Kamis, 21 Desember 2017

Grey SunFlower part30

*GSF* part30
*

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah puas berkeliling dengan mobil, kami kembali ke rumah.

"Gilaaa. Puas banget hari ini. Oh ya, besok kita mau kemana lagi? " tanyaku antusias.

Ia tertawa geli.
"Kamu tuh yaa.. Besok dipikirin. Besok ya besok. Tenang saja, aku yang atur. Sudah, bersih-bersih sana, terus tidur. "
"Siap paaaak.... "
Balasku sambil memberi hormat padanya.
Aku pergi ke kamarku untuk membersihkan badan. Malam ini lumayan dingin jadi kuputuskan untuk memakai sweater. Senang sekali rasanya hari ini. Baru kali ini aku mengalami liburan yang sangat seru. Walaupun lelah tapi semuanya terbalaskan dengan rasa puasku.

Setelah selesai, aku keluar kamar dan kulihat imal sedang duduk dirumput halaman depan. Sebelum menghampirinya aku memutuskan untuk membuat segelas coklat hangat untuknya. Saat duduk disebelahnya, ternyata dia sudah siap menawarkan segelas susu untukku. Aku tertawa saat kami saling menyodorkan minuman...

"Minum ini... Minum Susu lebih bagus diminum sebelum tidur. " ujarnya. Aku menuruti apa katanya.
Setelah beberapa saat menikmati sungai cantik. Imal bertanya.
"Ais.. Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini? "
Aku terdiam sambil berpikir.
"Selain bertemu janwar tentunya. " sahutnya sebelum aku sempat menjawab. Imal lalu melirik anak ke arahku. Ya tuhan dia tampan sekali.
Aku tertawa dan menyandarkan kepala dibahunya.
"Aku boleh menyebutkannya berapa? "
"Emmmmm bagaimana kalo empat? " jawab imal lalu meminum coklat panasnya.

"Okee...!  Pertama aku ingin sekali bisa membuat ibu dan papa ku bangga. Meskipun papap sudah tidak ada. Kedua, aku ingin kamu tidak berhenti untuk menjadi sahabat aku. Ketiga aku ingin sekali bisa punya rumah ditengah ladang bubga matahari, pasti indah. Jadi tiap hari aku bisa liat bunga matahari. " aku tertawa kecil.

Kulihat dia masih mendengarkanku. Jadi aku melanjytkan permintaanku yang terakhir.
"Dan yang keempat, aku ingin bangun panti asuhan ditengah pedesaan yang sepi. Disana aku bisa melihat kumpulan anak kecil yang tidak mempunyai ayah dan ibu. Dan doa mereka akan mengisi setiap rongga bangunan itu. Dan aku bisa melihat kegembiraan anak-anak tanpa sosok ayah dan ibu disinya. "
Suasana seketika hening.
"Dan mmmn. Boleh nambah satu lagi gak? "
"Apa?  Silakan saja. "
"Aku rindu sahabatku. Sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. " aku tersenyum ke arah imal.
Imal tampak bingung
"Sahabat yang mana? "
"Sahabat ku yang di jakarta. Dia itu mirip sekali dengan kamu. Dia selalu mengantar jemput aku. Membelikan apapun yang aku mau. Bahkan beberapa yang kamu ucaokan mengingatkanku padanya. Terakhir aku bicara dengannya saat aku tiba disini. Setelah hari itu dia tidak pernah lagi mau bicara denganku. Aku merindukannya... "
"Laki-laki atau peremuan?  Siapa namanya? "
"Namanya Agung Mardian. Dia juga kenal dengan adikmu. Dia ikut denganku menemani hari terakhir janwar. "
Imal seperti tersadar.
"Oooh aku ingat sekarang. Janwar pernah cerita tapi hanya sepintas. Terus kenapa dia tak mau lagi bicara dengan kamu? "
Aku menatap lurus ke arah sungai.  Mengingat tahun tahun yang kulewati bersama kak Agung. Setelah berpisah dengannya, aku baru menyadari bahwa aku ingin memiliki tahun-tahun itu lagi dengannya. Aku ingin sekali melihat reaksi tak terduganya ketika melihat siapa yang duduk disebelahku saat itu.
Aku menarik napas panjang...
"Mungkin bukan hanya kata-kataku yang menyakiti hatinya.. Tapi juga sikapku.... "
"Kok bisa begitu? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan? " imal tampak semakin penasaran.
Aku tersenyum enggan.
"Aku malas menceritakannya. Nanti saja ya., kalau aku sudah bertemu dengan dia, akan kukenalkan dia padamu. Lalu aku akan menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Oke.  "
Imal tersenyum. 
"Oke... "
Aku memandangnya...
"Kalau kamu? Apa keinginan terbesar dalam hidup kamu? " balasku bertanya.
Dia tersenyum lagi.
"Tidak tahu. " jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Iih kok gak tau sih. Curang! " aku mencubit pinggangnya, ia meringis kesakitan.
"Awww sakit.. Kenapa sih suka banget cubit-cubit pinggang. "
"Enggak tahu. " jawabku sambil mengangkat bahu..
Kemudian kami tertawa, ada rasa bahagia yang tak terjelaskan saat aku ada disamping imal.
"Sudah ah.. Tidurr tidurrr..  Besok kan mau jalan-jalan lagi.  "
Dia menarik tanganku untuk bangun.

Aku mengangguk lalu kami masuk kedalam rumah saling mengucapkan 'selamat malam' dan masuk ke kamar masing-masing.  Aku berbaring diatas tempat tidurku. Kutarik napas panjang untuk mengendurkan sarafku. Setelah satu setengah tahun berjuang keluar dari lumpur hidup, akhirnya aku mulai bisa merasakan kebebasan. Senang sekali rasanya saat aku bisa bernapas tanpa harus mengingat rasa sakit yang selama ini aku simpan. Dan semua itu karena bantuan imal. Sepertinya imal sudah mempunyai tempat tersendiri dihatiku.

Tapi aku masih merasakan sesuatu yang mengganjal.  Seperti perasaan tidak lengkap. Rasanya ada yang kurang. Aku memang senang dan hampir sedikit lagi bayang-bayang janwar akan hilang. Tapi aku juga merasakan ada bayangan lain yang menyelimuti hari-hariku. Bayangan ini lebih sulit dihilangkan.
Aku cepat-cepat mengusir perasaan mengganjal itu. Baru saja aku akan memejamkan mata, tiba tiba imal masuk kamar dan berbaring disebelahku. Aku kangsung terbangun dan kaget.
"Heyy ngapain?  Sana balik ke kamar"
Aku mendorong tubuh imal hingga ia hampir terjatuh.
Bukannya keluar, ia malah memunggungiku.
"Enggak mau ah, aku pengen disini. "
"Iiih gak maaaaauuu. Tidur sendiri sana.. Apa jangan-jangan kamu takut yaa? "
Imal berbalik badan.
"Iyaa.. Aku takut bangett.. Takut kehilangan kamu. "
Imal terkekeh.
Aku mendorong tubuhnya hingga ia benar-benar terjatuh.
"Hahahaa rasain. Sudah sana pergi. Aku ngantuk nih. "
Ia pergi dengan wajah cemberut. Aku tidak menggubrisnya. Lebih baik aku tidur.

Saat tengah malam aku terbangun karena haus. Kulihat imal tertidur nyenyak diatas sofa. Ia tidur meringkuk seperti anak kecil. Aku tidak tega membangunkannya.
Kuambil selimut dari kamarnya lalu kuselimuti dia. Dia tampak seperti anak polos kalo sedang tidur. Dan aneh sekali saat ini aku teringat bukan pada janwar, tapi kak agung. Kak agung dulu juga pernah tidur seperti ini.

Aku membelai rambut imal dengan lembut. Kulepas kacamatanya,  aku berterimakasih dalam hati padanya karena sudah setia menyemangatiku. Aku jadi tidak bisa tidur malam itu, mataku tidak bisa lepas dari wajahnya yang tampan. Bahkan ketampanannya melebihi adiknya...

NEXT

Tidak ada komentar: