Jumat, 22 Desember 2017

Grey Sun Flower Part 36

*GSF* part36
*

"Kak...  Kita sudah sampai. " kak agung yang  selama perjalanan tadi tampak lelah tersentak mendengar suaraku. Dia melihat ke sekeliling.
"Rumah siapa ini ais? "
"Sudah. Turun saja dulu. Nanti aku kenalkan dengan orang yang punya rumah. "
Kak agung menurut saja tanpa banyak protes. Kalau dulu, dia pasti sudah protes berat karena tiba-tiba diajak ketempat yang asing. Tapi sekarang ia lebih pendiam. Aku menekan bel rumah imal. Tidak ada yang membukakakan.. Paati dia tertidur, pikirku. Aku buka pintunya, ternyata tidak dikunci. Sudah kuduga, ini memang kebiasaan buruk imal. Ia sering lupa mengunci pintu. Alasannya, supaya aku bisa keluar masuk dengan leluasa. Dia memberiku kunci duplikat rumahnya, tapi menurutku itu tidak berguma kalau dia tidak pernah mengunci rumahnya.

"Kamu duduk dulu disini atau kalau kamu mau lihat-lihat juga boleh. "
Kak agung mengangguk.
Aku masuk ke kamar imal. Aku kira aku akan melihat dia sedang tidur nyenyak tapi ternyata tidak. Aku beralih ke ruang kerjanya, tapi tidak ada juga.
Betapa terkejutnya aku menemukan imal sudah terbaring telungkup dilantai ruangan kerja itu. Aku langsung mambalikam tubuhnya dan membaringkannya dipangkuanku. Wajahnya pucat, aku syok, takut kejadian dulu terulang lagi.
Aku mengguncangkan tubuhnya sambil memanggil namanya. Tapi tidak ada reaksi aku mulai panik lalu beeteruak memanggil kak agung.
Kak agung berlari ke naiki tangga dan masuk ke ruangan kerja imal.

"Kenapa? Ada apa? " dia terkejut bukan main saat melihat imal yang wajahnya sangat mirip dengan janwar. Untung ia bisa mengendalikan diri sehingga langkah pertama yang dilakukannya adalah memindahkan imal ke tempat tidur.
"Kamu ambil tasku di dalam mobil. " pintanya padaku.
Aku langsung berlari menuju mobil.
Tak sampai satu menit aku sudah kembali membawa tasnya. Dia langsung memeriksa kondisi imal.  aku hanya berdiri mematung saking paniknya.

"Dia kecapean. Makannya jadi tidak teratur"
Ungkap kak agung sambil memasukkan stetoskopnya kedalam tas.
"Bener cuma kecapean?  Dia sudah dua kali seperti ini. Dia juga selalu mengeluh kalau kepalanya sakit. "
"Enggak ais. Dia baik-baik saja. " jawabnya lembut.
"Benarkan dia baik-baik saja?  Dia memang sering lembur. Dia juga sering lupa makan. " ucapku was-was.
Kak agung hanya tersenyum.
Setelah menarik napas dan menenangkan diri, aku baru sadar bahwa aku belum menjelaskan tentang imal kepada kak agung.
"Oh iya, sampai lupa. Aku belum menjelaskan siapa dia. Namanya imal muzammil, dia kakak kembar janwar dan dia pacarku. Tadi aku ingin mengenalkannya padamu. Tapi kayanya kita harus menunggu dia bangun dulu "
Lalu aku menceritakan semuanya pada kak agung. Tentang awal pertemuanku dengan imal, tentang bagaimana akhirnya aku bisa menjadi pacarnya. Kukira kak agung akan terkejut. Paling tidak menunjukkan ekpresi tidak percaya, tapi dia hanya mendengarkan ceritaku dengan biasa saja.

Kami mengobrol diruang tamu. Aku memberi kak agung segelas susu cokelat.
"Maaf yaa.. Di rumah ini hanya tersedia susu. Maksudnya biar aku mau tidak mau harus minum susu kalau kesini. Tapi its oke kan? Soalnya sepertinya kamu juga harus banyak minum susu. Kamu kurusan, tahu!  Makanya jangan kebanyakan kerja. Oh ya makasih ya sudah menolong imal. Aku orangnya gampang panik kak, jadi bingung mau ngapain tadi. " celotehku panjang lebar.

Kak agung hanya tersenyum mendengar ocehanku.
"Oke.  Santai saja. Aku kan dokter. Memang tugasku menolong yang sakit. "
Ia lalu mengubah posisi duduknya dengan menopang satu kakinya.
Kami langsung berhenti mengobrol ketika imal turun perlahan dari tangga. Aku langsung berjalan ke arahnga dan memegang tangannya.
"Kamu sudah membaik?  Kepalamu masih sakit ya? "
Tanyaku sambil mengucap punggungnya. Imal hanya menggeleng. Aku membawanya duduk ke ruang tamu.

Kak agung tersenyum melihatnya.
"Kenalkan sayang, ini sahabat aku dari jakarta yang dulu pernah aku ceritakan. Tapi sekarang dia sudah jadi dokter disini. Dia yang menolong kamu tadi. "
Mereka menjabat tangan sambil saling memperkanalkan diri. Tadinya aku bermaksud ingin mengambil makanan kecil di dapur, agar kami bisa mengobrol, tapi tiba-tiba kak agung langsung pamit.

"Ais.. Kayaknya aku gak bisa lama-lama. Aku harus kerja. Ada praktik ham tujuh. Aku harus pergi sekarang. " ia berdiri dan mengenakan jasnya.
"Yah kok pergi sih. Kan kamu belum ngobrol banyak dengan imal. "
"Masih ada kesempatan lain untuk ngobrol. Aku harus pergi sekarang. Aku bisa dipecat kalau mangkir kerja. "
"Ooh yasudah. Aku antar ya.. "
"Gimana sih. Terus pacar kamu siapa yang jagain?  Sudah lebih baik kamu disini saja. Aku bisa naik taksi kok. Gak bakal nyasar. " ia tertawa.
Raut wajahku langsung berubah kecewa. Bagaimanapun aku ingin kak agung mengenal baik siapa pacaraku. Dan entah kenapa aku merasa dia sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui siapa imal.
"Baiklah.. Hati-hati dijalan. "
"Oke.. Jangan lupa rawat imal baik-baik supaya tidak kecapean dan tidak telat makan. "
"Siap dokter. "
"Agung... " sahut imal.
Agung menoleh.
"Thanks ya..
"Oh oke sama-sama. Jaga kesehatan. " jawabnya singkat.  Lalu dia pergi.

Aku kembali ke dalam setelah kak agung menghilang. Aku langsung duduk disamping imal dan memasang wajah cemberut.
"Kenapa cemberut? " tanyanya pelan.
"Kesal. Kamu tuh yaa.. So soan nasihatin aku supaya jaga kesehatan. Gak boleh inilah, itulah, harus ini harus itu padahal kamu sendiri sampai pisan gitu. "
"Ya gapapa kali sekali kali pingsan. Biar kamu panik. Kalau kamu panik, aku tambah cinta deh". Ia tertawa. Sebagai pembalasan aku mencubitnya sampai dia minta ampun.
"Syukuriiin, aku doain biar badan kamu pada biru. " Aku terkekeh melihat dia meringis kesakitan. Kemudia aku menuju jam dinding. Sudah jam setengah tujuh.  Saatnya makan malam.
"Tadi kamu pulang kerja jam berapa? " tanyaku.
"Jam 2 siang. Soalnya kepalaku pusing. Makanya aku pulang cepet. "
"Oooohh..  Kamu mau makan apa?  Biar aku masakin. "
"Terserah deh. "
Aku menuju dapur.
"Kamu lagi ada proyek apa sih sampe kamu kecapean kaya gini? "
Tanyaku sambil membuka kulkas.
"Iya.. Proyek besar yang mungkin bisa merubah hidup aku. "
"Ohh yaa?  Nilai proyeknya gede banget ya? "
"Gedeeeeee banget. Kan aku sudah bilang bisa merubah hidup aku. Nanti aku kasih tahu kamu deh. Lalu gimana gedung yang kamu rancang?"
"Sudah mulai dibangun. Doain biar cepet selesai ya sayang.. "
"Pasti.. "
Kami makan spageti malam ini. Setelah selesai merawatnya akupun izin pulang..

NEXT

Tidak ada komentar: