*GSF* part7
.
Kupikir tidak ada alasan untuk tidak menerimanya.
Tapi, entah kenapa sosok janwar singgah lagi kedalam pikiranku. Perasaan gelisah itu kembali muncul. Seperti ada sesuatu yang membuatku berat untuk menerima kak agung. Sebuah perasaan tidak rela yang tidak jelas datang darimana. Firasatku mengatakan yang harus kupikirkan hanyalah janwar, bukan kak agung.
Aku cepat cepat menghapus janwar dari pikiranku. Aku rasa kak agung adalah yang terbaik untukku saat ini. Tidak ada salahnya aku menerima dia. Walaupun aku belum bisa melupakan janwar, toh kak agung pria yang baik meskipun sedikit menjengkelkan.
Aku telah mengenal karakternya, dan ia cukup sepaham denganku. Mungkin ada beberapa perbedaan, tapi selama ini kami bisa mencari jalan tengah dengan baik. Mungkin kami bisa melakukan hal yang sama saat berpacaran nanti. Dan yang paling penting adalah, ada sesuatu di dalam diri kak agung yang membuatku merasa nyaman ketika didekatnya. Dan bagiku dia sama menariknya dengan janwar.
Jadi, aku memutuskan akan menerima kak agung sebagai pacarku. Baru saja aku akan menjawab pertanyaannya, ponselku berbunyi.
Aku tekan tombol hijau diponselku dan kudengarkan orang diseberang sana berbicara. Tak ada satu katapun yang terlewatkan olehku. Karena berita yang kudengar benar benar membuatku syok. Inilah firasat yang sejak tadi kurasakan? Aku bisa merasakan airmata mengalir dipipiku. Sakit sekali rasanya, seperti ada pisau besar yang menusuk tepat diulu hatiku.
******
Handphoneku terjatuh. Kak agung memegang dan mengguncang tubuhku. Aku tersadar. Cepat-cepat kututup kotak kue yang ada dipangkuanku dan sambil setengah berlari kubawa ke arah pintu tangga.
Kak agung mengejarku, meraih tanganku dan membuatku tidak seimbang untung sesaat. Tapi dengan sigap ia menopangku agar aku tak jatuh.
"Kamu kenapa? Kamu mau kemana? Ada apa ini? " tanyanya bingung. Aku berusaha menjawab, tapi tak satu katapun yang keluar dari mulutku. Bibirku kelu. Airmataku berusaha kutahan. Sakit sekali rasanya. Saat ini aku ingin sekali memeluk kak agung. Menangis dipelukannya. Aku tahu dia bisa menenangkanku.
"Kaaaaaaakk. " aku terisak. "Kenapa ais kenapa? Jangan bikin kakak khawatir. " tanyanya cemas. "Temen aku sakit, sakit parah. Aku mau cepet cepet kesana. " jelasku dengan suara tercekat. Setelah itu aku langsung menuruni tangga. Kak agung mengikutiku dari belakang. Karena terlalu terburu buru, aku terjatuh dan kue yang kubawa hancur berantakan.
Saat itu airmataku semakin mengalir "kak aguuung.. Maaa... Aaaff.. Aku minta maaf. "
"Udah gpp, kue bisa dibeli lagi. " aku berusaha berdiri. Tapi tak bisa rasanya sakit sekali. Seperti ada yang terkilir, aku menangis. Bagaimana ini? Berdiripun aku tak bisa. Aku frustasi. Aku ingin berlari... Tapi aku tak bisa.
Tapi kemudian kak agung jongkok didepanku.
"Ayoo naik. " katanya singkat. Aku menatap punggungnya dengan bingung. Dia menoleh karena aku tak bereaksi. "Duh ini anak malah diem, cepetan naik. Kakak antar ke tempat temen kamu. Mau cepet cepet kesana kan? Jadi buruan naik. "
"Tapiii..... " pikirku.
"Ayo buruan, kakak gak akan pernah bisa biarin kamu kesakitan kaya gini. "
Aku tidak memerlukan waktu lama untuk memutuskan naik kepunggung kak agung. Karena yang penting bagiku sekarang hanya pergi ketempat itu secepat yang aku bisa.
Kak agung menuruni tangga. Aku aman berada dipunggungnya yang hangat dan kokoh. Dia menggendongku sampai diparkiran, dia menurunkanku perlahan dan membantuku naik keatas motornya. Lalu dengan cepat dia tancap gas kerumah sakit yang aku maksud. Baru kali ini kak agung membawa motor sekencang ini...
********
Sampai dirumah sakit aku berlari. Aku sadar kondisi kakiku masih parah. Saat berlari, aku merasakan berpuluh puluh pisau seperti menyayat tubuh ini, aku berlari terseok seok menuju ruang ICU.
Didepan ruangan itu sudah ada alviah dan fahri. Aku menghampiri alviah. Dia tampak khawatir ketika melihat wajahku sudah banjir dengan airmata. Aku nyaris terjatuh saat jarak kami tinggal beberapa langkah. Untung fahri sigap menangkapku.
"Janwar kenapa? Dia sakit apa? Kenapa kalian gak ngasih tau gue. "
Suaraku bergetar karena menahan tangis.
"Ada kanker di otaknya, gue sebenarnya udah tahu ini sejak kelas satu SMA. Waktu itu gue gak sengaja liat dia hampir pingsan dan mimisan banyak banget. Gue bantuin dia ke UKS dan gue paksa dia untuk cerita tentang penyakitnya."
Fahri menghela nafas lalu menuntunku duduk dibangku depan ruang ICU.
Lututku lemas. Airmata semakin mengalir. Tubuhku seperti mati tak bernyawa.
Fahri melanjutkan ceritanya. "Sumpah, waktu itu hal pertama yang pengen gue lakuin itu ngasih tau lo tentang penyakit janwar. Karena gue tahu pentingnya janwar buat lo. Tapi sebelum sempet gue lakuin itu, janwar seperti bisa baca pikiran gue, dia langsung ngelarang gue!! Waktu itu dia bilang, dia akan segera sembuh karena setelah lulus SMA dia mau berobat ke luar negeri. Jadi gue pikir gak ada masalah kalo gue gak kasih tahu masalah ini ke elo. " wajahnya menunjukan penyesalan.
"Maafin gue juga, ais. Selama ini gue tahu janwar pindah kemana. Gue tahu dia gak kuliah karena dia sakit. Tapi gue gak sanggup kasih tahu ini ke elo. Gue gak mau lo lebih terpuruk lagi. " Sambung alviah dengan suara bergetar karena ikut menangis. "Gue yang salah, semua ini gue yang salah. Harusnya gue gak percaya katakata janwar gitu aja. Karena ternyata dia gak berobat keluar negeri sehingga keadaannya makin parah. Gue juga baru tahu kabar ini dari fahri tadi. "
Airmataku semakin deras. Aku berbalik membelakangi alviah. Lalu memeluk fahri. Aku menangis sementara alviah mengelus punggungku dari belakang. Ia mengucapkan kata maaf berkali kali.
Fahri memelukku erat. "Sekarang gue tahu, kenapa janwar gak mau ngasih tahu tentang penyakitnya itu. Gak akan ada yang tega liat keadaan lo kaya gini. Tapi ais, dia pasti bisa. Lo harus percaya sama dia, dia gak akan pergi sebelum dia ketemu sama lo. " kata fahri lembut. Penjelasan fahri membuatku tertegun. Kucoba menangkap maksud kata katanya. Dari ceritanya tersirat bahwa janwar juga punya perasaanyang sama denganku. Janwar menungguku? Yatuhan, apa maksud dari semua ini....?
********
Tiba-tiba wanita separuh baya berparas cantik keluar dari ruang ICU. Aku yakin dia mamanya janwar karena dia memiliki rambut dan mata secemerlang janwar. Aku segera melepaskan pelukanku dari fahri dan menghapus airmataku lalu berdiri mendekati wanita itu bersama alviah dan fahri.
"Malem tante, bagaimana keadaan janwar? " kami bertiga segera menyambutnya dengan bersalaman.
Aku masih ingat nama mamanya janwar. Kalo gak salah tante Tiwi. Dulu aku pernah melihat namanya dibuku tahunan siswa.
"Belum ada kemajuan viah. " jawab tante tiwi dengan sangat tenang.
Walaupun begitu, siapapun yang mendengar nada bicara dan melihat matanya pasti menyadari bahwa wanita ini berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya. "Masih belum sadar... Eemm ini siapa? " tanya tante tiwi pada alviah sambil melihat kearahku dengan pandangan yang lembut aku cepat cepat memperkenalkan diri. "Aku aisyah tante, temennya janwar. " kataku dengan tersenyum. " ooohh ini toh yang namanya aisyah. Cantik ya. Persis yang sering diceritain janwar ke tante. " tante tiwi tersenyum padaku. "Yang boleh masuk cuma satu orang. Jadi gimana kalo ais aja yang masuk duluan? Ayo ais. " tante tiwi menarik tanganku dengan lembut. Tapi aku terdiam, kakiku tidak bergerak.
"Maaf.. Tante. Sepertinya tidak perlu. " kataku pelan.
"Lhoooo, kenapa? " wajahnya terlihat letih.
"Tadi kata fahri, janwar tidak akan pergi sebelum ketemu ais. Jadi aku gak mau ketemu dengan janwar agar dia tidak pergi. " aku tak kuasa menahan airmataku.
"Jangan begitu ais. " sekarang giliran fahri yang menarik tanganku.
"Enggak!!!!! " jawabku tegas.
"Ais.. " benntak fahri.
"ENGGAAAKKKK...!!!!"aku balas berteriak. Aku tidak mau janwar pergi. Aku tidak mau dia meninggalkanku.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan memelukku. Pelukan itu terasa hangat dan mampu mengangkat semua rasa sakitku.
"Tenang ais,,, tenang.. Janwar akan baik-baik saja. Kamu harus tenang. Dia butuh kamu, mungkin dia akan pergi kalo gak ketemu kamu. " suara dan pelukan itu menenangkan hatiku.
"Kalian temenin tante tiwi nyari om yaa? " ajak tante tiwi ke fahri dan alviah. Mereka kemudian meninggalkanku dan kak agung. Sedangkan aku menangis terisak dipelukan kak agung.
"Gak mau.. Aku takut masuk ke ruangan itu."
"Harus bisa. Demi janwar Ais. " kak agung memohon.
Aku ragu sejenak. Aku benar benar takut dan tidak siap. Menghadapi kemungkinan terburuk didepanku. Tapi aku kembali memikirkan perkataan kak agung. Bagaimana jika itu benar? Bagaimana kalau janwar justru akanpergi karena tidak melihatku? Aku mengusap airmataku. Kuputuskan untuk mengarahkan keberanianku melihat janwar.
Aku melepas pelukan kak agung. Dengan terpincang-pincang aku menuju pintu bewarna cokelat gelap dihadapanku. Dibalik pintu itu ada lorong pendek. Kupakai baju rumah sakit bewarna biru muda dan gel pembersih tangan yang tersedia didekat pintu. Aku berjalan di lorong pendek itu sebelum akhirnya sampai di dua pintu besar bewarna cokelat gelap dengan pegangan alumunium. Aku mendorong salah satunya. Aroma obat bercampur karbol langsung menyengat hidungku.
Kulihat banyak orang yang dirawat disana. Mungkin sekita ada sepuluh orang. Aku mencari janwar dan aku melihatnya. Dia ada disana. Diatas tempat tidur telat dipojok ruangan besar ini. Aku melihatnya!!!!
NEXT

