*GSF* part48
Esoknya aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah imal lagi. Entah kenapa aku sangat merindukannya.
Sesampainya dirumah imal, aku mencarinya. Tapi dia tidak ada dimana mana. Aku masuk kedalam rumahnya dengan kunci yang kupunya. Aku mencari ke dapur, ruang makan, bahkan dibalik tempat tidur karena aku takut dia pingsan seperti dulu. Tapi dia tak ada dimanapun.
Aku pergi ke garasi, mobil imal tidak ada disana.
Aneh sekali. Dia tidak pernah pergi tanpa memberitahuku. Aku mengambil ponselku kucoba untuk menghubunginya tapi tak ada jawaban.
Karena merasa sangat haus, aku masuk kembali kedalam dapur untuk mengambil minum. Saat kuhendak membuka kulkas, aku melihat sebuah kertas menempel dipintunya. Ada tulisan tangan dari imal dikertas itu. Pada saat aku hendak membacanya, tiba-tiba ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya dan saat kudengar yang menelpon bicara cepat-cepat ku lajukan mobilku dengan kecepatan maksimum yang bisa kucapai.
Selama perjalanan aku tidak bisa tenang. Jantungku berdegup kencang. Berkali-kali aku menggigit bibirku sendiri.
Baru setelah sampai dirumah sakit St Cristopher aku sedikit bernapas lega. Cepat-cepat ku kunci mobil dan berlari menuju ruang operasi lantai tiga. Saat tiba, kulihat dokter fajrul sedang ngobrol serius dengan seorang suster. Dia mengenakan pakaian operasinya.
Aku langsung menghampirinya, napasku tersengal-sengal.
"Bagaimana dok? Bagaimana kondisi Agung? Apa operasinya berjalan lancar? " tanyaku panik.
Dokter fajrul memegang bahu kananku.
"Atur dulu napas kamu aisyah. "
Aku mengangguk setelah napasku teratur. Aku kembali menanyakan hal yang sama.
"Bagaimana? "
Dokter fajrul tersenyum.
"Semuanya berjalan sesuai doa kita, ais. "
Aku menghembuskan napas lega. Kusalami dokter fajrul dan mengucapkan banyak terimakasih padanya. Hari ini akhirnya aku bisa tertawa, terimakasih ya allah.
"Bukan hanya kamu yang senang dia bisa diselamatkan, tapi kami teman-temannya disini juga merasakan hal yang sama. "
Aku tersenyum, lalu kulihat kak agung dibawa keluar dari ruang operasi. Aku bertanya pada dokter fajrul apakah aku bisa menemaninya. Dia sama sekali tidak keberatan. Aku mengikuti suster yang membawa kak agung ke ruang rawat. Aku memperhatikan betul ketika suster membetulkan alat medis nya. Ketika mereka selesai, aku melangkah perlahan kearah kak agung, aku duduk disebelahnya dari meraih tangannya. Tangannya masih sangat dingin. Aku menyentuh keningnya yang pucat.
Saat itu aku teringat sesuatu. Perlahan aku meninggalkan kamarnya dan duduk dibangku luar. Kukeluarkan kertas yang tadi belum sempat ku buka dirumah imal.
"Aisyah...
Aku lakukan semua ini untuk kamu. Sudah ku bilang, kan? Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia. Karena bagiku senyummu itu adalah napas senja disore hari, dan aku tidak ingin senja itu terlelap.
Jaga kakakku ya, aku harap dia cepat bangun dan bisa menemani kamu. Jangan cari aku sekarang ini, aku mau melakukan sesuatu, aku mau beristirahat sejenak, salam untuk Agung.
I love you, Tot Ziens (selamat tinggal)
Imal Muzammil Senja
Saat itu juga aku pergi ke ruang kerja dokter fajrul. Dia tampak heran melihat wajahku yang syok.
"Ada apa lagi ais? Bukankah semuanya baik-baik saja? "
"Boleh saya tahu siapa yang sudah mendonorkan ginjal kepada agung, dok? Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak padanya. "
"Saya rasa kamu sudah tahu siapa orangnya. Maaf saya tidak memberitahu kamu bahwa imal sudah menjalani pemeriksaan kecocokan ginjal dengan Dokter agung. Ini permintaan imal sendiri. Dan ternyata hasilnya positif. Pagi tadi dia benar-benar datang dan siap memberikan ginjalnya untuk Dokter Agung. "
"Apa dokter bisa memberitahu saya dimana dia sekarang? "
Dokter fajrul melepas kacamatanya dan berbalik ke arah jendela besar.
"Itu permintaan terakhir dia ais, imal minta waktu untuk sendiri. "
"Saya mohon dok... "
Dokter fajrul berbalik mengahadapku.
"Saya tidak berhak berkata apapun padamu. Itu permintaan imal sebelum di operasi. Tapi saya yakin ais, dia tidak akan menjauh dalam waktu yang lama. Dia akan kembali dan menjadi sahabat baik kamu. Sekarang kamu tenang, dia baik-baik saja. Dia sedang dalam perawatan intensif tapi bukan di rumah sakit ini. "
Aku melihat ketulusan wajah dokter fajrul. Jawabannya membuatku yakin bahwa jalan yang harus kutempuh sekarang adalah menunggu.Dan aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan imal. Aku sadar betul orang yang sangat diinginkan imal berada disampingku adalah kakaknya sendiri.
"Oh iya ais, kamu sudah terima suratnya kan? "
Aku mengangguk.
"Mmmmm. Apakah kamu masih memegang kunci rumah imal? "
"Iya masih "
"Imal berpesan agar Dokter agung dibawa kesana. Dia bilang itu juga rumah Dr. Agung. Jadi Dr. Agung berhak tinggal disana. "
Aku mengangguk sekali lagi dan keluar dari ruangan itu. Setengah berlari aku menuju ruangan kak agung. Berharap ketika aku sampai, dia sudah membuka mata dan dapat berbicara denganku. Tapi ternyata dia masih menutup matanya.
Aku berjalan ke jendela besar ruangan itu. Taman telah membeku karena salju. Aku bertanya-tanya. Bagaimana keadaan imal sekarang? Apa dia sudah sadar? Apakah dia kesakitan? Siapa yang menjaga dia? Sekarang dia dirawat dirumah sakit mana? Kepalaku penuh dengan pertanyaan. Aku berbalik memandang kak agung lalu duduk dipinggir tempat tidurnya. Saat kugenggam tangannya yang lemah, kulihat ada airmata yang menetes dari matanya, aku menghapusnya dengan tanganku.
"Kakak,,, kenapa kamu menangis? Ada yang sakit? "
Tanyaku lembut, tidak ada respon. Namun air matanya mengalir lagi.
"Apa yang harus kulakukan untukmu kak? Kenapa kamu menangis? "
Aku menghela napas. Kenapa aku baru sadar bahwa aku sangat mencintai pria ini? Pria yang tidak pernah rela melihatku bersedih. '
'Kak kumohon bangun.. '
Ucapku lirih.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar