Tanganmu ternyata kecil sekali ya?"
"Aku kurus ya?" aku mengangguk pelan.
'Entahlah apa yang membuatku tidak bisa mempunyai badan berisi." gumamnya. "mungkin pola makanmu tidak teratur." tuturku. "Bukan ais ! bukan itu. kurasa aku terlalu banyak beban pikiran hingga segala sesuatu yang kumakan tidak tercerna dengan baik."
aku tertawa. "hahaaaa apa urusannya. ada-ada saja kau ini." "Terkadang beban pikiran adalah hal yang menyita tenaga." jelasnya.. "jangan selalu mengkait-kaitkan hal yang gak masuk akal. tidak baik." lanjutku
"Ah! Iya, mungkin." Jawabnya pendek sambil sibuk memasangkan gelang itu pada pergelangan tangannya.
Hey, apa kabar? Sudah lama sekali aku tidak menulis tentangmu. Duniamu sudah berubah ya. Sudah sulit untuk menebak hal apa saja yang sudah terjadi padamu beberapa waktu ini. Dan, haruskah aku menerima kenyataan itu? sulit untuk menolak jatuh cinta padamu. karena bagiku matamu adalah cinta. suaramu adalah kehangatan bagi setiap telinga yang mendengarkan. Aku tidak tahu, tulisanku tentang kerinduanku terhadap tatapan matamu ternyata meraup perhatian dari banyak waktu.
Aku belum bisa melupakanmu. sungguh! Aku selalu ingat caramu menatapku. Caramu mencuri perhatianku. Kerutan matamu yang aneh, namun tetap terlihat memesona dalam pandanganku. Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan. Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku. Kita jarang punya kesempatan berbicara, berdua saja. Rasanya mustahil. Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas. Tapi, aku selalu ingat perkataanmu, "Hal yang mustahil di dunia ini hanyalah memakan kepala sendiri." dengan tangan gemetar aku mengirimkan pesan itu untukmu.
kamu menyuruhku untuk mencari penggantimu. Aku tertawa, bergelak kencang sekali. Lalu, setelah tawaku diam, kamu berikan alasan. Kamu ingin lihat aku bahagia dengan yang lain. Aku tertawa semakin geli, tapi mataku basah. Kusambut saranmu dengan menyuruhmu juga mencari yang lain, agar aku bisa melepaskanmu dan melihatmu bahagia; meskipun kebahagiaanmu tidak lagi membutuhkanku.
Detik yang terlewati tanpamu adalah kesunyian yang merangkak pelan. Saat mencintaimu, di kepalaku yang penting—kamu bahagia. Hingga akupun lupa, bahagiamu justru melukaimu. kamu pergi ! tepatnya bukan pergi. tapi dipisahkan takdir yang tak membersamai. pernikahanmu adalah mimpi buruk bagiku.