Syaiban, anakku sayang. sampai sekarang mama masih sering bingung, sebenarnya rasa ini harus mama letakkan dimana. Terasa sakit, tapi tidak selalu bisa mama jelaskan. Kadang datang tiba-tiba, kadang diam terlalu lama, dan mama sering tidak tahu bagaimana cara meluapkannya. Mama tidak selalu bisa menangis, tidak selalu bisa bercerita, bahkan kadang, mama hanya diam... sambil menahan rasa rindu di dalam dada yang terasa sesak. Waktu memang berjalan dan semua terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam hati mama, ada bagian yang tetap tinggal di hari itu. Kehilangan anak itu sakiiitt sekali, sampai mama bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Kadang mama melihat orang-orang disekitar mama, papamu, umi, bapak, serta orang-orang yang menyayangi mama dan tiba-tiba mama tersadar, suati hari mereka juga akan pergi, begitupun mama. Perasaan itu datang begitu saja, dan rasanya seperti kehilangan yang belum benar-benar terjadi, tapi sudah terasa di dalam hati. Mama jadi takut, takut kehilangan lagi. Takut merasakan hal yang sama, lagi dan lagi. Mama tau, di dunia memang tidak ada yang benar-benar tinggal. Tapi memahaminya di kepala, ternyata tidak membuat hati mama menjadi lebih siap.
Setelah adek pergi, tidak ada lagi yang benar-benar sama. Suasana, kebiasaan, hingga cara mama memandang dunia pun ikut bergeser, Segalanya terasa berbeda. Hal hal yang dulu terasa mudah, tiba-tiba jadi jauh lebih berat. Kadang rasanya melelahkan sekali. Apalagi saat melihat hidup orang lain yang mempunyai anak yang lucu-lucu, sehat dan menggemaskan. Bukan iri, tapi sulit untuk berbohong kalau ada bagian dalam diri mama yang memang terasa kosong setelah adek pergi. Banyak hal yang mama pelajari setelah kehilangan itu. Tapi tidak ada satupun yang mengajarkan bagaimana cara melanjutkan hidup setelahnya.
Adek, mama bukan sedang tidak bersyukur. Mama hanya rindu adek ❤️ Alfatihah...