Jumat, 22 Desember 2017

Grey SunFlower part34

*GSF* part34
**

Aku duduk di ruang tunggu pasien, menunggu giliran. Tak berapa lama seorang suster memanggil namaku dan akupun langsung masuk keruangan yang ditunjuknya.
"Goede mor.... " dokter itu terdiam ketika melihat wajahku.
Akupun hanya berdiri, terpaku pada sosok dokter yang ada dihadapanku sekarang. Sosok yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat. Sosok yang sangat kurindukan. Saat ku lihat wajahnya, ingin rasanya ku berlari dan memeluknya.
"Kak Aguuuung... " pekikku kaget.
"AAisyah.  " sahutnya, syok melihatku.
Aku tidak percaya ini. Sudah tiga tahun berlalu dan sekarang dia ada dihadapanku. Aliran darah bahagia langsung mengalir cepat dari jantung kepembuluh darahku. Kak agung menghampiri, aku langsung memeluknya. Sekarang dia sudah berbeda. Rambutnya tak lagi berantakan seperti dulu. Dia terlihat lebih dewasa dan tampan.
"Aku kangen banget sama kamu kak... " ujarku lirih.
Suster yang ada diruangan itu tampak bingung.
Kak agung melepas pelukanku lalu menyuruhku duduk
"Aku lagi kerja. Kamu sakit apa, ais? "
Aku sempat terdiam melihat wajahnya. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Aku benar-benar bahagia. Sangat bahagia.
"A... Aku mimisan parah semalam. Terus pingsan. "
"Sudah kuduga... " kak agung tertawa kecil.
Rasanya aneh dan canggung sekali. Setelah tiga tahun tidak bertemu, sekarang kami malah membicarakan masalah mimisan. Padahal ada ratusan pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Aku ingin marah padanya. Tapi lama berpisah membuat suasana diantara kami menjadi canggung.

Kak agung lalu memeriksaku dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kegiatanku sebelum aku mimisan. Kak agung bilang aku kecapean. Dia memberikan resep obat padaku. Setelah itu aku keluar dari ruangan praktiknya.

Aku menuju ruang tunggu. Aku tak ingin pulang sebelum bicara dengannya. Setelah dua jam akhirnya kak agung keluar dari ruangannya. Jas dokternya sudah diganti dengan jas abu-abu gelap. Saat itulah aku sadar bahwa dia kurusan. Matanya tidak secemerlang dulu. Sekarang mata itu tampak lelah. Wajahnya tak lagi segar. Seperti orang yang sedang sakit.
"Lhooo kamu masih disini? Kenapa gak pulang? Kamu kan lagi sakit? " dia berdiri dihadapanku.
"Pulang? Enak saja kamu bicara seperti itu."
"Kenapa. "
"Gimana mau pulang. Aku belum sempat nanya alamat rumah kamu atau paling tidak nomor telpon kamu. "
Kak agung duduk disebelahku sambil melonggarkan ikatan dasinya.
Aku meneruskan kata-kataku. Mengeluarkan semua isi hatiku.
"Tiga tahun aku sama sekali tidak mendapat kabar dari kamu. Aku hubungi nomor telponmu tapi tidak tersambung. Aku kirim email juga tidak ada balasan. Aku datang ke rumah kamu waktu alviah nikah. Katanya kamu sudah pindah. Aku kehilangan kamu kak. Kenapa kamu pergi tanpa kabar. Kenapa? "
"Hah?  Iya ya? " tanyanya seakan terkejut.
Reaksinya sama sekali diluar dugaan. Padahal aku yakin dia sengaja menjauhiku.
"Maaf ya. Selama ini aku kehilangan kontak kamu. Saat itu aku lagi seriua menyelesaikan kuliah lalu co-ass. Jadi tidak ada waktu untuk menghubungi kamu. Sorry ya.. "
Aku ingin marah saat itu juga. Kenapa dia berubah dingin seperti ini? Tapi aku tak punya hak untuk marah. Aku tidak mau memperpanjang masalah yang sudah lalu. Aku tidak ingin merusak pertemuan yang sudah lama aku impikan diisi dengan perdebatan.
"Terus kamu tinggal dimana sekarang? " tanyaku kemudian.
"Mmm, kamu ikut saja kerumahku. Gimana? "
Aku mengiyajan ajakannya. Hari itu mobil kak agung masuk bengkel. Jadi kami naik mobilku.

Rumah kak agung ternyata jauh dari rumahku. Tapi lumayan dekat dengan rumah imal.
Rumahnya berada di kompleks perumahan asri dan tenang. Bagian kulit rumah didominasi kayu bewarna gelap. Sedangkan bagian dalamnya dibuat kontras. Hampir semuanya dicat putih. Sekilas ruangnya tampak rapi dan terawat.
Aku duduk diruang keluarga, ia mengambilkan segekas susu cokelat untukku.
"Kamu seharusnya minum susu yang banyak kalau kamu kerjanya berat kaya yang kamu ceritakan tadi. Kenapa badan kamu masih kurus aja sih? Kayanya masih sama seperti tiga tahun lalu. "
Aku mendesah. Kak agung memang mirip dengan imal.
"Yang seharusnya minum susu itu kamu, bukan aku. Lihat tuh, badan kamu kurus kering. Lagian memangnya kamu peduli sama aku? Sekedar balas SMS saja kamu tidak sempat, kan? "
Ia tertawa hambar.
"Sejak kapan kamu tinggal disini? Kok gak pernah menghubungiku? "Tuntutku.
"Sejak setahun yang lalu. Aku lulus, co-ass di jakarta. Lalu bekerja disini. "
"Sudah setahun? Dan kamu sekali tidak menghubungiku? Padahal kamu tahu aku tinggal di belanda. Keterlaluan kamu kak. Sahabat sendiri kamu lupakan. "
Ungkapku dengan nada kecewa. Sebenarnya aku ingin menangis saat itu. Aku kesal sekali. Setahun? Dan dia tampak nyaman melupakan aku.
"Aku tidak bermaksud seperti itu ais. Kan aku sudah bilang. Aku sibuk. Sibuk dengan pekerjaan, sibuk beradaptasi, bagaimanapun aku masih asing disini. "
"Iya aku tahu. Aku juga masih asing disini. Aku juga udah kerja kaya kamu. Tapi aku masih sempat hubungi kamu. "
Ia terdiam. Aku jadi kesal. Alasannya benar-benar tidak bisa aku terima.
"Aku mau pulang. Aku sepertinya tidak mengenalmu lagi. Kamu bukan kak agung yang dulu. Sekarang kamu adalah Dokter agung yang super sibuk. "
Aku beranjak dari tempat dudukku, menyilangkan tasku dipundak. Dan berjalan mendekati pintu. Tapi tiba-tiba kak agung memelukku dari belakang.

"Aku rindu kamu aisyah.. Aku sangat rindu. Apa kamu tidak mengerti?  Untuk apa aku jauh-jauh kerja kesini kalau bukan karena kamu. " jelasnya lirih. Tiba-tiba airmataku jatuh.
Aku terenyak, mendengar pengakuannya membuatku menangis. Kalau saja dia tahu apa yang kurasakan selama berpisah dengannya. Setiap hari aku selalu merindukannya.
Aku menghela napas.
"Tapi kenapa kamu tidak mencoba menghubungiku kak? Kenapa? "
Ia melepaskan pelukannya. Dan membalikan badanku.
"Masalah itu, besok kita bicarakan lagi ya. Soalnya aku kurang fit. Jadi mendingan sekarang kamu aku antar pulang. "
Aku memegang dahinya. Agak panas.
"Waah.. Kamu demam kak. Sebaiknya kamu istithat saja ya dirumah. Aku kan bawa mobil, jadi tidak perlu dianter. "
"Serius nih? " tanyanya tak yakin.
"Padahal dulu aku harus siap sedia mengantarmu pulang. Ehh sekarang sudah tidak sudi diantar jemput kayanya. "
Aku mencubit pinggangnya.
"Sudah, gak usah pake ngeldek segala. Sana istirahat. Jangan telat makan. Besok aku mampir untuk melihat keadaanmu. "
"Hati-hati dijalan ais. Aku masih merindukanmu. " aku balas dengan senyuman.

Akupun pulang kerumah. Bertemu lagi dengan kak agung, tak kupungkiri membuatku bahagia setengah mati. Kak agung adalah hal yang paling kuinginkan saat ini. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dan mengobrol banyak dengannya besok..

NEXT

Tidak ada komentar: