Selasa, 05 Desember 2017

Grey Sun Flower part12

*GSF* Part12
****
Setiap hari aku ketakutan dan bermimpi buruk. Aku takut membuka mata saat pagi hari, aku membayangkan hari itu sebagai hari terakhir yang diberikan tuhan kepadaku untuk bersama janwar.
** 
Dan tak terasa sudah 4 bulan aku berada disisi janwar,  menghabiskan waktu dengannya. Lucunya, selama empat bulan aku berada disampingnya aku menyadari sebuah fakta menarik. Semakin hari aku semakin menyadari janwar dan agung begitu mirip. Wajah mereka tak jauh berbeda. Mata mereka, rambut mereka..  Janwar dan kak agung seperti kakak beradik. Meskipun sifat mereka agak bertolak belakang. Janwar pendiam sedangkan kak agung kebalikannya.
Seperti yang dijanjikan, kak agung akan membawa menemuiku. Dia yang mengantar dan menjemputku ketika aku menjenguk janwar yang kini dirawat dirumah sakit. Kak agung juga sering menemaniku menjaga janwar.
Aku merasa tidak enak dengan kak agung karena tahu bagaimana perasaannya padaku. Saat berada disamping janwar aku tahu kak agung terluka melihat kami.
Aku sayang keduanya, aku ingin keduanya ada disini. Tapi bagaimana mungkin aku menyakiti perasaan kak agung terus menerus? Dia memang selalu bilang bahwa kondisi sekarang tidak akan mengubah apapun. Setiap hari dia katakan hal yang sama.
"Santai saja,  anggap saja kakak tidak permah ada dihadapan kamu. Karena kakak akan lebih tersiksa kalau kakak tidak tahu kamu lagi dimana,  dan sedang melakukan apa."
Katakata itu yang selalu diucapkannya setiap hari. Dia selalu bisa membaca pikiranku, selalu bisa menjawab semua pertanyaan dalam benakku. Itu membuatku merasa semakin bersalah dan berutang budi padanya. Dia tidak berhenti memaksaku agar menerima semua kebaikannya. Tak kupungkiri, kak agung adalah sahabatku yang sangat aku sayangi dan tanpa kusadari rasa sayang itu semakin besar.
     Sedangkan janwar,  ia tidak kunjung membaik. Badannya semakin kurus, nafsu makannya terus berkurang karena pengaruh obat yang diminum setiap harinya. Berkali kali aku memintannya agar dirawat dirumah sakit, tapi dia terus menolak. Setiap malam aku selalu menangis, takut keesokan paginya aku tidak bisa melihat janwar lagi.
Hingga suatu minggu pagi, aku baru saja hendak pergi ke rumah nenekku. Tapo belum sempat aku melangkahkan kaki, ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya ketika melihat nama yang muncul dilayar. Suara tante tiwi yang panik dan ketakutan membuatku segera berlari untuk pergi.
***
Dirumah sakit aku menyaksikan janwar berontak, menjenggut rambutnya, berteriak dan ia mengeluarkan airmata kesakitan, dan aku seoalah merasakan rasa sakitnya.
Setiap detik hatiku semakin menderita karenanya. Terlebih aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk meredakan sakitnya. Aku hanya mampu menggenggam tangannya yang mengejang dan mengatakan
"empat bulan masih bulum cukup untukku jan..... Kumohon."
Dia lalu menatapku, menatap dengan penuh kasih. Dengan sisa sia tenaganya ia berkata. "Berdoalah untukku ais, karena akupun belum siap meninggalkan kamu."
Kupejamkan mataku yang sudah basah oleh tangisan. Kugenggam tangannya erat dan terus melantunkan doa dalam hati. Setelah satu jam dia berperang dengan rasa sakit. Obat penenang dan penghilang rasa sakit yang disuntikkan  dalam tubuhnya mulai bekerja. Dia tertidur pulas diatas tempat tidur. Hingga sore dia belum bangun juga.
Aku tak mau beranjak sedikitpun. Ajakan kak agung, alviah,  dan fahri untuk mengajakku makanaku abaikan. Kak agung membujukku dengan berbagai cara agar aku mau ikut dengannya. Tapi kaki ini terasa sangat berat. Akuterus dusukdisamping janwar sambil memegangi tangannya yang dingindan semakin kurus.
Kesabaranku membuahkan hasil. Akhirnya janwar membuka matanya. Ia langsung tersenyum padaku.
"Hei... " sapanya.
"Heeii, sudah bangun." jawabku lirih dan membalas  senyumnya. 
"Kamu gak pulang? Ini sudah malam ais. Kamu daritadi siang disini terus kan?" ujarnya nyaris tak terdengar.
"Aku disini saja ya? Nemenin kamu." perasaanku benar-benar tidak enak. Kondisi kesehatannya sudah sangat memburuk. Aku tidak tahu kapan ia akan pergi dariku,  bisa kapan saja. Tapi yang jelas ada yang mengganggu perasaanku. Sesuatu menahanku disini.
"Pulang saja,  kamu harus istirahat. Aku gak mau kamu sakit." sarannya lembut.
"Enggak..  Atau paling tidak aku boleh disini sampai malam ya,  setelah itu aku pulang." aku memohon.
Ia tidak menjawab. Sejurus kemudian kak agung masuk keruangan.  Wajahnya langsung berubah cerah ketika ia melihat janwar sudah sadar.
"Sudah bangun, jan? Gimana keadaan lo?"
Janwar tersenyum mendengar perkataannya. Dia memegang kepalanya,  dan menyisipkan jarinya kerambutnya yang hitam.
"Sudah mendingan." jawabnya.
Firasatku mengatakan itu tidak sepenuhnya benar.  Kak agung memalingkan pandangannya kearahku.
"Ais pulang yuk, alviah sama fahri sudah pulang duluan tadi. Mereka kirim salam buat lo jan." serunya sambil menoleh kembali kearah janwar.
"Sekarang kan janwar sudah membaik. Lebih baik kamu pulang dulu, istirahat." saran kak agung padaku.
Aku langsung menatap wajah janwar. Wajahnya tampak puas karena berarti permintaanya akan segera terwujud. Janwar tahu aku tidak bisa menolak permintaan kak agung.
"Pulang yaaa... Istirahat yang baik dirumah." kata janwar lembut sambil mengusap tanganku dengan jemarinya.
Kak agung berjalan ke arah pintu.
"Kakak tunggu di diparkiran ya..
Jan gue pulang dulu,  cepet sembuh ya.. "
"Siiip...  Thanks ya.  Gue titip Ais ke lo." sahut janwar yang tampak berjuang agar suaranya terdengar lebih keras.
Kak agung pergi suara langkah kakinya terdengar menjauh.
Aku menatap janwar penasaran
"kenapa kamu ingin sekali aku pulang? Apa kamu gak mau kalo aku ada disini."
Ia menarik tanganku.
"Kamu pasti tahu aku akan menjawab apa untuk pertanyaan kamu itu." ia memelukku. Aku menenggelamkan wajahku didadanya yang ternyata hangat sekali. Padahal tangannya begitu dingin.
"Dada kamu hangat sekali." kataku.
"Itu karena kamu ada didekatku. Jantungku berdetak lebih cepat." aku hanya tersenyum.
"Ais,  apakah kamu sudah siap kehilanganku?"
Aku tidak suka dengan pertanyaannya. Janwar jarang menjaga perasaanku dan tidak pernah berbasa basi untuk membicarakan sesuatu. Bahkan tentang kematiannya
"Sampai kapanpun aku akan menjawab belum.
Jan kumohon jangan kamu tetus mempertanyakan hal ini lagi." jawabku.
Ia menarik nafas panjang.
"Tapi kamu harus siap ais."
"Kenapa kamu memaksa?"
"Aku hanya ingin kamu bersiap siap." nada bicaranya terdengar sedih.
"Agar rasanya tidak terlalu menyakitkan nanti."
"Walaupun aku bersiap siap. Kurasa rasanya akantetap sakit. Tidak ada bedanya.  Jadi buat apa aku bersusah susah."
Aku bisa melihat senyum kecewa diwajahnya yang tampan. Ia menatapku, dalam sekali.
"Mata kamu memang indah ya. Dan aku tidak akan pernah bisa memandang mata ini lagi." ia menyentuh alis dan sekeliling mataku...

NEXT

Tidak ada komentar: