*GSF* part38
Aku mengeluarkan ponselku dan menekan nomor yang seharusnya aku hubungi sejak tadi. Dalam beberapa menit imal sudah ada didepanku dengan mobilnya. Aku langsung naik kedalam mobil dan memeluknya.
"Kamu darimana sayang? " tanyanya lembut.
"Tidak darimana-mana, aku hanya berjalan-jalan sebentar tadi. "
"Kamu habis nangis ya? " ia menatapku penuh selidik.
"Enggak kok. Tadi kelilipin doang. "
Ia tersenyum sinis.
"Aku mengenal kamu bukan dari kemarin ais, aku sudah cukup pintar untuk membedakan mana yang menangis mana yang kelilipan. "
Aku hanya tersenyum.
"Kamu sudah makan?" tanya imal.
Aku menggeleng, sekaligus bersyukur karena ia sudah mengganti topik pembicaraannya.
Imal langsung melajukan mobilnya ke restoran miliknya. Kami memilih duduk di sudut favorit kami. Dari tempat duduk ini, kami bisa melihat pemandangan jalan.
Menunggu pesanan membuatku tersiksa. Rasanya seabad karena aku sama sekali tidak punya topik pembicaraan dengan imal. Pikiranku masih bersama kak agung dan ini membuatku merasa canggung bersama imal, pacarku sendiri.
"Aku mau menagih janji. "
Akhirnya imal membuka pembicaraan.
"Hah janji? Janji apa sayang? "
"Kamu dulu pernah janji akan menceritakan semuanya setelah aku bertemu dengan agung, sahabatmu itu. "
Kuminum jus pesananku yang akhirnya datang juga. Tak kusangka ia akan mengingat hal itu. Mendengar nama kak agung disebut, cukup membuatku gelagapan. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan napasku.
"Kenapa? "
Aku terdiam, cukup lama.
"Gak mau cerita? Its oke! Kalau begitu aku pulang saja. "
Dengan sigap aku menarik tangannya.
"Oke, oke aku cerita. Gitu aja ngambek. "
Aku menarik napas panjang lagi.
"Aku dan dia sudah lama sekali kenal. We have more stories. Kamu mau aku menceritakan yang mana? "
"Mmmmm... Bagaimana kalau kita mulai dari pertemuan pertama kalian, lalu berkenalan dan akhirnya menjadi sahabat. "
Aku tersenyum. Kejadian konyol yang sudah lama berlalu melintas dikepalaku.
"Semuanya berawal dari insiden tong sampah"
"Apa? Tong sampah? "
"Iyaa.. Kejadian itu sudah lama sekali. Tapi aku seringkali tertawa setiap kali mengingat kejadian konyol itu. Kamu sudah lihat kan, kalau kak agung itu tampan? Ketampanannya itulah yang membuatku menabrak tong sampah. Sebab kejadian itu kami berkenalan dan akhirnya menjadi sahabat. "
"Bagaimana hubungannya dengan adikku? "
"Walaupun mereka hanya kenal sebentar, dalam waktu yang singkat itu mereka sempat akrab. Aku tidak pernah sendirian saat menjaga janwar. Kak agung selalu setia menemaniku. "
"Lalu, apa yang menyebabkan dia tidak mau lagi bicara denganmu sampai tiga tahun lamanya.. "
Aku langsung mendongak menatap imal.
"Mmmmm ituuu... Ooh ituuu. "
Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-kataku.
"Aku pantas diperlakukan seperti itu. Dulu kami sangat dekat. Aku membutuhkan dia, brgitupun sebaliknya. Tapi menjadi sekedar sahabat ternyata tidak cukup baginya. Kak agung mempunyai rasa yang berbeda. Sayang aku tidak mempunyai rasa yang sama saat itu. Hingga aku menyakitinya begitu dalam. Aku meninggalkannya pergi kesini. Semuanya karena aku yang terlalu lemah dan tak mampu menerima kenyataan. Aku memang pantas menerima ini semua. "
"Apa perasaannya masih sama seperti dulu? "
Aku terkejut.
"Aku tidak tahu mal. " jawabku singkat.
"Lalu? "
"Lalu apanya imal sayang? Ya hanya itu. Hingga akhirnya kami bertemu lagi kemarin dan kami bersikap seakan tidak terjadi apapun. Semuanya sudah berbeda?. "
"Maksudku, bagaimana dengan kamu sendiri? Kan tadi kamu bilang, sayangnya dulu perasaanmu tidak sama dengan dia. Apa sekarang sebaliknya? Kamu mencintainya? Apakah kamu menyesal? "
"Hah? Maksudmu apa? "
"Iya, apakah kamu menyesal bahwa kamu sekarang sudah bersamaku. Apakah kamu menyesal karena sekarang kamu tidak lagi dengannya. "
"Kamu bicara apasih. Tidak ada satu hal apapun yang aku sesali. Apalagi hal itu menyangkut kamu. Aku mencintaimu mal, apapun yang terjadi. Kamu adalah salahsatu pria yang terbaik dalam hidupku. "
Imal tersenyum.
"Syukurkah, karena jujur aku tak akan sanggup kehilangan kamu sayang. " dia mencium tanganku lembut.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar