Senin, 18 Februari 2019

Suatu hari nanti

Aku merindukan ketinggian berupa keinginan.
Untuk melayang jauh menuju tempat yang tak berada.
Dimana sebentuk cinta telah tersimpan, tersusun dan menunggu teramat lama.

Ketika kau bertumbukkan dengan tanah
Langit melukis wajahmu di angkasa.
Aku tersenyum, mengerti, meratapi.
Suatu hari kita akan bertemu kembali disana.

     -'Siti Khopipah Aliskandar-,

Menembus rindu



Mengawang, menerawang jauh. Barangkali hantu kamu ada disini, disekitarku. Seketika aku tersenyum, menatap, menembus kaca jendela. Menembus pagar, menembus waktu, menembus rindu :'(

              -, Siti Khopipah Aliskandar -,

Senin, 11 Februari 2019

Aku adalah rumah untukmu pulang zam

Aku pernah menunggu seseorang di sini. Bertahun-tahun lalu. Menyaksikan burung-burung camar yang pulang, kapal-kapal bersiluet, hingga akhirnya senja benar-benar saga, kemudian matahari terbenam."

"Kau patah hati?"

"Tidak. Untuk apa?"

"Seseorang yang kau tunggu tak pernah tiba membawa debar atau kabar, bukan?"

Gadis itu terdiam, sebentar. Kemudian melangkah ke depan pembatas jembatan. Raut wajahnya keruh. Serupa sungai-sungai lumpur selepas hujan. Ada gamang di sana, tergambar jelas.

"Aku tidak patah hati untuk seorang pria."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang terkenang."

Kita tidak benar-benar merindukan seseorang. Kita hanya merindukan saat-saat bersamanya, itu saja, percayalah. Pada tempat-tempat pernah dikunjungi bersama, misalnya. Sebuah cafe yang menawarkan aroma arabika terbaik dengan sentuhan latte dan iringan musik yang mengalun lembut, di sana, bersama seseorang yang senyumnya kita ingat paling hangat. Kadang kita merindukan momen yang sama, di tempat yang sama, meski mungkin dengan orang yang berbeda.

"Apa bedanya? Kau tak pernah bisa lupa."

"Kenangan bukan seperti benang layang-layang. Saat kita merasa muak, kita bisa memotong benang tersebut, kemudian menyambung dengan rangkaian yang kita inginkan."

"Aku tidak paham. Kau sekarang bicara layaknya seorang pujangga."

"Kenangan itu seperti jalinan tikar, saling anyam saling silang. Tak bisa kita memisah sebagiannya saja. Semuanya terhubung serta saling terkait dengan masa lalu dan masa depan."

"Untuk apa? Kau menunggu seseorang, bertahun-tahun, dan kau kesepian. Seseorang yang kau tunggu entah di mana, juga barangkali dengan siapa."

Suara gemerisik kecil daun-daun kering yang terinjak kaki gadis itu ketika melangkah. Ia hanya tak ingin melebih-lebihkan perasaan. Jika ia pernah bertemu seseorang, kemudian berpisah, dipisah atau terpisah, bukankah itu lumrah?

Kehidupan seperti angka delapan yang di atasnya kereta melaju membawa kita. Pada titik tertentu, kita akan selalu sampai ke tempat semula. Sebuah rumah, misalnya. Dengan lengan yang terentang di ambang pintu, menunggu kita mendekat dan memeluk.

_____
Kepada hatimu, aku perahu yang tertambat

Jika aku pulang, adakah aku telah terlambat?