku seauatu. Dan aku merasa dia sudah tidak mengharapkan ucapan terimakasih lagi dariku.
Sambil berjalan, dia merangkul bahuku dan tertawa. Suara tawanya terdengar begitu menyenangkan di telingaku. "Tenang saja, kakak gak pamrih kok untuk soal yang satu ini, hahaaa."
Aku hanya nyengir. "Lain kali, jangan beli apa apa lagi buat aku deh. Aku gak enak kak. Aku belum tentu bisa bales semua kebaikan kakak. Kalo aku mau sesuatu. Aku bakalan nabung sendiri. Jadi kk gausah repot repot."
Dia hanya tertawa dan mulai mengacak ngacak rambutku. "siapa juga yang minta di bales? Kan kakak udah bilang. Daripada uang kakak nganggur, mendingan kakak sumbangin ke kamu. Kan kan?". Dia kembali tertawa.
Aku tidak menganggap leluconnya utu lucu, jadi kusikut pinggangnya dengan keras.
"Aaawwww!! Sakit." pekiknya. "Kenapa disikut? Sakit tau."
"Biarin, orang nyeselin kaya kakak emang pantes digituin." secepat kilat aku merampok kunci mobilnya. Takut tidak diantar pulang.

NEXT



Jumat, 24 November 2017

Grey Sun Flower Part2

Grey Sun Flower
#Part2
  ****

  "Aku pasti merindukanmu." ucapku lirih. "Maafkan aku ais." jawabnya.
Dia terdiam, aku mendengar setiap detak yang ada di jantungnya.
Perasaan terkejut buru buru kubuang, aku ingin merasakan pelukannya. Kuletakkan kepalaku diatas bahunya, memeluknya seerat yang kubisa. Kuhirup aroma tubuhnya yang segar, supaya farfumnya melekat dalam ingatan. Dia mengusap punggungku dengan hangat. Aku tidak ingin melepaskannya. Apa dia tahu aku masih sangat menyayanginya dari dulu hingga sekarang? Aku ingin memeluknya terus sampai aku mati.
Tapi itu hanya mimpi. Baginya, ini hanya pelukan persahabatan. Tidak lebih. Aku yakin dia tidak punya perasaan apa apa untukku. Seandainya aku boleh meminta. Aku ingin bersamanya terus seperti ini selamanya. Hingga akhirnya dia melepas pelukannya dan mengucapkan salam perpisahan.
Gaun ini tidak akan pernah aku buang. Karena di gaun ini ada aroma tubuh janwar yang segar. Ini malam perpisahan yang begitu manis dalam hidupku.

*******

(Enam bulan kemudian)

****
"Alviah gue mau les bahasa inggris ditempat lo nih, ada kelaa baru? Bayarnya berapa? Mahal gak?" aku duduk dikursi taman kampus sambil minum air putih disamping alviah.
"Kalo gak salah sih ada, soal harga tergantung lo dapet level apa. Nanti sore gue ada jadwal les. Nanti kita bareng kesananya, gimana?". Tawarnya sambil melihat kertas ujiannya yang kebanyakan nilai C.
"Ini gue nya yang bego apa dosen yang sentimen sih? Kenapa nilai gue jelek semua? Waahh pasti dosennya yang salah ngasih materi nih." kesalnya.
"Hahaa kalo lemot ya lemot aja. Gausah nyari pembenaran. Hahaa yang sabar ya, mungkin udah takdir lo kaya gitu." godaku sembari menepuk nepuk pungguh alviah. "Kaya gue dong vi, mau jelek kek, mau kebaran kek, yang penting hapyy..". Ledekku lagi puas tertawa.
"Yaiyalah, lo enak ngomong gitu, orang nilai lo yang paling rendah B, buat gue sih udah syukur banget. Kayanya gue pengen terua kaya lo aja tiap hari." ujar alviah. Aku hanya nyengir mendengar pujian terselubung alviah. Nilai nilai itu aku dapatkan karena keinginanku yang besar untuk membahagiakan papah sama ibu dan obsesiku untuk melupakan janwar. Sudah enam bulan berpisah, tapi ingatanku masih memutar memori yang sama. Memori tentang janwar.
.
Aku tak menyangka akan sesulit ini untuk melupakannya, dulu kukira ini hanya cinta monyet yang akan bertahan sampai satu dua tahun, tapi ternyata tidak.
Wajahnya terua muncul dibenakku. Setiap detik, ingatanku akan dia sangat mengganggu. Dia dan harum tubuhnya meninggalkan lubang lubang kecil dihatiku. Lubang itu bertambah besar setiap hari, ketika aku meeindukannya.
"Ais, lo pulang sendiri gapapa kan? Gue mesti les nih. Udah telat." tanya alviah padaku setelah ia selesai mengantarku mendaftar. Aku mengangguk dan alviah langsung berlari kecil menuju kelasnya. Aku merapikan formulir dan arsip-arsip. Sambil berjalan keluar gedung aku asyik melihat gedung sekeliling. Bnyak anak SMA ditempat itu, melihat mereka membuatku teringat pada masa SMa yang sudah enam bulan aku tinggalkan. Untunglah anak kuliah juga banyak. Mereka tampak sibuk dengan urusannya masing masing.
*
Saat aku berjalan keluar pekarangan gedung, aku melihat seorang pria berkaus putih dengan celana jins hitam Turun dari mobil range rover. Penampilannya agak berantakan, namun wajahnya cukup tampan. Badannya tinggi, lebih tinggi daripada janwar. Kulitnya putih dengan dilapisi bulu bulu tipis dilengannya. Rambutnya hitam dan rahangnya yang tegak membuatku terpana. Matanya lembut, bibirnya tenang. Terkadang aku terkejut sendiri dan tertawa setelahnya. Kenapa aku melihat seorang pria, aku langsung membandingkannya dengan janwar. Saking terpananya aku tak memperhatikan jalan.
.
GUBRAAAKKK..... !!!
Wajahku memerah , aku menabrak tong sampah. Tak kusangka pria itu menghampiri dan membantuku berdiri. Tangannya yang kokoh dan hangat menggenggam tanganku. Siak sekali aku. Belum pernah aku semalu ini, tapi aku kagum ada pria tampan yang mau menolong setelah kejadian memalukan tadi. Samar samar aku mencium bau farfumnya. Sejenak aku merasa bau farfumnya sama dengan aroma janwar.
"Apa aku setampan itu, sampe kanu gak liat jalan?" tanya pria itu sambil membantuku merapikan formulir yang jatuh berserakan.
Aku langsung menatap matanya dan merasa syok. Rasa kagumku hilang seketika. Aku malu dan jengkel bukan main. Karena pria ini hanya ingin mengolokku. Tanpa berkata apa-apa aku bergegas pergi san meninggalkannya. "Woi. Ngucapin terimakasih kek, apa ke . dasar cewek gila! Udah syukur ditolongin." teriaknya.
.
Ternyata kesialanku masih berlanjut. Waktu les bahasa inggris, aku sekelas dengan pria menyebalkan itu. Aku kaget ketik melihat dia masuk ke kelasku dengan kaus berwarna biru dan celana jins hitam. Dia juga tampak terkejut namun kemudian tersenyum mengejek ke arahku. Aku langsung membuang muka. Sekilaa aku mendengar, dia berguman keaal ketika melihat sikapku.
Dari sesi perkenalan akhirnya aku tahu namanya. Agung Mardian. Yang membuatku lebih kaget, ternyata dia satu kampus denganku!!! Mahasiswa fakultas kedokteran. Pantas aku tidak pernah melihatnya. Aku mengambil bidang arsitektur. Ditambah aku tergolonh mahasiswa baru.
Dengan kelebihan fisiknya, aku yakin dia akan menjadi dokter yang sangat tampan. Aku berusaha tak melihat wajahnya, tapi mataku tetap saja mencuri pandang. Wajahnya begitu tenang.
Dia tampak sibuk dengan catatannya, wajahnya tampak lebih tampan ketika sedang berkonsentrasi, tangannya yg putih kontraa dengan bolpoin yang ia genggam.
Setelah les selesai , aku baru sadar bahwa dia benar benar menyita perhatianku selama dua jam ini. Selain janwar, baru kali ini ada orang yang mampu membuatku tidak bisa berkonsentrasi.
.
Aku keluar kelas dengan buru-buru. Malas sekali kalo harus berpapasan dengannya. Aku berjalan cepat menuju pintu keluar. Tapi tampaknya tuhan memang sedang menguji kesabaranku. Hujan turun dengan deras di sertai angin kencang. Sebenarnya aku suka mendung, aku suka hujan. Tapi aku kesal karena hari ini aku tidak membawa payung dan perutku sudah keroncongan . dari pagi aku hanya makan nasi goreng buatan ibu saat sarapan. Aku sempat berfikir untuk berlari saja. Jarak pintu dengan halte bus sangatlah jauh. Tubuhku pasti basah kuyup jika aku nekat berlari. Terpaksa aku menunggu hujan sampai reda.
Jam menunjukan 19.30 malam, aku meringis kedinginan dan kelaparan. Dirumah, tugas kuliah numpuk dan menunggu untuk diselesaikan. Aku mendesah. Seandainnya papah bisa jemput, tapi papah sedang ada kerjaan bersama rekannya.
Aku berjalan ke ruang tunggu yang tidak jauh dari pintu masuk. Kukeluarkan novel yang baru kubeli, untung saja aku bawa buku ini. Kalau tidak aku akan mati bosan menunggu hujan reda. Ketika aedang asyik membaca, suara yang tidak asyik membuyarkan konsentrasiku. Ternyata Agung sudah duduk di sebelahku .
"Rumah kamu dimana?" agung mengulangi pertanyaannya. Aku memandang sekelilingku, di ruang tunggu itu tidak ada orang lain yang duduk selain kami berdua. Aku meliriknya, dia memang berbicara. Tapi tidak melihat ke arahku. Tangannya sibuk dengan ponselnya. Jngan jangan dia sedang menelpon? Tapi ditelinganya tidak ada headset.
Sekali lagi aku pandangi di sekelilingku, tempat ini bahkan telah sepi karena hampir semua anak sudah di jemput dan pulang.
"Woooooyyy, gue ngomong sama lo, Aisyah Iskandarr! Budek ya..."
Mendengar namaku disebut aku langaung menoleh ke arahnya dan menatapnya bingung. Ada urusan apa dia brrbicara padaku dan menanyakan rumahku? "Lo ngomong sama gue?"
"Enggak mungkin kan gue ngomong sama pintu" jawabnya singkat tanpa ekspresi.
"Ada urusan apa lo nanya nanya rumah gue? Kenal aja enggak.."
Melihat wajahnya yng tampan, aku takut akan terpana lagi. Parfumnya yang segar tercium olehku. Rasanya aku ingin pingsan. Apalagi menatap matanya yang lembut.
"Siapa tau rumah lo searah sama rumah gue. Kalo iya, kita pulang bareng aja." dia masih sibuk dengan ponselnya. Aku terkejut mendengar ajakannya. Jarang sekali ada orang yang menawarkan tumpangan pada orang yang baru dikenal. Dia tampaknya membaca kebingunganku. Lalu ia beranjak dari tempat duduk dan berdiri dihadapanku sehingga aku harus mendongak melihat wajahnya.
"Hujan ini gak ada tanda mau berhenti deh. Kalo mau bareng ayo. Kalo gak mau, gue gak rugi kok." agung menjelaskan dengan santai. Seperti berusaha meyakinkan bahwa dengan pertolongannya aku bisa sampai dirumah tanpa kehujanan. Aku belum menjawab, aku masih berfikur, keputusan apa yang harus aku ambil. Ikut atau tidak?
Agung berjalan meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku mengira dia akan langsung pulang, tapi tepat sebelum melangkah keluar dia menoleh lagi.
"Jadi ikut gak?"

NEXT


Grey Sun Flower Part1



Grey Sun Flower
Oleh : siti khopipah Aliskandar.
#Part1
.
         Janwar.... orang yang membuatku, sejak kelas 4 SD . berpikir tidak ada yang lebih menarik daripada dia. Warna hitam dimatanya adalah hitam paling sempurna yang pernah kulihat, tajam dan tegas; sanggup menyapu semua hal disekelilingnya dengan satu tatapan saja. Bibirnya sesempurna senyumnya, senyum yang jarang ia umbar ke orang lain. Tapi ketika ia tersenyum, aku nerasakan aliran darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat dari dalam jantung hingga ke ujung jariku. Mengalirkan napas pendek penuh kebahagiaan.
Kalau ditanya apa yang ia suka, aku yakin seratus persen, menulis puisi jawabannya. Tangannya menari lincah diatas kertas. Kuku kuku jarinya yang putih bersih kemerahan. Tangan itu yang sejak dulu ingin aku genggam dan ajak berjalan. Badannya tegap, punggungnya begitu lapang, punggung yang sekarang sedang aku lihat jauh dari belakang. Aku tahu, ada banyak kehangatan dipunggung yang kokoh itu. Dia benar-benar pria yang menarik. Dimataku dia benar-benar menarik. Tapi bukan kesempurnaan fisik yang membuatku menyukainya sejak dulu. Aku senang melihat tingkah lakunya, senyum dan tawa kecilnya selalu ada diwajahku ketika aku melihat keisengan yang ia lakukan bersama temannya.
        Rasa kagum selalu timbul dalam diriku ketika aku melihat dia menulis di taman sekolah. Dan rasa bangga selalu muncul dihatiku ketika melihatnya tekun belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah dengan rapi.
Tapi sekali lagi, ternya bukan hanya kepribadiaannya yang membuatku begitu menyayanginya. Kesempurnaannya, timbuk entah darimana. Yang pasti, aku menyukainya sejak dulu, aku melihat sebagai pria yang sempurna. Aku suka, aku sayang, aku cinta. Tidak ada alasan.

"Hayoo.... Mata kamu ke buku apa kemana?" aku terkesiap, seorang gadis cantik berambut tebal panjang serta berkulit putih membunyikan suaranya diatas volume normal. Aku tak menyadari kedatangannya karena terlalu sibuk mengamati janwar. Buru buru kubenarkan posisi duduk dan arah pandanganku ke buku catatan.
.
      Gadis itu bernama alviah, sahabat baikku. Hubungan persahabatan ini baru berjalan dua tahun. Tapi aku sudah menyayanginya seperti saudara sendiri, dia orang yang paling mengenalku setelah kedua orangtuaku. Dan mungkin sekarang hanya dia dan tuhan yang tahu apa yang sedang aku perhatikan.
Alviah, gadis yang lemot, tapi cukup pintar matematika. Meskipun dia hanya merasakan kasih sayang orangtua yang tidak luarbiasa. Nasibku tidak jauh berbeda. Aku tinggal bersama kedua orangtua yang hampir menua. Papaku berumur 53 tahun sedangkan ibuku 43 tahun. Papaku seorang pekeeja keras, sedangkan ibuku adalah sumber inspirasi bagiku, ia mampu membuatku menjadi gadis kuat dan mampu berdiri di dunia yang selalu mempermainkan hidup kami. Aku sayang pada mereka...
.
"Ihh alviaaaah, jangan keras-keras dong ngomongnya." mataku melirik kearah fachri dan melototi alviah setelahnya.
Alviah menyeringai. "Makanya Ais, kalo belajar tuh yang bener, bukannya malah ngeliatin yg aneh aneh." ujar viah, sengaja menekan sedikit intonasinya. Aku tahu apa-- atau lebih tepatnya pada siapa-, yang dia maksud. Senyum puaa terukir diwajahnya. Sedangkan wajahku? Aku tidak tahu sudah semerah apa sekarang.
Alviah mengaduh karena tangannya kucubit. Hal itu tak akan kulakukan, jika janwar tak melihat dengan heran ke arah kami. Atau jangan jangan dia sadar apa yang kami bicarakan sekarang adalah dirinya?
.
Satu hal, dia tahu tentang perasaanku padanya. Tahu darimana? Aku tak tahu pasti. Tapi memang hampir satu angkatan tahu tentang perasaanku padanya. Aku hampir yakin mereka tahu semua itu dari alviah.
"Lagian kamu, ngeliatin dia terus. Enggak bosen apa? Kamu suka dia dari kelas berapa? Kelas 4 SD kan? Sekarang kamu udah kelas 3 SMA. Apa gak jamuran tuh hati?."
Nyerocos alviah sambil melihat janwar dengan seksama.mungkin mencoba mencari penyebab kenapa aku 'Setia' mencintai janwar.
        Aku kembali melirik ke arah janwar. Dia susah sibuk kembali dengan buku catatannya.
"Habisnya dia menarik sih, jadi aku enggak bosen, mana dia ngikutin aku dari SD sampe SMA. Salah siapa dong?" tanggapku sesantai mungkin. Seolah sedang menyampaikan sebuah lelucon. Padahal perasaanku padanya sama sekali bukan lelucon.
"Yeee... Dia ganteng emang udah dari sononya Aisyah Aliskandar! Emang kamunya aja yg cinta mati sama dia. Jadi susah."
Alviah kemudian menertawaiku. Aku hanya membalasnya dengan memasang wajah cemberut.
"Ya biarin dong. Bentar lagi juga aku sama dia bakalan ke pisah kalau udah kuliah. Sekarang aku mau puasin liat muka dia. Kita kan tinggal beberapa hari lagi di sekolah. Hari ini aja kita ujian nasional terakhir. Jadi biar aku seneng dikit." protesku.
"Terseraaaaaaahh." balas alviah dengan senyum jailnya.
      Ulangan hari itu berjalan lancar. Aku hampir bisa menjawab semua soal. Alviah juga bisa menjawab semua pertanyaannya. Meskipun dia tadi sempat panik. Tapi aku yakin dia sudah belajar dengan serius di rumah.
Dengan berakhirnya ujian, berakhir pula masaku duduk di bangku sekolah. Aku tinggal menunggu hasil jerih payahku selama ini. Hari hariku di SMA bisa dihitung dengan jari sekarang. Begitu pula kesempatanku untuk melihat orang yang paling menarik dalam hidupku.
.
Sejak kecil, sejak pulang sekolah adalah saat yg paling berat bagiku. Karena berkurang sudah satu kesempatan untuk melihat janwar. Aku ingat, aku selalu berharap semoga masih ada hari esok agar aku bisa memandanginya lagi.
**
Aku duduk diberanda kamar sambil memikirkan langkah apa yg harus kuambil. Menimbang nimbang universitas mana yang akan kupilih. Kalau aku memilih universitas piluhan ibu, berarti aku berpisah dengan janwar. Sejujurnya aku tidak tahu jadinya kalau aku tidak melihat sosok janwar dalam waktu yg lama. Bagiju melihatnya saja sudah cukup. Aku benar tidak berani membayangkan bagaimana aku bisa bertahan tanpa dia dimataku.
Ibu sebenarnya tidak pernah memaksaku untuk masuk kuliah manapun, ia membebaskanku asal aku bertanggung jawab. Ibu selalu menghargai setiap keputusanku. Tapi aku bisa melihat kali ini ia sangat berharap aku mengikuti semua keinginannya.
Aku membenamkan kepalaku diantara lututku yang tertekuk. Aku yakin pilihan ibu baik untukku.
Hasil ujianku keluar dengan nilai yang memuaskan dan aku diterima di kampus pilihan ibu. Bahagia sekali ketika melihat ibu senang. Aku tahu, aku mengambil keputusan yang benar. Aku rela tidak melihat janwar lagi demi melihat ibu terasnyum seperti itu. Akhirnya aku memulai hidup baru.
Mulai hari ini aku sadar, aku tak bisa memandang janwar lagi. Aku bahkan tidak bisa melihat punggungnnya . semuanya akan berubah dan aku yakin aku akan menemukan sesuatu yang lebib. Entah itu dengan atau tanpa janwar dihadapanku.
****

Pesta perpisahan. Aku dan teman temanku mengenakan gaun pesta yang cantik dan indah. Sedangkan teman laki laki mengenakan jas terbaij mereka. Semuanya terlihat cantik dan tampan. Kami merayakannya disebuah gedung yang ditata sederhana namun elegan.
Aku senang, begitu banyak kebahagiaan sekaligus haru pada hari itu. Ketika kamu menyanyi bersama, mengobrol sebagai anak SMA yg terakhir kalinya. Setelah ini kami akan melangkah dijalan yang berbeda. Mengejar impian masing masing.
Setelah hari ini mungkin aku hanya bisa melihat janwar ketika ada acara reouni saja. Tapi itu juga kalau aku dan dia tidak sibuk karena tugas kuliah. Aku harus menerima kenyataan. Tempatnya sekarang hanyalah dihatiku.sesuatu yg tidak nyata. Hanya memori. Yang suatu saat bisa pudar dimakan waktu.
     Ketika acara selesai, kami semua berpelukan. Saling mengucapkan kata perpisahan. Saling mengucapkan doa untuk hidup masing masing.
Aku memeluk alviah erat. "Eh, ngapain aku meluk kamu. Kita kan satu kampus.."
Hahaaa kami merasa geli dan tertawa.
Disamping alviah ada fahri, berdiri gagah dengan setelan jas bewarna biru. Dia lalu memelukku. Fahri sahabat baik janwar. Dia juga thu bagaimana perasaanku pada janwar. Fahri juga teman baikku. Seperti alviah, fahri juga sering meluangkan waktu untuk mendengar cerita kecilku. Aku memeluk fahri dengan erat. "Semangat ya fai, jaga dia baik-baik." bisikku.
"Tenang saja ais, gue bakal jaga pria tercinta lo itu." aku terkekeh dan memukul lengannya. Fahri akan satu kampus dengan janwar.
     Tiba tiba alviah menyiku pinggangku. Aku mengaduh dan protes padanya. Rupanya dia memberi kode agar aku menoleh ke arah kanan. Aku tertegun. Janwar...hari ini dia tampan sekali, dengan jas abu, celana abu dan dasi yang bewarna sama. Kemejanya putih bersih. Aku tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin gaunku bisa berwarna sama dengannya? Bagiku abu abu adalah warna tercantik. Aku senang, jarena kami menyukai warna yang sama.
**
Dia berjalan dengan mantap, dan memasang senyum yang sangat manis sekali. Sesuatu yang sangat aku sukai. Hatiku bergetar. Ia berhenti dihadapanku. Tepat dimataku.
Fahri dan alviah langsung pergi meninggalkan kami, seolah mereka mengerti pada keadaan. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Daya tariknya jauh lebih luarbiasa dilihat dari jarak sedekat ini. Garis garis wajahnya terlihat begitu sempurna. Ia tersenyum. Saat itu pula seolah dunia ikut tersenyum padaku. Ia menjabat tanganku. Aliran kebahagiaan mengalir dari ujung jari sampai masuk kedalam jiwaku. Akhirnya aku bisa merasakan lengan yang sejak kelas 4 SD duku ingin ku genggam, ingin ku ajak makan es krim. Tangan orang yang ingin aku ajak jalan dan bergandengan.
"Sukses ya kuliahnya. Jadi arsitek yang pintar. Rancang gedung yang bagus" ia berbicara dengan lembut.
"I.....iya." sahutku tergagap.
Kami masih berjabat tangan, dan saat aku ingin melepaskan tangannya. Dia malah menarik tanganku hingga aku jatuh dalam pelukannya.
Bagaimana mungkin? Bisa melihatnya setiap hari saja sudah membuatku mengucapkan beribu ribu syukur. Apalagi memeluknya? Memimpikanpun rasanya aku tak berani.


NEXT