Selasa, 17 November 2015

merangkulmu dengan hangat



Kamu menjabat tanganku dengan erat dan menatap mataku dengan pandangan pekat, seakan kaumerindukan dunia yang sejak dulu ingin kauselami. Dengan balutan jas hitam, celana bahan hitam, sepatu hitam; kautampak sangat formal sore itu. Aku menyambut genggaman tanganmu dengan senyum yang sama lebarnya dengan senyummu, kutatap matamu dalam-dalam, sinar terang yang kulihat beberapa minggu yang lalu, kembali terlihat lagi. Sebenarnya bibirku sudah ingin berucap sejak tadi. Aku merindukanmu dan bertahan beberapa minggu untuk menunggu pertemuan kali ini pun terasa amat menyakitkan. Kita bertahan dalam percakapan terbatas, hanya tulisan yang teretas. Seandainya kaupaham, ini bukan perasaan sederhana, sesederhana yang dulu pernah kaubilang; sebatas teman kerja.
Lewat pesan singkat tadi, aku sudah bilang ingin duduk di sampingmu. Tanpa pikir panjang, kamu menyetujui hal itu. Pikirmu, mungkin, aku ingin bertanya banyak soal kerjaan kita, soal tugas kita, dan soal rencana kita ke depan. Namun, tahukah kamu, alasanku mengajakmu duduk di sampingku hanya karena aku merindukanmu dan ingin melihat bola matamu lama-lama, tanpa dibatasi jarak, tanpa gangguan terangnya lampu, dan tanpa digugat oleh kehadiran orang lain? Alasan yang absurd memang, tapi sejujurnya itulah yang kuinginkan.
Teman, rasanya sakit sekali jika hingga detik ini aku hanya bisa menganggapku sekadar teman kerja. Rasanya perih sekali apabila sampai saat ini aku cuma mampu jadi pendampingmu dalam mengejar mimpi, namun hanya sebagai teman kerja, bukan kekasih. Dan, keinginanku pun terwujud walaupun aku harus menunggu beberapa waktu hanya untuk duduk di sampingmu. Kita duduk di tribun atas, ramai namun tak seribut di lantai bawah.
Saat semua mata hanya tertuju pada panggung, saat musik berdegup kencang, saat suasana mulai gelap tapi lampu sorot warna-warni di dekat panggung sibuk berkelap-kelip; aku merangkulmu dengan rapat. Entah karena kekuatan apa, kamu menggeser posisi dudukmu, lebih rapat ke arahku. Kamu seakan paham kalau aku butuhkan kehangatan darimu. Dirimu seakan mengerti, aku merindukan sentuhan yang berasal dari dekapanmu. Aku tak tahu perasaan ini patut dinamakan apa, tapi kita saling mengerti bahwa dalam kesepian hati, kaudan aku mampu saling mengobati. 
Status kita memang hanya sebatas teman kerja, namun kautahu; aku rasakan sesuatu yang lebih dari itu. Sebenarnya, aku pun tahu kamu ingin semua tak hanya sekadar rekan kerja, kamu juga ingin yang lebih bukan? Kemesraan di pesan singkat cukup membuatku mengerti isi hatimu. Tapi, aku dan kamu belum siap ke tahap itu. Cukuplah kita jadi rekan kerja, yang bertemu sebulan sekali untuk mempererat rencana kita. Jarak yang sangat kurang ajar antara Jakarta dan Bandung bisa mengganggu pekerjaan kita, apa enaknya digerogoti rindu sementara pekerjaan kita sudah super duper ribet seperti ini?
Rangkulanku pun bervariasi. Kadang, kugenggam jemarimu, kusandarkan kepalaku di bahumu, kubelai rambutmu hingga ke belakang lehermu, dan kurapatkan rangkulanku sambil memegang pinggangmu. Tapi, kamu ini memang dasar pecinta kerjaan, bahkan saat kepalaku bersandar di bahumu pun, kamu masih sempat-sempatnya bercerita tentang rencana kita ke depannya. Iya, kauberikan aku ruang untuk bermanja-manja tapi ceritamu tetap sama; perihal kerjaan. Inilah yang kusuka, ketika kauberbisik di telingaku saat suasana terlalu riuh oleh musik yang berdegup. Tahukah kamu saat itu aku merasa kita seperti.... sepasang kekasih. Ah, andai itu terjadi!
Aku masih menyandarkan kepalaku di bahumu, lalu sebuah panggilan masuk ke ponselmu. Kamu menjawab panggilan itu dengan suara lembut, selembut ketika kamu berbicara denganku. Masih dengan genggaman tanganmu yang berada di jemariku, kamu mengakhiri percakapan di ponsel dengan kalimat, "Aku pulang agak malam. Iya, aku juga sayang kamu."
Ucapanmu terakhir itu membuatku tersenyum miris. Aku menatap matamu dan mengajakmu bicara. Jarak antara wajah kita hanya beberapa sentimeter, kutatap matamu yang bening itu, juga wajahmu yang terlihat lebih tampan dalam keremangan. Mungkinkah kaurasakan degup jantungku kala itu? Degup jantung yang bilang bahwa ada perempuan yang takut pada jam-jam yang mendekati malam, jam-jam yang menunjukkan perpisahan. Dan, mimpinya akan segera berakhir, seperti Cinderella yang takut pada dentang jam tengah malam, seperti itu juga aku takut pada jam menuju adzan magrib. Saat-saat mendekati perpisahan kita, saat-saat acara seminar yang kita datangi harus berakhir. Lantas, aku harus kembali ke dunia nyata, harus kehilangan kamu lagi, dan kembali bergelut dengan kesibukan serta pekerjaan.
Sebelum lampu yang sangat terang dinyalakan, aku mendekapmu lebih erat. Tanpa kuberitahu pun, tentu kaupaham aku tak ingin kehilangan kamu, aku tak ingin menunggu waktu sebulan lagi untuk bertemu kamu. Aku ingin merangkulmu sehangat ini setiap hari, bahkan setiap saat kalau Tuhan izinkan aku menguasai waktu. Seminar usai dan lampu-lampu segera dinyalakan, kita tak mampu lagi berdrama, aku terhempas dari dunia mimpiku. Rekan-rekan kerja kita yang lain langsung mendekati kita, mengajak bicara tentang strategi dan rencana baru. Kamu kembali menjauh, jadi orang lain yang tak kukenali. Kamu dengan rekanmu, aku dengan rekanku, dan hanya mata kita yang sesekali bertemu; mengucap sesuatu entah apa itu.
Di akhir pertemuan, kita bersalaman. Berkali-kali kautanyakan apakah aku ingin cepat pulang? Aku tak mengangguk juga tak menggeleng, aku hanya menyentuh bahumu lama, menggenggam tanganmu sangat erat, dan menatap matamu sangat dalam. Aku tak ingin kita pisah lagi, aku tak ingin percakapan kita dibatasi tulisan lagi. Kamu memberi isyarat terima kasih atas kedatanganku hari itu, kusambut isyarat itu dengan ucapan, "Semoga bisa segera bertemu lagi."
Senyum itu mengembang tak selebar ketika awal kutemui kamu. Kamu menatap pria yang sudah menggenggam erat tanganku, dari eratnya genggaman tangan itu, kamu sudah bisa menilai; pria ini hanya ingin agar aku cepat pulang. Kamu ularkan tanganmu untuk bersalaman dengan pria di sampingku, "Pacar kamu semangat banget kerjanya." ucapmu dengan tawa yang kedengarannya dipaksakan.
Aku meninggalkanmu dan kulambaikan tangan sekali lagi sebelum kamu benar-benar jauh. Kamu tak menatapku, matamu malah menatap jemariku yang digenggam erat pria di sampingku. Lalu, beberapa detik setelahnya, kaumenatapku lagi, tersenyum penuh arti; seakan kauberbisik dengan sangat lirih.... jangan pergi.
Aroma tubuhmu sangat memabukan. Kapan kita bisa bertemu lagi? Tolong, secepatnya!
Untuk kamu yang pernah bilang
nangis tak akan menyelesaikan apapun.
Selamat bekerja!

pergilah...........

Untuk Si Tukang Galau,


Aku sudah baca tulisanmu mengenai kesedihan yang selalu kaulebih-lebihkan itu. Mengapa kamu begitu mudah menikmati perasaan sedihmu dan melarikan segalanya ke dalam tulisan? Dewasalah, Sayang, seharusnya setelah kutinggalkan; itulah kesempatan kaubisa belajar banyak hal. Jangan dikira aku tidak membaca tulisanmu, diam-diam aku memerhatikan curahan hati di blog-mu dan saat jam-jam segini, aku sering mengintip lini waktu akun Twitter-mu, mencari-cari adakah sosokku dalam rintihan kegalauanmu?
Sambil mengisap rokok yang asapnya selalu kaubenci, juga menyesap kopi yang rasanya selalu kaucaci;  aku berusaha keras menulis ini. Semoga apapun yang kukatakan secara jujur di sini, tak akan membuatmu kecewa. Aku memang kuliah di Jogja, dengan budaya Jawa yang sangat kental, tapi di sini aku tak akan memberi sanepa atau kode atau isyarat seperti kamu selalu memberiku bahasa-bahasa perasaan aneh itu lalu memintaku menerjemahkan segalanya. Aku benci keegoisanmu tapi entah mengapa malam ini aku sangat merindukanmu.
Di ponsel jadul yang ada di samping laptop-ku ini, yang hanya bisa digunakan untuk menerima telepon dan membaca pesan singkatmu, ada banyak kenangan yang tak bisa kulupakan. Jangan dikira aku sudah melupakanmu, di ponsel ini masih ada pesan singkatmu, masih ada nomor kontakmu, dan masih saja kubiarkan kata-kata cintamu di pesan singkat; abadi dalam kotak masuk. Sayang, aku pun sebenarnya rapuh, tapi aku tidak seperti kamu yang bisa dengan mudah menujukkan kerapuhanmu pada dunia. Aku tidak bisa seperti itu, aku pria dan aku dituntut untuk menerima semua rasa sakit tanpa harus menujukkan air mata. Kuharap kamu memahami itu, Sayang, agar kautak selalu menyalahkanku atas perpisahan ini.
Detik ini, wajahmu mampir di otakku. Saat kamu membawakanku minuman dingin, aku tak bisa melupakan wajah polosmu. Senyummu sangat manis kala itu, rambut yang diikat satu, baju garis-garis hitam pink, jam tangan pink, anting emas putih, dan kalung salib. Tinggimu yang sebahuku membuatku begitu mudah untuk meraih bahumu, aku langsung menggenggam pergelangan tanganmu. Tahukah kamu saat itu aku sangat ingin memelukmu, mencium bibirmu, mengecup telingamu, melumat habis pipimu, dan berakhir dengan kecupan kecil di kening; seperti perjanjian kita mengenai hal yang akan kulakukan ketika pertama kali bertemu kamu.
Tapi, aku canggung. Aku tidak berani menyentuhmu terlalu lama dan tak berani bilang bahwa aku sangat senang jika kamu melihat aksiku menjadi zombie pada teater yang kupentaskan. Sesungguhnya, aku sangat ingin memelukmu kala itu, namun aku takut pada ratusan mata yang menyorot kita, aku takut dandananku yang lusuh mengotori bajumu, dan aku takut aroma tubuhku yang tidak beraroma parfum seperti tubuhmu akan merusak aroma wangi tubuhmu. Dan, ketika melihatmu, pertama kali melihatmu, aku sadar kamu terlalu tinggi untukku, kamu terlalu sempurna untuk sosok sederhana seperti aku. Sayang, inilah rasa sakitku yang tak kaupahami, yang selalu kauartikan bahwa aku pergi karena aku tidak mencintaimu lagi.
Aku menyesal telah pergi meninggalkanmu, aku menyesal telah meminta status kita yang sempat spesial harus kembali lagi menjadi status hanya teman. Kupikir, untuk saat ini, hal itulah yang terbaik. Aku belum siap menghadapi gemerlapnya kamu. Aku takut silaunya duniamu membuat aku tak siap menghadapi apapun yang akan menerjang hubungan kita kelak. Aku tidak siap menjadi pendampingmu, menjadi kekasih yang kisahnya harus selalu kaubawa dalam tulisanmu. Jadi, kuizinkan wanita itu masuk ke dalam hidupku, wanita yang selama ini mengejarku namun kuabaikan karena kaupernah hadir dalam hidupku. Dia hanya mahasiswi biasa, Sayang, bukan penulis skenario film juga bukan penulis novel seperti kamu. Tapi, dia tidak bisa seperti kamu, dia tidak kuat begadang, dia tidak mengerti jalan pikiranku seperti kamu mengerti jalan pikiranku.
Saat aku membicarakan soal sastra feminis, dia hanya geleng-geleng kepala. Mengingat kita pernah berbicara perihal sastra feminis sampai berbusa di tengah malam itu, aku jadi rindu sosokmu yang blak-blakan. Aku rindu kamu yang beberapa kali membantuku menyelesaikan tugas kuliah. Ah, kita sama-sama Sastra Indonesia, namun kaujauh sekali di sudut kota sana. Aku berusaha mencari-cari sosokmu dalam diri wanitaku, namun kautak ada di sana, kamu hanya satu di dunia. Dan, perempuan tukang galau tapi bisa membuatku nyaman selama ini hanyalah kamu. Kamu yang saat ini berusaha kujauhi, berusaha kubenci, dan berusaha kubunuh dalam hati.
Kita telah berpisah dan ini menyebabkanku ingkar janji. Aku pernah berjanji ingin mengajakmu ke kamar kontrakanku, yang ada di dekat vokasi UGM, dekat air terjun, yang suara gemerisik airnya selalu membuatmu tenang ketika berbicara denganku di telepon. Janjiku dulu, aku ingin membuat kamu mabuk dengan ciu atau dengan beer murah yang hanya sanggup kubeli dengan uang saku yang kumiliki. Pokoknya, apapun minumannya, aku ingin kita mabuk berdua. Lalu, aku membawamu ke dalam pelukan, menikmati wajahmu yang pusing dan hampir ambruk. Sesekali, di keremangan kamarku, kamu pasti bertanya soal poster Sapardi Djoko Damono yang kutempelkan di kamarku, lalu bertanya mengenai udara Jogja yang semakin malam semakin dingin. Itu masih dalam khayalanku. Khayalan yang kautolak mentah-mentah, dengan tawa pecah, ketika aku ungkapkan keinginan itu padamu.
Wahai gadisku yang senang bergalau ria di dunia seratus empat puluh karakter, meskipun kita tak lagi bersama, maukah kausering-sering datang ke Jogja; supaya aku tahu, apa yang sesungguhnya kaucari selama ini? Apakah kausungguh mencintaiku atau hanya menginginkan kisah kita untuk jadi bahan tulisanmu?
dari pengagummu-mu
yang seringkali
tak tahu diri.

Terluka...

"Kapasitasku memang hanya seorang teman, tapi perasaanku padamu lebih dari sekadar teman."

Aku bangun, mengawali hari dan mengajak Tuhan berbicara, mengatakan pada Tuhan bahwa aku sangat bersyukur bisa mencintaimu walaupun dengan kenyataan yang sama kamu hanya bisa melukaiku. Melukaiku hingga sakit yang tidak pernah kaurasa. Dengan mata terbangun seadanya, aku menatap ponselku dan berharap kamu basa-basi mengucapkan selamat pagi, sayangnya keinginanku yang terlalu muluk itu tak pernah terjadi. Entah ini sudah hari yang keberapa, hari saat-saat kautak pernah menyadari bahwa aku begitu mencintaimu.
Aku terdiam menatap langit-langit kamar, sambil mengingat hal yang telah kaulakukan padaku beberapa hari yang lalu. Saat kau membentakku dengan suara lantang, saat kaumematahkan harapanku tanpa ampun, saat kaubersikeras mencuci otakku agar aku tak lagi memikirkanmu.
"Jelaskan padaku mengapa kau harus berbuat tolol seperti ini? Perhatianmu, pesan singkatmu, tulisanmu, perkataanmu. Katakan padaku mengapa sikapmu berubah? Bisakah kautuliskan dengan besar-besar diotakmu bahwa kita hanya TEMAN? HANYA TEMAN! Kamu berubah! Jangan ubah sikap dan perlakuanmu menjadi tindakan bodoh tak berdasar logika! Ubah sikapmu dan tanamkan dalam otakmu bahwa kita tidak lebih dari TEMAN!" Bentakmu dengan penuh amarah. Aku mematung, otakku hanya berisi bentakan kasarmu yang menandakan bahwa amarahmu memuncak.
Kamu mengatakan bahwa aku berubah, tapi dalam kenyataan, kamulah yang sangat berubah. Kamu bahkan lupa cara berterimakasih dan membaca perasaan seseorang. Setelah kejadian itu, bahkan Aku tak lagi mengenalmu. Di mana kamu yang kucintai dulu? Aku lelah berharap dan menunggu, setelah penantian itu, aku malah mendapatkanmu dengan sikap yang berbeda. Menangis sekencang apapun tak akan mampu mengubah sikapmu.
Hari ini aku akan bertemu denganmu lagi. Menatap matamu dan menyapamu seperti biasa, layaknya seorang teman biasa. Mungkin kautakkan membalas senyum dan sapaku, kamu akan dengan tegas membuang muka ke arah lain yang lebih kausuka. Padahal, aku selalu berharap kamu bisa menatapku lekat dan melihat cinta di dalam mataku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa kau suka dan kaucinta. Dan, status HANYA TEMAN itu selalu menyisakan luka yang tidak kamu rasa.
Kemarin, kamu menyakiti, merusak, mematahkan bahkan mengiris-iris hatiku yang berisi tentangmu, tapi jangan khawatir! Perbuatanmu takkan membuatku berhenti untuk mencintaimu. Hari ini, bahkan saat kaumemalingkan wajahmu maka aku tidak akan memalingkan wajahku. Aku tetap mencintaimu seperti pertama kali getar itu muncul dan menggerogoti hatiku; hingga hanya berisi kamu, kamu, dan kamu yang tinggal di dalamnya. Kapasitasku memang hanya seorang teman, tapi perasaanku padamu lebih dari sekedar teman.
 
 
seorang pelajar jatuh cinta kepada seorang  pendidik :( menyakitkan ......

Sabtu, 14 November 2015

tak terlihat tapi tersentuh

     Entah sudah bulan keberapa, aku menyukaimu dan mencintai tulisanmu. Sungguh, aku menggilai karya-karyamu. Aku selalu suka caramu merangkai kata-kata menjadi barisan paragraf sempurna yang mengajakku terus-menerus membacanya hingga bagian akhir.

Kamu tentu akrab dengan kata cinta. Cinta bisa datang darimana saja, bahkan dari barisan paragraf tak bergerak tak bernapas bernama tulisanmu. Aku... salahkah aku jika jatuh cinta hanya karena tulisanmu? Aku ingin menyelam dalam pikiranmu, mengatahui setiap isi impulsnya. Aku tak pernah tahu, bahwa ternyata tulisan dapat membuatku jatuh cinta. Bagaimana mungkin kaubisa membuatku begitu terjatuh tanpa kamu pernah menolongku untuk bangun?

Diam-diam, kubiarkan jejak-jejakmu meramaikan otakku. Kamu mengelilingi otakku, menyisakan jejak-jejak rindu dalam setiap rotasinya. Aku tak kunjung menemukanmu. Siapa dirimu yang berani mengacaukan isi otak dan hatiku? Dan kamu menguasai setiap malamku dengan tulisanmu. Kamu mengendalikan perasaanku melalui tulisanmu. Kamu membiarkanku selalu mereka-reka wujudmu dalam dunia nyata, bukan dalam sebuah buku terbuka dan tulisan yang mengajakku berbicara. Aku ingin mengetahuimu secara nyata, aku ingin mendengar suaramu, sungguh.

Dalam tulisanmu, aku mempersepsikan bahwa kamu senang menunggu. Oke, maafkan ke-sotoy-an yang kuperlihatkan padamu. Betapa beruntungnya wanita yang kautunggu itu. Betapa beruntungnya wanita yang membuatmu tertawa dalam hujan dan menangis dalam senja yang sebenarnya kau suka kehadirannya. Seandainya wanita itu aku, aku tidak akan membiarkanmu menunggu. Aku tidak akan membiarkanmu menangis sendiri dan tertawa tanpa ada tempat berbagi. Aku tidak akan membuatmu menciptakan damba semu pada cinta yang selalu kaujaga. Lihat? Anak seumuranku berbicara tentang cinta? Sungguh lucu dan tak masuk akal. 

Kita bahkan tak pernah saling tahu dan bertemu, bayangmu begitu saja mengendap-endap dalam kenyataanku, mengisi kehidupan nyataku. Ada bermacam-macam kamu dalam otakku, ada berbagai bentuk kamu dalam impuls otakku.

Mencintaimu? Tidak pernah cukup dengan hanya menggenggam buku hasil karyamu. Mencintaimu? Tidak pernah cukup dengan hanya membaca tulisanmu. Masuki dunia nyataku, lihatlah isi hatiku, ada kamu yang mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya.

Kita harus bertemu.
Dari pengagummu
Yang sudah tidak terlalu nyaman 
dalam kebisuannya

kadang kisah cinta itu tak hanya milik 2 makhluk

"Mencintai jadi begitu menakutkan jika kamu adalah pihak ketiga, penghancur segalanya"



Aku bahkan tak mengerti bagaimana statusku dengan dia. Dia dengan istrinya dan aku juga bersamanya. Aku tak peduli bagaimana mempersepsikan statusku, sebagai simpanan atau bahkan sebagai penghancur hubungan orang, tapi toh tidak separah itu. Aku tak menuntut banyak hal darinya, kami saling mencintai dan pentingkah status? Aku rasa tidak.
Lupakan makan malam romantis, berbagi coklat manis, atau bahkan tanganmu menghapus air mataku saat menangis. Aku hanya kau temui secara sembunyi-sembunyi, saat kau meninggalkan pekerjaanmu hanya untukku atau saat kau tidak bersama dengan istrimu. Dalam waktu yang sangat singkat itu, aku berharap bisa terus menahanmu, karena aku benci selalu jadi prioritas kedua, karena aku benci harus kehilangan kamu saat aku benar-benar membutuhkanmu.

Ada saat-saat dalam hidupku, saat aku tetap meyakini bahwa ini hanya sementara. Aku masih meyakini suatu saat aku akan menjadi satu-satunya untuk selamanya dalam hidupmu, kamu akan menangis memelukku saat aku mengenakan gaun pengantin, kamu akan menjadi satu-satunya orang yang aku lihat saat aku terbangun dari mimpi, kita akan bahagia. Aku masih menyakini bahwa aku tidak selamanya jadi yang kedua, aku tidak selamanya akan terus kausembunyikan. Aku masih sibuk merancang mimpi indah untuk hubungan kita, walaupun kutahu kau tak pernah menghabiskan waktumu hanya untuk memikirkan akhir dari hubungan kita. Aku benci saat-saat kaumenghancurkan mimpiku dengan mengatakan bahwa kautak mungkin meninggalkan istrimu dan juga takkan mungkin meninggalkanku. Aku benci harus menata ulang mimpi itu dari awal tanpa kaumeminjamkan pundakmu saat aku menangis. Lalu, untuk apa kata cinta itu kauperdengarkan, jika kauTak bisa menjadikanku satu-satunya wanita yang kaucintai? Jika kauhanya bisa menyembunyikanku dari sorotan dunia? Jika kauhanya menutup-nutupi cerita kita dari istrimu?
Kita sering berkhayal dan bermimpi, khayalan yang akan membuat aku dan kamu tertawa lepas, berbagi tawa dan bahagia dalam sebuah ketakutan bahwa hubungan rahasia ini akan diketahui oleh seseorang selain kita berdua.
Selama ini, saat aku bersamamu, aku lupa apa arti cinta. Perasaanku mati untuk merasakan bahagia. Aku terbiasa dengan perasaan sakit yang kubuat sendiri, aku terbiasa dengan kelakuanmu yang kadang tak menganggapku ada. Kamu terlanjur membuatku percaya, bahwa cinta adalah kesabaran menjadi orang ketiga. Aku terlalu lama menyiksa diriku sendiri, hanya untuk mengharapkanmu, kamu yang tak pernah menganggap perasaanku ada dan nyata. Aku juga ingin bahagia, seperti kamu dan istrimu. Aku ingin bahagia, tanpa harus bersembunyi dan dikejar rasa ketakutan.
Aku ingin bahagia. Dan jika bahagia berarti melupakanmu, akan terus aku coba untuk melakukannya. Aku percaya bahwa sesuatu yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Aku percaya bahwa hubungan yang telah dikuduskan oleh Tuhan tidak dapat dinodai oleh manusia. Aku ingin mengakhiri semua dosa ini. Jadi, biarkan aku jatuh cinta pada seseorang selain kamu, yang akan mengutamakanku dalam berbagai hal, yang tidak akan menyembunyikanku dari sorotan mata dunia, dan yang akan memayungiku saat hujan mencoba menggelitik manja tubuhku. Jika bahagia berarti melupakan bayangmu yang terhisap kangen tadi malam, akan aku lakukan.
Istrimu berhak mendapatkan kesetiaanmu, dia tentu bukan wanita yang kau nikahi dalam ketergesa-gesaan. Cintailah dia seperti pertama kali cinta itu ada dan menggetarkan hatimu dengan luar biasa. Percayalah, aku akan menemukan bahagia. Kita akan bahagia dalam jalan kita masing-masing, tanpa harus menyakiti pihak lain, tanpa harus menyangkal Tuhan yang menyebabkan cinta itu ada.

bolehkan aku mencintai kekasihmu??

       Bolehkah aku mencintai kekasihmu? Dia memperlakukanku tidak lagi seperti temannya, tapi seperti dia memperlakukanmu. Dia memerhatikanku, bertanya bagaimana hari-hariku, dan meluangkan waktunya untuk mendengar ceritaku. Dia juga mengatakan rindu, mengungkapkan kangen dengan caranya yang tak terduga. Jadi, kaujangan merasa paling UTAMA, karena kekasihmu memperlakukan aku sama seperti dia memperlakukanmu.
Bolehkah aku mencintai kekasihmu? Dengan segala isyarat yang dia perlihatkan padaku, kutahu dia tak lagi mencintaimu seperti dulu. Dari cara dia bercerita, dari cara dia mengungapkan rasa, kutahu dia tak lagi menganggapmu ada. Apa kaumerasa disakiti olehnya? Ketika kautahu dia berlari ke arahku saat tak ada kamu di sisinya. Di mana kamu saat dia membutuhkanmu? Kenyataan yang harus kauketahui, dia lebih sering menangis di pundakku, bukan di pundakmu.
Dan, sekarang aku tak perlu lagi bertanya: "Bolehkah aku mencintai kekasihmu?" Karena mungkin kautak mau tahu bagaimana akhir hubunganmu. Yang hanya kautahu, kaubisa menggunakan kekasihmu sebagai ATM berjalan, sebagai tukang antar jemput yang akan mengantarmu kemanapun kausuka. Sayang sekali, kauharus menyesal. Malam ini, dia akan memutuskan hubungan yang menyiksa itu. Kautak lagi bisa mengaturnya, kautak lagi berhak untuk membuat dia menangis dan terluka.
Kekasihmu adalah milikku. Dia akan mencintaiku lebih dari dia mencintaimu. Dia akan menjadi milikku satu-satunya. Bersamaku, dia tak perlu menggesek kartu ATM-nya, dia tak perlu menjadi supir yang merangkap menjadi pacar. Kauakan dibuatnya menyesal, kauakan dibuatnya menangis seperti kaumembuat dia menangis.
Aku dan dia akan tertawa melihatmu terluka. Memperoleh karma yang kautanam sendiri, itulah hasil yang harus kautuai. Dia tidak akan memandangmu sedikitpun, sekalipun kaumeradang, meronta, dan mengemis cintanya. Nikmati karmamu :)

perpisahan ????????????

 
 
"Ketika TUHAN mengambil seseorang yang kaucintai, maka TUHAN akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."
Perpisahan selalu hadir disaat kita belum siap kehilangan seseorang. Saat kita masih sangat mencintai seseorang. Dan, saat kita masih membutuhkan orang itu dalam banyak hal. Kenyataan terburuk yang harus kita terima adalah orang yang kita cintai itu akan hilang, untuk sementara atau mungkin selamanya.

Pernahkah terpikir dalam benak kalian? Bahwa perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terencana, yang telah disiapkan oleh Tuhan agar kita bertemu dengan seorang mahluk ciptaanNYA. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Kenyataan terburuk yang harus kita ketahui dari sebuah pertemuan adalah sesuatu yang tak kita duga, bahwa pertemuan sebenarnya adalah kata selamat tinggal yang belum terucapkan. Terkadang, mereka yang memutuskan untuk saling pisah adalah mereka yang masih saling jatuh cinta.

Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka. Saya pernah mengalami perpisahan dengan seseorang atau banyak orang yang saya cintai, kalian pun juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Ketika perpisahan membuat suatu pribadi jatuh di titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi untuk berdiri, hanya ada satu kata yang ingin kita ucapkan kepada dia yang telah pergi yaitu "KEMBALILAH!"

Yang belum pernah terpikirkan dari suatu perpisahan adalah akan ada sebuah pertemuan lagi yang akan menyadarkan kita, bahwa kehilangan adalah tanda kita segera menemukan. Menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan. Bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Berkenalan dengan suatu pribadi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Di luar sana, perpisahan didefinisikan dalam berbagai hal. Ada yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah akhir hidup dan ada juga yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah awal perjumpaan. Bagaimana dengan kalian? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menangis semalaman? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menutup diri dan menutup hati dari orang-orang baru yang berusaha masuk dalam hidup kita?

Bagaimanapun jawaban kalian, ketahuilah perpisahan itu sama seperti aksi reaksi. Terjadi lalu menyebabkan akibat. Perpisahan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat kita lebih dewasa. Percayalah, Tuhan melihat kita dari jarak yang tidak kita ketahui, dalam tanganNYA, DIA telah merancang rencana khusus untuk saya dan anda. DIA itu Maha Adil. Ketika DIA mengambil "emas" yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan "berlian". "Ketika DIA mengambil seseorang yang kaucintai, maka DIA akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kaucintai."

Sabtu, 07 November 2015

aku terlalu possesif Tuan

Aku tahu bahwa mungkin kautidak pernah suka diperlakukan seperti anak kecil, seperti tahanan kota yang dijejeri banyak pertanyaan hanya karena melangkah ke suatu tempat. Aku tahu mungkin kaumuak dengan caraku yang tak bisa disaring oleh logikamu, ketika pria-pria lainnya bebas berpergian kemanapun, tapi aku selalu menahanmu untuk melangkah ke tempat manapun, hanya karena aku tak bersamamu saat kauingin bebas berpergian.

Sayang, inilah caraku untuk melindungimu. Cara yang mungkin tak pernah kauinginkan dan kauharapkan. Mengekangmu terlalu dalam dan membatasi lingkungan sosialisasimu. Mengaturmu layaknya bayi kecil yang tidak boleh kemana-mana tanpa seorangpun yang menemaninya. Dengan begitu gilanya, aku mengkhawatirkanmu, padahal kutahu kaubisa melindungi dirimu sendiri, kaubisa membela dirimu tanpa harus menyertai aku dalam pembelaanmu.

Aku terlalu rajin jika harus bertanya siapa saja wanita yang menghubungimu setiap menit. Siapa saja wanita yang mencoba mendekatimu setiap jam, dan siapa saja wanita yang mengomentari status jejaring sosialmu setiap harinya. Mungkin kaumerasa sangat amat risih dengan tindakanku yang terkesan menjijikan, layaknya koruptor yang takut kehilangan miiyaran hartanya, layaknya ibu rumah tangga yang sangat menyayangi buah hatinya. Posesif, itulah caraku untuk mencintaimu, Sayang.

Aku selalu curiga dengan semua perkataanmu. Aku selalu tak percaya dengan semua pernyataanmu. Jangan berpikir bahwa kauadalah pihak yang paling tersiksa. Jujur, aku sendiri juga sangat tersiksa ketika harus memperlakukanmu seperti penjahat kelas kakap yang harus dipaksa terlebih dahulu baru dia akan mengakui segala perbuatannya. Aku tahu, Sayang. Bahwa kautidak mungkin membohongiku, bahwa perkataanmu pasti dapat dibuktikan.

Kauselalu memaksaku untuk menjelaskan dasar dari perbuatanku yang membuatmu risih dan jera. Cemburu buta itu tak pernah berdasar, sedangkan posesif tak pernah butuh logika agar sibuk bekerja pada bagiannya. Ya! Kausering membandingkanku dengan beberapa wanita yang “dulu” sempat membuatmu bahagia. 

Beberapa wanita yang berjanji membahagiakanmu tapi mereka malah meninggalkanmu. Dan, lihatlah saat ini kaumemilikiku, dengan segala keterbatasan dan kemampuanku. Detik ini, bisakah kaumengerti sedikit saja? Bahwa aku memiliki banyak kelebihan, tapi satu kekuranganku yang tak kausuka adalah melindungimu dengan cara yang salah. Sayang, tapi aku selalu berharap bahwa aku tak akan pernah mencintaimu dengan cara yang salah.

25 Januari 1990 for you💖😞

"Kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan."

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama! Seorang pria dengan wajah sayu, berhidung mancung, bermata sendu, serta seorang pria dengan pita suara yang dihiasi oleh suara lembut. 
Mungkin, kautak akan pernah membaca ini, melihat sekejap matapun tidak mungkin, apalagi membaca hingga paragraf akhir. Mungkin, kautidak mengetahui usahaku untuk menulis ini, usahaku untuk mengundangmu kembali berotasi diotakku, mengelilingi poros otak tengah, menjalar ke otak kiri, lalu membias ke otak kanan. . 
Sayang, Aku yang sekarang adalah wanita kuat yang dulu belum kaukenal. Jika kau masih ada di dunia ini, kaupasti berkata,"Kamu berbeda!" 
Mungkin skrg, kausemakin tua. Aku sedang membayangkanmu saat ini, mungkin hidungmu semakin mancung, mungkin bulu matamu semakin lentik, mungkin pipimu semakin memerah ketika panas menyengat hangat pipimu, Dari jarak sejauh ini, mustahil jika aku bisa lagi menyorot erat bola matamu dan menyerap sinarnya.
Bukankah, kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan? Bukankah, kekuatan cinta pertama jauh lebih kuat daripada cinta-cinta lainnya
Jadi, untuk segala kemungkinan yang terjadi, biarlah Tuhan menyimpan kemungkinan itu rapat-rapat dalam sela-sela jemariNYA yang penuh kuasa. Diumurmu yang semakin bertambah ini, semoga Tuhan memberkati semua rencana pembahagiaanmu, semoga kautetap dicintai oleh sesamamu, dan semoga aku masih tersimpan aman dalam laci lemari otakmu.
Satu hal yang perlu kauketahui, aku tak pernah mengabaikan kekuatan cinta pertama.

ditulis saat: hidung tersumbat, kegalauan menghambat, nafas tercekat. seorang hipotensi butuh pertolongan pertama tapi dia lebih memilih untuk menulis tentang seseorang yang hidup dimasa lalunya. hebat!

sudah kebal

Entah mengapa, perlakuan kasarmu masih terlihat lemah lembut di mataku."

Aku selalu kehilangan kamu, lalu kembali menemukanmu. Maksudku, apakah kamu tak bisa benar-benar tetap tinggal? Sehingga saat aku membutuhkanmu maka aku tak perlu lagi mencarimu, maka aku tak perlu lagi repot-repot menunggumu untuk meninggalkan kesibukanmu.
Aku selalu bersabar dengan sikap dan tindakanmu, ketika kamu bahkan tak pernah ada disaat seseorang bertanya siapa seseorang yang menjadi sandaran hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu ketika kamu bahkan tak akan kembali hari itu. Sebegitu tak berhargakah aku di matamu? Sebegitu tak bernilaikah aku di hidupmu?
Aku tidak pernah berkata BOSAN dan MALAS dengan sikapmu. Aku tak pernah berkata LELAH dengan semua perlakuanmu. Tapi, mengapa kauselalu berkata BOSAN, MALAS, dan LELAH dengan sikapku? Apakah dari semua kesabaran dan keikhlasanku ada hal tersembunyi yang membuatmu resah dan risih? Yang membuatmu tak ingin ditunggu dan tak ingin diharapkan lagi. Aku hanya ingin meminta sedikit saja pengertianmu, sedikit saja perhatianmu agar kautetap menganggapku ada, seperti aku yang selalu menganggapmu ada.
Aku tahu, mungkin kesibukanmu telah mengubah cara berpikirmu, yang juga ikut mengubah perasaanmu. Mungkin, kamu tidak lagi mengharapkanku seperti dulu. Mungkin, aku bukan siapa-siapa lagi di hatimu. Dan, kemungkinan yang tidak pernah ingin kuketahui bahwa kamu tak ingin lagi diingatkan agar tidak telat makan olehku, bahwa kamu tak ingin lagi diperhatikan kesehatannya serta pola makannya olehku, bahwa kamu tak ingin lagi membagi semua kesedihan dan kebahagiaanmu untukku satu-satunya.
Ternyata, kata BOSAN itu sangat berpengaruh dalam suatu hubungan, seiring berjalannya waktu, seiring dengan datangnya orang-orang baru di lingkunganmu sehingga sedikit demi sedikit mereka telah menggantikan tugas wajibku untuk memerhatikan dan mencoba mengerti keinginanmu. Kamu yang sekarang, kamu yang telah berubah, kamu yang tak lagi aku kenal.
Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan agar terus menjagamu? Tahukah kamu bahwa aku berkali-kali mengucap namamu dalam setiap doaku?  Meskipun berkali-kali Tuhan memperingatkan bahwa "kasih itu lemah lembut" tapi entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku. Entah karena hatiku yang mulai buta, atau karena aku yang terlalu terbiasa kausakiti.

Rindu yang sederhana

"Bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu?"




Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan.

***
Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.

Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan dia, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

Dia mengajariku banyak hal. Cara menari dalam hujan, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.

Seringkali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya, tercebur dalam hatinya, lalu terpeleset dalam aliran darahnya. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungnya, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasnya. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan? Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.

Tahu-tahu, sosoknya menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya dia saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau dia tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.

Ah, kala itu, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekadar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
***

Aha! Hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Kamu yang dua tahun ini meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.

Ah... berdosakah aku kalau masih saja memikirkanku? Dua tahun lalu, hanya kau saja yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya.

Hujan kali ini, di sepotong sore yang dingin, benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, tentu saja rasa yang begitu dalam. Hilang? Saat aku berniat untuk mencari, pasti aku akan menemukan. Tapi, bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu? Di mana aku bisa menemukan seseorang yang mau berjanji untuk tidak meninggalkanku?


Sayang. Ah! Sayang? Panggilan yang tak pernah terucap sekalipun dari bibirmu. Hujan kali ini memang deras sekali, aku tak membayangkan kamu yang terbaring lemah disana, apa kau kedinginan? Oh ya, sudah sebulan aku tidak mengunjungimu ya? Apa kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu? Tidak usah dijawab! Aku tidak ingin mendengar jawaban dingin itu! Begini saja, besok aku akan mengunjungimu, membersihkan rumput-rumput liar yang mencoba menjamah nisanmu. Jangan menolak! Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan pemaksaanku. Aku hanya rindu. Itu saja. Sederhana. Rindu memang selalu sederhana kan?

aku takut kehilangan seseorang yang tak ku milikki

                Mungkin, dulu aku tak benar-benar mencintaimu, ketika jantungmu berdetak lebih cepat saat bertemu denganku, aku tak merasakan jantungku berdetak dengan hebat ketika bersamamu. Perkenalan kita begitu singkat, pertemuan kita cukup beberapa saat, lalu kaukatakan cinta, lalu ka tunjukkan rasa, lalu kaubahagia dengan cinta "instan" yang kita lalui berdua. Ya, aku bahagia, tapi tidak benar-benar bahagia, karena (mungkin) aku tak merasakan perasaan yang sama denganmu, karena (mungkin) aku asal menjawab saja ketika ka memintaku menjadi saru-satunya dalam hidupmu.
           Aku tak pernah mempedulikanmu! Aku tak pernah mau tahu kabarmu! Aku hanya bertingkah seolah-olah kaukekasihku, karena masih ada labirin-labirin kosong dihatiku, yang tak mampu terisi olehmu. Ya, kita bertingkah layaknya pasangan kekasih yang sangat bahagia, tapi apa yang kurasakan? Genggaman tanganmu, kosong! Pelukanmu, semu! Tutur katamu, tak penting bagiku! Senyummu, tak mampu membuat jantungku menderu menggebu! Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan pria-pria itu! Bermesraan dengan mereka tanpa kautahu apa yang kulakukan dibelakangmu. Sebenarnya, apa yang salah denganku? Sebenarnya, ini salahku atau salahmu?
          Awalnya, semua berjalan biasa saja, tapi aku mulai risih dengan tingkah bodoh dan keanehanmu! Aku tak tahan dengan semua hal bodoh yang kauperlihatkan padaku. Aku tak suka caramu mengatakan cinta dengan hal setolol itu! Kenapa kaselalu membuatku marah? Kenapa kautak pernah berusaha menumbuhkan cinta dalam hatiku? Kenapa aku tak bisa mencintaimu walaupun kutahu kautelah berkorban banyak untukku?
Tapi, Tuhan memang adil, Tuhan berikanku rasa sakit untuk menyadarkanku dari kesalahanku. Kata putus yang kulontarkan dengan begitu mudahnya, tanpa tangis tapi penuh tawa ternyata tak selamanya menjadi tawa bagiku. Selang beberapa hari memang semua berjalan normal, tapi aku merasa ada mozaik yang hilang dalam hidupku; kamu yang kutinggalkan dengan sengaja dan dengan kejamnya. Pesan singkatmu, tawa renyahmu, senyummu, kata-kata cintamu, tak ada ada lagi hal-hal manis yang dulu kuanggap seperti sampah itu. Tak ada lagi kamu yang mengisi hari-hariku dengan lelucon bodoh dan tampang tolol itu. Tak ada lagi kamu yang diam-diam mencium pipiku ketika aku sibuk dengan handphone dan laptopku. Aku merasa sendirian. Aku benar-benar merasa kehilangan. Kini, aku semakin percaya bahwa kita baru benar-benar mencintai seseorang ketika kita kehilangan sosoknya, dan hal itu kini terjadi padaku.
       Memang, setelah berpisah denganmu, aku dengan begitu mudahnya mendapat seseorang lagi yang berusaha mengisi hari-hariku, tapi dia tak sebodoh kamu, dia tak setolol kamu, dia tak mampu menggantikan kamu. Dia hanya berhasil mengganti statusku yang single menjadi in relationship, dia tak benar-benar mampu menggantikan kamu yang (tanpa kusadari) telah mengisi hatiku. Aku semakin mengerti bahwa tak ada seorangpun yang mampu menggantikan sosokmu.
         Meskipun kini aku telah bersamanya, dan kaujuga telah menemukan seseorang yang baru, tapi perasaanku tak berubah sedikitpun. Aku justru sangat mencintaimu ketika kini kautelah bersamanya. Saat melihat kaudengan dia, ada rasa sakit yang menikamku dalam-dalam, ada kenangan yang diam-diam mendesakku kembali ke masa lalu, sambil berkata dalam hati: "Dulu aku pernah menggenggam tanganmu, tapi sekarang dia yang mampu melakukan itu, kekasih barumu."
         Hanya itu yang bisa kulakukan, MENYESAL! Membiarkanmu mencintaiku tanpa mempedulikan perasaanmu, membiarkanmu memberi kejutan tanpa pernah memerhatikan usaha kerasmu, aku sadar bahwa ternyata dulu kamu benar-benar mencintaiku. Cuma itu yang bisa kulakukan, menangis diam-diam ketika kulihat barang-barang pemberianmu masih kusimpan dengan rapi. Kita memang telah berpisah, tapi perasaanku belum bisa lepas darimu. Kita memang telah putus, tapi kenanganku tentangmu belum benar-benar putus.
Aku takut kehilangan seseorang yang tak lagi kumiliki... kamu tuan,

berhenti atau lanjutkan

      Aku tak pernah bebas mencintai dia. Dia lebih suka kucintai secara diam-diam. Dia lebih suka kucintai tanpa harus ada banyak orang yang tahu. Itulah kita, dengan kemesraan yang kami sembunyikan, dengan sapaan sayang yang tak pernah terdengar di muka umum. Seringkali, ada rasa sakit yang menyelinap secara nyata dalam “kerahasiaan” ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak pernah mampu melawan dia yang tetap saja mengatakan sayang meskipun aku selalu dia sembunyikan.
     Kami memang terlihat seakan-akan tak memiliki hubungan khusus, kami memang seringkali terlihat seakan-akan tak punya perasaan apa-apa. Padahal, saat kami hanya berdua, perasaan itu membuncah dengan liarnya, rasa cinta itu mengalir dengan derasnya. Tak ada orang lain yang tahu bahwa kami telah bersama, karena dia selalu berpendapat bahwa suatu hubungan memang tak butuh publikasi berlebihan. Tapi, menurutku, ini bukan hanya sekadar pubikasi yang dia ceritakan, nyatanya aku benar-benar disembunyikan, nyatanya saat dia bersama teman-temannya, aku seakan-akan tak pernah ada didekatnya, aku diperlakukannya seperti orang lain. Ada rasa sakit yang sebenarnya diam-diam menyiksaku, tapi aku masih sulit memutuskan tindakan yang harus kulakukan.
    Memang, di depannya aku tak pernah mempermasalahkan pengabaiannya, tapi justru tindakan itulah yang membuatku tersiksa di belakangnya. Aku memang bahagia saat bersamanya, tapi apa gunannya kalau dia hanya sanggup untuk menyembunyikanku? Aku memang merasa hangat jika dalam peluknya, tapi apa gunanya jika pelukan itu semu dan tak bisa terus menghangatkanku? Aku terpaksa menunggu dihubungi lebih dulu, jadi dia akan datang padaku ketika dia hanya membutuhkanku? Padahal aku merindukannya, padahal aku ingin menghubunginya lebih dulu.
    Aku seringkali merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupnya, karena memang dia jarang memperlakukanku layaknya orang penting dalam hidupnya, padahal aku selalu menganggap dirinya penting dalam hidupku, bahwa sebagian diriku ada bersamanya. Lupakan makan malam romantis, lupakan gandengan tangan yang manis, lupakan boneka yang tersenyum dengan bengis, dia memang tak seromantis pria-pria lainnya, dia memang selalu lupa untuk memperlakukanku layaknya wanita. Mungkin, aku sudah terbiasa disakiti olehnya. Mungkin, perasaanku buta akan cinta sesungguhnya, sehingga perlakuan yang menyakitkan pun tetap kuanggap sebagai perlakuan yang membahagiakanku.
    Dia bahkan tak mempertegas status kita. Seringkali aku bertanya, inikah cinta yang kucari jika dia hanya bisa menyakiti? Inikah dunia yang kuharapkan jika aku merasa frustasi?  Inikah hubungan yang akan membahagiakanku jika dia tak pernah menganggapku ada dan nyata?

Apakah ini saatnya untuk melanjutkan, atau berhenti di tengah jalan?
 
gadis kecil.................