Jumat, 26 Juni 2020

malam yang sama

Tak ada yang meletup sebagai tawa, melebihi hening yang mulai terbiasa dan dingin yang dipermainkan.
Malam masih sama, selain hitam, sebagian membelah jalan dengan air hujan yang berjatuhan. Teras rumah masih sendirian, masih bisu, sepi tanpa kata. Rumput-rumput saling memeluk, mencoba menghalau embun yang mulai turun. Bukankah kita tak pernah tahu, mungkin saja daun tak pernah mencintai embun, ia hanya lembar yang tak bisa memilih, mencinta atau melepas.

Kau menyusuri jalan berbatu sepanjang tentang kenangan yang pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dan hambar ~

Jumat, 05 Juni 2020

satu hari bersamamu ~

Aku bahagia, teramat bahagia meski kita
tidak pernah benar-benar bersama.
Setidaknya aku pernah di sampingmu,
menemanimu bercerita berlama-lama, dibawah pohon Pinus yang rimbun. 
Kau begitu antusias menceritakan keluargamu, betapa senangnya kamu saat kita bertemu. Setidaknya aku pernah berjalan bersisiandenganmu untuk menuju tempat yang sama, menuju airterjun indah yang pertama kali kuajak kau mengunjunginya. Setidaknya kita pernah berbicara sepanjang jalan hingga tak terasa yang kita tuju telah ada di depan mata.
     Aku pun bahagia, bahkan efek
bahagianya masih terasa hingga hari ini.
ketika aku pernah membuatmu tertawa lepas saat aku menggodamu sambil bercanda. Kita bercengkrama, bahwa pertemuan selanjutnya pasti akan terjadi. Aku melihat sudut matamu yang begitu sendu, setidaknya aku bisa menikmatinya. Menyelami dan meraba betapa tulusnya perasaanmu. Setidaknya hari itu aku pernah membuatmu tertawa sesenang itu zam. Setidaknya aku pernah menciptakan satu hari spesial untukmu waktu itu. Yang paling penting dari itu semua, setidaknya aku pernah tahu satu hal tentang perasaanmu kepadaku ; kamu mulai mencintaiku Itu saja. 




Rabu, 03 Juni 2020

sudah tidak ada gunanya lagi ~

Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, di tempat ternyaman yang pernah tercipta karena kita saling membutuhkan. Saling mencari lantaran salah satunya tak memberi kabar. Saling rindu, hingga rindu itu terjelaskan dari tatap yang beradu setelah bertemu. Sudah tidak ada gunanya lagi di sini, di  tempat yang membuatku selalu ingin pulang dan kembali. Kini sudah hambar. Dan sekarang nyatanya aku masih tetap di sini, bukan bermaksud ingin bertahan lebih lama, lebih karena takut untuk memutuskan pergi.

Ya. Sudah tidak ada gunanya lagi di sini,
menjaga rindu sendirian, memupuk bahagia sendirian, peduli pada yang tak lagi memedulikan. Abai pada setiap momen-momen yang seharusnya dirayakan bersama ataupun ditangisi bersama. Apakah memang sudah saatnya pergi? Jika bersama seseorang yang sudah tidak sama lagi :')