Sabtu, 30 Desember 2017

Grey SunFlower part52 (the end)

*GSF* part52

Mungkin ini part terkahir. Semoga semua pembaca suka dan bisa memberikan kritik dan saran untuk perbaikan karya saya kedepannya.
Saya cukupkan Grey SunFlower ini di part 52, kenapa?
Karena selain endingnya yang pas,  Salah satu alasannya lain karena angka 52 itu memiliki arti yang beda untuk saya. Angka 52 adalah jumlah dari tanggal lahir saya (24) dan ditambah dengan tanggal lahir seseorang yang spesial dalam hati saya.
Banyak ucapan terimakasih yang ingin saya sampaikan, semoga semua nama tokoh yang ada dalam cerita saya bisa dengan senang hati respect terhadap cerita ini, Terimakasih.. 

Ipok2524.blogspot.com

******

Pernikahan spesial pada musim semi....

Empat bulan kemudian....

"Kaaaaaaaaaak..... " aku terus mencari dia diantara ladang bunga matahari yang tingginya sama denganku. Aku yakin betul bahwa kali ini aku tidak sedang bermimpi seperti sebelumnya. Aku berada di dunia nyata karena aku bisa merasakan jantungku berdegup begitu kencang.

Ketika aku terus berjalan, tiba-tiba muncul seorang anak kecil. Rambutnya pirang berhias jepit bewarna biru. Dia mengulurkan tangan padaku dan memberikan gelang bunga matahari yang dulu sempat kukembalikan pada kak agung. Anak kecil itu tersenyum lalu melambaikan tangan dan pergi meninggalkanku.

Aku mengikuti arah anak itu pergi. Tapi dia sudah menghilang dibalik bunga matahari cantik itu. Lalu muncul lagi anak perempuan yang lain. Kali ini rambutnya bewarna cokelat dan wajahnya seperti boneka. Dia mengembalikan cincin yang dulu pernah juga aku kembalikan pada kak agung, dan lagi-lagi anak itu hanya tersenyum lalu meninggalkanku.

Aku tak perlu menunggu lama untuk bertemu dengan anak kecil berikutnya.
Dia membuatku terkejut dan senang karena yang ia bawa ialah gaun pengantin putih elegan.
Lalu anak berikutnya membawa cadar senada, anak berikutnya membawa sepatu. Hingga muncul anak yang terakhir. Ia menarik tanganku.
Aku mengikutinya dengan kangkah kecil.
Ia membawaku ke tepi sungai yang ada disamping ladang. Ketika sampai disana, ada sekitar 20 anak kecil bersama kak agung yang berdiri ditengah-tengah mereka. Anak kecil itu kemudian berteriak lantang.

"KAK AIS..... KATA KAK AGUNG MENCINTAI KAKAK...
DAN KAK AGUNG MAU TANYA.....  "

Anak kecil itu berhenti berteriak dan sekarang giliran kak agung yang berteriak.

"APAKAH KAMU MAU MENIKAH DENGANKU??? "

Lalu anak kecil yang berlari kepadaku meletakkan sebuah cincin ditanganku. Cincin itu adalah cincin bunga matahari yang belum sempat kak agung pasangkan dijariku.
Aku tersenyum bahagia. Tanpa kusadari airmata menetes dari mataku. Air mata bahagia dan haru.
Kak agung berjalan ke arahku. Saat itu dia memakai kemeja kotak abu-abu dengan kaos dalam bewarna hitam tanpa dikancingkan. Celana jeanss dan separi biru. Aku suka penampilannya. Dia lalu memelukku dengan erat sehingga memberiku rasa hangat karena tubuhku yang menggigil akibat cuaca mendung di Amsterdam, Belanda.
"Jadi, jawaban apa yang akan kuterima hari ini? " tanyanya tenang.
Aku mengusap punggungnya pelan.
"Apa aku harus memakai cincin itu sendiri? " tanyaku lembut.
Dia segera melepas pelukannya. Sambil tersenyum padaku lalu ia memasangkan cincin itu jari manisku. Ia tersenyum laku mengecup keningku dengan lembut.
Kecupan paling indah yang pernah kurasakan dalam hidupku..

****

Tibalah hari itu. Hari saat aku mengenakan gaun pengantinku yang di desain sesimple mungkin. Warna putihnya berkesan manis dan hangat, dengan cadar dan sepatu yang serasi aku berjalan menuju moment yang kuimpikan. Sebuah mesjid megah dijakarta yang dipenuhi dengan sahabat dan orang-orang yang kusayangi.
Aku memilih tempat ijab kabul di mesjid karena aku dan kak agung ingin menjadikan tempat terindah dalam hidup kami adalah tempat kami beribadah.

Hari itu ada ibuku, oma dan opaku, tante tiwi, om irwan, orangtua angkat kak agung, alviah, fahri dan sahabat-sahabatku. Mereka semua datang untuk kami.
Keadaanpun semakin baik setiap harinya. Kak agung berbaikan dengan tante tiwi setelah tante tiwi meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia tidak pernah bermaksud untuk membuang kak agung. Dia tidak mau kak agung malu karena kesalahan yang pernah tante tiwi buat. Tante tiwi hanya ingin melihat anaknya bahagia. Itulah kenapa tante tiwi meminta kak agung pindah ke malang, karena dia tidak bisa menanggung beban rasa bersalah setiap kali melihat kak agung.

Kak agung juga mengenalkanku pada orangtua angkatnya yang pada hari itu juga hadir. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka dan mengucapkan terimakasih untuk kebahagiaan yang aku bawa. Padahal anak merekalah yang membawa kebahagiaan dalam hidupku. Sedangkan alviah dan fahri semakin sumringah dengan kehadiran sang buah hati mereka.

Dengan bahagia mereka melihatku berjalan dengan anggun memasuki mesjid nan indah.
Tapi imal tidak datang hari ini. Karena dia sudah pergi, dia sudah tiada, dia sudah pergi meinggalkanku untuk selamanya.  mungkin sekarang dia sudah duduk bersama janwar dipinggir sungai kecil yang dulu pernah hadir dalam mimpiku.

Ternyata penyakit yang sama merenggut satu lagi nyawa sahabatku.
Takdir membuat janwar harus berbagi penyakit dengan saudara kembarnya.
Penyakit itu yang menyebabkan imal sering pingsan tiba-tiba semasa hidupnya.
Hingga suatu hari aku mengajak tante tiwi ke rumah sakit tempat imal di rawat.
Dan imal meninggalkan kami tepat dihari itu. Sebulan sebelum pernikahanku.
Imal berkata padaku.

"Kamu tidak boleh berjalan dalam kelelahan. Tapi kamu akan berjalan dengan doa cinta dariku, dari janwar dan dari semua orang yang menyayangimu. "

Hari ini aku tahu, aku tak perlu lagi menangis. Karena aku berjalan dengar iringan doa dari mereka. Di dalam mesjid kak agung sudah duduk tegap bersama satu penghulu, orangtua kami dan para saksi.
Kak agung mengenakan jas putih, kemeja putih dan dasi bewarna abu-abu. Dia tersenyum manis padaku.

Aku duduk disamping kak agung, lalu ibuku memasangkan kain untuk menutupi kepala kami.

"Apakah kalian sudah siap? "
Ucap penghulu.
Kami mengangguk.
Lalu penghulu menjabatkan tangan kak agung dengan wali nikahku.
Wajahnya mulai menegang,
"Saya nikahkan engkau Agung Mardian  dengan Aisyah Aliskandar binti Yusup iskandar dengan Mas kawin 24 karat dan sepasang bunga matahari di bayar tunai "
"Saya terima nikahnya.......... .   "

Dan Alhamdulilah...  Dan akhirnya dengan lancar kak agung mengucapkan ijab kabul pernikahan kami. Sebuah janji suci yang ia ucapkan untuk menjalin kasih denganku. Mulai hari ini aku telah resmi menjadi istrinya. Istri yang senantiasa tunduk pada suaminya, istri yang akan mencari jalan menuju surga bersama suaminya, istri yang akan dengan senang hati memberikan cinta kasih dan seluruh hidup untuk suaminya.

Seketika airmata mengalir dipipiku. Lalu aku mencium tangannya sebagai tanda terimakasih pada suamiku.

"Aku pasang cincin ini sebagai tanda bahwa aku akan menjaga kamu semampuku, kita akan hidup bersama untuk mencari Ridho_Nya. "

Lalu ia mengecup keningku dengan lembut. Kutatap matanya, ia menangis. Airmata haru itu membuatku bahagia, betapa beruntungnya aku mempunya suami yang setulus kak agung.

*****

Setelah ini, kami akan tinggal dirumah kami yang baru. Yang dulunya adalah rumah imal. Kami kembali ke Amsterdam. Tapi rumah itu sedikit berubah, kini di sekelilingnya ditanami bunga matahari. Juga ada taman kecil di pekarangan rumah. Taman tersebut di tanami bunga kecil warna warni dan lampu bunga matahari. Bunga cantik itu menerangi rumah kami pada malam hari, sangat indah.

Dan di salah satu sudut rumah, ada satu ruangan yang mengingatkanku akan cinta mereka. Ruangan yang dindingnya dipenuh dengan foto bunga matahari abu-abu dan juga foto-fotoku bersama mereka.

*Grey SunFlower*
ruangan itu adalah hadiah terakhir untukku dari Imal.

Mereka mencintaiku seperti bunga matahari. Dan aku akan selalu  mencintai mereka seperti warna abu-abu. Tidak memihak kepada siapapun. Aku memberikan cinta yang sama seperti warna abu-abu.
Abu-abu yang tidak hitam juga tidak putih.

Aku tahu, setelah ini, pada malam hari aku bisa bermimpi duduk bersama mereka dipinggir sungai cantik dengan latar bunga matahari. Di mimpi itu kami bisa tertawa bersama dan pada pagi harinya aku akan pulang kembali pada suami tercintaku dan dua anak kembarku.
Janwar dan Imal...

TAMAT

Grey SunFlower part51

*GSF* part51

Aku berlari di lorong rumah sakit. Mataku terus menyisir setiap senti yang kulewati. Sampai akhirnya aku menemukannya. Imal sedang duduk disana. dipinggir taman rumahsakit. Dia menunduk sambil memegang kain kecil yang ia tutupkan ke mulutnya. Aku berjalan pelan kearahnya. Aku takut dia langsung pergi ketika melihatku tiba-tiba. Perlahan ku duduk disebelahnya. Imal belum menyadari kehadiranku. Sepertinya dia setengah tertidur. Aku mengulurkan tanganku dan menarik lembut tangannya yang sedang menutupi mulutnya. Aku begitu terkejut ketika kulihat ada bercak darah segar dikain itu. Dia juga tampak kaget dengan kehadiranku. Tapi tidak ada tanda tanda dia akan pergi.
Wajah imal terlihat sangat pucat. Kontras dengan bibirnya yang merah karena sisa darah tadi. Badannya mengurus dan tangannya sedingin udara pagi ini.

"Mal, kamu sakit? " tanyaku cemas.
"Aku tidak apa-apa ais. Aku tak sengaja menggigit bibirku sendiri. Ternyata aku jauh lebih kuat dari kakakku. "
Dia tersenyum mengejek.

Aku bisa merasakan airmataku  mulai mengalir dipipi. Mungkin karena aku begitu merindukan dia. Dia tampak tidak terkejut sedikitpun ketika melihatku menangis. Dia hanya tersenyum dan menarik tubuhku hingga menempel dengan dadanya.

"Menangis akan membuatmu lelah, sayang. Jangan membuat dirimu terlalu lelah. Karena kamu tak akan sanggup menjalani hidup jika kakimu sendiri kelelahan dan tak mau berdiri. "

Aku semakin terisak. Dia menepuk punggungku seperti seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya.
"Imal, jika kamu ingin aku tetap disampingmu, aku akan lakukan itu. Sudah lebih dari cukup apa yang telah kamu lakukan selama ini, dan tidak ada alasan bagiju untuk tidak disampingmu. "
Aku berkata sejelas yang aku bisa. Aku ingin dia tidak melewatkan sedikitpun apa yang kukatakan.

"Ada. Apa kamu punya alasan untuk tidak disampingku? " imal menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Kakakku terus menunggu kamu sampai detik ini. Dia tidak akan pernah berhenti mencintaimu ais. Dialah alasan aku dan kamu bisa ada disini. Dia alasan mengapa kamu masih tetap tinggal disini. "

Imal melepaskan pelukannya lalu berlutut dihadapanku. Ia menatapku dalam sekali.
"Apa kamu tahu? Betapa sakitnya aku ketika aku sadar bahwa seharusnya bukan aku yang ada disamping kamu? Bukan aku yang bisa memberikan kebahagiaan yang utuh buat kamu ais, bukan! Bukan aku yang bisa menemani hidup kamu. Rasanya ingin mati ketika aku menyadari hal itu. Tapi tugasku sudah selelsai, sayang. Memberimu kenangan terbaik melalui wujud yang sama dengan janwar. Dari awal janwar memang tahu bahwa aku bukan untuk kamu. Tugasku hanya untuk menggantikan dia selama beberapa waktu. Karena malaikat yang sebenarnya tuhan kirim adalah kakakku. "
Imal terdiam sejenak. Setetes airmata mengalir dipipinya yang bersih. Ia meletakkan tangan kananku diwajahnya.

"Aku akan jadi sahabatmu aisyah. Aku akan selalu mencintai semua yang ada dalam diri kamu. Tidak ada yang berubah dengan hatiku. Dan meskipun aku tahu dihati kecilmu hanya ada Kak Agung. Bukan yang lain, bukan janwar ataupun aku. Tapi perasaanku padamu tidak akan berubah. Kemarin, hari ini, besok Dan seterusnya tidal akan Ada yang berubah. Aku akan uterus menjadi seseorang yang mencintai kamu, meskipun kamu sudah bahagia dengan kakakku. "

Aku memeluk tubuhnya yang masih berlutut dihadapanku.
"Tugas kamu bukan hanya menggantikan posisi janwar. Bukan. Karena kamu sudah menjadi seorang imal muzammil yang memberiku semangat dan keceriaan. Kamu orang yang spesial mal. Kamu orang yang berarti. Dan dihatiku masih ada cinta. Cinta yang sama seperti kamu, yang hari kemarin, hati ini, esok dan seterusnya tidak akan berubah. Aku simpan di ruang yang tidak tersentuh siapapun. "

Aku mengusap punggungnya. Lalu perlahan ia berdiri sambil tetap memegang tanganku.
"Aku mamau pulang. Aku mau pergi ke tempat yang aku bisa mencari napas baru. Mungkin kamu tidak akan bertemu denganku dalam waktu yang cukup lama. Tapi suatu hari kita bisa bertemu. Mungkin dipernikahan kamu dan kak agung. Itu janjiku. "

Imal terkekeh. Aku membalas tawanya. Dan diapun berlalu. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh.

"Hidup ini akan menjadi doa untukmu mal. " bisikku dalam hati.

Aku kembali menyusuri lorong rumah sakit. Kuhapus sisa airmata dipipiku. Mulai sekarang hanya ada senyuman untuk mereka yang menyayangiku.

Kupandangi pintu kamar kak agung. Mulai sekarang, aku akan memberitahunya bahwa aku akan mencintai dia selama sisa hidupnya. Aku menarik napas panjang lalu membuka pintu dengan tersenyum.
Kak Agung tersenyum manis padaku. Mungkin dia juga sudah menyiapkan diri dan hatinya.
"Bagaimana? " tanyanya waswas.
Aku menghampirinya. Lalu kupeluk tubuhnya  dengan erat.
"Mulai detik ini, sampai kapanpun aku akan selalu disamping kamu kak, karena aku mencintaimu. "
Dia memelukku lebih erat.
"Dan kamu juga harus tahu. Dulu, cintaku hanya sebuah cinta seorang anak kecil pada anak perempuan yang bermain dihadapannya. Hingga anak itu besar dan menyadari, ternyata laki-laki itu tidak pernah berhenti mencintai anak kecil itu. Bukan hanya cinta pada wajahnya, tapi juga hatinya, senyumnya, dan semuanya.
Semuanya membuatku terus jatuh cinta padamu ais...
Sampai detik ini, besok, lusa dan selamanya. "

NEXt

Grey SunFlower part50

*GSF* part50

Seminggu telah lewat. Tapi kak agung belum juga sadar.
"Dok, Kak agung kenapa? Sudah seminggu dia dalam keadaan tak sadar. Apa ada yang salah dengan operasinya? Atau dia punya penyakit lain?"
"Kami juga sedang berusaha. Tidak ada yang salah dengan ginjal dan operasinya. Semuanya dalam keadaan baik. Tapi entah kenapa dia belum sadar juga. Sepertinya ada sesuatu yang menghambat kerja otaknya, semacam stres atau ada yang sedang dia pikirkan. "

Aku menarik napasku panjang. Keadaannya semakin hari semakin buruk. Aku merasa tidak berguna. Aku kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhku di sofa. Lalu kupejamkan mata. Saat aku bingung dan sedih, aku tahu janwar pasti akan datang dan memberitahu apa yang harus kulakukan.

*****

Aku tidak bertemu janwar di ladang bunga matahari, tapi di pinggir sungai saat terakhir bertemu dengan imal. Aku sempat mengira sosok yang kutemui itu adalah imal.
Aku duduk disebelahnya sambil memeluk lututku. Aku menoleh dan memandang wajahnya dari samping. Bertanya sekali lagi apakah itu janwar atau imal. Aku baru sadar, aku belum menemukan perbedaam fisik diantara mereka, kecuali sifatnya.
Dia memandang lurus ke arah sungai.
"Aku janwar Ais.... "
Dia berkata lembut seakan bisa membaca pikiranku.
"Apa Kak agung belum bangun juga? " tanyanya.
Aku menggeleng.
"Dia memang belum mau bangun. Dia masih betah berada disini. "
"Dia disini? Dimana? " tanyaku kaget.
Janwar tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya memandang sebuah rumah kecil yang ada ditepi seberang sungai yang cukup jauh. Aku mengikuti arah pandangannya.
Disana kulihat kak agung sedang berdiri. Bisa kulihat wajahnya yang tampak muram dan putus asa.

Aku langsung berdiri baru saja aku mau melangkahkan kaki, janwar menarik tanganku dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar aku duduk kembali disebelahnya. Dengan heran aku duduk kembali diatas rumput yang dingin.
"Tapi aku ingin menghampirinya jan, aku ingin mengajaknya pulang bersamaku. "
Janwar tersenyum kecil tanpa melihatku.
"Dia akan pulang kalau dia ingin. Kalau dia belum sadar, berarti dia belum mau pulang. Kamu harus bersabar. " janwar lalu terdiam.
Aku terus memandang kearah kak agung. Sepertinya dia tidak sadar akan kehadiranku

"Apa yang membuatnya tidak ingin pulang? Apa dia tak ingin aku disampingnya? " aku bertanya dengan putus asa.
"Justru kamu yang memberi dia kekuatan untuk bernapas sampai sekarang. Dengan kamu disampingnya, dia jadi tahu bahwa masih ada orang yang membutuhkan dia. "
Janwar terdiam lagi.
"Tapi dia tidak mau hanya kamu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Dia ingin melihat adiknya, orang yang menyelamatkan hidupnya. "
Aku berpikir sejenak. Mencerna setiap kata-katanya.
"Dimana aku bisa menemukan imal, jan? "
Ia mengacak-acak lembut rambutku.
"Kamu akan menemukan dia dengan sangat mudah aisyah. Tapi kamu hatus berpikir dengan baik dan cepat. Aku takut kak agung mulai jatuh cinta dengan tempat ini dan tak mau lagi kembali bersmamu. "

****

Aku terbangun dari mimpiku.
Secepatnya aku mencari dokter fajrul  untuk menanyakan lagi keberadaan imal.
"Dok saya harus tahu keberadaan imal. Tolong dok. "
Dokter muda itu tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
"Tidak bisa ais. Itu sudah jadi permintaannya. "
"Tapi dok... " aku memohon.
Dokter fajrul tampak berpikir keras.
"Begini saja, kamu bilang sama saya apa yang ingin kamu katakan pada imal. Nanti saya sampaikan padanya. "
"Okee.. Saya mau dia datang kesini. Dia harus datang kesini karena kak agung tidak akan bangun kalau tidak ada imal di sampingnya. Saya yakin itu. Saya mohon.. "
"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa Dr. Agung tidak akan bangun kalau tidak ada imal? "
"Percaya sama saya dok. Hanya imal yang bisa membuat kak agung adar. "
"Oke.. Tenang. Saya akan beritahu dia. Saya akan yakinkan dia untuk datang. "

***

"Bagaimana keadaan Agung? " tanya omma menuangkan susu kedalam gelasku.
"Belum ada kemajuan oma. Masih seperti kemarin. Imal belum datang juga. Aku juga tidak tahu apakah imal akan datang atau tidak." aku menatap gelasku dengan sedih. Ini sudah dua minggu. Dan akak agung belum juga sadar.
Oma mengelus rambutku.
"Kamu harus yakin, imal pasti datang untuk kakaknya. "
Aku tersenyum lalu mengahabiskan susuku dengan cepat dan pergi ke kantor.

Sudah seminggu ini aku mencari imal. Aku datang ke rumahnya, tapi kosong. Aku juga mencari ke restoran tapi dia tidak ada. Menurut om ikbal imal tidak pernah datang lagi ke restoran. Aku juga mencarinya ke vila tempat kami berlibur dulu. Siapa tahu dia beristirahat disana. Tapi nihil. Begitu juga kantornya, tidak ada petunjuk sama sekali.

Aku mulai putus asa. Aku yakin dia tidak mau menemuiku lagi karena aku meninggalkannya.
Dari kantor aku langsung meluncur ke rumah sakit. Ini juga sudah menjadi rutinitasku sejak hampir dua minggu ini. Saat berjalan di koridor RS aku berharap semoga ketika aku membuka pintunya dia sudah terbangun, selalu itu harapanku.
Setelah ribuan doa ku kirim, ternyata tuhan mengabulkan doaku hari ini. Ketika aku membuka pintu ruangan kamarnya, kak agung sudah sadar, bahkan ia bisa duduk diranjangnya dan tersenyum padaku.
Aku sampai kaget. Beberapa kali aku mengerjap karena takut yang kulihat bukan halusinasi. Ternyata semua yang kulihat ini nyata.
Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Akhirnya kamu bangun kak.. Aku pikir kamu sudah mencintai tempat yang cantik itu dibanding aku. "
Kak agung tersenyummia menatapku kemudian memegang wajahku dengan kedua tangannya yang kurus.
"Terimakasih... Terimakasih sudah membuatku bangun. "
Ia mengecup keningku.
"Apa yang bisa membuatmu terbangun kak? Aku yakin betul bukan karena aku. Karena jika aku yang menjadi peyebabnya, seharusnya kamu sudah bangun sejak dua minggu yang lalu. "

Wajahku penuh harap. Berharap imal datang kesini. Kak agung tersenyum lalu melepaskan kedua tangannya dari bahuku.
"Seharusnya imal belum jauh dari sini. Kakak rasa kamu bisa mengejarnya. Dia tampak kurang sehat. "
Kak agung kembali bersandar di tempat tidurnya., berusaha rileks.
Perasaanku benar-benar lega. Aku memberikan sebuah senyuman pada kak agung sebelum akhirnya keluar untuk mencari adiknya.

NEXT

Grey SunFlower part49

*GSF* part49

Aku menunggu selama satu jam. Tapi tak ada tanda kak agung akan bangun. Jadi aku memutuskan untuk pulang kerumah dulu untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Dirumah aku menceritakan secara singkat kejadian hari ini pada oma dan opaku. Mereka berniat untuk menjenguk kak agung sore ini. Saat kembali ke rumah sakit, aku melewati restoran imal. Kata hatiku menyuruhku untuk berbalik dan pergi ke sana. Aku melakukannya. Mungkin disana ada yang tahu keberadaan imal dimana sekarang.
"Aisyah... " sahut om ikbal antusias.
Aku memeluknya dengan hangat.
"Halo om apakabar? "
"Seperti yang kamu lihat. Om masih berdiri disni. Kamu sendiri? "
Aku menarik napas panjang.
"Aku menyakitinya lagi om, iya kan? "
Om ikbal menatapku sedih.
"Rasanya pasti menyakitkan. Tapi dia melakukan ini semua untuk kamu. Untuk kebahagiaan kamu. Bagi imal, kebahagiaan kamu adalah segalanya. "
"Apakah dia baik-baik saja sekarang? "
Om ikbal mencoba menghiburku dengan senyumnya.
"Dia lebih kuat daripada yang kamu bayangkan. "
"Aku harus bagaimana om? "
Ia tersenyum lagi.
"Om sudah katakan hal ini sejak lama padamu ais. Dan oom rasa kamu sudah menyadari siapa yang kamu inginkan menjadi teman hidup kamu. "
"Tapi itu pasti akan menyakiti hati dari salah satu diantara mereka. "
Om ikbal lagi dan lagi tersenyum.
"Tuhan akan berikan yang terbaik ais. Selalu yang terbaik. Dan disetiap kejadian yang kamu alami, ada kehendak tuhan didalamnya. Tuhan punya maksud, tuhan punya rencana baik yang tidak kamu ketahui."
Kata-kata om ikbal sedikit menguatkanku.
"Jadi sekarang kamu kembali menjaga Agung, doakan dia. Om harap dia cepat membaik. Salam dari om untukknya ya. Doei (sampai jumpa) "

Tadinya kupikir kak agung sudah sadar setelah aku sampai. Tapi pikiranku salah. Yang kulihat kamarnya malah tampak ramai dengan dua suster dan dokter fajrul. Aku masuk untuk melihat apa yang terjadi. Aku ingin bertanya, tapi mereka tampak sibuk sekali. Setelah kedua suster keluar dari kamar. Aku bertanya pada dokter Fajrul.
"Kak agung kenapa dok? "
"Keadaannya memburuk. Waktu tadi operasi pun dia sempat drop, jantungnya terus melemah, dia sulit bernapas. Tapi kami sudah memasang alat bantu pernapasan untuknya. "
Dokter fahrul melanjutkan.
"Lebih baik kamu selalu disampingnya. Yang dia butuhkan sekarang adalah orang yang bisa menemaninya dan terus mengajaknya bicara. Saya takut keadaannya tidak sebaik yang kita harapkan. "
Kata-kata dokter fajrul meruntuhkan tembok harapanku.
"Sekarang keadaan dia bukan lagi bergantung pada obat dan peralatan medis, tapi doa-doa yang kamu ucapkan pada tuhan. Dan saya rasa Dr. Agung juga mengharaokan kamu untuk selalu disampingnya. "

Aku duduk disamping kak agung. Ku genggam tangannya lalu kurebahkan kepalaku di lengannya.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bangun, sayang? "
Aku menunggu reaksinya.
Tapi matanya tetap terpejam. Detak jantungnya juga masih lemah. Aku memandangi wajahnya...
"Mmmm bagaimana kalau kita flashback? Pasti seru. Kita mulai darimana ya..? "
Aku berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau dari pas pertama kali kita bertemu dulu? "
Aku tertawa kecil mengingat hal itu.
"Aku masih ingat sekali, pertama kali aku melihat kamu, aku langsung tertarik. Soalnya kamu ganteng sih. "
Aku tersenyum.
"Aku masih ingat betul, alasan kenapa aku bisa jatuh waktu itu. Memalukan sekali. Kamu dulu menyebalkan, super PD, dan selalu ngeselin. "
Aku kembali tertawa kecil.

Aku menyentuh pipinya dengan lembut.
"aku harus kamu bisa mendengar aku kak, aku disini. Menemani kamu, menunggu kamu bangun. "
Aku terus mengusap pipinya tetap saja tidak ada respon.
Aku mengoceh sendiri, hanya itu yang bisa kulakukan untuknya.

NEXT

Jumat, 29 Desember 2017

Grey SunFlower part48

*GSF* part48

Esoknya aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah imal lagi. Entah kenapa aku sangat merindukannya.
Sesampainya dirumah imal, aku mencarinya. Tapi dia tidak ada dimana mana. Aku masuk kedalam rumahnya dengan kunci yang kupunya. Aku mencari ke dapur, ruang makan, bahkan dibalik tempat tidur karena aku takut dia pingsan seperti dulu. Tapi dia tak ada dimanapun.
Aku pergi ke garasi, mobil imal tidak ada disana.
Aneh sekali. Dia tidak pernah pergi tanpa memberitahuku. Aku mengambil ponselku kucoba untuk menghubunginya tapi tak ada jawaban.

Karena merasa sangat haus, aku masuk kembali kedalam dapur untuk mengambil minum. Saat kuhendak membuka kulkas, aku melihat sebuah kertas menempel dipintunya. Ada tulisan tangan dari imal dikertas itu. Pada saat aku hendak membacanya, tiba-tiba ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya dan saat kudengar yang menelpon bicara cepat-cepat ku lajukan mobilku dengan kecepatan maksimum yang bisa kucapai.

Selama perjalanan aku tidak bisa tenang. Jantungku berdegup kencang. Berkali-kali aku menggigit bibirku sendiri.
Baru setelah sampai dirumah sakit St Cristopher aku sedikit bernapas lega. Cepat-cepat ku kunci mobil dan berlari menuju ruang operasi lantai tiga. Saat tiba, kulihat dokter fajrul sedang ngobrol serius dengan seorang suster. Dia mengenakan pakaian operasinya.
Aku langsung menghampirinya, napasku tersengal-sengal.
"Bagaimana dok? Bagaimana kondisi Agung? Apa operasinya berjalan lancar? " tanyaku panik.
Dokter fajrul memegang bahu kananku.
"Atur dulu napas kamu aisyah. "
Aku mengangguk setelah napasku teratur. Aku kembali menanyakan hal yang sama.
"Bagaimana? "
Dokter fajrul tersenyum.
"Semuanya berjalan sesuai doa kita, ais. "
Aku menghembuskan napas lega. Kusalami dokter fajrul dan mengucapkan banyak terimakasih padanya. Hari ini akhirnya aku bisa tertawa, terimakasih ya allah.

"Bukan hanya kamu yang senang dia bisa diselamatkan, tapi kami teman-temannya disini juga merasakan hal yang sama. "
Aku tersenyum, lalu kulihat kak agung dibawa keluar dari ruang operasi. Aku bertanya pada dokter fajrul apakah aku bisa menemaninya. Dia sama sekali tidak keberatan. Aku mengikuti suster yang membawa kak agung ke ruang rawat. Aku memperhatikan betul ketika suster membetulkan alat medis nya. Ketika mereka selesai, aku melangkah perlahan kearah kak agung, aku duduk disebelahnya dari meraih tangannya. Tangannya masih sangat dingin. Aku menyentuh keningnya yang pucat.

Saat itu aku teringat sesuatu. Perlahan aku meninggalkan kamarnya dan duduk dibangku luar. Kukeluarkan kertas yang tadi belum sempat ku buka dirumah imal.

"Aisyah...
Aku lakukan semua ini untuk kamu. Sudah ku bilang, kan? Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia. Karena bagiku senyummu itu adalah napas senja disore hari, dan aku tidak ingin senja itu terlelap.
Jaga kakakku ya, aku harap dia cepat bangun dan bisa menemani kamu. Jangan cari aku sekarang ini, aku mau melakukan sesuatu, aku mau beristirahat sejenak, salam untuk Agung.

I love you, Tot Ziens (selamat tinggal)
Imal Muzammil Senja

Saat itu juga aku pergi ke ruang kerja dokter fajrul. Dia tampak heran melihat wajahku yang syok.
"Ada apa lagi ais? Bukankah semuanya baik-baik saja? "
"Boleh saya tahu siapa yang sudah mendonorkan ginjal kepada agung, dok? Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak padanya. "
"Saya rasa kamu sudah tahu siapa orangnya. Maaf saya tidak memberitahu kamu bahwa imal sudah menjalani pemeriksaan kecocokan ginjal dengan Dokter agung. Ini permintaan imal sendiri. Dan ternyata hasilnya positif. Pagi tadi dia benar-benar datang dan siap memberikan ginjalnya untuk Dokter Agung. "
"Apa dokter bisa memberitahu saya dimana dia sekarang? "
Dokter fajrul melepas kacamatanya dan berbalik ke arah jendela besar.
"Itu permintaan terakhir dia ais, imal minta waktu untuk sendiri. "
"Saya mohon dok... "
Dokter fajrul berbalik mengahadapku.
"Saya tidak berhak berkata apapun padamu. Itu permintaan imal sebelum di operasi. Tapi saya yakin ais, dia tidak akan menjauh dalam waktu yang lama. Dia akan kembali dan menjadi sahabat baik kamu. Sekarang kamu tenang, dia baik-baik saja. Dia sedang dalam perawatan intensif tapi bukan di rumah sakit ini. "
Aku melihat ketulusan wajah dokter fajrul. Jawabannya membuatku yakin bahwa jalan yang harus kutempuh sekarang adalah menunggu.Dan aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan imal. Aku sadar betul orang yang sangat diinginkan imal berada disampingku adalah kakaknya sendiri.
"Oh iya ais, kamu sudah terima suratnya kan? "
Aku mengangguk.
"Mmmmm. Apakah kamu masih memegang kunci rumah imal? "
"Iya masih "
"Imal berpesan agar Dokter agung dibawa kesana. Dia bilang itu juga rumah Dr. Agung. Jadi Dr. Agung berhak tinggal disana. "
Aku mengangguk sekali lagi dan keluar dari ruangan itu. Setengah berlari aku menuju ruangan kak agung. Berharap ketika aku sampai, dia sudah membuka mata dan dapat berbicara denganku. Tapi ternyata dia masih menutup matanya.
Aku berjalan ke jendela besar ruangan itu. Taman telah membeku karena salju. Aku bertanya-tanya. Bagaimana keadaan imal sekarang? Apa dia sudah sadar? Apakah dia kesakitan? Siapa yang menjaga dia? Sekarang dia dirawat dirumah sakit mana?  Kepalaku penuh dengan pertanyaan. Aku berbalik memandang kak agung lalu duduk dipinggir tempat tidurnya. Saat kugenggam tangannya yang lemah, kulihat ada airmata yang menetes dari matanya, aku menghapusnya dengan tanganku.
"Kakak,,, kenapa kamu menangis? Ada yang sakit? "
Tanyaku lembut, tidak ada respon. Namun air matanya mengalir lagi.
"Apa yang harus kulakukan untukmu kak? Kenapa kamu menangis? "
Aku menghela napas. Kenapa aku baru sadar bahwa aku sangat mencintai pria ini? Pria yang tidak pernah rela melihatku bersedih. '

'Kak kumohon bangun.. '
Ucapku lirih.

NEXT

Grey SunFlower part47

*GSF* part47

Aku menggenggam tangannya selama perjalanan kerumah sakit. Kulihat wajahnya yang kurus, aku teringat, dulu dia yang selalu melindungiku, dia yang selalu menggendongku. Tapi sekarang dia terbaring lemah. Ya tuhaaan..Aku tak ingin kehilangannya, membayangkannya saja aku tidak sanggup.

"Maaf anda tidak bisa masuk, sebaiknya anda menunggu diluar, kami akan menanganinya. " suster menahanku untuk masuk.
Aku hanya bisa terus menangis dan berdoa hingga akhirnya kak agung dibawa keluar. Aku langsung menghampiri dan mengikutinya ke kamar rawat. Napasnya terdengar berat dan terputus-putus.

Kak agung membuka matanya. Saat itu aku menemaninya sudah hampir 5 jam. Dia mentatapku lalu tersenyum. Matanya sayu dan tampak lelah. Tapi aku masih bisa melihat garis ketampanan di wajahnya.
Ia menarik tanganku lalu aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke arahnya. Kutahu ia sangat lemah hingga bicarapun seperti kesulitan. Perlahan dia mengangkat wajahnya.  Aku bisa mencium aroma obat yang begitu menyengat.
"Kamu sebaiknya pulang. .. "
Dia mengelus rambutku dengan lembut.
"Mana mungkin aku bisa pulang dengan keadaan seperti ini kak.. "
"Yasudah, begini saja. Kamu tidur dan istirahat. Akupun akan coba untuk beristirahat. Bagaimana? Adil kan? " tanyanya lembut.
"Aku akan pulang setelah aku tahu kamu bisa tidur. "
Dia mengangguk pelan. Lalu aku memeluknya berharap akan membuatnya sedikit lebih tenang. Lalu tanpa ku ketahui dia sudah menekan tombok untuk memanggil suster.

"Ada apa? " seorang suster muncul ke kamar kak agung.
"Saya minta obat penenang sus, saya tidak bisa tidur. Saya tidak tahan dengan sakitnya. " Jelas kak agung.
"Apa yang sakit? " tanyaku khawatir.
"Tidak ada. Aku hanya ingin kamu cepat pulang dan istirahat. "

Aku menatapnya sedih. Dia masih kak agung yang dulu, kak agung yang terlalu baik, perhatian dan selalu melindungiku. Selama ini, pria yang ada dihadapanku telah aku sia-siakan. Aku sakiti hatinya, setelah semua kebaikan yang telah ia berikan padaku.
Beberapa menit kemudian, suster itu kembali dengan membawa alat suntik. Dengan cekatan ia menyuntikan obat penenang ke tangan kak agung. Perlahan tapi pasti ia mulai mengantuk. Aku mengusap rambutnya dan akhirnya dia tertidur.
Aku berjalan lunglai di lorong rumah sakit menuju ruangan dokter fajrul. Aku mengetuk ruangan tiga kali sebelum akhirnya aku dipersilakan masuk.
Dia tampak sudah siap mengatakan kondisi kak agung saat ini.
"Mungkin hanya  tinggal menunggu hari. Saya minta maaf, saya tidak bisa melakukan tindakan apapun. Hanya donor ginjal yang bisa menyelamatkannya beserta doa-doa dari orang sekitarnya. "
Aku menatap kosong. Hatiku seperti membeku setelah mendengar apa yang dikatakan dokter fajrul. Aku keluar dari ruangannya setelah mengucapkan terimakasih.

Sambil berjalan gontai aku menyusuri lorong rumah sakit yang dipenuhi banyak orang. Tatapanku kosong ke depan, kepalaku mulai berdenyut dan sakit luarbiasa.
Pandanganku mulai kabur. Bisa kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku. Keseimbangan tubuhku terganggu dan akhirnya aku terjatuh. Tapi bisa kudengar suara laki-laki yang ku kenal, ia menopang tubuhku dari belakang, suaranya terdengar sangat khawatir. Dan yang ku tahu setelah itu ia menggendongku entah kemana.

*******

Aku tak tahu sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat kubuka mataku, kepalaku semakin nyeri. Aku mencoba mengenali ruangan disekelikingku. Dan aku sangat familier dengan ruangan ini. Tempat yang sering kuhabiskan waktukku untuk sekedar tertawa dengan imal.
Aku melihat imal duduk di sampingku. Matanya terlihat sayup sedih dan khawatir. Aku belum pernah melihatnya sesedih ini.

"Aku merindukanmu ais.... "
Ia mengelus kepalaku.
Aku mencoba duduk tegap. Aku benamkan kepalaku dipundaknya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghirup aroma parfumnya yang masih jelas di ingatanku.

"Maafkan aku mal, maafkan aku... Aku tidak bisa melakukan apapun untuk hubungan kita, semuanya semakin lama semakin buruk. "
"Aku tidak pernah marah padamu ais. Sedikitpun tidak. "
"Apa kamu tahu bahwa aku juga merindukan kamu? Tapi yang paling membuatku sedih sekarang ini, aku tidak bisa melakukan apapun untuk kakakmu mal. "
Air mataku mengalir deras.
"Kalau saja aku punya ginjal yang cocok dengannya, aku tidak hanya akan memberikannya satu, tapi aku akan berikan keduanya. Bahkan aku rela nyawaku ditukar untuk kesembuhannya. " ujarku sambil terisak.

Tiba-tiba imal ikut menangis. Ia membenamkan wajahnya dibahuku.
Aku menarik tubuhku agar bisa melihat wajahnya. Kucoba seka air matanya..
"Maafkan aku mal, kumohon jangan menangis. Itu membuatku semakin sedih, aku berharap aku bisa pergi dari kehidupan kalian. "

"Apa yang kamu bicarakan?  Jika aku tidak bertemu kamu, itu akan menjadi penyesalan dalam hidupku. Aku menyayangimu ais. Apapun yang kamu lakukan aku mendukungmu, karena aku tak bisa menemukan kesalahan dalam diri kamu. Kecuali, kenapa kamu bisa mempunyai hati yang mampu membuatku sangat mencintai kamu. Kamu jangan menangis lagi, percayalah bahwa kak agung akan baik-baik saja. Dia tidak akan meninggalkan aku dan kamu. "

Lalu dia menarik tanganku dan membawaku ke teras depan rumahnya, sementara dia pergi ke garasi. Aku kira imal ingin mengambil mobilnya tapi ternyata tidak. Dia keluar sambil membawa sepeda. Ia memberikan isyarat padaku untuk naik.
Perlahan aku naik didepannya. Lalu ia mengayuh sepeda itu.  Aku bisa menghirup udara amsterdam yang dingin sejuk. Udara yang berhasil mengusir sakit dikepalaku. Saat ini yang ada hanya warna abu-abu mendung dilangit. Juga tanah yang disiram air hujan. Aku sangat suka aroma ini, aku bisa merasakan hangatnya napas imal yang menenangkan wajahku. Aku menyandar kepalaku. Dia mengayuh semakin cepat.

"Apakah kamu tahu, bahwa aku sangat mencintaimu?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk pelan.
"Kita sebenarnya mau kemana, mal? "
"Kita akan jalan-jalan. Kamu suka jalan-jalan kan? Apalagi sekarang lagi mendung. Buang dulu kesedihanmu. Aku ingin membuatmu senang hari ini. Siapa tahu besok aku tidak ada disampingmu lagi. "
Aku tertegun mendengar perkataannya. Kutatap matanya yang terlihat sayup. Wajahnya menegang, imal tetap menatap lurus kedepan. Aku berpegangan erat sembari menikmati angin yang menerpa wajahku.
"Kenapa harus ngebut?  Kita tidak sedang dikejar waktu kan? "
"Jalanan sepi ais.. "
"Aku tahu tapi tetap saja berbahaya. "
"Apa kamu takut kehilangan aku? "
Aku langsung mendongak melihat wajahnya, dia sama sekali tidak melihatku.
"Maksudmu? Tentu saja aku takut sayang.. "
"Kalau kamu harus memilih antara aku dan kakakku, siapa yang akan kamu pilih? "
Aku terdiam cukup lama. Aku mengakui aku mencintai keduanya. Dan aku tidak tahu harus menjawab apa.

"Apa diammu berarti kamu memilih kakakku dibanding aku? " ia menambah kecepatan sepedanya.
"Jika harus kujawab... Aku lebih memilih untuk tidak masuk dalam kehidupan kalian. Agar aku tidak dihadapkan dalam keadaan seperti ini. Bagaimanapun aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian. Aku mau kamu, janwar dan kak agung disini, disampingku. "
Imal tersenyum sinis. Matanya tetap mengarah ke depan.
"Kamu egois aisyah.. Kamu harus memilih. "
"Kalau begitu, biar tuhan yang memilihkannya untukku. Aku rasa itu yang paling adil. Aku tidak punya hak sama sekali untuk memilih. "
Akhirnya dia menghentikan sepedanya. Kami menepi dipinggir sungai yang cantik. Ia menggenggam tanganku erat dan kami menuju sungai.
Kami duduk disana, diatas rumput hijau yang sedikit basah.
Ia menyandarkan kepalanha dibahuku,.
"Aisyah... Aku ingin kamu menjawab satu pertanyaanku. "
"Apa? " aku masih memandang sungai yang ada didepanku.
"Apa kamu pernah mencintai aku? "
Aku menjawab dengan cepat dan yakin.
"Aku mencintai kamu kemarin, hari ini dan esok."
"Apa cinta itu tulus? Atau hanya kamu merasa kasihan padaku karena aku sudah sangat menyayangimu? "
"Imal dengar. Aku tulus mencintaimu tanpa alasan apapun. "
"Lalu apa kamu pernah mencintaiku sebagai seorang Imal Muzammil?"
"Aku sadar betul, saat ini aku sedang mencintai seorang imal, bukan janwar. " jawabku mantap.

Entah mengapa airmataku mengalir. Imal mengangkat kepalanya dan memelukku erat. Membuatku merasa tenang dan merasa bahwa semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.

"Kata dokter, kita hanya tinggal menghitung hari..... " aku terisak saat mengatakannya.
Imal mengencangkan pelukannya.
"Kamu jangan menangis, yakinlah besok tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk kakakku. Ingat itu sayang. "

Salju pertama musim dingin turun. Namun sedikitpun kami tidak beranjak dari tempat itu. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. Tangannya memegang kedua pipiku, tangan itu terasa dingin.

"Kamu tahu betul bahwa aku sangat mencintai kamu. Jadi apapun yang kulakukan besok dan pada hari-hari nanti, itu demi membuatmu bahagia. Dan aku ingin kamu tidak membalas apapun yang telah kulakukan untuk kamu. "
Aku menatapnya heran. Aku bisa melihat matanya merah karena menahan tangis. Dia berusaha keras untuk membuat suaranya terdengar biasa.

Salju turun semakin banyak. Tapi ia belum juga melepaskan pelukannya meskipun kami mulai membeku.
"Imal, kita akan beku jika disini terus. Pulang yuk. "
"I love you.... " ucapnya ditelingaku.

Aku menarik napas panjang. Aku merasa tidak pantas dicintai oleh siapapun dari mereka bertiga. Aku tidak pernah bisa membuat mereka bahagia. Imal berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Kami bersepeda pulang dengan basah kuyup. Kepalaku sedikit sakit karena tidurku tidak pernah nyenyak..

NEXT

Grey SunFlower part46

*GSF* part46

Satu masa berlalu dalam diam.
Menghentak rasa yang sebenarnya tengah berjuang.
Menunggumu dalam keheningan.
Harummu masih dalam kenangan.
Semerbak rindu menyatakan kesyahduan.
Lantas haruskah ku lanjutkan rasaku?
Ketika luka lama juga tengah tengiang dalam jiwaku?
Pun begitu, ku anggap kau mawar bagiku.
Keharuman mu, menyandraku untuk tetap mengenangmu.
Cintaku seperti garis di tanganmu jan,
Abadi membekas dalam hatimu,
Kutuliskan surat berlantunkan do'a
Kuawali namaku, namamu
Dan sebuah mimpi yang kurangkai dengan sempurna...

****

Kali ini aku melihat janwar dipinggir sungai, aku menghampirinya, wajahnya tampak sedih. Aku lihat ada airmata dipipinya.
Aku duduk disebelahnya dan menyandarkan kepalaku dibahunya. Sesaat kami menangis bersama.

"Apa yang membuat kamu menangis? " aku bertanya padanya sembari melihat matahari yang hampir terbenam.
"Aku menangis karena kesedihan kamu. "
"Aku harus bagaimana, jan? Ayahku pergi meninggalkanku, lalu kamu. Sekarang kak agung juga tampaknya akan melakukan hal yang sama, lalu perasaan imal yang sudah kusakiti, seperti aku yang sudah menyakiti hati kak agung, yang ternyata sudah terlebih dahulu menyayangiku selama ini. Apa yang harus kulakukan sekarang, jan? "

Janwar merangkul bahuku dan mengelus rambutku.
"Kamu tidak boleh cengeng, jangan jadi cewek lemah. "

Aku menghela napas.
"Dari dulu kamu memintaku untuk selalu kuat dan semuanya kuturuti." volume suaraku meninggi.
"Semuanya aku ikuti tanpa terkecuali jan, tapi apa?  Semua itu hanya membawaku kearah yang lebih menyakitkan. Dua kali lebih menyakitkan daripada kehilangan kamu dulu. Jadi tolong beritahu aku apa maksud semua ini? "

Ia hanya tersenyum. Senyum yang sulit kuartikan. Dari dulu ia selalu seperti ini, memberiku senyuman penuh misteri. Memberiku kebingungan dengan kebingungan lagi. Lalu ia memelukku dan saat itu juga, semua beban yang ada dalam hidupku hilang seketika. Yang tersisa sekarang hanya perasaan tenang dan damai.

"Apa boleh aku ikut denganmu, jan? "
Janwar tertawa kecil.
"Tentu saja tidak. Karena disini bukan tempatmu. Ada maksud dibalik ini semua, suatu hari kamu akan tahu, semuanya tidak sesulit yang kamu kira. Suatu hari kamu akan menemukan kebahagiaan itu ais. Dan suatu hari nanti kamu akan bersandar dipunggung imam yang akan membawamu ke surga. Kamu akan mendapat semua jawaban atas kebibgunganmu selama ini. Jawaban itu akan membuatmu selalu tersenyum sampai rambutmu memutih dimakan waktu. "

Aku tersenyum mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulutnya. Membuatku tertidur dibahunya dan aku kembali kedunia nyata.

****

Sinar matahari menyapu semua sudut dikamarku. Aku pergi kedapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa batu es di freezer. Aku kompres mataku karena menangis semalaman. Setelah mimpi itu, aku tahu aku seperti dibangkitkan kembali.
Sekarang aku duduk disini tidak bisa melakukan apa-apa. Sementara orang yang kusayangi sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Kemarahan dan kekecewaan tidak bisa membuatku untuk tidak mempedulikan kak agung. Bagaimanapun, ini bukan murni kesalahannya. Ini juga salahku yang terlalu lemah dan bodoh. Kak agung sudah mengorbankan perasaannya hanya untuk melihatku bahagia.

Aku membawa mobilku ke rumah sakit. Ternyata kak agung sudah tidak ada. Kata suster jaga, kak agung pergi sejak tadi subuh.
"Sebetulnya dokter agung belum boleh pulang, dan saya tahu kondisinya masih sangat lemah. Semalam dia mengeluh karena tidak bisa tidur. Tadi saya sudah menahannya tadi dia tetal bersikeras pergi. Dia bilang, dia mau menemui kamu. "
Jelas dokter fajrul.
"Menemui saya? Tapi dia tidak kerumah saya pagi ini dok. Kira-kira kemana dia sekarang? Apa dokter tahu kemana biasanya dia pergi? "
Ketika aku hendak beranjak dari ruangan dokter fajrul, dokter muda itu berujar.
"Saya pernah melihatnya berjalan sendirian dipinggir ladang bunga matahari. "

Yaampuuun, kenapa aku tidak berpikir kesana? Bodoh!! Tapi memasuki musim dingin seperti ini sedikit sekali bunga yang tumbuh. Apa yang mau dia lihat diladang itu?

Setelah aku mencari kesana, ternyata kak agung tidak ada. Aku duduk didalam mobilku, aku berpikir keras, mencoba menebak dimana kira-kira kak agung sekarang. Tapi pikiranku sudah buntu, aku tidak tahu dimana dia sekarang. Aku tidak tahu lagi apa kesukaannya selain bunga matahari.
Aku menjalankan mobilku. Aku tidak tahu, tapi yang sekarang terbersit dihatiku, aku ingin pergi ke mesjid kecil yang cukup jauh dari ladang dan satu-satunya ada di Amsterdam. memang benar, tuhan membawaku ke tempat yang benar. Ia selalu punya cara untuk mempertemukan dua insan dengan indah. Setelah berwudu akupun masuk dan Ketika aku masuk ke dalamnya, kumelihat seorang pria yang sedang duduk pasrah diatas sejadah. Kulihat dia sedang berdoa.
Sebisa mungkin aku tidak bersuara. Aku duduk dibelakangnya.

"Aku rela pergi ke tempat-Mu ya rabb, aku rela jika engkau mengambilku. Tapi hamba mohon, berikanlah kebahagiaan untuk aisyah. Hamba sangat menyayangi dia. "
Suaranya bergetar hebat, dapat kurasakan airmatanya mengalir.
"Ya allah, hamba hanya ingin semua orang yang hamba sayangi selalu bahagia. "
Kak agung bersujud dan pasrah. Ia menangis dengan bersujud diatas sejadah.

Aku berdiri dan melangkah ke arahnya. Dia tampak tidak menyadari kehadiranku. Aku duduk disampingnya.
Lalu ia tersenyum.
Setelah kami berdoa.
Ia pergi keluar tanpa berbicara sepatah katapun padaku.
Dia pergi mengendari mobilnya. Kuikuti dia hingga akhirnya ia berhenti diladang itu.
Ia turun dan duduk ditengah-tengah ladang sambil menatap jauh.
"Kaaaaak... "
Aku memanggilnya pelan.
Ia menatapku.
"Aku mencintaimu aisyah... "
Dia mengatakannya dengan lemah, bisa kudengar napasnya yang berat.
Tapi perlahan kepalanya terkulai kebelakang dan jatuh dipundak kananku.
Aku melihat banyak darah keluar dari hidungnya.

"Kaaaaakk... Kaaaaak... "
Aku meamnggil namanya berulang kali, tapi tak ada jawaban. Aku mulai panik dan menepuk pipinya. Tapi tetap tak ada reaksi. Aku mulai menangis karena takut, aku mencoba mendengarkan napasnya. Masih ada tapi sangat lemah.

Wajahnya pucat sekali, tubuhnya dingin. Aku membaringkannya dipangkuanku.  Aku berteriak minta tolong dan dengan segera beberapa pekerja bangunan menghampiri untuk menolong janwar dan aku memanggil ambulans...

NEXT

Rabu, 27 Desember 2017

Grey SunFlower part45

*GSF* part45

Aku hanya bisa menangis mendengar semua penjelasnnya.

"Jangan menangis ais, semua yang kulakukan selama ini bukan untuk melihatmu menangis dihadapanku. Kebohongan demi kebohongan, rasa sakit yang aku tahan, itu semua untuk melihat kamu tersenyum dan bahagia. Aku hanya ingin kamu tahu, mungkin janwar adalah cinta pertama kamu dan kamu tidak bisa berhenti untuk mencintai dia. Tapi kamu juga bunga matahariku yang pertama dan terakhir. Sampai aku mati. "
Aku kembali menatapnya.
"Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa janwar, imal dan tante tiwi tidak ada yang memberitahu hal ini padaku. "
"Janwar tidak tahu kalau aku ini kakaknya. Ibu kandungku juga tidak. Aku sengaja meminta ibuku yang di malang tidak menagabarinya. Aku tidak ingin ibu kandungku menemuiku atau apapun itu. Rasa sakit dihatiku belum bisa kuhilangkan ais. Bagaimanapun dia sudah membuangku. Sedangkan imal, ini bukan salahnya, ini memang permintaanku. "
"Tapi kenapa kak?"
"Sudah kubilang, aku akan melakukan apapun demi melihatmu tersenyum dan kamu bahagia disaat disamping imal. "
"Kamu jahat kak, kamu orang paling jahat yang pernah kutemui didunia ini. "
Ucapku sambil terisak. Aku tidak bisa menormalkan suaraku karena airmataku tidak berhenti mengalir. Rasa marah,  dan sedih bercampur.
"Maaf ya ais. Maaf...  " suarnya terdengar sangat rapuh.
"Maaf tidak akan menyelesaikan semua ini. Kenapa kamu meninggalkanku? Setelah semua yang kamu lakukan selama ini untukku? Dan kamu harus tahu semua itu berhasil membuatku jatuh cinta padamu kak... "
Aku menunduk dan terus menghapus airmataku yang terus menerus mengalir. Aku melanjutkan kata-kataku dengan suara bergetar.

"Aku coba menghubungi kamu. Aku coba setiap hari. Aku tidak pernah berhenti mencari. Walaupun aku sudah bertemu imal, aku terus mencari kamu. Saat kamu jauh,  aku sadar kak,  aku sadar bahwa memang kakak yang aku harapkan. Setiap hari kepalaku selalu dipenuhi tentang kamu. Dengan ingatan saat kita bersama. Tawaku tidak pernah sama ketika kamu ada disampingku. Tapi sekarang aku jadi bertanya, sebenarnya aku yang meninggalkan kamu atau kamu yang meninggalkan aku?  Siapa yang menyerah duluan? " aku menarik napas panjang.
"Kenapa semua orang yang kusayang meninggalkan aku? Kenapaaa? " teriakku.
"Ayaah kandungku,,, janwar dan sekarang kamu. Jadi sebenarnya tidak ada yang sayang padaku, kan? Semuanya meninggalkan.
Kaakk..  Kamu harus tahu, aku mencintaimu.. "
Hatiku meledak saat itu juga.
"Aisyaaah. " ia memanggil namaku dengan lembut.
Berusaha menenangkanku.
"Kalau memang kamu ingin aku bahagia dengan imal, kenapa kamu menyusulku ke Amsterdam? "
Aku melepaskan gelang yang pernah ia berikan padaku.
"Lebih baik aku pergi, karena nampaknya aku membawa sial semua orang yang aku sayangi. "
Aku menaruh gelang dan cincin pada tangannya.
"Kamu tidak menepati janjimu, dulu kamu bilang bahwa kamu yang akan pasang cincinnya. "
"Aiss.... " kak agung memanggilku.
"Ini tanda aku jatuh cinta sama kamu kak. Hari ini pertama kalinya aku melepas semua yang kamu berikan padaku. "
Lalu aku berjalan menuju pintu.
"Aku mau tanya satu hal lagi sama kamu, kalau dari awal kamu sudah merelakanku dengan imal, tapi kenapa kamu masih membeli cincin itu? "
"Karena aku berharap cincin ini bisa membuatku sedikit untuk bertahan hidup. " jawabnya lirih.

Aku keluar dari ruangan kak agung dengan isak tangis. Dan yang tak kurang  menyakitkan, kulihat imal sudah berdiri bersandar di samping itu. Dia tampaknya telah mendengar semua pembicaraanku. Kutatap wajahnya yang menunduk sedari tadi. Kalau dia mendengarkan pembicaraanku tadi berarti lagi dan lagi aku sudah menyakiti hati orang lain.

BETAPA BODOHNYA AKU!!!

Imal mengulurkan tangan dan membuka telapak tangannya. Aku tahu apa yang dimaksud imal, lalu  aku melepaskan cincin yang ia berikan dan meletakkannya ditelapak tangannya. Ia langsung memasukkan ke dalam saku celana.
Saat imal beranjak masuk ke dalam ruangan kak agung, aku menahan lengannya. Dia menatapku. lalu aku  mengangkat tanganku dan menjatuhkan keras-keras ke pipi nya.
'Plaaaaaaaak' suara tamparan itu terdengar sangat jelas.
Ia hanya terdiam menerima tamparan dariku, lalu mengelus pipinya yang tampak merah.

"Cukup sampai disini kamu mencintaku, daripada nanti nasibmu sama seperti kakakmu yang ada didalam itu. Terimakasih untuk semuanya dan maaf. "
Berlari sambil menangis, semuanya hancur hari itu.

Aku sempat melihat mata imal yang merah. Apa mungkin tadi dia menangis? Aku tahu, tidak ada atupun diantara kami yang menginginkan akhir seperti ini.
Yang hanya bisa kulakukan saat sampai dirumah hanya menangis dipelukan oma. Mungkin pada akhirnya aku tidak pantas mendapatkan siapapun sebagai teman hidupku. Mungkin aku kehilangan mereka, semuanya akan pergi.

Kupejamkan mataku, aku harap dengan memejamkan mata bisa membantuku meringankan bebanku kali ini. Aku menarik napas panjang. Berharap bisa tertidur cepat. Berharap bisa bertemu janwar dalam mimpiku. Aku ingin memeluknya dan menceritakan semuanya....

NEXt

Grey SunFlower part44

*GSF* part44

"Kamu adik sepupunya kan?"
Aku terkesiap.
"Iya dok. Kenapa dok? "
"Apa kamu kenal dengan gadis yang bernama ais? "
Aku terenyak.
"Ais? "
"Iyaa Aisyah Aliskandar. Saya sampai hafal namanya. Hampir setiap hari dokter Agung membicarakannya.. Saya rasa selain karena semangat  hidup dokter agung yang kuat, gadis itu juga salah satu alasan ia bertahan sampai sekarang. Dari cara dokter agung membicarakan gadis itu, saya tahu dokter agung sangat menyayangi gadis itu. Saya harap kalau kamu tahu gadis itu berada, kamu bisa mengabarkan keadaannya pada gadis itu. Mungkin kalau dia hadir disini. Dokter agung bisa bertahan lebih lama."
Aku terdiam sejenak. Kaget dengan apa yang baru saja kudengar.
"Dia sering membicarakannya, Dok? " aku terduduk dilantai sambil menangis.
Dokter fajrul terkejut dan langsung jongkok dihadapanku.
"Kamu tidak apa-apa? "
"Saya Ais Dok, saya Aisyah aliskandar yang dokter maksud. "
Ucapku lirih. Kenapa aku baru sadar? Aku memang bodoh. Kenapa aku baru menyadari sekarang bahwa aku memang sangat tidak ingin kehilangan dia. Aku benar-benar takut, aku sangat menyayanginya. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakannya.

"Dok, ambil ginjal saya saja dok, ambil ginjal saya! "
Aku memohon.
"Tidak bisa Aisyah,  tidak bisa semudah ini. Dalam hal ini. Yang bisa mendonorkan ginjal kepada Dokter Agung yaitu orangtua atau saudara kandungnya. Sekarang begini saja, kalau memang kamu ingin melakukan sesuatu untuk dia, sekarang kamu berdiri. "
Dokter fajrul mrmbantuku berdiri.
"Kamu duduk disamping dia, ajak dia bicara, kamu temani dia. Kamu berdoa. Saya yakin itu akan menjadi kekuatan untuk dia. "
Aku mengangguk dan kembali ke ruang ICU. Aku memandangi kak agung yang terbaring lemah.
"Kamu kenapa kak? Kenapa bisa seperti ini?  Kenapa kamu tidak cerita kalau kamu punya penyakit seserius ini, kumohon kaaak.. Bangun! "
Ucapku dengan suara bergetar.

Berpuluh-puluh kali aku memintanya untuk bangun, tapi dia tetap tidak bereaksi. Akupun teringat kejadian tadi siang. Saat dia menangis dan masih menyayangiku, lalu menepati janjinya yang sudah sekian lama. Kejadian itu membuatnya semakin terluka.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain berdoa dan memberinya bisikan semangat. Kenapa aku selalu tak berdaya menolong orang yang kusayangi?

Aku juga teringat kejadian dirumah imal. Diponsel mungkin sudah ada puluhan telpon masuk dari imal yang tidak kuangkat. Aku masih tidak ingin bicara dengannya. Apa benar kak agung kakak kandungnya imal? Untuk apa mereka merahasiakan ini semua dariku. Apa karena alasan itu kak agung menghilang dan tidak mau berbicara denganku selama tiga tahun?  Kalau memang dia kakaknya imal, berarti dia sudah mengetahui hubunganku dengan imal sejak lama. Dan itu berarti aku menyakitinya sudah jauh lebih lama dari yang ku tahu.
****

Keesokan harinya aku dibangunkan oleh  seseorang yang membelai rambutku. Kubuka mataku Dan kulihat Kak Agung sudah sadar, wajahnya masih pucat.
"Kamu pulang sana, istirahat. "
Suaranya terdengar lemah. 
Aku tidak percaya, disaat seperti ini dia masih memikirkanku.
"Kamu sudah membaik? Apa yang kamu rasakan sekarang? " aku memegang keningnya.
"Aku baik-baik saja aisyah, aku hanya butuh tidur. Setelah ini aku bisa pergi dari sini. Jadi lebih baik kamu pulang, istirahat yang banyak. Aku tidak ingin kamu sakit. "
Aku menepis tangannya yang menyentuh kepalaku.
"Tampaknya kamu sudah punya banyak tenaga untuk bicara denganku, aku akan pulang, tapi kamu harus jelaskan semuanya, tanpa terkecuali. "
"Jelaskan apa? " wajahnya terlihat sangat lelah.
"Semuanya tanpa terkecuali. "
"Tentang penyakitku?  Aku yakin kamu sudah tahu dari dokter fajrul, kan? Aku mau kasih tau kamu, tapi aku sudah keburu ambruk. Maaf ya... "
Ia berpura-pura tegar dan tertawa kecil.
"Selain itu?" tuntutku.
"Apalagi? Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu ais. "
"Tidak usah berbohong. Apa yang bisa kamu jelaskan tentang semua email yang kamu kirim ke imal sejak lima tahun yang lalu.? Kebohongan apalagi ini mardian? "
Ia hanya terdiam dan kaget mendengar semua pertanyaanku.
"Kebohongan apalagi ini kak?  Kumohon.. " tanyaku lemah sambil terisak.
"Kamu tahu dari mana? "
"Dari Adik kamu..  " suaraku mulai terdengar keras.
Ia kembali terdiam, ia tak berani menatapku.

"Maksud kalian apa merahasiakan ini semua? " aku semakin emosi.
"Aku tidak mengerti seperti apa jalan pikiranmu. "
"Imal kasih tahu kamu? "
"Dia tidak bicara apapun. Aku melihat semuanya di komputernya. Sepintar-pintarnya kalian simpan rahasia ini, akhirnya akupun akan tahu kak.. "
"Terus kamu mau penjelasn seperti apa lagi? Sedangkan kamu sudah tahu semuanya. "
"Kamu! " aku mencoba menahan emosiku.
"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Seakan hal ini hanya masalah sepele. Kalau kamu tidak dalam keadaan sakit, akan kubuat babak belur kamu sekarang juga. "
"Lalu kamu mau apa aisyah?  Aku memang membohongi kamu. Kamu marah kan?  Kamu boleh membunuhku sekarang juga, atau kamu mau pergi, silakan. Aku tidak akan menahan kamu. " kak agung berusaha duduk ditempat tidurnya dengan tenang. Wajahnya yang tengil membuatku geram.
Aku bergeming tak sudi membantunya. Hatiku semakin panas karena merasa dipermainkan.

"Enak saja. Memangnya kamu pikir, kamu bisa lari dari masalah dengan sesimpel itu. Kamu pikir dengan membunuhmu atau meninggalkan kamu semua masalah akan selesai? Tidak Kak. Aku akan tetap menunggu penjelasan kamu. " jelaskan tegas.
Aku membuang muka.
"Disini aku merasa dipermainkan... " celetukku.
Dia menarik napas panjang.
Lalu tertawa kecil.
"Dipermainkan?  Kamu tahu arti  dipermainkan itu seperti apa?"
Aku terdiam, lalu menatapnya.
"Seharusnya aku yang bicara seperti itu.
Seharusnya aku yang marah, seharusnya aku yang meminta penjelasan padamu. Kenapa kamu mempermainkanku selama tiga tahun ini. Kamu bersikap seolah mencintaiku, seolah tidak ingin aku pergi, seolah hatimu memang untukku. Tapi pada akhirnya kamu selalu menyakiti hatiku lebih dalam dan dalam lagi. Apa kamu tidak sadar? Apa kamu bodoh?  Aku selalu sabar dengan sikapmu aisyah, karena memang ada cinta dalam jiwaku yang tidak pernah hilang. Aku mencintaimu dan aku tidak peduli dengan semua kebohongan yang kamu ciptakan. "
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku memang jahat, manusia terjahat didunia ini.
Ia menghapus airmataku.
"Maafkan aku aisyah,, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku hanya ingin kamu tahu... "

Aku menggeleng.
"Maafkan aku..... " ucapku lirih.

Kak agung menutup matanya untuk sesaat.
""Aku adalah orang yang pertama mencintai kamu, jauh sebelum kamu menyukai janwar. "
"Maa... Maksud kamu? "
Tanyaku bingung. Saat kak agung membuka mata.  matanya terlihat merah. Seperti menahan tangis. Dia menunduk dan memegang perutnya yang kesakitan.

"Sebelum kamu menyukai janwar, aku sudah terlebih dahulu menyayangi kamu. Tapi kamu tidak tahu, kan? "
Airmatanya mulai mengalir.
Aku jadi teringat dengan kata-kata pelayan ditoko kuenya.
Jadi gadis yang dimaksud itu adalah aku?

"Dulu ibuku tante tiwi, hamil diluar nikah, lalu lahirlah aku. Entah dia malu atau memang tidak sudi untuk merawatku, dia menyerahkanku pada kakak perempuannya yang tidak bisa mempunyai anak. "
Ia menghapus airmatanya.
"Selama 18 tahun aku hidup dalam kebohongan, hingga akhirnya aku mengetahui dan memutuskan pindah ke jakarta. Aku masih belum bisa menerima keadaan saat itu, jadi lebih baik aku hidup sendiri. Saat itu aku merasa seperti anak yang terbuang. Anak yang dilantarkan ibuku sendiri. Aku bahkan tidak tahu siapa ayah kandungku. Itulah alasan kenapa aku benci ulangtahunku."
Ia menarik napas panjang.
"Dulu waktu SD kita pernah satu sekolah. Kamu pasti tidak ingat kan?  Jelas. Dari dulu yang kamu perhatikan hanya janwar. Sejak kamu kelas 3  dan aku kelas 5 SD aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku. Aku sangat sedih keketika orangtua angkatku mengajakku pindah ke malang. Yang beberapa tahun lalu kuketahui alasannya, karena agar aku jauh dari ibu kandungku. "

Aku langsung teringat pada masa SD-ku. Ya tuhan... Ini dia. Kenapa aku merasa sangat mengenal wajah kak agung. Tentu saja!  Dulu aku sering memergoki dia sedang memandangiku. Dia kakak kelasku. Memang aku tidak mengenalnya, tapi aku masih ingat betul kalau dia ini kakak kelasku dulu.
Ya allah kenapa semuanya begitu sulit untuk diterima?

"Saat janwar pergi, aku harap suatu hari kamu bisa jatuh cinta padaku. Tapi ternyata tuhan tidak mengabulkan doaku. Janwar mengantarkanmu pada imal. Dan penyakit ini mengambil semua kekuatanku untuk berjuang mengejar cintamu. Aku sudah tahu tentang penyakitku sejak janwar meninggal. Waktu itu aku iseng-iseng memeriksa kesehatan. Berasumsi adikku sakit, siapa tahu aku juga sakit.
Dan ternyata asumsiku benar, kalau bukan karena penyakitku ini, aku tidak akan mau membantumu untuk meraih beasiswa di sini. Tapi penyakitku menghambat semuanya. "
Akhirnya ia menatapku.

"Aisyah... Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku tidak bisa mengantar jemput kamu. Mengajakmu ketempat yang indah, memberimu ribuan kejutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku tidak bisa lagi melakukan itu semua untukmu. Aku tidak akan tahan sehari saja tidak membuatmu bahagia. Itu akan membuatku seribu kali lebih menderita dibanding melihatmu berjalan bersama yang lain. Lalu aku berpikir, satu-satunya cara adalah aku harus membuatmu pergi jauh dariku. Aku sangat bersyukur kamu bertemu dengan imal Adikku. Aku bisa tenang, dia bisa melakukan semua yang tidak bisa aku lakukan untuk kamu. Walaupun aku membenci ibu kandungku, tapi aku sangat menyayangi adik-adikku. "
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis...

NEXT

Selasa, 26 Desember 2017

Grey SunFlower part43

*GSF* part43

From : Agung Mardian
To : Imal Muzammil S

Selamat ya mal, aku titip aisyah ke kamu. Jaga dia baik-baik.

Aku kaget dengan alamat si pengirim. Karena itu adalah alamat email kak agung. Bagaimana bisa? Mereka kan baru dua kali bertemu? Bahkan aku yakin mereka belum sempat bertukar nomor ponsel saat itu. Jadi bagaimana bisa mereka bertukar alamat email?

Dan aku lebih tidak percaya dengan apa yang kulihat selanjutnya. Mereka sudah saling kenal dan bertukar email sejak lima tahun yang lalu. Itu sekitar saat aku tahu bahwa janwar sakit. Mereka membicarakan janwar. Dan dua tahun terakhir hampir semuanya membicarakanku.
Kepalaku mendadak sakit. Apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin? Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aku benar-benar bingung.
Aku mendengar mobil imal diparkir dipekarangan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku terdiam duduk di kursi. Kudengar imal masuk kedalam rumah memanggil namaku. Dan menemukanku yang sedang duduk dikursi komputer.
Seketika wajahnya berubah menjadi ketakutan. Dia bicara terbata-bata.
"Ka... Kamu sedang apa dikomputerku? Ada email masuk ya?  Dari siapa? " suaranya terdengar panik.
"Dari Agung Mardian. " jawabku dengan penekanan.
"Hah? Oh ya? " ia tidak berbicara apapun.
"ADA APA INI IMAL? " tanyaku dengan keras. Aku menarik napas panjang lalu bicara lagi dengan nada yang lebih pelan.
"Coba sekarang kamu jelaskan tentang ini semua. Apa maksudnya? "
"Itu... Itu...  "
Aku semakin tidak sabaran.
"Tidak usah berbelit-belit. To the point. " bentakku.
"Agung itu kakakku, ais. " jawabnya cepat. Ia tertunduk.
Aku terdiam. Bibirku bungkam. Aku merasa limbung.  Kepalaku semakin berdenyut.
"Maksudmu? "
Imal terlihat lagu menjawab pertanyaanku. Tapi dia sadar bahwa dia harus menjelaskan ini semuanya padaku.
"Dia itu kakak kandungku sama janwar. Anak pertama mama, dia.. ".
Ponselku berbunyi dan aku mengangkatnya.
"Ini nona aisyah? " tanya seorang wanita.
"Iya benar. Ini siapa ya? dan ada perlu apa? "
"Ini dari rumah sakit St. Cristopher. Saya ingin memberi tahu bahwa dokter Agung sekarang sedang kritis diruang ICU. Apa anda bisa datang kesini? Karena saya tidak bisa menghubungi keluarganya yang lain. "
Suaraku tercekat.
"APA?  Iyaiya saya kesana sekarang. "
Aku langsung menutup telpon dan pergi ke rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah katapun pada imal.

Ketika berlari di lorong rumahsakit yang panjang, kenangan saat aku menemui janwar terulang kembali. Aku memakai pakaian yang disediakan ruang ICU. Aku berjalan menuju dua daun pintu yang tampak sama dengan pintu yang dulu pernah kubuka. Semuanya seperti kejadian yang diputar kembali.
Aku masuk keruang itu. Aroma obat langsung tercium. Aku benci aroma itu. Saat kumasuk kulihat kak agung terbaring dengan banyak slang ditubuhnya.
Aku berjalan kearahnya dan duduk disampingnya. Perasaan ini sama sakitnya ketika saat kumelihat janwar dulu. Bahkan terasa lebih sakit.
Wajahnya begitu pucat. Tidak ada jejak keceriaan yang ia miliki. Kini ia terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit. Tidak berdaya. Slang yang mengalirkan darah ke sebuah alat disamping tempat tidurnya membuatku bertanya-tanya.

"Kamu kenapa kak? " tanyaku lembut. Tidak ada reaksi. Tidak ada senyuman ataupun anggukan.
Aku mencari dokter yang merawat kak agung. Setelah bertanya pada seorang suster, akupun bertemu dengan dokternya.
"Dia sakit apa, dok? Dia cuci darah? Dia sakit ginjal? " tanyaku khawatir.
"Kamu ini siapa? Keluarganya? "
"Iya.. " aku berpikir sejenak.
"Saya adik sepupunya. Jadi apa saya bisa tahu apa penyakitnya? "
"Seperti perkiraan kamu. Gagal ginjal. Dia diagnosis menderita penyakit ini sekitar setahun yang laku. Ketika dia diterima bekerja disini. "
Hatiku seolah tertusuk mendengar berita buruk ini.
"Kenapa dia bisa terkena penyakit ini, dok? "
"Faktor pertamanya mungkin dia sering tidur larut malam dan terlalu lelah bekerja. Dan faktor yang lain mungkin disebabkan oleh faktor keturunan. Memangnya kamu tidak mengetahui penyakit kakakmu ini? "
"Tidak dok. Dia tidak memberitahu apapun pada saya. Menyinggungnya pun dia tidak pernah.
"Dia memang seperti itu... "
Jawab dokter yang bernama fajrul itu pelan.

"Tapi dia bisa disembuhkan dok? Saya akan bayar berapapun biayanya. "
Seketika raut penyesalan terlukis diwajah dokter fajrul.
"Sayang sekali saya harus katakan bahwa harapannya sangat kecil. "
Aku terperanjat.
"Seberapa kecil, dok? "
"Sebenarnya hampir tidak ada. Dia benar-benar sudah tidak bisa ditolong. Ginjalnya sudah sangat rusak. "
"Apa dokter yakin?  Tolong dok! "
"Dia bisa bertahan sampai sekarang ini saja merupakan keajaiban. Saya juga tidak tahu apa yang membuatnya  bisa bertahan. Yang saya tahu semangat hidupnya kuat sekali. Tapi tiga bulan terakhir ini dia seperti kehilangan seluruh hidupnya. Dia seperti patung berjalan. Jarang makan dan bekerja sampai malam. Saya juga tidak tahu kenapa, setiapkali saya menasihatinya, dia hanya tertawa dan tidak menggubrisnya. "

Tiga bulan? Apa sejak kejadian itu. Sejak aku pergi dari rumahnya.

"Apa tidak ada cara lain untuk menolong nya dok.?  Toling dia dokter. Saya mohon... Saya akan baya berapapun.  "

"Masalahnya bukan uang.. Jalan terkahir yang bisa saya lakukan adalah pencangkokan ginjal. Tapi masalahnya dokter agung tidak pernah memberitahu saya siapa keluarganya. Jadi saya tidak bisa menolongnya lebih jauh lagi. Yang sekarang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. "

Kata-kata dokter fajrul seperti petir yang menghantamku disiang bolong.
Aku syok dan tidak bisa berkata apapun lagi.

"Kamu adik sepupunya kan?"
Tanya dokter fajrul.
Aku terkesiap.

NEXT

Grey SunFlower part42

*GSF* part42

Tiga bulan kemudian.....

"Makan siang di direstoran aku aja ya sayang. " imal mencari CD sambil menyetir.
"Kamu nyari apa sayang?  Biar aku yang nyariin sini, kamu kan lagi nyetir. Kita kerumah sakit duku ya, ajak kak agung makan bareng. Dia pasti juga belum makan siang. Tidak apa-apa kan? "
Imal langsung menatapku seakan tak percaya.
"Yaaahh... Tapi aku ingin membicarakan sesuatu padamu ais. "
Imal kembali sibuk mencari CD.
"Penting! " dia menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan memohon.
"Mau bicara apa? Didepan kak agung juga tidak apa-apa kok. Kasihan dia sayang, tidak ada yang memberi perhatian. Badannya jadi kurus kering sejak pindah kesini. Lagian sudah lama juga tidak ketemu dia. " aku tersenyum.
"Hmmm..  Yasudahlah. Terserah kamu saja. "
Imal mengarahkan mobilnya kearah rumah sakit kak agung bekerja.

"Lhooo ada apa ini? Kamu sakit lagi? " kak agung tampak kaget melihat aku datang bersamma imal. Ekspresinya begitu tenang, seakan kejadian tiga bulan lalu tidak pernah terjadi. Sejak dia sakit waktu itu, aku tidak pernah mengunjunginya lagi.
"Kita mau ngajakin pak dokter makan siang nih. "
Aku langsung melihat kearah imal.
"Iya kan, mal? "
"Eh iya.. Aku yang traktir. " jawab imal sedikit enggan.
Aku tidak peduli karena aku ingin sekali kak agung ikut hari ini.

Entah kenapa hari ini restoran sepi sekali. Padahal biasanya ramai. Disana hanya ada kami bertiga dan para pelayan. Imal dan kak agung tidak terlalu banyak mengobrol. Aku bisa mengerti alasannya. Akupun tidak akan mudah jika berada diposisi mereka.
"Sayang., tadi katanya mau bicara sesuatu? Bicara apa?"
"Eemm... " imal tampak ragu.
"Kamu mau eskrim tidak? "
Aku mengangguk bersemangat. Imal lalu mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya, dia memanggil seorang pelayan.
"Kok jadi pesen eskrim sih? Tadi katanya mau bicara? "
Aku mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
Bukannya menjawab imal malah tersenyum. Semenit kemudian seorang pelayan datang dengan membawa eskrim. Aku baru akan mengucapkan terimakasih, tapi pelayan lain sudah menyusul dan masing-masing juga membawa segelas eskrim.
Aku kaget bukan main. Kenapa Semua pelayan datang?  Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua pelayan berbicara dengan lantang dan bersamaan.

'Would you marry him? '

Aku terbelalak tak percaya. Kututup mulutku dengan kedua tangan.
Lalu imal angkat suara.
"Tidak langsung menikah kok, kita bertunangan saja dulu, kalau kamu terima aku, kamu makan semua eskrim ini ya. "
Lalu pelayan yang jumlahnya sebelas orang itu meletakkan mangkuk cantik yang semuanya berisi sebongkah kecil eskrim yang rasanya berbeda. Aku masih tidak percaya.
Aku menatap ke arah kak agung. Dia mencoba tersenyum padaku, tapi dalam matanya aku bisa merasakan sesuatu. Luka yang mulai basah kembali. Senyum pahit yang mengoyak hatiku. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Coba kalau tadi aku tidak memaksanya untuk ikut, pasti tidak akan seperti ini, lagi dan lagi aku menyakiti hatinya.

Aku memakan eskrim-eskrim itu. Jantungku berdegup keras ketika suap demi suap eskrim yang ku makan. Pada saat aku sampai di mangkuk terakhir, yang baru saja aku terperangah. Ternyata isinya buka eskrim tapi cincin emas putih yang matanya terbuat dari batu safir bewarna hijau. Indah sekali.

"Ini artinya aku bisa memasangkan cincin, ini kan? "Tanya imal dengan nada lembut. Sebelum mengangguk aku masih sempat memandang wajah kak agung dan matanya yang menatap lurus ke jariku.
Imal meraih tangan kiriku. Wajahnya sangat bahagia sekali. aku tidak akan tega menolaknya, aku tidak sanggup menghadapi semua ini.
Saat cincin itu sudah terpasang, tiba-tiba kak agung berdiri dan pergi begitu saja. Aku memandang wajah imal dengan wajah cemas, aku sadar aku telah membuat luka dihati kak agung lagi. Aku telah menyakiti hatinya dan hatiku sendiri.
"Kamu bisa kejar dia kalau kamu mau. Aku tunggu kamu dirumah. " ucap imal dengan lembut.
"Makasih sayang... " aku memegang pipinya dan langsung pergi mengejar kak agung.

Aku berusaha mencarinya. Aku berlari dan napasku mulai sesak. Aku sadar aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku tidak bisa melihat kak agung terluka. Aku tidak rela melihatnya sakit. Dan tampaknya aku ragu dengan pertunangan ini. Aku ingin kak agung yang memasangkan cincin itu dijariku, bukan imal.
Aku terus mencari dan mencari, berlari dan berlari. Aku menelponnya, tapi tidak diangkat. Aku terus mencarinya sampai akhirnya kutemukan dia sedang duduk dibangku taman yang lumayan jauh dari restoran.
Aku duduk dengan hati-hati disebelahnya. Aku menyiapkan kata-kata. Tapi aku takut untuk bicara. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Wajahnya sangat emosi. Matanya merah seperti menahan tangis. Selama sepuluh menit kami hanya duduk dalam diam.

"Capek larinya? Masih ngos-ngosan?" tanya kak agung memecah kesunyian. Nadanya terdengar sinis.
"Mmmm.. Iya sedikit. Ka.. Kamu kenapa tadi pergi kak? "
Aku bertanya dengan napas yang masih belum teratur.
"Seperti itulah aku mengejar kamu sampai disini. Seperti itulah caraku bernapas setiap hari karena mengejar kamu aisyah. "
Pandangannya tetap lurus kedepan.  Aku tertegun mendengar kata-katanya. Seperti ada luka lama yang terbuka lagi. Dan rasanya puluhan kali lebih perih dibanding pada saat luka itu pertamakali muncul.

Kak agung melanjutkan kata-katanya.
"Aku bekerja disini karena kamu. Aku mengejar kamu sampai kesini aisyah. Aku masih berharap kamu akan mencintai sahabatmu ini. Tapi ternyata ini yang kudapat. Aku tahu, aku sadar bahwa sepenuhnya aku yang salah. Seharusnya dulu aku sudah menyerah saja. Maaf ais, maafkan perasaanku. Aku seharusnya sadar, aku sudah tidak punya harapan lagi. Hanya..... "
Kak agung menelan ludah.
"Hanya saja aku tidak mampu untuk menahan perasaan ini ais. Makin aku tahan makin memberontak. Jujur, aku tidak mampu menahan rasa sakit yang sekarang harus kuterima. Selamat ya untuk kamu dan imal. Aku harap dia bisa membahagiakan kamu. Kakak sayang kamu aisyah. Aku sangat mencintaimu. Tapi tenang saja, setelah ini kamu tidak akan kehilanganku sebagai sosok sahabat kok. "
Aku terisak.
"Sudah dua tahun aku ingin memberikan ini padamu. "
Kak agung menaruh sebuah kotak abu-abu dengan amplop yang bewarna sama dibawahnya. Lalu Ia pergi meninggalkan aku dan kotak abu-abu itu.

Aku terdiam beberapa saat sampai akhirnya aku berani membuka amplop itu. Didalamnya ada sebuah kertas kecil bewarna kuning. Dan tulisan didalamnyaa...

I Love You...
Aku tepati janjiku yang dulu.
Agung Mardian

Lalu kubuka kotak bewarna abu-abu. Ada cincin didalamnya. Cincin bunga matahari yang pernah ia janjikan. Hari ini dia tepati janji itu.
Aku menangis, kedua tanganku menutupi wajahku. Apa yang harus kulakukan?
Aku tak bisa berpikir dengan baik. Aku menuju jalan raya. Bisa kurasakan beberapa pasang mata melihat kearahku yang berjalan linglung. Aku menyetop taksi lalu pulang kerumah imal. Aku tidak mungkin pulang kerumahku dengan keadaan seperti ini. Yang kubutuhkan hari ini adalah bicara. Bicara dengan tunanganku.
Aku kira imal sudah sampai rumah. Ternyata belum. Mungkin dia sedang membereskan restorannya. Aku masuk dengan kunci yang kumiliki. Aku langsung membuka kulkas dan mengambil segelas susu.
Aku membaringkan tubuhku diruang tamu. Aku benar-benar hancur dengan situasi yang kualami sekarang. Disatu sisi aku menyayangi imal.  Dengan segala kejutannya, dengan semua kasih sayang yang ia berikan, dengan segala kegembiraan yang ia sediakan untukku. Apa yang bisa menjadi alasanku untuk menolak lamarannya? 
tapi disisi lain terkadang yang kurindukan itu kak agung. Aku ingin dia selalu disampingku. Aku tahu betul bagaimana tulusnya perasaan dia padaku. Dia tidak pernah menuntut apapun. Yang dia lakukan hanya memberi dan berkorban untukku.
Tiba-tiba komputer imal berbunyi. Kebiasaan buruk ini tidak pernah hilang. Imal sering lupa mematikan komputernya kalau pergi ke luar. Tampaknya ada email masuk. Aku duduk dikursi depan komputer lalu membukanya.
Dan isi pesannya, membuat seluruh pertanyaan dalam kepalaku membuncar.....

NEXT

Grey SunFlower part41

*GSF* part41

"Sudah pulang? "
Aku dikejutkan oleh sosok imal yang sudah berada didepan rumahku. Aku mengusap mataku yang masih basah.
"Kamu?  Sudah lama? "
Aku duduk disebelahnya.
"Belum. Baru setengah jam yang lalu. Gimana agung? "
"Hah? Itu lama imal.
Dia sudah membaik. Dia hanya demam, kecapean mungkin. "
"Oooh.... "
"Kamu ngapain kesini? " tanyaku bingung. Bingung karena melihat wajahnya yang kusut. Seperti sedang marah dan kesal.
"Sejak kapan aku dilarang datang kerumah kamu? "
"Lhaaa gak gitu sayang. Kok kamu jawabnya ketus gitu sih?  Aku kan nanyanya baik-baik. "
"Karena ini yang pertama kalinya sejak kita pacaran, kamu bertanya untuk apa aku datang kerumah kamu. Biasanya kamu seneng banget aku datang kesini, memelukku, mengajakku masuk, mengajakku ketemu opa omamu, dan ini pertama kalinya kamu tidak melakukan hal yang sama. "
Aku langsung memegang tangannya.
"Iyaa... Maaf sayang. "
Dia menepis tanganku.
"Tampaknya kamu berubah sejak bertemu dengan agung. "
Dahiku mengkerut.
"Maksudmu? "
Imal berdiri tanpa melihat ke arahku.
"Tampaknya ada yang berubah dengan perasaanmu terhadap sahabatmu itu. "
"Imal, tolong!  Aku capek, aku tidak ingin berdebat. Tidak ada yang berubah dengan diriku. Aku masih aisyah yang sama, dengan ataupun tanpa agung."
"Enggak. Kamu bukan aisyah yang sama. Kamu berubah menjadi lebih periang dan lebih banyak lagi. Apa kamu tak menyadarinya? Tolong aisyah, jangan bohongi dirimu sendiri setelah tadi kamu membohongiku. "
"Membohongi kamu? Bohong apa? " tanyaku penasaran.

Imal berjalan menuju mobilnya. Dengan sigap aku menarik tangannya.
"Bohong apa imal? "
Ia menepis tanganku dengan kasar.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu bilang tadi kamu kerja. Padahal aku tahu kamu tidak masuk dan malah pergi ke tempat si agung itu kan? Sejak kapan kamu belajar berbohong aisyah? Sejak kapan? "
Sentaknya. Lalu ia masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.
Dia menyadarinya, dia menyadari perubahan dalam diriku. Pantas saja dia semarah itu. Yatuhan, apa yang harus kulakukan?
Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Aku masuk kedalam mobil dan langsung mengejarnya.  Mobilnya tak terlihat lagi. Aku menginjak gas lebih keras karena takut terjadi apa-apa dengannya. Hingga akhirnya aku melihat mobilnya terpangkir dipinggir sungai. Aku turun dan mencarinya. Kutemukan imal sedang duduk dipinggir sungai dengan menekuk kedua kakinya dan kepalanya tertunduk kebawah.
Aku memeluknya dari belakang.
"Sayang... Maaf. Maafkan aku. Kamu harus tahu, aku tidak berubah. Aku akui aku sangat senang bertemu lagi dengan kak agung. Dia sahabat baikku dan orang yang sangat mencintaiku. Aku akui perasaanku padanya sudah lebih dari sekedar sahabat. Tapi itu tidak mengubah apapun imal, aku masih asiyahmu. Aku tetap mencintaimu. Aku akan tetap berada disini, disamping kamu. "
Ia mengangkat wajahnya.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu? "
"Aku belum pernah seyakin ini sebelumnya. "
"Ais, masih ada kesempatan untukmu memilih. Aku rela kalau akhirnya kamu memilih dia dibanding aku. "
"Dan aku memilih kamu sayang.   "
Aku memeluk tubuhnya lebih erat lagi.

NEXT

Grey SunFlower part40

*GSF* part40

"Sayang kamu kerja hari ini?" tanya imal.
"Iya sayang. Ini sudah mau berangkat. Kenapa? "
"Oh enggak. Aku cuma kangen aja sama kamu mau aku antar ke kantor? "
"Tidak usah sayang. Aku bisa sendiri. Kamu juga harus ke kantor kan?  Sekarang kamu berangkat ya... "
"Mmm baiklah..  I love you. "
"Love you too.. " lalu aku menutup teleponnya.

Belum apa-apa aku sudah memulai pagiku dengan kebohongan. Sebenarnya aku tidak pergi ke kantor hari ini. Aku bahkan sekarang sudah berada dirumah sakit, didepan pintu ruangan praktik kak agung. Walaupun sudah beberapa kali aku menyadari kesalahanku, tapi hati ini sangat ingin bertemu dengannya.

"Kaaaaak.... " aku memanggil namanya,  saat ku membuka pintu ternyata dia tidak ada diruangannya. Aku menanyakan keberadaannya pada suster yang kebetulan lewat.

"Dokter Agung hari ini tidak masuk mba, dia sakit. " jawab suster itu singkat.
"Begitu ya.. Baiklah terimakasih sus.. "

Aku memutuskan untuk menemui kak agung yang sekarang pasti sedang ada dirumahnya. Sesampainya disana aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Rumahnya tidak dikunci, aneh sekali!

"Kaaaaak... " tidak ada yang menyahut. Akupun masuk ke kamarnya.
Disana ia berbaring dengan tubuh yang hampir seluruhnya ditutupi dengan selimut.
"Kak.. Kamu kenapa? " aku menguncangkan tubuhnya. Aku panik.
"Kita harus kerumah sakit. "
Dia membuka matanya sedikit.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja aku hanya butuh istirahat. "
"Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, kak? "
"Apa kamu bisa tetap disini?  sebentar saja untuk menemaniku. " tanyanya lemah.

Aku mengangguk lalu pergi ke dapur dan menyiapkan air hangat untuk mengompresnya. Buru-buru ku kompres dahinya tapi tiba-tiba dia menyingkirkan handuk basah itu.
"Aku paling tidak suka dikompres. Itu membuat kepalaku semakin sakit. "
"Lalu apa yang bisa kulakukan? Kamu sudah minum obat? Sudah makan? "
Kak agung menarik tanganku dan menyimpan tangan itu didadanya. Dia lalu memelukku. Aku merasakan panas ditubuhnya.
"Aku sudah bilang, kamu hanya perlu disini sebentar. Aku hanya ingin kamu disini ais. Aku sangat merindukanmu. " jelasnya lirih.
Akupun membalas pelukannya. Aku ingin selamanya memeluknya. Tapi aku kembali terbayang bagaimana imal tersenyum padaku. Dan aku tahu lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang besar.
"Kaaaaak.. " aku melepas pelukannya.
"Iyaa. "
"Saat aku tidak ada. Apa saja yang kamu lakukan?"
"Tidak banyak.. Sedetik setelah pesawatmu berangkat. Aku tidak menjalankan aktivitasku dengan baik. Yang bisa kuulakukan hanya duduk, memandang foto kita, menutup mata, melamunkan dirimu, tidur memimpikan kamu, kamu tahu? Aku seperti mayat hidup aisyah... " ia menyentuh pipiku.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu padaku? "
Ia terdiam sejenak.
"Masih sama dan tidak akan pernah berubah... Jangan pergi dulu aisyah,  tunggu sampai aku tertidur, dari semalam aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata dan itu karena aku terlalu merindukan kamu. "
Tiba-tiba ada yang jatuh dari pelupuk mataku. Dadaku sesak, aku memang jahat. Aku terlalu jahat untuk dimaafkan.
"Aiiiss... Kenapa kamu menangis? " tangannya menggenggam tanganku.
Aku menunduk.
"Maaf.. Maafkan aku kak.. "
"Jangan minta maaf... "
"Kenapa?"
"Karena maaf tidak bisa membuatmu tetap tinggal disini.  Kamu akhirnya akan pergi juga, kan?. " ia mengusap airmataku.
"Kamu semakin cantik. "

Ponselku tibatiba berbunyi. Aku langsung mengangkatnya, saat tahu yang menelpon itu imal. Aku berusaha bicara setenang mungkin.
"Halo sayang. Kenapa? " kulirik kak agung, wajahnya langsung berpaling dariku.
"Kamu dimana? " tanya imal.
"Aku dirumah kak agung. Dia sakit, badannya panas tinggi. "
"Oohh.. Yasudah. Hati-hati ya pulangnya. "
Ia langsung menutup telwponnya.

Apakah dia marah? Atau mungkin dia menyadari ada sesuatu yang aneh diantara aku dan kak agung?  Aku menarik napas panjang.
Kak agung kembali menatapku.

"Kamu tidak takut dia berpikir macam-macam? "
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, mulai hari ini kita jangan bertemu lagi, selamanya. " katanya singkat namun terdengar berat.
Aku duduk dan menatapnya tak percaya. Mana mungkin aku rela melepasknannya lagi.
"Maksud kamu? "
"Aku tahu kamu sudah mengerti maksudku."
"Tidak. Aku tidak bisa.
Kak,  apa kamu tidak tahu betapa kosongnya saat kamu tidak ada disampingku? Apa kamu tidak mengerti bahwa aku sangat merindukan kamu selama ini?  Kumohon kak.. "
Airmataku mengalir lebih seras dari sebelumnya.

Kak agung ikut duduk dan menatap mataku dengan sedih. Kutembus matanya, ada luka hebat disana, aku bisa merasakannya.
"Ini demi imal ais. Aku tidak ingin menyakiti siapapun seperti yang kamu lakukan padaku.
Saat kita tidak bertemu tiga tahun saja aku tidak bisa menghapus perasaanku padamu. Apalagi kalau aku harus bertemu denganmu setiap hari?  Aku tidak akan sanggup. "

Kak agung membalikan tubuhnya dan duduk membelakangiku
"Dan tolong jangan bicara seolah-olah kamu mencintaiku sedangkan kamu masih bersama imal. "
"Kenapa kamu bicara seperti itu? " timbul perasaan marah dalam benakku.
"Jadi kamu menyuruhku meninggalkan imal. Begitu?  Aku tidak sangka kamu sejahat ini kak. "
"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang ini? Kamu memang tidak punya hati. Dengan seperti ini kamu menyakitiku lebih dalam aisyah... Sekarang kamu pergi... Pergi dari hadapanku. Tinggalkan aku sekarang, aku ingin sendiri. "
Aku terisak. Aku langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari rumahnya.

Dalam perjalanan pulang aku terus menangis. Ini semua memang salahku. Aku yang membuat semuanya menjadi berantakan seperti ini. Andai saja sejak dulu aku menyadari perasaanku pada kak agung. Andai saja aku tidak bertemu dengan imal dan tidak jatuh cinta padanya. Sekarang aku harus bagaimana? Ini semua terlalu menyakitkan untukku.

NEXT

Senin, 25 Desember 2017

Grey SunFlower part39

*GSF* part39

Selesai makan imal mengantarku pulang. Kepalaku kini dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah imal menyadari ketidakjujuranku? Aku merasa sangat bersalah. Bahkan saat ini bayangan imal masih tinggal dipikiranku.
Aku rasa sudah gila saat secara tak sadar aku menekan nomor kak Agung.

"Halo..  Iya Ada apa ais? " suaranya terdengar serak dan lelah
"Kamu sakit, kak? " tanyaku khawatir.
"Tidak. I'm fine. Maaf ada yang ingin kamu bicarakan? Karena aku sudah mengantuk. " jawabnya sinis. Aku rasa dia masih belum mau bicara denganku setelah kejadian tadi siang.
"Mmmm..  Tidak. Aku...  Aku hanya ingin mendengar suaramu saja dan mengucapkan selamat malam. "
"Ooh selamat malam juga. " jawabnya singkat dan langsung menutup teleponnya. Aku rasa dia memang sudah membenciku.
Aku tahu ini salah. Aku tahu aku keterlaluan. Tapi ingatan tentang kak agung membuatku tak bisa tidur. Dan tiba-tiba ponselku berdering. Aku langsung menekan tombol OK saat kulihat nama kak agung yang terpampang jelas dilayar ponselku.
"Kaaaaak.... " panggilku lirih. Saat itu jam tiga pagi. Kenapa dia menelponku?
"Aiss.... "
"Iyaaa kak.. Ada apa? "
Pertanyaanku mengapung diudara.
"Bi..  Bisakah kamu bicara? " suaranya tercekat.
"Bicara apa? "
"Bicara apa saja..  "
Kak agung terdengar menelan ludah dengan berat.
"Aku tidak bisa tidur, padahal sudah dua obat tidur yang kuminum. Aku sangat ingin mendengar suaramu. "
Aku terdiam. Bagaimana bisa aku dan dia bisa merasakan hal yang sama? Aku ingin mendengar suaranya dan dia juga seperti itu. Kenapa takdir ini begitu menyiksa kami?
"Aiss... Apakah kamu masih disana? " panggilnya. 
"I.. Iya kak. Baiklah, bagaimana kalau kakak mendengarkanku bercerita. Tapi kamu harus tutup mata kamu sekarang ya kak. "
"Iyaa.. "

Aku menunggu sekitar lima detik sambil berusaha menenangkan diri.

"Dulu, beberapa tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Pria yang mempunyai rasa percaya diri melebihi dosis. Saat itu tak kusangka ia akan menjadi sahabatku. " aku yertawa kecil. Dari seberang telpon hanya ada keheningan. Aku melanjutkan ceritaku.

"Setiap hari aku berterimakasih pada Allah karena aku bisa mengenalnya. Dia mengubah banyak hal dalam hidupku. Dia itu  seperti pohon dalam hidupku. Saat dia masih kecil,  dia memberiku kebahagiaan karena keindahannya. Saat pohon itu tumbuh besar, dia menjadi tempat bersandarku. Dengan tubuhnya yang kokoh, dia tidak pernah mengatakan 'Tidak' saat aku membutuhkannya. Dengan daunnya, ia melindungiku dari hujan dan panasnya dunia. Dia selalu berusaha melindungiku, memberikan yang terbaik untukku. Dan dia selalu membuatku untuk selalu tersenyum kembali. "
"Kaaaaaak..  " dia tidak menjawab.
Tampaknya dia sudah tertidur. Tapi aku masih ingin melanjutkan ceritaku.

"Dan sekarang aku ingin minta maaf pada pohon itu karena aku sudah melukainya. Aku membuatnya menangis, aku menyakitinya begitu dalam,  aku meninggalkannya sendiri. Aku rasa sekarang pohon itu sudah mati dan itu semua jelas karena keaalahanku. Karena aku tak lagi menemaninya dan mengajaknya bicara. Maafkan aku ya pohon, meskipun aku tahu kesalahanku tidak hanya bisa dibalas hanya dengan kata maaf saja.
Tapi apakah pohon itu tahu, bahwa sekarang sudah berubah? Karena sekarang aku sangat mencintai pohon itu dan ingin memberikan yang terbaik untuknya. Aku tahu aku sudah berdiri ditempat yang salah karena kebodohanku. Maafkan aku pohon, aku tidak sanggup melihatmu tersakiti dan aku tidak mampu berbuat apapun untukmu, untuk melawan takdir ini. "
Airmataku mengalir dan kututup telponnya. Lima detik kemudian ada SMS masuk. Dari Kak agung...

Pohon itu belum mati. Dan tidak akan pernah mati. Dia masih berdiri dengan kokoh. Tak ada yang mampu meruntuhkannya. Pohon tua itu dengan setia menunggu temannya dan bersedia melindunginya lagi.

Air mataku semakin menangis. Lalu dengan gemetar aku membalasnya.

Tapi sayangnya aku tidak bisa kembali ke pohon itu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak mungkin meninggalkan kekasihku imal saat ini. Aku tidak akan sanggup.

NEXT

Minggu, 24 Desember 2017

Grey SunFlower part38

*GSF* part38

Aku mengeluarkan ponselku dan menekan nomor yang seharusnya aku hubungi sejak tadi. Dalam beberapa menit imal sudah ada didepanku dengan mobilnya. Aku langsung naik kedalam mobil dan memeluknya.

"Kamu darimana sayang? " tanyanya lembut.
"Tidak darimana-mana, aku hanya berjalan-jalan sebentar tadi. "
"Kamu habis nangis ya? " ia menatapku penuh selidik.
"Enggak kok. Tadi kelilipin doang. "
Ia tersenyum sinis.
"Aku mengenal kamu bukan dari kemarin ais, aku sudah cukup pintar untuk membedakan mana yang menangis mana yang kelilipan. "
Aku hanya tersenyum.
"Kamu sudah makan?" tanya imal.
Aku menggeleng, sekaligus bersyukur karena ia sudah mengganti topik pembicaraannya.

Imal langsung melajukan mobilnya ke restoran miliknya. Kami memilih duduk di sudut favorit kami. Dari tempat duduk ini, kami bisa melihat pemandangan jalan.
Menunggu pesanan membuatku tersiksa. Rasanya seabad karena aku sama sekali tidak punya topik pembicaraan dengan imal. Pikiranku masih bersama kak agung dan ini membuatku merasa canggung bersama imal, pacarku sendiri.
"Aku mau menagih janji. "
Akhirnya imal membuka pembicaraan.
"Hah janji?  Janji apa sayang? "
"Kamu dulu pernah janji akan menceritakan semuanya setelah aku bertemu dengan agung, sahabatmu itu. "
Kuminum jus pesananku yang akhirnya datang juga. Tak kusangka ia akan mengingat hal itu. Mendengar nama kak agung disebut, cukup membuatku gelagapan. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan napasku.
"Kenapa? "
Aku terdiam, cukup lama.
"Gak mau cerita? Its oke! Kalau begitu aku pulang saja. "
Dengan sigap aku menarik tangannya.
"Oke, oke aku cerita. Gitu aja ngambek. "
Aku menarik napas panjang lagi.
"Aku dan dia sudah lama sekali kenal. We have more stories. Kamu mau aku menceritakan yang mana? "
"Mmmmm... Bagaimana kalau kita mulai dari pertemuan pertama kalian, lalu berkenalan dan akhirnya menjadi sahabat. "
Aku tersenyum. Kejadian konyol yang sudah lama berlalu melintas dikepalaku.
"Semuanya berawal dari insiden tong sampah"
"Apa? Tong sampah? "
"Iyaa.. Kejadian itu sudah lama sekali. Tapi aku seringkali tertawa setiap kali mengingat kejadian konyol itu. Kamu sudah lihat kan, kalau kak agung itu tampan? Ketampanannya itulah yang membuatku menabrak tong sampah. Sebab kejadian itu kami berkenalan dan akhirnya menjadi sahabat. "
"Bagaimana hubungannya dengan adikku? "
"Walaupun mereka hanya kenal sebentar, dalam waktu yang singkat itu mereka sempat akrab. Aku tidak pernah sendirian saat menjaga janwar. Kak agung selalu setia menemaniku. "

"Lalu, apa yang menyebabkan dia tidak mau lagi bicara denganmu sampai tiga tahun lamanya.. "
Aku langsung mendongak menatap imal.
"Mmmmm ituuu... Ooh ituuu. "
Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-kataku.
"Aku pantas diperlakukan seperti itu. Dulu kami sangat dekat. Aku membutuhkan dia, brgitupun sebaliknya. Tapi menjadi sekedar sahabat ternyata tidak cukup baginya. Kak agung mempunyai rasa yang berbeda. Sayang aku tidak mempunyai rasa yang sama saat itu. Hingga aku menyakitinya begitu dalam. Aku meninggalkannya pergi kesini. Semuanya karena aku yang terlalu lemah dan tak mampu menerima kenyataan. Aku memang pantas menerima ini semua. "
"Apa perasaannya masih sama seperti dulu? "
Aku terkejut.
"Aku tidak tahu mal. " jawabku singkat.
"Lalu? "
"Lalu apanya imal sayang? Ya hanya itu. Hingga akhirnya kami bertemu lagi kemarin dan kami bersikap seakan tidak terjadi apapun. Semuanya sudah berbeda?. "
"Maksudku, bagaimana dengan kamu sendiri? Kan tadi kamu bilang, sayangnya dulu perasaanmu tidak sama dengan dia. Apa sekarang sebaliknya?  Kamu mencintainya? Apakah kamu menyesal? "
"Hah? Maksudmu apa? "
"Iya, apakah kamu menyesal bahwa kamu sekarang sudah bersamaku. Apakah kamu menyesal karena sekarang kamu tidak lagi dengannya. "
"Kamu bicara apasih. Tidak ada satu hal apapun yang aku sesali. Apalagi hal itu menyangkut kamu. Aku mencintaimu mal, apapun yang terjadi. Kamu adalah salahsatu pria yang terbaik dalam hidupku. "
Imal tersenyum.
"Syukurkah, karena jujur aku tak akan sanggup kehilangan kamu sayang. " dia mencium tanganku lembut.

NEXT