Tak ada yang meletup sebagai tawa, melebihi hening yang mulai terbiasa pada kecintaannya dan dingin yang dipermainkan.
Malam masih sama, selain hitam, sebagian membelah jalan dengan air hujan yang berjatuhan. Teras rumah masih sendirian, masih bisu, sepi tanpa kata. Rumput-rumput saling memeluk, mencoba menghalau embun yang mulai turun. Bukankah kita tak pernah tahu, mungkin saja daun tak pernah mencintai embun, ia hanya lembar yang tak bisa memilih, mencinta atau melepas.
"Pulanglah. Udara malam terlalu pandai menipu, ia tak pernah benar-benar menjadi sahabat yang baik." saranku. Suasana menghening seketika.
'Sebentar lagi saja. Aku masih merindukan angin malam tentunya merindukan kebersamaan kita' ucapmu lirih. Aku terdiam . 'lima menit saja, kumohon... Lima menit yang abadi'. Aku tersenyum.
Kau menyusuri jalan berbatu sepanjang tentang kenangan yang pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dan hambar😨
Selamat memejam sayabg, jangan lupa berdoa untuk menghangatkan mimpi yang kita rangkai malam ini💞
Selasa, 25 Juni 2019
Lima menit yang abadi
Sabtu, 22 Juni 2019
Rekonsiliasi
Rekonsiliasi ini sama sekali bukan 'Happy Ending' seperti dalam sinetron dan drama korea. Pertemuan kembali ini mungkin akan jauh menyakitkan daripada kebersamaan yang dipenggal mendadak selama tiga tahun terakhir ini.
Akan ada banyak airmata yang jatuh, akan ada banyak sayatan hati yang sudah lama tidak utuh, akan ada letup emosi, akan ada luap amarah serta caci maki, dan akan teramat banyak luka yang menjadi sakit di hati😔
Karena begitu, seandainya aku bisa untuk meminta. Jika kebersamaan kita tidak berujung diikatan yang sah, Aku ingin benar-benar dijauhkan dari semua ini...
Minggu, 16 Juni 2019
Tips menulis😊
Kesepian itu bahkan harus dialami bukan hanya secara rohani, tapi juga secara badani. Namun kesepian ini bukan berarti isolasi. Kesepian itu lebih merupakan semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak tapi juga menolak kontak.
Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Penulis itu bagaikan binatang, yang berseru di kala malam. Penulis itu tiba-tiba merasakan hidup ini vulgar, dan ia tidak bisa menghaluskannya, sebelum ia ikut dan terbenam dalam kevulgaran itu.
Jelas, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi kesepian itu bukan romantisme kesendirian. Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian.
#tipsmenulis
-'Kopians