Sabtu, 29 Oktober 2016

cinta dalam takdir_nya

“Aisyah..” panggil seseorang yang suranya sudah tak asing lagi bagiku. Akupun menoleh ke belakang dengan senyuman hangat yang ku persembahkan hanya untuknya. “Kamu kapan kembali lagi kesini?” tanya lelaki itu, Fadhil. Ia menatapku dengan sorot mata penuh pengharapan. Tetapi langsung ku tepis 
pandangan itu dengan mengucap istigfar. Aku tidak mau menambah catatan amal keburukanku hanya karena menatap yang 
bukan mukhrimku 
“Hei, aisyah.” ucapnya lagi, menyadarkan lamunanku. 
“Oh ehm.. Aku nggak tau Fad, mungkin aku nggak balik lagi kesini. Memangnya kenapa?” jawabku gugup, lalu memalingkan wajahku ke arah anak kecil yang sedang asyik bermain 
bola Sekilas kulihat raut wajah Fadhil yang berubah menjadi murung. Aku jadi kasihan melihatnya, dan mencoba menanyakan sesuatu padanya, “Fadhil, apa kamu sedang ada masalah?” 
tanyaku. Fadhil tampak diam membisu. Pandangannya terlihat kosong. Tak lama, ia menghela napas berat. “Aisyah, aku mencintaimu. Dan masalah yang akan kuhadapi, aku harus kehilanganmu. Entah seberapa lama atau mungkin selamanya.” ucapnya gemetar seraya menitikkan beberapa air mata yang buru-buru dihapusnya. Mungkin ia tidak mau terlihat 
sebagai lelaki cengeng dihadapanku. Karena selama ini, ia selalu berpenampilan rapi, santun dan juga sangat menjaga lisannya ketika berbicara padaku. Tapi entah mengapa kata-katanya sangat 
menyentuh. Padahal sudah berulang kali ia menyatakan cintanya padaku, namun baru kali ini kata-katanya mampu mengetuk lubuk 
hatiku. Ya! rasanya telah tak terhitung berapa kali ia mengucap kata cinta untukku. Namun selalu kutepis. Aku selalu mengatakan untuk konsisten tidak ingin berpacaran. Selain melanggar hukum agama, pacaran juga pasti banyak menghabiskan uang. Sedangkan aku ingin lebih fokus untuk menjalani masa SMA-ku supaya bisa meraih beasiswa di perguruan tinggi. Dan aku juga harus menyisihkan uangku untuk keperluan masuk ke perguruan tinggi itu. Walaupun aku juga memiliki rasa lebih dengannya. Tapi, tak apalah aku hanya ingin membuktikan bahwa imanku lebih kuat 
daripada nafsu yang menyeringai. 
Suasana hening sesaat sampai Fadhil menepis keheningan ini. “Tapi Aisyah, jika ini memang cita-citamu. Kejarlah! kau lebih pantas meraih cita-cita daripada harus mengorbankan cinta.” 
Lanjutnya menghentakanku. Seakan kata-katanya berubah menjadi siraman rohani yang begitu mudah masuk kedalam 
sanubari. Jarang sekali ia berucap bagai malaikat seperti ini. Atau mungkin memang aku yang belum terlalu mengenalnya 
Kutengadahkan pandangaku langit, mencari sisa-sisa cahaya senja yang masih menyelimuti langit sore ini. Kicauan burung pun mulai bersahut-sahutan menyambut datangnya petang. Sungguh indah ciptaanmu ini, ya Allah. Sama indahnya seperti kau ciptakan manusia yang hidup berpasangan. ”Fadhil, setiap orang yang mempunyai cita-cita pasti orang tersebut ingin mewujudkannya. 
Tidak ada satu pun orang yang membiarkan cita-citanya terhapus oleh ombak dan terbawa arus lautan. Aku yakin kamu pun begitu. Dan bilamana Allah telah mentakdirkan kita untuk berjodoh, pasti suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali oleh-Nya. Percayalah fadhil.” ucapku mengakhiri perbincangan yang 
terjadi sekitar 3 tahun lalu. Ya! aku masih ingat, bahkan setiap detail gerakannya pun masih terlukis indah di memoriku. 
Senyumannya seakan tak pernah terhapus terakan oleh waktu. Aku merinduinya. Ya, aku merinduinya. Petang mulai datang menyambar. Semilir angin yang sudah mulai dingin terasa semakin menusuk kulitku. Entah mengapa, petang selalu melukiskan keceriaan yang diliputi kesedihan. Sedih karena sang raja siang telah pergi bersama cahaya indahnya dan senang 
karena ‘kan datang malam yang dihiasi kelap-kelip cahaya bintang dan bulan yang selalu menjadi primadona malam. Dan mungkin 
karena petang mempunyai kenangan tersendiri bagiku. 
Tak lama, terdengar suara adzan maghrib yang 
begitu lembut bergetar ditelingaku. Dengan sigap ku alihkan pandanganku dari misteri petang dan ku percepat langkahku untuk 
mengambil air wudhu yang selalu menyengarkan jiwa. 
Kubentangkan sajadah kearah kiblat-Nya dan memulai sholat Maghrib ini dengan penuh kekhusyukan, demi mengharap ridho dan rahmat-Nya. Hatiku terasa lebih damai daripada sebelumnya, sungguh rahmat yang luar biasa telah kurasakan. Kini, kuangkat 
kedua tanganku dengan penuh pengharapan. 
“Ya Allah.. Terimakasih atas rahmat dan kasih sayang Mu yang telah kau curah limpahkan kepada hambamu ini. Ya Robb, engkaulah Dzat yang maha mengetahui segalanya. Engkau pun tau, siapakah imam yang akan memimpin keluarga hamba nanti. Apakah ia ya Robb? Yang selalu datang menyusup melewati 
rongga-rongga kesepian di hati ini? Aku hanya mampu berharap. Namun jangan biarkan cinta ini tumbuh terlalu dalam padanya. Tapi sesungguhnya engkaulah yang maha tau siapa yang terbaik untuk hamba. Siapapun ia, jagalah dia selalu. Sempurnakanlah akhlaknya, agar bisa menuntun hamba menuju ke surga-Mu nanti. Aamiin” Kutapakkan kaki di atas jalan aspal yang telah di jemur seharian oleh terik matahari. Menyusuri liku jalan yang penuh kebisingan dari suara kendaraan yang sedang berlalu lalang. 
Semilir angin sejuk menemaniku yang sedang duduk terpaku bersender di bawah pohon mahoni. Ya! Terpaku dalam kesendirian yang semakin menyesakkan dada. Langsung ku 
ambil buku diary yang tersimpan rapi di tas ku. Dan kurangkai kata-kata rindu, rindu akan sosok lelaki yang kan menjadi imamku kelak. Ingin cepat rasanya bertemu dengannya. Ya Allah sabarkanlah hati hambamu ini. Hamba yakin kau pasti punya cara terbaik untuk mempertemukan hamba dengannya. Tak lama, ku tutup buku diary itu, kupandangi langit malam yang tertabur bintang dengan cahaya kelap-kelipnya. Aku terenyuh memandangnya. Tanpa ku sadari, sosok lelaki yang sepertinya tak asing lagi bagiku sudah duduk disampingku. Entah sejak kapan ia 
berada disitu. Apa ia mendengar curhatan hatiku pada sang Khalik? Apakah ia mengetahui isi hatiku? Ah sudahlah, lagipula ia 
tak ada urusan denganku. Tapi, siapakah ia? Sepertinya aku sangat mengenalinya. Aku masih mencoba mengingat wajahnya 
sambil terus memperhatikan ia yang sedari tadi diam membisu, menatap lekat layar handphone yang ia genggam erat. Ingin 
rasanya kusapa ia yang masih terpaku. Tapi nampaknya nyali ini lebih kecil daripada inginku. “a..a” Payah! Kenapa lidahku menjadi kelu? Mulutku seperti terkunci oleh gembok yang begitu kuat. Entah kenapa detak jantungku berubah, berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. Ternyata yang berada disampingku sejak tadi, ialah Fadhil. Oh! Sosok yang tak pernah ku fikir akan kujumpai lagi, sosok yang selama ini ku rindukan, sosok yang 
selama ini ku impikan menjadi imam dalam keluargaku. Aku tak percaya, dapat bertemu 
lagi dengannya. 
“Aisyah.” “Fadhil.” “Aisyah, apa betul ini kamu?” “Ya ini aku, Aisyah. Temanmu dulu.” “Aisyah, aku tak menyangka dapat bertemu kamu lagi disini.” ucap Fadhil dengan mimik yang hampir sama ketika aku masih berada di Bandung, satu pondok pesantren dengannya. “Aku juga Fadhil. Ini terasa seperti mimpi.” 
Balasku. ‘mimpi yang menjadi nyata’ lanjutku dalam hati 
Aku dan Fadhil masih meneruskan perbincangan itu. Namun, malam lebih cepat datang. Aku mengakhiri perbincangan itu, 
takut nanti akan menjadi fitnah jika sudah larut malam masih berbincang berdua dan kami pun berjanji besok akan bertemu kembali di taman ini. 
— 
Aku tak akan lupa janji itu. Tapi, mengapa Fadhil belum juga datang? Apa ia lupa? Padahal aku sudah menunggu 1 jam lamanya. Tidak biasanya Fadhil seperti ini, telat datang di suatu perjanjian. Dengan hati yang begitu kecewa, akhirnya aku pun meninggalkan taman itu. karena sebentar lagi adzan Maghrib 
akan berkumandang, memenuhi isi ruang perut bumi ini. 
Sebelum aku melangkah lebih jauh, aku sempatkan untuk menengok ke belakang siapa tau Fadhil telah datang disana. Tapi sewaktu aku melempar pandangan ku ke arah tempat duduk di taman sana, tak ada seorang pun. Bahkan orang yang berlalu lalang pun tak ada. Taman itu tampak kosong. Seperti tempat mati 
yang tidak berpenghuni. 
Dan akhirnya aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti tadi. Sambil mencoba menghilangkan pikiran negatif yang semakin menyerang akal sehatku.— 
“Maaf Aisyah, kemarin aku nggak bisa datang. Aku benar-benar ada urusan penting, jadi tidak sempat mengabari mu. Apa kamu marah padaku?“ 
Aku hanya berdehum pelan sambil memampang senyum dihadapannya. Sebetulnya aku begitu kecewa atas kejadian 
kemarin. Tapi tak apalah, aku hanya ingin mengambil hikmah dari setiap kejadian. “Oh iya Aisyah, sebenarnya ada suatu hal yang 
aku mau katakan padamu.” ucap Fadhil dengan nada yang sedikit menaik dan memandang kosong batu-batuan yang 
tersusun rapi di sisi kiri taman ini. “Apa itu?” tanyaku cepat 
“Lusa, aku akan melangsungkan akad nikah.” jawab Fadhil datar. 
Aku langsung merunduk lemah setelah mendengar itu, seolah tak percaya akan kalimat yang baru ia ucap. Mimpi-mimpiku 
seakan hancur seketika. Sepenggal asa yang kupunya juga perlahan menjauhi harapku. Aku tidak mengerti, mengapa takdri harus berkata seperti ini. Sungguh berbanding terbalik dengan semua mimpi-mimpi yang telah ku ukir sempurna. 
Tapi anehnya, aku sama sekali tak melihat wajah bahagianya yang biasa terpampang jika setiap orang akan melakukan suatu upacara yang sangat suci sehidup semati. Ya, pernikahan. Entah ini hanya pikirku atau memang benar adanya. 
“Selamat ya Fadhil.” Ucapku begitu berat Tanpa sedikitpun memandangnya. “Kenapa kamu mengucapkan selamat 
padaku?” tanya Fadhil yang sungguh aku tak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu. 
“Maksudnya?” “Iya. Bukankah kamu memiliki rasa lebih 
denganku? Aku pun begitu, Aisyah. Aku benar-benar tidak tau, mengapa harus perjodohan ini yang menjadi pemisah cinta kita.” Fadhil berkata begitu serius. Wajahnya pun bergurat dengan perasaan bingung bercampur cemas. Menyiratkan hatinya sedang gusar tak menentu. 
Aku malah menatapnya bingung, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibirnya. Apa mungkin, Fadhil masih 
menyimpan rasa yang 3 tahun lalu kutinggal pergi? “Apa kamu..” “Ya! Aku masih mencintaimu. Bahkan rasa ini tak berkurang sedikit pun dari perjalanan waktu yang telah memisahkan kita.” 
Kata-kata ku yang sempat dipotong olehnya. Tapi, ia seakan menjadi peramal yang mampu mengetahui maksud dari pertanyaanku itu walau belum sempat ku ucapkan. “Tapi Fadhil, kamu sudah dijodohkan dengan wanita lain yang mungkin lebih tepat untuk kamu dan hidupmu.” 
“Tidak.” jawabnya begitu cepat hingga hampir memotong kata-kataku lagi. “Bagiku, kamulah yang paling tepat untukku dan hidupku, Aisyah.” lanjutnya 
“Fadhil sudahlah. Hidup itu realita bukan khayalan. Mungkin ini cara Allah memberitahu kita bahwa sebenarnya kita.. tidak berjodoh.” ucapku pasrah dengan takdir yang sudah terlanjur membalikkan arah mimpi cintaku. 
“Aisyah, mengapa kamu jadi begini? Buang semua pikiran negatif kamu. Apa kamu tidak melihat, bahwa ini suatu cobaan yang sengaja Allah berikan untuk menguji cinta kita?” 
“Menguji dengan sebuah pernikahan yang begitu suci dan sakral?” tanyaku yang aku sendiripun tak tau, darimana kata-kata itu berasal. Fadhil tampak membisu, mungkin ia juga sedang mencerna kalimat yang tak sengaja kuucap tadi. 
“Tapi aisyah..” kata-katanya terjegat kembali. Mungkin otaknya sedang berfikir keras untuk menemukan jawaban itu. 
“Sudahlah Fadhil. Aku tak butuh jawaban itu. Tataplah kedepan. Lihatlah! Pasti disana akan ada cahaya yang menuntunmu menuju ruang kebahagiaan. Ikutilah perkataan orang tuamu. Ingatkah, jika ridho Allah bergantung pada ridho orang tua? Ya, itu jawaban dari penantianmu selama ini.” jelasku panjang lebar. Entah kenapa aku bisa setegar itu mengucap 
semua nya pada Fadhil. Padahal, jauh di lubuk hatiku, di dalam mimpiku, aku begitu rapuh. Apakah aku munafik? Apa aku yang selalu bermimpi, karena takut menghadapi realita yang ada? Ya Allah maafkan hambamu ini. Yang tak sanggup menjalani takdir yang telah kau tetapkan. 
— 
Hari ini dengan langkah yang begitu berat, aku sempatkan untuk datang ke acara akad nikah Fadhil dan Nuraisha. Ya, namanya Nuraisha. Sesosok gadis yang kelak akan menjadi istri Fadhil. Namanya begitu indah. Begitupun ketika aku melihat foto yang ditunjukkan oleh Fadhil. Sosok yang tampaknya begitu sempurna. Terlebih karena ia sudah menunaikan ibadah haji di usianya yang cukup belia. Ia pun sudah mempunyai pondok pesantren atas namanya sendiri. Hebat bukan? 
Tak salah lagi, orang tua Fadhil memilih Nuraisha untuk menjadi pedamping hidup Fadhil. Waktu berlalu begitu cepat, hingga aku tidak tau berapa lama waktu yang telah ku lalui 
dengan sia-sia. Menunggu seseorang yang akhirnya menjadi milik orang lain. Tapi apa daya, aku tidak bisa merubah takdir. Aku hanya bisa mengikhlaskan dia. Aku tau ya Allah, kau lah yang paling tau siapa jodoh yang terbaik untuk hamba. Ku serahkan jodohku hidup dan matiku hanya padaMu. Detik jam terus berputar. Akupun telah duduk disini. Menyaksikan Fadhil yang akan mempersunting wanita lain dan itu bukan aku. 
Aku harus ikhlas. Aku harus tegar. Tiba-tiba ada suara handphone berdering. Tampaknya itu suara handphone milik Fadhil. Dengan sigap, Fadhil mengangkat panggilan itu dengan suara lembutnya. Aku tidak tau, apa yang baru ia bicarakan 
barusan. Yang aku tau, raut wajahnya berubah seketika. Seperti orang yang baru saja mendengar kabar buruk. Dugaan ku pun tepat. Ya. Nuraisha mengalami kecelakaan ketika sedang melakukan perjalanan kesini. Aku ikut Fadhil dan rombongannya untuk menjenguk Nuraisha di rumah sakit. Baru kali ini aku melihat wajah Nuraisha untuk pertama kalinya. Tapi sayang, aku melihat wajahnya ketika nyawanya telah di ambil oleh sang maha kuasa. Aku tidak tau pasti kejadian sebenarnya. Aku hanya tau, ia mengalami pendarahan besar diotaknya yang mengakibatkan nyawanya tak dapat di tolong kembali. 
Semua orang yang ada disini telah larut dalam kesedihan. Bagaimana tidak? Ia meninggal ketika hendak melangsungkan pernikahan. Dan pernikahan itu sendiri adalah momen yang 
paling ditunggu-tunggu oleh umat manusia karena hanya diakukan sekali seumur hidup. Begitu suci, dan salah satu sunnah nabi. 
Tapi, lagi-lagi ini telah menjadi garis takdirNya. Manusia tidak dapat merubah, manusia hanya bisa menerimanya dengan hati yang ikhlas. Wajah Fadhil pun terlihat begitu cemas dan lelah. Mungkin ia masih belum bisa menerima kepergian calon istrinya itu. Aku mencoba menghampiri Fadhil. “Sabar ya Fadhil. Di setiap kejadian pasti ada hikmahnya.” ucapku . “Iya, Aisyah. Aku tau, di balik kepedihan pasti ada kebahagiaan yang terkandung 
didalamnya. Yang aku tak mengerti, mengapa takdir harus mengalihkan jalan cintaku untuk yang kedua kalinya.” balasnya masih dengan wajah tirusnya. “Fadhil, kamu tidak boleh berburuk sangka sama Allah. Kamu harus yakin, bahwa Allah telah menyusun rencana yang paling indah untukmu.” 
“Ya aku yakin. Terimakasih Aisyah, telah meyakinkanku.” Ucap Fadhil dengan senyum yang ia lempar dengan hangat. — 
Langit telah memperlihatkan pesona dari raja siang yang dapat menyilaukan mata. Burung-burung bertebangan membentuk suatuformasi yang begitu indah. Angin pun tidak henti-hentinya berhembus untuk membawa segenggam udara segar. Semuanya bertasbih, memuji keagungan Allah yang telah menyiptakan mereka semua dengan keajaibannya. Entah kenapa hari-hari terakhir ini, aku jadi semakin dekat dengan Fadhil. Mimpi-mimipi itu pun seakan terajut kembali dengan sisa-sisa benang lalu yang mulai rapuh. Aku tidak tau, rencana apa yang sedang di susun sang Khalik terhadap jalan cintaku. Aku hanya bisa memasrahkan semua ini padaNya. 
“Aisyah, bagaimana kuliahmu?” tanya Fadhil yang sedang duduk di taman bersama denganku 
“Alhamdulillah baik Fad. Kamu gimana? ” balasku 
“Alhamdulillah aku juga baik. Emm.. Aisyah, apa kamu tidak keberatan jika kita memulai kisah cinta kita dari awal lagi?” tanyanya yang begitu membuatku bahagia. Aku hanya mengangguk pelan. Rasanya mimpi-mimpiku semakin kuat untuk menjadi nyata. Ya Robb inikah jalan takdirmu untuk kisah cintaku? Sungguh aku tak menyangka. Begitu indah jalan takdirmu. Kini aku dan Fadhil telah bertaaruf. Dan jum’at 
esok insyaallah kami akan melangsungkan akad nikah. Ya, momen yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang hidupku. Mimpiku menjadi nyata. Selama ini ternyata Allah selalu
mendengar doa’doaku. Terimakasih ya Robb atas semua ini. Maafkan hamba karena sempat berputus asa atas jalan takdir yang telah kau tetapkan. Tapi ternyata, di balik itu semua kau 
telah menyiapkan kejutan indah bagi hambamu ini. (Cinta dalam takdirnya) 

Selamat Membaca para perasa .. 
By 
Siti khopipah aliskandar

do'a dan harapan menjadi kenyataan

Ini bukan hanya tentang cinta, tapi harapan
yang berpilin sebagai doa di langit-Nya. —
“Terima kasih Ya Alloh karena masih memberiku kesempatan melihat sang bintang harapan di tiap pagiku. Dan untukmu penjajah hatiku, selamat pagi.” Begitu biasa Dinara memulai harinya di tiap pagi sebelum beraktifitas. Dua kalimat di awal
rutinitas harinya itu telah menjadi suatu hal yang hampir tak pernah dia lupakan semenjak lima tahun terakhir. Seperti itu pula dengan hari ini. Baginya, tiap hari terasa indah. Penuh dengan
harapan dan optimisme. Kenapa? Karena ada dia. Karena ada cinta dihatinya. Gana, sang penjajah hatinya.
Lelaki itu telah menjadi pangeran dalam hatinya selama hampir tiga tahun ini. Sosoknya seperti telah begitu menyatu dalam jiwanya hingga dia tak bisa lagi berpaling pada lelaki lain. Bagi Dinara, Gana adalah seorang lelaki yang luar biasa. Gana adalah instrumen terpenting dalam hidupnya. Konyol sekali kedengarannya. Tapi begitulah dia mencintainya, mencintai Gana. Ah bukan, menggilainya tepatnya. Dinara tak peduli jikapun orang menganggapnya bodoh karena cinta itu. Dia hanya senang seperti itu. Dan selama hampir empat tahun terakhir, Aivi lah
yang tahu kegilaan Dinara itu. Aivi adalah sahabatnya sejak dia masuk kuliah hingga mereka baru saja lulus kuliah saat ini. Meski
begitu, Aivi tak pernah tahu lelaki mana yang sebenarnya dicintai sahabatnya selama ini. Ia hanya tahu kalau Dinara mencintai seorang lelaki bernama Gana. Itu pun entah pasti atau tidak.
“Kau melamun? Dia lagi?” tiba-tiba Aivi menepuk pundak Dinara, membangunkan ia dari lamunannya yang sedang berpetualang ke negeri antah berantah, mencari sesosok pangeran yang ia rindukan. Aivi lalu duduk di samping Dinara sambil memperhatikan orang lalu-lalang di taman kota. Hari minggu pagi
memang jadwal rutin mereka pergi ke taman kota. “Hah, kamu tanya apa Vi?” Dinara melongo. “Emm benar tebakanku! Sampai kapan Gana akan membuatmu seperti ini?!” ujarnya.
“Seperti ini? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja.”
“Yah, mudah-mudahan memang benar kamu tak apa-apa. Jangan sampai gara-gara dia, kamu menutup mata dari kenyataan.”
“Maksudnya?” Tanya Dinara heran. “Iya, bukankah kenyataannya kalian memang tidak pernah ada hubungan apa-apa? Dan
entah perasaan seperti apa yang membuatmu begitu menggilainya. Cinta, penasaran, atau hanya obsesi?” Jleb. Hati Dinara bergetar mendengar perkataan Aivi itu. Ia tidak tau kenapa, ada rasa sakit yang mengiris hatinya. Ia ingin menangis mendengarnya. Tapi, sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Pilu rasanya. “Di, kau baik-baik saja?” Aivi menatap Dinara dengan raut khawatir. “Mmh. Iya.” Dinara mengangguk. Tapi ia bohong. Hatinya sama sekali tidak baik. Baginya perkataan Aivi itu adalah suatu pukulan maha dahsyat yang langsung menyadarkannya akan suatu ketidakpastian. Batinnya menangis. Menyedihkan sekali
rasanya. Benar kali ini ia terluka. Ini kenyataan.
Aivi telah membangunkannya dari mimpi-mimpi itu. Tapi, Dinara tidak bisa jujur pada dirinya sendiri. Dinara tidak ingin mengiyakan apa yang telah Aivi katakan.tiga tahun mencintai Gana dengan caranya sendiri rasanya cukup membuat ia hampir gila. Tapi, Dinara sangat menyenangi kegilaannya itu. Ia tak bisa dengan mudah kembali sadar dan melepaskan cintanya.
Dinara hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang kelu itu. Ia hanya sedang berpikir saat ini. Berpikir tentang kata-
kata Aivi tadi. Berpikir tentang dirinya, Gana dan perasaannya. Dan juga berpikir tentang sahabatnya itu, Aivi.
–. Kenapa Aivi bisa berkata dan berpikir seperti itu? Kenapa baru sekarang dia berkomentar seperti itu setelah beberapa lama kami bersama? Apa dia telah begitu jengah dengan kegilaanku itu hingga dia bepikir seperti itu? Atau apakah memang cintaku pada Gana begitu salah di matanya? Kenapa? – Dinara merasa heran pada sahabatnya itu. Batinnya terus bertanya-tanya. Dinara merasa
tak ada yang salah dengan perasaannya pada Gana. Ia hanya ingin mencintai seseorang seperti itu. Ia hanya ingin jadi seorang Dinara
yang dengan segenap cinta dan doanya berhasil menjaga hatinya hanya untuk seorang Gana saja.
–. Lalu kenapa Aivi membuatku terlihat begitu menyedihkan? Hei, aku tak pernah merugikan siapapun dengan perasaanku itu. Pun aku tak pernah merasa dirugikan sedikitpun oleh cintaku itu. Lagipula, aku yakin Gana tak pernah keberatan dengan keberadaan hatiku yang tak pernah menjamahnya sedikitpun. Tak
pernah pula aku berusaha menyentuh hati Gana. Aku hanya mencintainya dari sudut terindah yang bisa kurasa, dengan tetap
membiarkan Gana aman dan nyaman dalam dunianya sendiri. Lalu, apa yang salah? –
Aah, Dinara tidak bisa berpikir terlalu banyak lagi. Hatinya masih ngilu. Mungkin Aivi hanya terlalu sayang padanya. Iya mungkin begitu. Satu hari, dua hari, tiga hari, beberapa hari
berlalu. Hari-hari Dinara berlalu seperti biasa. Tapi, hari-harinya jadi terasa menjemukan sekarang. Entah kenapa. Ia merasa kehilangan sedikit kebebasan untuk merasakan dalam-dalam getaran cintanya pada Gana. Yah, semenjak Aivi melontarkan ‘unek-uneknya’ tentang kegilaannya itu, Dinara merasa sedikitnya ada yang membatasi kebebasannya. Tapi, mungkin saja Aivi benar. Ia sama sekali tak marah pada sahabatnya itu. Tidak. Sungguh. Ia hanya merasa perlu waktu yang lama – entah seberapa lama – untuk mencerna perkataan Aivi lalu kemudian
memahaminya. Dinara merasa apa yang dikatakan Aivi memang benar, yakni antara dia dan Gana tak sedikitpun ada hubungan apa-apa, tapi apakah salah jika ia mencintai Gana dengan caranya sendiri? Hanya itu.
To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope Suara merdu Mandy Moore melengking indah dari ponsel Dinara. Nada dering untuk panggilan masuk. Dinara membuka flap ponselnya.
“Di.. hallo.. kau baik-baik saja?” “Hallo.. assalamualaikum Aivi. Tak biasanya kamu menelpon. Ada apa?” “Eh, waalaikumsalam. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tanya, apa kamu sudah
melupakannya?” Deg. Apa? Apa yang baru saja Aivi tanyakan?
Dinara benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh. Tak semudah itu melupakannya, Aivi. Dinara berkata-kata dalam hatinya. Belum
sempat ia menjawab, Aivi sudah nyerocos di ujung sana. “Kamu harus melupakannya. Sudah cukup Di. Cinta itu bisa merusakmu, melenakanmu. Kamu harus melupakannya. Ah, Ya Allah. Bagaimana caranya menghentikanmu? Apa sesulit itu? Sungguh. Kumohon lupakan dia. Kamu harus memulai semuanya dari awal. Bukalah mata dan hatimu Di. Lupakan dia.”
– Ya Allah. Kenapa Aivi bersikap seperti itu?
Kenapa? Apa dia tak tahu kalau yang ia katakan membuatku sakit. Benar-benar membuatku sakit. Sungguh. Tak semudah itu.–
“Hallo.. Di? Kau masih di sana? Kau baik-baik saja?”
“Mmh. Aku akan mencobanya.” Dinara menjawab sekenanya.
“Bagus. Aku selalu ada untukmu. Sudah ya. Assalamualaikum.”
Tut. Sambungan terputus. Waalaikumsalam. Dinara mendesah pelan. Ia masih memegang ponselnya. Lagi-lagi dia merasa sulit untuk mencerna dan kemudian memahami apa yang sudah Aivi katakan barusan. Selalu begitu. Logikanya selalu berfungsi lebih lambat dibandingkan perasaannya. Ia hanya bisa meneteskan air mata. Rasa sakit – tentu saja rasa sakit yang diakibatkan oleh perkataan Aivi tempo lalu – yang sudah hampir bisa ia lupakan, kini kembali hinggap di hatinya.
– Ya Allah.. apa selama ini aku terlihat seperti orang tak waras? Kenapa Aivi bersikeras bersikap seperti itu? Apa dia sudah benar-benar jengah melihat kegilaanku itu? Ya Alloh..
apa yang salah dari semua yang aku rasakan selama ini? Dan apa? Aivi berkata kalau cinta ini bisa merusakku, melenakanku? Tidak. Sama sekali tidak. Cinta ini justru menguatkanku. Mengubahku menjadi lebih baik. Memberiku harapan di setiap hariku. Memberiku nafas untuk tetap bertahan dalam kesendirian.
Memberiku semangat dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Dan yang terpenting, cinta ini selalu mendekatkanku pada-Mu. Ya
Allah.. apa Aivi tak tahu semua itu? Melupakan Gana bukanlah hal yang mudah dan memang bukan hal yang aku inginkan. Tidak sama sekali. –
Pandangan Dinara kabur. Ia bukan hanya meneteskan air mata, tapi menangis sesenggukan. Ia memegang dadanya. Ada
yang sakit di sana. Benar-benar sakit. Ia melangkah menuju meja belajarnya. Ia lalu membuka tas yang tergeletak di sana. Direngkuhnya sebuah sapu tangan kotak-kotak biru muda. Ada tulisan kecil di salah satu sudutnya. Gana.
– Apakah aku benar-benar harus melepaskan
semua perasaanku padamu? Apakah aku tak boleh lagi mencintaimu – meski pastinya kau tak pernah tahu hal itu? Apakah aku harus mengubur dalam-dalam semua harapanku
tentangmu? Tapi, aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Meski hanya untuk satu kali lagi.
Meski hanya untuk beberapa detik saja. Itu tak apa. Sungguh. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Gana. Berterima kasih untuk semuanya. Ya. Aku belum sempat melakukan itu. –
Dinara bergumam lirih sendirian. Didekapnya sapu tangan itu erat-erat. Lalu, pikirannya beralih ke suatu malam, tiga tahun silam. Saat ia masih berusia tujuh belas tahun. Saat ketika
ia belum seperti sekarang. Saat dimana satu hal berhasil mengubah hidupnya. Saat itu, Dinara tengah berjalan sendirian Ketika seorang om-om mencoba merayunya untuk ikut bersamanya. Bagaimanalah om-om itu tidak bersikap demikian, penampilan Dinara saat itu lebih mirip dengan wanita malam. Ditambah pula ia berjalan sendirian di kala malam telah sepenuhnya pekat. Mana ada wanita baik-baik keluyuran tengah malam dengan penampilan seperti itu coba? Dinara mati-matian menolak – karena memang
dia toh bukan wanita malam yang dikira om-om itu -, sementara si om-om mati-matian memaksanya. Dinara berteriak meminta tolong. Dan di saat itu, seorang pemuda – yang entah kebetulan lewat atau memang telah sengaja dikirim Tuhan – mendekati Dinara yang sedang berusaha melepaskan diri dari si om-om.
“Tolong lepaskan dia Pak. Dia ini adik saya. Dia wanita baik-baik dan bukan wanita seperti yang Bapak kira. Sungguh Pak, dia wanita baik-baik. Hanya saja, dia belum cukup dewasa.
Tolong jangan ganggu dia Pak. Bapak akan menyesal jika melakukannya.” Pemuda itu berkata dengan nada memohon pada si om-om. Si om-om yang entah kenapa merasa percaya dengan yang dikatakan pemuda itu langsung melepaskan Dinara. Ia bergegas meninggalkan tempat itu sambil bersungut-sungut, “Urus adikmu itu. Mungkin lain kali ia tak akan selamat jika masih seperti itu.” Pemuda itu hanya mengangguk.
Suasana malam itu begitu sunyi dan lengang. Dinara yang merasa shock dengan kejadian itu menangis sesenggukan di tepi jalan. Pemuda itu menghampirinya dan mengeluarkan sehelai
sapu tangan dari dalam saku celananya dan mencoba menenangkan. Dia kemudian membawa Dinara ke dalam mobilnya dan mengantarkan Dinara pulang. Ia lalu menanyakan alamat gadis itu. Tak berapa lama, mobil pemuda itu sampai di depan sebuah rumah mewah. Rumah Dinara. Mereka berdua lalu turun dari mobil itu.
“Aku bukan wanita seperti itu.” Ujar Dinara yang masih menangis. “Om-om tadi atau pria manapun pasti tidak akan berani mengganggumu jika kamu tak keluyuran tengah malam begini dan
penampilanmu tak seperti itu. Tapi, aku percaya kamu wanita baik-baik. Sungguh.” Pemuda itu kembali ke mobilnya. Meninggalkan Dinara yang masih terpaku. Mobilnya melesat
menjauh dari hadapan Dinara. Dinara tersadar. Dia melihat sekeliling dan mendapati ia sendirian disana. Lalu, dia melihat
sapu tangan di genggaman tangannya. Sapu tangan kotak-kotak biru muda. Pandangannya tertuju pada tulisan yang dijahit dengan
benang hitam di salah satu sudut sapu tangan itu. Gana. Hatinya berdesir halus ketika mengingat pemuda yang baru saja
menolongnya itu. Pemuda baik hati yang sama sekali tak dikenalnya.
Sejak saat itu, Dinara berubah. Gaya hidupnya,
penampilannya, tingkah lakunya, tutur katanya, pemikirannya. Semuanya berubah menjadi lebih baik. Sungguh, kekuatan cinta
yang begitu indah. Bertahun-tahun ia selalu berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan pemuda yang telah menyelamatkan
hidupnya itu. Ia selalu ingat kalau ia belum sempat berterima kasih pada pemuda itu, hingga saat ini.
To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope Panggilan masuk. Bayangan masa lalu itu
kemudian memudar. Dinara menyeka air matanya. Lalu ia membuka flap ponselnya.
“Assalamualaikum Aivi. Kenapa lagi?” “Waalaikumsalam. Aku lupa memberitahumu Di. Minggu depan, datanglah ke rumahku. Ada syukuran. Oya, aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Seseorang yang sangat aku sayangi. Emm kamu pasti menyukainya. Ah hati-hati, kau bisa mencintainya. hehe”
“Kenapa?” “Ya, karena dia memang pantas disukai,dicintai. Sudah ya. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.”
Dinara menghela nafas. Akhir-akhir ini ia lebih sering menghela nafas. Entah kenapa. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Aivi barusan.
– Mengenalkanku pada seseorang yang sangat ia sayangi? Menyukainya? Mencintainya? Siapa? Syukuran? Ah, iya. Jangan-jangan Aivi akan dilamar. Seseorang yang ia maksud adalah calonnya barangkali. Iya. Begitu sepertinya. Tapi, kenapa dia tak pernah bercerita sebelumnya padaku? Ah, sahabat macam apa aku ini? Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Aivi selama ini. Mungkin, karena aku terlalu sibuk dengan kegilaanku itu. Ya Allah.. Aivi, maafkan aku. –
Seminggu berlalu begitu cepat. Tapi, bagi Dinara waktu jadi terasa begitu lambat. Itu karena perasaannya sedang begitu tak
menentu. Yah, begitulah. Dinara sudah sampai di depan rumah Aivi. Banyak mobil berjejer di sana. Sepertinya, semua keluarga besar Aivi sedang berkumpul untuk acara syukuran itu. Dinara melangkah masuk ke rumah besar itu. Pandangannya langsung tertuju ke dalam rumah. Banyak orang di dalam sana. Dan, Ya
Allah.. jantung Dinara hampir berhenti berdetak. Nafasnya tiba-tiba sesak. Ia melihat Aivi di sofa ruang tamu. Tapi, perhatiannya bukan tertuju pada sahabatnya itu, melainkan
pemuda tampan di samping Aivi. Pemuda itu, Dinara yakin pernah melihatnya. Ya, bagaimana mungkin ia lupa? Tapi, kenapa
pemuda itu ada di sini? Dan.. dan.. pemuda itu terlihat begitu dekat dengan Aivi. Apa mungkin? Dinara tiba-tiba langsung
memegang dadanya. Ada yang menggerogoti hatinya lagi. Dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya.
– Bagaimana mungkin seperti ini Ya Allah? Kenapa harus Aivi? Kenapa Aivi harus bersama Gana? Dan, mereka terlihat benar-benar akrab. Mereka sedang bercanda. Aivi tersenyum,
tertawa. Itu sempurna ekspresi bahagia dari Aivi. Bagaimana mungkin? Ya Alloh. –
Dinara masih mematung di depan pintu. Kakinya lumpuh seketika. Matanya perih. Sungguh perih. Tapi, bagaimanalah ia akan menangis di saat seperti itu? Beribu pertanyaan menyesaki benaknya satu per satu. – Apakah ada yang pernah merasakan ketika senyuman orang lain nyatanya justru membawa luka di hati kita? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika
tawa orang lain tak sadar justru membuat air mata kita terjatuh? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika kebahagiaan orang lain sebenarnya tidak – sama sekali tidak-
membuat hati kita bahagia juga? Aku pernah.
Ya. Aku pernah merasakan itu semua. Di sini. Saat ini. Entah perasaan macam apa namanya. Yang jelas, ini sungguh menyakitkan. –
“Dinara.. kamu sudah datang? Ayo sini.” Suara Aivi tiba-tiba menyadarkan Dinara yang sedang terpaku. Aivi menghampiri Dinara dan membawanya masuk. Entah kenapa, Dinara
merasa sulit untuk melangkahkan kakinya. Dengan enggan akhirnya ia menapakkan kakinya selangkah demi selangkah. Mereka lalu duduk tepat di hadapan pemuda itu. Pemuda
itu tersenyum manis pada Dinara. Hati Dinara semakin ngilu.
“Bagaimana, kau menyukainya bukan?” ujar Aivi sambil menepuk pundak Dinara. Dinara tak berani menjawabnya. Andai saja Aivi tahu, pemuda itu adalah pangeran hati Dinara selama tiga tahun ini. “Bagaimana, kau menyukainya bukan?” Aivi
melontarkan kembali pertanyaan yang sama. Namun, kali ini bukan pada Dinara. Melainkan pada pemuda di hadapannya. Pemuda itu hanya tersenyum. Wajahnya memerah. Dinara
masih tak mengerti.
“Namanya Rudi Lenggana putera. Dia saudara sepupuku. Ah, kamu pasti tak ingat? Ya, mana mungkin. Selama ini kau sibuk dengan Ganamu itu. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu beberapa kali? Rudi, saudara sepupuku yang sejak tiga tahun lalu kuliah di Turki dan sudah punya pekerjaan tetap di sana. Ya ampun Di, kamu benar-benar tak pernah mendengarkan ceritaku sepertinya.” Seperti biasa, Aivi nyerocos tanpa
memperhatikan respon si pendengar. Sementara itu, Dinara merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia masih juga
tak bersuara.
– Sepupu? Bukan calon suami? Ya ampun, kenapa aku begitu cepat menyimpulkan? – “Kau tahu Di? Aku sangat menyayanginya. Dia lelaki baik dan pantas mendapatkan yang baik pula. Dulu dia pernah menyukai seorang wanita yang ditemuinya suatu malam di jalan kota. Dia bilang dia tak bisa melupakan gadis itu. Tapi, untunglah Rudi tak sepertimu yang
sulit sekali melupakan Gana. Dia langsung menyukaimu ketika pertama kali aku menunjukkan fotomu 2 tahun lalu tahun lalu. Dia semakin menyukaimu sewaktu aku bercerita banyak tentang kamu. Setiap kami berkomunikasi, dia selalu menanyakan
kabarmu dan memintaku bercerita tentangmu, semua hal tentangmu. Tapi, dia melarangku memberitahumu. Dia ingin agar kamu tetap seperti itu, menggilai Gana. Dia tak ingin mengusik kegilaanmu itu katanya. Tapi sewaktu dia pulang dari Turki minggu lalu, dia akhirnya memintaku untuk mengenalkanmu
langsung padanya. Karena itu aku bersikeras menginginkankau melupakan Gana. Aku pikir, kamu pasti akan menyukai sepupuku ini. Kalian sangat cocok.”
Dinara masih diam. Tapi, kali ini rasa sakitnya berangsur hilang. Tergantikan oleh perasaan yang entah apa namanya. Bahagia, terharu dan apalah itu. Yang ia pikirkan hanyalah
bagaimana mungkin ini terjadi? Sementara itu, pemuda di hadapannya bersemu merah. “Aku suka nama Gana. Aku ingin dipanggil begitu. Sungguh. Ah, tapi tak ada yang tahu hal itu. Semua orang malah memanggilku Rudi.” Pemuda itu terdiam sesaat. Lalu dengan terbata ia melanjutkan. “Emm.. Apa.. apa kamu mau ikut bersamaku ke Turki? Tentunya, setelah kita menikah di sini.” Pemuda bernama Rudi Lenggana itu baru saja mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin ia sampaikan
pada gadis dihadapannya. Gadis yang sudah ia sukai sejak pertama kali bertemu tiga tahun lalu di suatu malam ketika ia menikmati malam terakhir di kota kelahirannya sebelum ia
berangkat ke Turki.
Perasaan lega, cemas dan bahagia bercampur aduk di hatinya.
Dinara tak kuasa menahan air matanya terjatuh kali ini. Biarlah semua orang melihat ia menangis saat ini. Karena toh selama ini tak ada yang tahu bagaimana ia menangis dalam kesendiriannya, bagaimana ia menangis menahan semua perasaannya, bagaimana ia menangis di setiap harapan yang ia panjatkan dalam doa-doanya. Biarlah.
Dinara mengeluarkan sapu tangan kotak-kotak biru muda bertuliskan nama Gana – yang selalu ia bawa kemanapun – dari tas tangannya. Sambil mengangguk ia berikan sapu tangan itu
pada pemiliknya. “Terima kasih, untuk semuanya.” Ujarnya lirih sambil berurai air mata. Pemuda itu tersenyum saat menerima
kembali sapu tangan miliknya. Aivi melongo melihat pemandangan di hadapannya. “Ya ampun, jadi selama ini?”

Dan ketika harapan yang kita panjatkan dalam setiap doa-doa kita tak langsung dijawab-Nya dengan kata Ya atau Tidak, maka
sesungguhnya Ia menjawab, “Tunggu, Aku akan berikan yang terbaik untukmu pada waktunya.”
#Iipok #NovelSunyi #JCDD
Selamat Membaca para perasa....
By
Siti Khopipah Aliskandar :)

perubahanmu melukaiku

Waktu yang mempertemukan kita berdua. Aku di sini sedang melukis pemandangan yang kuanggap menarik, tapi entahlah ada hal yang terus mengganjal di hatiku, lalu aku menengadahkan kepalaku, saat itu aku melihat sesuatu didepanku, badanku gemetar. Lalu aku berdiri, dan menjatuhkan kertas dan beberapa alat lukisku. Aku melihatmu, ya aku melihatnya! Dia yang selama ini kucari ternyata sekarang berada tidak jauh di depanku, aku hendak melangkah ke arahnya, tetapi entah mengapa disaat aku hendak melangkah, aku melihat dia sedang menggenggam erat tangan perempuan. Tiba-tiba jantungku berhenti seketika, dan menyaksikan pemandangan yang kelam itu. “Aku menyukaimu.” Katanya. Lalu perempuan itu tersenyum, “Aku juga.” “Bisakah kita memulainya dari sekarang?” pintanya. Perempuan itu pun mengangguk dan tersenyum lalu dia memeluk erat perempuan itu. Tiba-tiba tanpa sengaja, air itu mengalir dikedua pelopak mataku, aku menjatuhkan badanku ke tanah dan hanya lututku yang bisa menahannya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku kecewa dengan kenyataan yang berada di dekatku. 4 tahun yang lalu “Kamu janji kan tidak akan melupakan aku?” pinta Rehan sambil menggenggam tanganku. Aku mengangguk yakin. “Kamu harus ingat ya, aku akan kembali lagi, aku akan mengajakmu berlari bersamaku lagi. Kamu jangan melupakan aku, kamu harus ingat ini janjiku dan aku akan segera menepatinya.” “Tapi kenapa kamu harus pergi?” tanyaku sedih. “Aku ingin menggapai mimpiku dan mimpimu, aku akan mengambil jurusan kedokteran di Universitas yang berada di Amerika, dan aku akan menyembuhkan kakimu, agar kamu dapat berlari bersamaku lagi.” “Kalau begitu, aku akan mengizinkan kamu pergi, baik-baik di sana ya, jangan lupa jaga kesehatan.” Kataku. Rehan pun mengangguk lalu memelukku dan mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak tau apa alasan Rehan pergi, yang aku tau mungkin ada hal penting yang harus ia selesaikan dan aku percaya itu karena aku yakin Rehan akan kembali lagi, dan dia akan mengajakku berlari. Tekadku sudah bulat, aku akan menemui Rehan. Aku mendapatkan informasi dari teman lama Rehan, bahwa Rehan sekarang bekerja menjadi dokter spesialis jantung. Ya, impiannya yang selama ini ia ceritakan kepadaku ternyata tercapai juga. aku ingin memastikan jika kemarin yang aku lihat itu bukan Rehan, melainkan orang lain yang mirip dengan Rehan. Aku memegang kertas yang bertuliskan alamat Rumah Sakit tempat Rehan bekerja. Saat aku hendak masuk ke dalam rumah sakit itu, tanpa sengaja aku melihat Rehan ke luar dari rumah sakit itu. aku memberanikan diri untuk menyapanya. “Rehan.” Kataku dengan lirih. Rehan pun mengadahkan kepalanya dan menatapku dengan sorotan tak percaya, akupun mulai mendekatinya, lalu tanpa pikir panjang lagi Rehan memegang lenganku dengan kasarnya dan menyeretku ke arah parkiran yang berada di bawah. “Mau apa kamu ke sini?” tanya Rehan dengan kasar. Nadanya bicaranya seperti bukan Rehan yang aku kenal dulu. “Rehan? Kenapa kamu jadi begini?” aku pun menyimpan tanganku di pipi Rehan, dan Rehan pun menepis tanganku. “Aku?! Hahaha, kamu tanya sejak kapan aku jadi begini?! Baiklah aku akan menjawab pertanyaan kamu. Mulai sekarang kamu menjauhlah dariku, dan jangan anggap aku Rehanmu lagi! Dan perlu kamu ingat aku bukan Rehan yang dulu kamu kenal, sekarang aku Rehan yang berubah menjadi iblis. Kamu puas?!” “Ta… tapi 4 tahun yang lalu kamu kan janji, bahwa kamu akan kembali untukku lagi dan berlari bersamaku lagi? Kenapa selama ini kamu bohong? Aku sudah bersedia menunggumu! 4 tahun bukan waktu yang sebentar! Tapi kamu mematahkan semuanya, harapan yang kamu berikan semuanya pupus.” ucapku sambil menangis tersedu-sedu. “Heh pincang, kamu seharusnya sadar diri, lihat kakimu yang pincang itu! melihatnya saja aku sudah muak, aku ingin muntah. Sudahlah ucapan basi yang dulu aku ucapkan anggap saja itu tidak pernah aku ucapkan!” “Tapi aku ingin mendengar apa alasan kamu, sehingga kamu bisa menjadi seperti ini?” “Jika kamu ingin mendengarnya, dulu saat aku mengambil universitas kedokteran di Amerika aku begitu semangat ingin menjadi dokter karena kamu! Karena aku ingin mengobati kakimu yang pincang itu agar bisa berlari, tetapi saat aku sudah lulus aku pun menemukan seseorang yang bisa menggerakan hatiku, seseorang itu lebih dari kamu. Dia cantik, pintar, dan juga saat aku mengenalnya lebih dalam, dia mempunyai seorang ayah yang menjadi dokter terhebat yang berasal dari Korea, aku pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, dan aku pun mulai mendekatinya hingga aku mengenal ayahnya, dan semenjak saat itu aku menjadi dokter terkenal seperti sekarang berkat perempuan itu, hahaha.” “Kamu jahat, Rehan!” “Memang! Hahaha. Sudahlah aku tidak mempunyai waktu lagi.” Aku hanya bisa terdiam dan melihat punggung orang yang aku cintai berlalu pergi hingga aku tak melihat apa-apa lagi di depanku. 4 tahun? Waktu yang sangat sangat lama sekali, aku menunggunya, menantinya, ternyata semuanya pupus sudah, aku lelah, aku capek, aku ingin pergi dari kenyataan ini, aku tidak ingin hidup, aku ingin mengakhiri semuanya, tetapi sulit sekali, apa aku hanya akan menjadi perempuan yang tidak berdaya? Seperti makanan yang sudah basi. Buang-buang waktu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak aku pikirkan, melelahkan? Sangat! Tetapi apa daya? Semuanya sudah terjadi, apa hanya sabar yang bisa membayar semua kesakitan ini? Pertemuan ini menjadi keraguan bagiku, ternyata aku salah, seharusnya sedari dulu aku sudah melupakannya, tapi hatiku menentang semuanya, aku bingung mengapa semuanya harus terjadi sesakit ini? Apakah masih ada harapan untuk menyusun kembali pecahan-pecahan ini? Apa bisa utuh kembali? Entahlah, manusia hanya bisa berharap, dan berdoa kadang tidak bisa berusaha, tetapi aku akan berusaha untuk melupakannya! Ya aku pasti bisa melupakannya dan terus berjalan tanpa pernah menengok ke belakang. #Iipok #ilizyamiBySecretAdmirer

pelukmu

ada jam yang hampir menyentuh sepuluh malam , tidak banyak yang bisa aku lakukan di sisa-sisa kekuatan aku mengerjakan novelku, selain membaca ulang percakapan kita di Whatsapp. Percakapan terakhir kita terjalin seminggu lalu. Ini yang kubenci darimu, kamu selalu memintaku untuk menghubungiku lebih dulu, sedangkan sebagai perempuan-- aku lebih ingin dihubungi lebih dulu. Aku mencoba menguatkan diri, untuk pada akhirnya menghubungimu lebih dulu, betapa sulitnya untuk meredam gengsi agar bisa menghubungi, namun setelah aku lakukan itu, kamu tidak membalas apapun, dan hilang lagi . Aku menyimpan tanya, lalu apa maumu kali ini setelah segala gengsi telah kubunuh hanya demi tetap memelukmu lewat tulisan? Kakak Sayang, Saat aku menanyakan alasan, kamu selalu berkata, kamu ingin aku terlindungi dalam persembunyian kita. Aku hanya mengangguk setuju, bukankah sebagai yang disembunyikan, aku tidak boleh menuntut banyak? Percakapan itu berakhir dengan pelukmu yang semakin erat. Kamu menceritakan apapun yang terjadi hari itu dan aku menceritakan bagaimana hari itu begitu menyenangkan karena aku berhasil menyelesaikan salah satu bab novelku. Kita berpelukan lekat sambil menunggu hujan reda, tidak ada yang bicara, hanya suara rintik hujan yang menyentuh atap. Aku tertidur di bahumu seakan tidak ada tempat yang lebih hangat selain bersandar di sana. Kamu punya daya dan upaya untuk membuat aku tenang. Kamu selalu tahu caranya mendiamkan iblis dalam diriku, itulah mengapa aku begitu jatuh cinta pada malaikat sepertimu, si malaikat berwajah iblis yang memegangi buku cerita dan rokok dengan senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu. Koko, beberapa hari ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai yang tak kamu pedulikan aku hanya mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa panjangku. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat rindu pelukmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hanya satu sentimeter dari telingaku? Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa membuatku bahagia, dengan memelukmu dan dan melihat senyummu -- itu jauh dari kata cukup. Tidak sulit untuk membuat aku bahagia, Kakak Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam. Aku merindukanmu pelukmu dan merindukan suaramu, hanya itu yang aku tahu. Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat untukku, itupun aku percaya saat aku memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan; kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana. Sayang, kamu tahu kita tidak berpindah ke mana-mana, yang kamu tahu aku hanya perempuan yang jelas tidak akan menuntut apa-apa selain pelukmu yang mampu menghangatkannya. Kaka , kamu begitu paham, bahwa tidak akan ada kebahagiaan di antara kita, hanya kesenangan sesaat lalu kamu akan pergi tanpa jejak. Mungkin, bagimu, aku begitu lumrah untuk disakiti, lalu aku akan segera terobati dengan novel yang segera aku tulis setelah patah hati. Maaf, Sayang, kamu salah besar. Perempuan tidak bisa kamu samakan dengan logika yang kamu gunakan, logika laki-laki. Aku tidak pernah menyesal telah menjadi perempuan yang menggunakan perasaan dalam banyak hal, aku tidak pernah menyesal telah memelukmu, aku tidak menyesal pernah tertidur di pundakmu, aku tidak menyesal mendengar detak jantungmu yang memburu, aku tidak menyesal mengecupmu, aku tidak menyesal adanya cinta di antara kita. Tapi, ada satu hal yang aku sesali, mengapa ketika aku sudah memberikan segalanya, namun kamu hanya memberiku seperlunya. Aku mencintaimu. Kamupun tahu itu. Namun, aku tidak akan jadi siapa-siapa bagimu. Kamupun tahu itu. Sebelum semua berakhir lagi dalam kata pisah, bisakah kita habiskan sisa waktu yang kita punya hanya untuk membuatku bahagia dengan pelukmu? Aku tidak tahu daya magis apa yang terkandung dalam pelukmu, di sana aku bisa menangis sejadi-jadinya, ataupun tertawa segila- gilanya. Hanya itu yang kurindukan, karena seperti yang aku bilang, aku tidak hendak memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk sebuah pertemuan nyata. Aku mencintaimu bagaimanapun dirimu. Aku tetap mencintaimu, meskipun ada asap beracun ditanganmu. Aku tetap mencintaimu, walaupun kencan termewah yang pernah kita lakukan hanyalah makan Rice Bowl di Cibinong City Mall. Aku masih mencintaimu, meskipun berhari-hari kamu tidak menghubungiku lebih dulu. Aku sungguh mencintaimu, meskipun kamu selalu membuatku menunggu. Kamupun mencintaiku pasti karena penuh dasar. Kamu masih mencintaiku, mencintai kekuatan yang aku miliki untuk bersabar, bahkan saat puluhan temanmu mencaci aku dan melumuri aku dengan segala fitnah yang menyedihkan. Kamu mencintaiku karena aku tidak menuntut banyak hal darimu. Kamu mencintaiku karena suaraku selalu berhasil membuatmu tidur, terutama jika aku memperdayai kamu dengan lagu Somewhere Over The Rainbow atau lagu Raisa yang berjudul Kali Kedua. Kamu mencintaiku karena kita berbeda dalam segala, namun perbedaanku sepenuhnya mampu melengkapimu. Kamu mencintaiku, tentu karena aku hanya mampu menangis dalam pelukmu, ketika kamu berkata sudah punya kekasih. Kamu mungkin semakin mencintaiku di hari itu, saat berjam-jam aku hanya mampu menangis hingga mataku bengkak. Hari itu, mungkin duniamu menggelap, karena pada akhirnya kamu menyadari, ada orang yang sungguh mencintaimu, namun gadis itu datang di waktu yang salah. Aku adalah kesalahan yang ingin terus kamu ulang. Sementara kamu adalah kesalahan yang tidak ragu aku buat berkali-kali. Kita punya banyak kesamaan juga perbedaan, tapi perasaan yang memenuhi kita berdua mampu mengubah segala ledakan menjadi paduan suara termerdu yang pernah kita dengar. Suaramu adalah nada sumbang kesukaanku, tetaplah begitu sampai Tuhan mengizinkan kita kembali bertemu. Dan, di pukul delapan ini , sambil menunggu jam waktunya tidur, aku masih menyimpan harap-- bahwa kamu akan tiba-tiba muncul di depan mataku, hanya untuk mengucapkan 'selamat Malam'; seperti seminggu yang lalu. Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia dan tersenyum, Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tetap ikut aturan mainmu. Tetap bahagia dalam rahasia kita. Untuk pria bermata sendu, yang menyediakan "tempat persembunyian", paling menyenangkan ********** Aku rindu kamu, meski sebatas tulisan kak...