Sabtu, 02 Desember 2017

Grey Sun Flower part9

*GSF* part9
.
Perasaan yang dipendam begitu lama.......
*
Rasanya baru semenit aku tertidur,  cahaya pagi sudah sibuk membangunkanku.  Sampai aku tersadar kalau aku bangun tidur sangat siang.  Pukul 08.30. Ada sepotong roti dan segelas susu disamping tempat tidurku.  Tumben sekali ibu menyiapkan roti untukku,  tidak biasanya.  Aku mencoba makanan diatas meja,  tiba tiba kak agung masuk ke kamarku.  Aku tersendak karena kaget.  Kenapa dia ada disini sepagi ini?
"Akhirnya bangun juga,  yaudah habiskan dulu sarapannya. " katanya tenang.  Kak agung duduk disampingku sambil menatapku teduh.  Lalu ia mengeluarkan krim anti pegal dalam tube dari kantong plastik yang dibawanya.  "Sini kaki kamu. " kak agung menepuk pahanya dua kali dengan maksud agar aku menaruh kakiku disitu
"Buat apa? " aku bertanya takut takut. Kak agung memutar bola matanya.  "Coba sekarang kamu berdiri dan jalan ke pintu. "
Aku lalu berdiri.  Tentu saja aku langsung terduduk kembali.  Kakiku luarbiasa sakit.  Aku lupa,  semalam aku jatuh dari tangga.  Dan aku telah memaksakan kakiku yang sakit itu berjalan keruangan janwar semalam. Kakiku membengkak dan ada warna biru keunguan disekitar pergelangannya.  Dia kembali menepuk pahanya dua kali.  Dia benar benar peduli padaku.  Dia juga tahu benar apa yang sedang aku perlukan. Aku langsung mengangkat kaki kananku perlahan.  Meskipun sakit aku berusaha tahan dan tidak berteriak kesakitan. "Kalau sakit bilang,  ais.  Jangan ditahan.! " katanya singkat.
"Enggak kok,  gak sakit." jawabku berbohong.  Padahal aku sangat kesakitan.
Kak agung berdecak "susah ya kalo berhadapan sama orang yang sok kuat kaya kamu." aku hanya meringis.
"Gimana?" tanyanya selesai memijat kakiku.  Aku tersenyum,  kaki serasa lebih membaik. "Makasih ya kak..  Aku gak tau harus berterimakasih dengan cara apa sama kakak." kataku.  "Wiiiss kok baper,  kakak kan udah bilang,  kk gak akan pernah biarin kamu sendirian." jelasnya.  Meskipun aku sudah bosan mendengar jawaban itu lagi dan lagi.  "Ngomong ngomong ngapain kk ke rumah sepagi ini?"
"Kakak khawatir sama ais,  makanya pagipagi kakak kesini. " aku hanya terdiam.
"Maafin ais ya kak,  aku udah merusak acara semalam." ujarku sedih. "Dan makasih udah mau nungguin aku sampe akhirnya kakak yang anterin aku pulang."
Kak agung menatapku sendu. "Alviah sudah ceritakan semuanya sama kakak." akhirnya kak agung membuka suara. Aku tertegun. "Kakak tahu siapa janwar. Kakak tahu arti janwar buat kamu.  Denger ais,  kamu gak usah mikirin apa yang kakak ungkapkan ke kamu tadi malan.  Anggap saja itu gak pernah terjadi.  Anggap saja kue yang kakak kasih semalam ke kamu itu bener bener buat orang yang kakak sayang tapi kamj gak tahu siapa orangnya.  Anggap saja semalam itu hanya lelucon yang kakak siapkan untuk membuat kamu bahagia.  Janwar lebih butuh kamu sekarang."
Jiwa ragaku seperti terpisah ketika mendengar apa yang ia katakan.  Kenapa dia berbicara seperti itu? Kenapa dia berpura pura tegar saat dia mengorbankan perasaannya.  Dan kenapa dia masih begitu baik walaupun aku mengecewakannya?
Aku menarik tangan dan tubuhnya.  Kupeluk sahabatku ini dengan erat.  Tanpa terasa setetes airmata mengalir dipipiku.  Dia membenamkan wajahnya dibahuku. Lalu perlahan ia melepaskan pelukanku.  Dia melihat airmataku dan menghapusnya dengan jemari hangatnya yang lembut.  Dia tersenyum kecil padaku. "Kamu jangan sedih,  janwar jauh butuh kamu dibanding kakak.  Sekarang kamu bersih-bersih.  Setelah itu istirahat lagi. Aku pamit pulang." jelasnya. Aku hanya tersenyum.  Dia mengacak-acak rambutku lalu pergi.
****
Setelah mandi aku menghadap jendela yang menampilkan pemandangan ibu kota.  Kupandangi cahaya matahari yang bersinar diantara sela-sela gedung bertingkat.  Pikiranku tak terlepas dari janwar.
Kemarin janwar tak sadarkan diri saat berada dirumahnga.  Fahri langsung mengabari alviah.  Dan barulah alviah mengabariku.
Perih rasanya membayangkan apa yang terjadi pada janwar.  Sedangkan disini aku tak bisa melakukan apa apa. Ingin sekali saat janwar mengalami rasa sakit itu aku berada disampingnya,  menemaninya,  merawatnya,  andaikan bisa,  aku bahkan rela memindahkan rasa sakitnya ketubuhku. Aku tak habis pikir kenapa fahri dan alviah merahasiakan hal ini begitu lama padaku.
       Setelah lama beristirahat beberapa jam dirumah,  aku pergi kerumah sakit. Aku turun dari taksi online,  kakiku terasa berat untuk dilangkahkan.  Aku mamaksakan diri. Aku tiba di ruang ICU lalu masuk kedalam. Tapi tak ada janwar disana. Kata suster yang semalam menyuruhku pulang,  janwar sudah pindah keruang rawat biasa. Wajah suster itu sangat terlihat senang dan terharu padaku. "Karena kamu,  keadaan passien tiba tiba membaik dan bisa dipindahkan keruang rawat biasa." kata suster itu.  Lalu ia membertahuku letak ruangannya dimana.
Aku berjalan dilorong rumah sakit yang panjang. Ketika akhirnya tiba diruangan yang kutuju, tampak tante tiwi sedang berbicara serius dengan seorang dokter didepan ruangan itu. Ketika aku mendekat, mereka langsung melihat kearahku. Tante tiwi tampak senang dan lega.
"Ais Gimana keadaan kamu? Gimana kaki kamu?" Tanya tante tiwi bersemangat. "Oh sudah baikan tante. Kok tante tahu kaki ais sakit?" tanyaku bingung.
"Teman kamu yang namanya agung itu memberitahu tante.  Semalam tante sempat lihat kaki kamu pincang, jadi tante tanya sama dia apa yang terjadi.  Dan dia menceritakan semuanya." tante tiwi lalu mengangkat tangannya yang putih lalu mengusap pipiku dengan lembut. "Terimakasih ya sayang, garagara janwar kaki kamu jadi kaya gini.  Tapi karena kamu juga keadaan janwar membaik seperti sekarang ini,  tante sangat berterimakasih." tante tiwi memelukku. "Janwar selu menyebut nama kamu walau dalam keadaan tidak sadar,  ais." kemudian ia melepaskan pelukannya dan mengajakku duduk disepankamar janwar yang menghadap langsung ketaman rumah sakit.
"Tante,  ais mau tanya sesikit tentang janwar,  boleh?"
"Apapun,  ais. Kalau tante tahu jawabannya tante pasti akan jawab." katanya dengan lembut.
"Dari pembicaraan tante dengan aku kemarin dua hari ini tampaknya tante sudah mengenal dan tahu banyak tentang aku.  Memangnya janwar pernah cerita sama tante tentang aku?" tante tiwi tersenyum..

NEXT

Tidak ada komentar: