*GSF* part21
*
Aku sampai di rumah 45 menit kemudian dan ternyata sudah ada mama dan papa janwar, alviah dan fahri.
"Lhooooo tante disini?" tanyaku terkejut.
"Tante tiwi sama om irwan ingin mengantar kamu ke bandara, ais." jawab tente tiwi lembut.
"Yaa ampuuuun. Tante sama om kok repot-repot, jadi gak enak nih aku."
"Repot? Masa sama anak sendiri repot. Sudah, mendingan sekarang kamu mandi. Takut terlambat nanti."
Aku mengangguk dan langsung pergi ke kamarku, lalu mandi dan memasukkan barang-barangku ke mobil. Aku melihat kamarku untuk Yang terakhir kalinya. Mungkin bukan yang terakhir, tapi aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke indonesia. Aku berencana mencari pekerjaan di amsterdam setelah selesai kuliah.
"Agung gak ikut nganter?" tanya ibu ketika kami sudah di dalam mobil.
"Enggak bu. " jawabnku tidak bersemangat karena saat ini aku ingin sekali bertemu dengannya.
******
Aku masih terus menunggu kak Agung. Siapa tahu dia berubah pikiran. Tapi sampai jam setengah tujuhpun tetap tidak ada tanda dirinya akan muncul. Aku harus egera check in. Aku memeluk ibu, tante tiwi, om irwan, fahri dan alviah.
"Alviah... Dia beneran gak dateng."
"Yasudahlah... Mau diapakan lagi. Yang penting kemarin sudah ketemu kan?"
"Iyasih... Tapi.... "
"Sudah. Jangan dipikirkan. Sekarang lo berangkat ya ais." sahut fahri.
"Jangan lupa kirim email, awas lo kalo jadi orang sombong, gak bakalan gue undang dipernikahan gue." lanjutnya.
"Waduuuh... Memang calon istrinya sudah ada?" godaku.
Fahri melirik genit ke arah alviah yang berdiri di sebelahnya. Alviah langsung menyikut fahri karena malu. Aku langsung tergelak.
Aku mendorong troliku menuju pintu masuk. Berat rasanya melangkahkan kaki. Seperti ada yang menahanku, seperti ada yang memanggil namaku. Kukira itu hanya khayalan, tapi memang benar ada yang memanggilku. Suara itu terdengar jelas sekarang. Suara yang kutunggu sejak tadi..
"Aisyaaaah..... "
Aku menoleh dan kulihat kak agung berlari kecil ke arahku.
"Kaaaaakk... " seketika aku memeluknya. Erat sekali.
"Katanya gak mau dateng." aku cemberut.
Ia memelukku lagi dan membisikkan kata di telingaku.
"I love you"
Aku tak bisa membalas ungkapan isi hatinya. Aku hanya tersenyum.
"Ais, aku tidak serius dengan apa yang aku katakan semalam."
"Kata-kata yang mana?"
Ia tertawa kecil.
"Aku gak akan menyerah. Cinta kakak ke kamu gak akan berhenti sampai disini. Aku akan nunggu kamu ais. Cinta ini akan membawa aku kesana. Ketempat kamu berpijak nantinya.... "
Kak agung melepaskan pelukannya lalu ia menyelipkan sesuatu ditanganku. Ternyata ia memberikan gelang dengan bandul bunga matahari. Tiba-tiba airmataku jatuh.
"Meskipun gak seberapa, aku harap kamu bisa jaga gelang ini ya ais." ia memakaikan gelangnya ke tangan kiriku.
"Jangan nangis ais, inikan yang kamu mau? Jaga diri baik-baik ya... Aku mencintaimu. "
Lalu ia menarik tangan kananku. Dia tunjuk pangkal jari manisku.
"Nanti disini, aku akan pasang cincinnya. Suatu saat... "
Ucapnya sungguh sungguh.
Lagi lagi ia mrmbuatku merasa bersalah. Dia memberikan sebuah janji. Janji yang ia tahu sangat sulit untuk ditepati. Bukan karena dia, tapi karena aku, aku yang terlalu lemah dan cengeng. Aku yang tidak mampu menerima kenyataan.
Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku mengucap beribu terimakasih pada tuhan. Terimakasih karena aku bisa bertemu dengan orang yang sangat menyayangiku.
Dulu janwar, sekarang kak agung. Juga ibu, sahabat sahabatku dan keluarga baruku. Mereka memberiku banyak hal, walaupun aku belum bisa memberikan apapun untuk mereka. Hanya sebentuk cinta yang datang dari hati kecilku.
Kak agung memelukku sekali lagi.
"Apa kamu benar benar tidak mencintai kakak atau memang kamu tidak menyadarinya?"
Aku terdiam sejenak.
"Belum kak.. Beri aku waktu, sedikit lagi. Aku mohon. Kakak tahu kan, aku masih butuh waktu dan usaha lebih keras lagi untuk menyembuhkan luka ini."
Aku melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahku. Aku meninggalkan mereka. Seketika timbul rasa sepi yang besar menyelimutiku. Membuat langkahku semakin berat.
Satu jam menunggu rasanya seperti satu tahun. Aku berjalan masuk ke pesawat yang besar dan mewah. Saat aku duduk di kursi penumpang, saat aku memasang sabuk pengaman, saat aku melihat pintu pesawat ditutup, dan saat aku mendengar pramugari mengatakan kami siap untuk lepas landas. Aku tahu, setengah hidupku sekarang sudah pindah ke negeri kincir angin, Belanda.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar